Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Peluk Aku


__ADS_3

Memgetahui istrinya dibawa ke klinik Alfarizi berlari dengan kekuatan penuh meninggalkan Alfian dan Abi Ali. Rasa bersalah itu semakin besar, bayangan Alfian lahir prematur dan sering diceritakan sangat menyiksa dan membuatnya merasa sangat bersalah. Sebenarnya bisa menghubungi Umi Anna atau Ibu Ani, tetapi jika pikirannya sudah di isi dengan kekhawatiran tidak bisa lagi berpikir ke sana.


Masuk UGD memeriksa brankar tempat tidur satu persatu tanpa bertanya. Para medis yang melihatnya kebingungan langsung mendekatinya, "Tenang dulu, Tuan. Anda mencari siapa?"


"Istriku Suster, di mana istriku?" tanya Alfarizi dengan panik dan khawatir.


"Istri Anda siapa namaya?"


"Ningtiyas Paramitha ...."


"Mari kita ke lobi UGD, istri Anda sudah di pindahkan ke ruang rawat inap!"


Setelah mendapatkan informasi dari lobi UGD, Alfarizi langsung berlari kembali mencari ruang rawat inap yang sudah di sebutkan oleh petugas tadi. Melihat dari kejauhan Abi Ali dan Alfian yang sudah menemukan ruangannya membuat Alfarizi bingung, "Abi mengapa sudah sampai sini, siapa yang memberi tahu kalau Mami ada di ruang sini?"


"Abi menghubungi Umi tadi, kamu terlalu panik sih makanya tidak bisa mikir jernih, mengapa harus lari ke UGD segala, dasar gelo!"


"Bukan gelo Abi tetapi panik dan khawztir," jawab Alfarizi membela diri.


Alfarizi memperhatikan Alfian yang hanya diam saja di gandeng oleh Abi Ali tetapi terus saja mengusap air matanya. Dia juga merasa bersalah karena pergi tanpa pesan. Mendengar maminya sakit dan di rawat di rumah sakit membuat Alfian juga ikut sedih.


"Al jangan nangis Nak, sini Papi peluk!"


Alfatizi dan Alfian berpelukan sejenak saling menguatkan. Mendorong pintu setelah Alfarizi menggendong Alfian masuk ruang rawat inap, "Mami ...!" teriak mereka berdua.


Dengan spontan Umi Anna dan Ibu Ani meletakkan jari telunjuknya di bibirnya. Alfian langsung turun dari gendongan papinya mendekati kedua neneknya, "Mami Al, dan adik canfik sehat kah, Oma ... Nenek?" tanya Alfian sambil masih meneteskan air mata.


"Iya Ganteng, semua sehat. Sekarang masih istirihat, duduk sini!" Umi Anna memeluk cucunya mengusap air matanya.


Alfarizi mendemati Neng yang masih terlelap, mengelus pipinya dengan lembut. Meraih tangannya dan mencium punggung tangannya berkali-kali. Matanya tetap mengalir deras melihat istrinya lemah dan terlelap terlihat pucat.


"Umi, apa kata dokter?"


"Istri dan putrimu baik-baik saja, dia hanya tegang tadi makanya perutnya kram, setelah terbangun nanti pasti semua akan membaik."


Alfafizi hanya mengangguk sambil mengusap air matanya. Merasa lega setelah mendengar keterangan dari ibunya. Tinggal menungu Neng terbangun siap menghadapi kemarahannya.

__ADS_1


Neng mulai membuka mata karena tangannya di genggam erat. Langsung di tariknya dengan cepat setelah mengetahui suaminya yang ada di sebelahnya. Masih kesal teringat Alfian yang tidak diketahui keberadaannya.


"Al ... dimana kamu Nak?" tanya Neng dan ingin mencoba bangun dari tempat tidur.


"Honey, jangan bangun dulu, tenanglah!"


"Mami, Al di sini. Mami jangan bangun dulu, maafkan Al Mami jangan marah sama Papi, Papi tidak bersalah tetapi Al yang salah karena Al keluar tidak pamit Papi atau Mami!"


Alfian langsung duduk dan memeluk maminya agar dia tidak terbangun. Matanya mengalir karena melihat maminya yang lemah matanya terlihat masih marah saat menatap papinya. Rasa takut kehilangan papinya membuatnya merasa sangat bersalah.


"Please Mami ... Adik Cantik maafkan Abang Al, Papi tidak bersalah jagan marah sama Papi!" kata Alfian sambil mengusap perut Neng.


