Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Suami Halu


__ADS_3

Di Bogor Rania Kirana saat ini memakai kaos distro, celana tiga perempat dan topi yang di balik arah kebelakang. Memakai kaca mata hitam dan handuk kecil yang melingkar di lehernya. Dia sedang duduk di kemudi angkot sambil berteriak menawarkan jasa angkotnya, "Parung ... Bogor, Parung ... Bogor. Ayo kosong!"


Sudah hampir satu tahun terakhir ini Rania menggantikan Abah menjadi sopir angkot. Dia berangkat dari pukul delapan pagi mencari penumpang dan akan pulang saat waktu makan siang. Makan bersama dengan Abah yang sekarang ini sudah tidak kuat lagi untuk menarik angkot.


Sebelum berangkat mencari penumpang Rania memasak sarapan pagi untuk Abah. Dan saat istirahat tiba Rania akan membawa lauk menu makan siang sesuai pesanan Abah. Selalu makan bersama walaupun dengan menu seadanya.


Rania selalu memperhatikan kesehatan Abah yang akhir-akhir ini menurun. Rutin memeriksakan kesehatan Abah di Puskesmas. Rania selalu memperhatikan menu makan dan memberikan vitamin untuk Abah dengan rutin.


Sudah menganggap Abah seperti kakeknya sendiri dan selalu menceritakan semua masalah yang di alaminya selama ini. bahkan Rania juga berterus terang tentang pertemuan dan peristiwa yang di lakukan bersama Alfian saat itu.


Rania juga mengaku tidak pernah nengetehui siapa pemuda yang pernah diajaknya foto tanpa sehelai benangpun. Dia tidak sempat mencari informasi tentang pemuda tampan itu karena sejak saat itu dia tidak pernah pulang dan kembali ke desanya. Bahkan ibunya juga tidak pernah tahu di mana keberadaannya saat ini.


Lebih memilih menghilang dan tidak mengunjungi ibunya lagi dari pada harus di nikahkan siri dengan laki-laki tua penjajah cinta. Mengganti nomor ponselnya agar tidak bisa di temukan oleh ibu dan anak buah laki-laki tua berperut buncit.


Sudah hampir satu tahun juga Rania sering memandangi foto dirinya bersama pemuda yang tidak di ketaui namanya. Dia sering mengajaknya berbincang saat akan tidur pada malam hari. Masih menganggapnya sebagai calon suaminya di suatu saat nanti.


Sepeti malam ini selesai makan malam bersama Abah. Rania merebahkan tubuhnya di tempat tidur sambil memandangi wajah tampan calon suami halunya yang sering di panggilnya "Tuan Halu" saat di ajak berbincang, "Selamat malam Tuan Halu suami Rania, bagaimana kabar Tuan Halu sekarang?"


Sambil menciumi ponsel miliknya dia selalu tersenyum, "Kapan kita bisa bertemu lagi, Tuan Halu?. Rania sudah menganggap Tuan Halu suami sah sampai saat ini.


Rasa yang tumbuh di hati Rania sejak saat pertemuan satu tahun yang lalu sampai sekarang ini terus tumbuh. Tidak pernah satupun laki-laki yang mendekatinya bisa menghantikan hatinya untuk mencintai Tuan Halu-nya. Banyak laki-laki yang mendekatinya saat ini tetapi dia selalu membatasi diri, dan selalu mengenang suami halunya.


Banyak teman sesama sopir yang sering mendekatinya. Terkadang ada juga pelanggan yang sering merayunya tetapi Rania tetap pada pendirian, masih mengharap kehadiran suami halunya. Ada juga akan di ambil menantu oleh teman sesama sopir terapi dia selalu menolak.


Keesokan harinya Rania di dapur seperti biasa membuat sarapan untuk Abah. Tanpa di sangka masih pagi datang teman Abah sesama sopir dengan mengajak putranya. Berencana melamar Rania tanpa berbicara Rania terlebih dahulu.

__ADS_1


Abah tertawa terbahak-bahak saat melihat pemuda yang akan melamar Rania. Pemuda itu memakai celana pendek sampai di bawah dada. Berkaca mata tebal, rambut gondrong dan gigi tonggos.


"Neng Rani mau di lamar si Abang Gondrong?" tanya Abah sambil menahan tawa.


