
Bagai buah si malakama pikiran Neng saat ini, jika masuk ke private room dengan resiko harus bersama dengan Alfarizi. Jika tidak masuk harus berhadapan dengan Rangga Siregar. Akhirnya dengan langkah berat Neng masuk ke private room karena mengikuti Alfian.
Surya sudah memindahkan menu pesanan Alfian ke private room. Di tambah menu makanan kesukaan Neng yaitu seblak pedas. Padahal di restoran itu tidak ada menu seblak, Alfian yang request khusus kepada koki restoran dengan harga yang tinggi.
Menu makanan sudah terhidang di meja makan. Alfian dengan antusias mengambil sendiri opor ayam kampung favoritnya tidak lupa sambal terasi dan krupuk udang. Demikian juga dengan Alfarizi, ayah dan anak itu memiliki selera yang sama.
Neng hanya terpaku melihat putra dan papinya mengambil menu makan bergantian. Surya lebih memilih ayam bakar yang terhidang tanpa ada yang melirik. Alfarizi melirik Neng, dia menyadari Neng masih terlihat canggung dan kikuk.
"Nak, Mami kamu belum mengambil makan sendiri, ayo di bantu!" pinta Alfarizi dengan lembut.
"Mami mau makan apa, ayam bakar atau eee Mami ada seblak pedas kesukaan Mami, kok Papi tahu sih?"
Al hanya tersenyum dan mengangguk. Neng kembali tertegun hanya bergumam dalam hati, dari mana si Pohon Pisang itu tahu makanan kesukaanku. Padahal saat baca menu makan tadi tidak ada tulisan menu seblak di sana.
"Ayo Mi, ini cepat di makan, kata Mami seblak harus di makan saat panas lebih lezat!"
"Iya Nak, terima kasih."
Akhirnya Semua makan dengan diam, hanya dentingan sendok dan garpu yang ber bersuara sampai nasi yang di piring ludes tak bersisa. Ini acara yang sangat berkesan bagi Alfian bisa makan bersama mami dan papinya secara lengkap. Sehingga membuat Alfian sangat bahagia.
"Papi, kapan-kapan kalau Papi ada waktu luang ajak Al makan es krim dong di taman kota!"
"Tentu Nak, kapan maunya, Al harus izin dulu sama Mami, ok!"
"Boleh kah, Mami?"
"Boleh Nak, tapi ...?"
Neng tidak berani melanjutkan ucapannya. Takut Al tidak bisa memahami jika itu akan membuat para pewarta tahu tentang identitas aslinya. Pasti akan muncul ke publik identitas yang di sembunyikan selama ini.
"Tapi kenapa Mi, apakah aku tidak memiliki hak untuk bisa makan es krim bareng Papi?"
"Al, maksud Mami, sekarang ini Papi masih sering di cari wartawan. Nanti saja kalau sudah reda beritanya, kita bisa membeli es krim dan bermain di taman sepuasnya."
"Oooo ...!" Alfian hanya membulatkan mulutnya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ada rasa kecewa di hatinya tetapi tidak ingin melihat maminya merasa bersedih.
"Maafkan Mami ya, Nak!"
"Iya Mi, Al ngerti kok."
Alfarizi seakan kembali ke masa lalu. Sikap Neng dari awal bertemu sampai sekarang masih saja sama dia selalu banyak diam, menjawab pertanyaan hanya seperlunya saja. Alfarizi selalu melirik wajah Neng yang terlihat gelisah dan kurang nyaman. itu di tandai karena dia selalu bergerak dan bergeser saat duduk.
__ADS_1
Surya yang awalnya diam saja memiliki ide untuk mengajak Alfian membeli es krim di restoran siap saji yang ada di seberang jalan restoran yang di tempatinya saat ini. "Alfian, bagaimana kalau sekarang saja beli es krimnya, kita makan bersama disini, Om juga lagi pingin es krim yang rasa coklat?"
"Boleh ... boleh Om, Al mau yang rasa vanilla, Mami Al beli es krim sama Om Surya, boleh ya?" tanya Alfian gembira dan bahagia.
"Iya, ini uanganya, jangan lupa Nenek di belikan, ok!" Neng mengambil tas untuk memberikan uang kepada Al.
"Tidak usah Bu, aku ada kok uang receh, Tuan kami ke restoran cepat saji yang ada di seberang jalan ya, permisi!" pamit Surya dengan mengedipkan matanya.