Neng mulai tersenyum dan mengusap pipi Alfian, "Nak, jangan di ulangi lagi ya, jangan tinggalkan Mami!" Neng ikut menangis melihat putra dan suaminya meneteskan air mata.


Umi Anna dan Ibu Ani langsung berlari medekati Neng yang mulai terisak, "Nak, tenanglah kasihan bayinya nanti tegang lagi. Alfian baik-baik saja." Nasehat Umi Anna sambil mengusap tangannya.


"Papi yang salah, Honey. marahi Papi saja jangan salahkan Al atau putri kita!"


Neng mengusap air matanya mencoba menenangkan hati. Semua mengkhawatirkan dirinya sekarang ini. Tidak seharusnya membuat mereka mengkhawatirkan bayi yang ada dalam kandungannya.


Neng mengambil napas panjang kemudian mengangguk dan mengusap air matanya, "Papi, apakah bisa kita pulang sekarang ini?"


"Tetapi Honey, kalau masih lemas jangan di paksakan," jawab Alfarizi dengan khawatir.


"Papi, please Mami mau pulang sekarang," kata Neng kembali terisak dan menangis.


"Ok ... kita pulang, jangan menangis lagi. Papi temui dokter dulu tetapi tenangkan pikiran Mami ya!"


Neng hanya mengangguk mengalihkan padangan matanya kearah Alfian. Masih ada rasa kesal karena ketelorannya tentang putranya. Walaupun berkali-kali suaminya membelai pipi, mengecup punggung tangannya tetap saja masih malas memandang wajahnya.


"Al, Umi ikut menemui dokter tunggu sebentar!"


"Ya Umi, Abi mau ikut?"


"Ok, kita temui bertiga ayo!"

__ADS_1


Saat Alfariz dan ke dua orang tuanya keluar ruang rawat inap Neng kembali terisak. Rasa sesak di dada rasanya tidak bisa di tahan lagi, "Ibu tolong peluk Aku, Ibu...." Neng duduk sambil menangis tersedu-sedu.


"Mami ... Mami, maafkan Al. Mengapa Mami menangis lagi?" Alfian ikut memeluknya dengan erat.


"Tidak Nak, Al tidak salah. Mami hanya ingi pulang saja, jangan khawatir."


"Istigfar Neng, lihatlah putramu, dia menangis lagi dan merasa bersalah!"


"Kemarilah Al, Adik cantik mau di peluk Abangnya!" Neng merentangkan tangannya.


Alfian memeluk perut Neng sambil mengusap air matanya, "Maafkan Abang ya Adik Cantik, Abang Al sayang sama Adik Cantik."


Baru kali ini Neng merasa lemah, merasa ingin menangis tanpa sebab. Yang biasanya kuat dan selalu semangat saat ada Alfian berada di sampingnya. Baru membayangkan kehilangan putranya hatinya terasa sangat takut dan sedih.


"Mami, apakah Boleh Al menyusul Papi?" Alfian sangat khawatir karena melihat maminya mengangis tersedu-sedu.


"Tidak usah Nak, sebentar lagi Papi pasti datang, di sini saja, ok!"


Karena khawatir kepada maminya terus menangis, Alfian mengirim pesan WA kepada Alfarizi, "Papi, tolong datang Mami nangis terus, Al sangat khawatir."


Pesan WA dari Alfian langsung di baca oleh Alfarizi, tanpa di jawab. Afarizi hanya berbisik kepada Umi Anna, "Umi, Al ke kamar rawat inap dulu ya, kata Alfian istriku menangis lagi!" Alfarizi berlari menuju kamar rawat inap dengan khawatir.


Rasanya pikirannya buntu dan tidak bisa berpikir jernih jika mendengar istrinya mengalami sesuatu. Karena kesalahannya masa lalu membuatnya selalu merasa khawatir yang berlebihan.


Membuka pintu dengan cepat, melihat istrinya duduk sambil mengusap air matanya. Dia langsunsg memeluknya dengan erat, "Mami ampuni Papi, jangan nangis lagi, apakah Papi menyakiti Mami lagi?"


"Papi ngomong apa sih, apa Dokter tidak mengizinkan Mami pulang, kalau Papi tidak berhasil meminta izin pulang, mau Mami hukum tidak bergoyang selama satu tahun?"


"Eeee ...?"


BERSAMBUNG


********


Yok mampir di novel teman, rekomen banget lo

__ADS_1



__ADS_2