"Neng Rani, tolong terima lamaran putraku ya, nanti Babe akan memberikan kamu angkot 30 jika di terima?"


Rania sembunyi di balik badan Abah juga ikut menaham tawa. Melihat si Abang Gondrong tersenyum lebar giginya terlihat kuning semua, "Waouw Abah silau!" teriak Rania di belakang badan Abah.


"Babe dia sembunyi," bisik Abang Gondrong pada ayahnya.


"Sabar Ntong!"


"Bagaimana Neng Rani, apakah lamaran Babe di terima?"


"Abah, Rani berangkat dulu ya lewat pintu belakang. Abah bilang pada mereka kalau Rani sudah memiliki suami!"


Si Abang Gondrong berlari keluar rumah setelah mendengar ada suara mesin angkot yang meninggalkan halaman rumah Abah, "Babe ... Neng Rania kabur melarikan diri!" teriaknya sambil menghentakkan kakinya.


Abah tertawa terbahak-bahak setelah melihat tingkah si Abang Gondrong seperti anak kecil. Badannya besar dan kumisan tetapi tingkahnya seperti anak kecil. Babe mendekati putranya sambil menepuk pundakya berkali-kali, "Sabar dong Ntong ... dia lagi belanja mungkin, di tunggu dulu!"


"Kamu pulang saja, Rani tidak akan pulang. Dia tidak mungkin mau sama anakmu yang gondrong dan tonggos itu, lebih baik kamu jodohkan dengan orang lain!" kata Abah langsung berterus terang kepada teman sopirnya.


Si Abang Gondrong kembali menghentakkan kakinya sambil menangis. Kepalanya di gelengkan dengan cepat, "Babe, ane maunya Neng Rania, ane maunya dia tidak yang lain!"


"Jangan begitu dong, jodoh itu yamg menentukan Allah."

__ADS_1


"Kalau ane bersabar apakah nanti Neng Rania mau sama ane, Babe?"


Babe tidak menjawab pertayaan Abang Gondrong. Dia hanya menggandeng putranya keluar rumah milik Abah, "Ane pulang dulu, Bah."


"Iya pulang sana, ingat jangan kamu janjikan macam-macam tentang cucuku Rania."


Abah menutup pintu setelah mereka berjalan keluar rumah. Masih mendengar antara ayah dan putranya yang berdebat tentang Rania yang pergi tanpa menjawab lamaran mereka. Mendengar juga suara angkot yang keluar dari halaman rumahnya dengan suara deru kenalpot angkot yang keras.


Sementara di pangkalan Rania sedang termenung sambil tersenyum devil teringat penampilan si Abang Gondrong. Wajah laki-laki yang terlihat sudah cukup umur tetapi penampilannya seperti anak kecil. Apa lagi saat melihat giginya kuningnya membuat ingin tertawa geli.


Rania jadi teringat Tuan Halu saat dia tanpa sehelai benangpun. Tidak berani membuka ponsel yang berisi Tuan Halu di tempat umum. Dia hanya membayangkan wajah tampannya dan tersenyum manis.


"Tuan Halu, tetap dirimulah yang ada di hatiku, pagi ini ada lagi orang melamar Rania, kapan Tuan datang menjemput ke sini?" monolog Rania sambil memejamkan mata membayangkan foto yang berada di ponselnya.


Saat ada yang mendekatinya, Rania lebih memilih menghindar dan tidak ingin berurusan langsung dengan orang yang mendekatinya. Hatinya tidak pernah bisa menerima orang yang suka ataupun menyukainya. Sudah menganggap Tuan Halu adalah suami sah.


Datang angkot dengan suara deru kenalpot yang keras mendekati angkot Rania. Suara samar-samar yang memanggil namanya membangunkan lamunan Rania. Membuka mata sudah ada angkot yang behenti di samping angkotnya.


"Neng Rania ... Neng Rania!" teriak si Abang Gondrong.


"Waaah payah, mengapa menyusul ke sini, kabur ...!" teriak Rania menghidupkan mesin angkot dan meninggalkan pangkalan.


BERSAMBUNG


Shobat jangan lupa mampir ke novel teman author ya

__ADS_1


Rekomen banget lo



__ADS_2