Alfarizi tersenyum memahami kedipan mata kode dari Surya. Alfian dan Surya keluar dari ruang privat room dengan riang. Untuk menghilangkan rasa cangggung Neng memilih untuk membuka ponsel dan memeriksa email masuk.
Alfarizi dan Neng dalam mode diam untuk beberapa saat. Lidah Alfarizi terasa kelu, padahal saat sendiri selalu menyusun kata-kata untuk mengungkapkan perasaannya. Yang bisa Alfarizi lakukan hanya memandang wajah Neng yang menunduk tanpa berani menatap wajah orang yang berada di depannya.
"Neng ...!" panggil Al dengan pelan.
"Ya Tuan!" spontan Neng menjawab.
Alfarizi hanya mengambil napas panjang. Panggilan itu membuat hatinya terasa nyeri nengingatkan perbuatannya di masa lalu. Memandang dengan lekat wajah Neng yang kembali tertunduk padahal tadi spontan menatapnya saat di panggil.
"Neng, maafkan aku, karena aku kamu mengalami ...?"
Neng langsung memotong ucapan Alfarizi, "Saya sudah lama memaafkan Anda, Tuan."
"Bolehkah aku meminta satu hal, Neng?"
"Jangan panggil aku Tuan, please!"
Neng tidak menjawab permintaan Al, memilih untuk kembali menunduk. Hanya menyunggingkan senyuman kecil yang tidak bisa diartikan. Rasa tidak nyaman membuat Neng sering membetulkan posisi duduknya.
"Neng ..."
"YaTuan!" Kembali Neng menjawab spontan tanpa di sadari.
Neng langsung menutup mulutnya karena spontan menjawab dengan sebutan itu lagi. Menbuat sikap Neng terlihat lucu dan menggemaskan. Al akhirnya hanya terenyum melihat tinggah Neng.
"Tidak apa-apa, senyamannya kamu sajalah, Neng tidak perlu mengubahnya kalau belum bisa!"
Neng hanya menjawab menganggukkan kepalanya saja. Wajahnya sudah tidak terlihat tegang dan waspada. Sepertinya perlahan Neng bisa menyesuaikan diri dan rileks.
"Bagaimana usahamu, apakah lancar?"
"Ya..."
__ADS_1
"Apakah konfeksi kamu bisa membuatkan seragam untuk karyawan ku?"
"Tentu bisa."
Saat Neng ditanya tentang pekerjaan menjawab cepat walaupun jawabannya singkat. Alfarizi mempunyai ide untuk berbincang dengannya tentang pekerjaan. Untuk membuatnya lebih nyaman dan tidak terlihat canggung.
"Apakah besok kita bisa meeting untuk kerjasama selanjutnya?"
"Besok saya kabari, Tuan; saya belum melihat jadwal kegiatan untuk besok."
Alfarizi tersenyum mendengar jawaban Neng. Dia mulai bisa menjawab lebih panjang tanpa merasa canggung. Al semakin percaya diri untuk mengajaknya berbincang tentang bisnis.
"Baiklah, aku tunggu, kamu sesusikan dulu jadwalmu, aku harus bekerjasama melalui butik atau konfeksi?"
"Tergantung jumlah pesanan Anda, Tuan?"
"Tolong jelaskan aku tidak faham?"
"Kalau pesanan Anda di atas seratus pics bisa memesan melalui konfeksi, tetapi jika kurang bisa melalui butik."
"Apa perbedaannya antara butik dan konfeksi?"
"Konfeksi di kerjakan secara borongan harganya lebih miring, waktu pembuatannya lebih singkat dan kualitasnya bagus.
"Kalau butik bagaimana?"
"Butik di kerjakan per-pics, kualitasnya lebih bagus, membutuhkan waktu lebih lama dan harga lebih mahal."
Al semakin tersenyum lebar mendengar keterangan Neng. jawabannya yang panjang dan lugas membuatnya lebih bahagia. Bahkan Al tidak memperhatikan maksud omongan Neng, dia hanya menikmati suara Neng yang merdu bak simponi yang mengalun.
"Aku akan memesan seragam untuk seluruh karyawan, kemungkinan lebih dari 1000 pisc jadi aku ke konfeksi saja."
"Silahkan saja, Tuan."
Hati Al sedang scroll saat ini. Di izinkan datang ke konfeksi seperti sedang mendapatkan emas segunung. Datang Alfian dan Surya dengan membawa es krim dengan berbagai rasa.
"Mami ... Papi ayo makan es krimnya!" Al datang dengan riang.
Author promo novel author sendiri ya
Jangan lupa mampir, ingat gratis juga lo
__ADS_1