
Zain kembali mengikuti mobil milik Dokter Atha menuju pinggiran kota. Masuk di perkampungan padat menduduk dia hanya berhenti di pinggir gang. Ada seorang pemuda tanggung yang berlari mendekati mobil Dokter Atha.
Dokter Atha membukakan kap mobil belakang dan pemuda itu mengambil satu plastik besar berisikan bungkusan nasi padang. Dia melanjutkan lagi perjalanan ke tempat lebih dalam lagi masuk gang. Ada lagi pemuda yang mengambil plastik bungkus nasi padang seperti tadi.
Sampai empat tempat Dokter Atha menurunkan plastik besar di pinggir jalan dan di sambut oleh pemuda tanggung. Terakhir Doter Atha berhenti di sebuah rumah kecil yang terlihat pintunya terbuka. Dokter Atha memarkirkan mobilnya di seberang gang.
Dia menenteng tas dokter menyeberangi jalan kecil dan di sambut oleh seorang laki-laki dewasa di depan pintu. Laki-laki itu tersenyum dan membungkukkan badannya. Mereka langsung masuk rumah dan tanpa menutup pintu.
Zain memperhatikan rumah itu sambil duduk di warung kecil yang berjarak dua rumah yang di masuki Dokter Atha. Dia selalu mengambil foto setiap Dokter Atha berhenti dan menyerahkan bungkusan nasi padang. Sekarang ini dia hanya bisa mengamil foto rumah yang di masuki olehnya.
Hampir satu jam Zain menunggu Dokter Atha keluar dari rumah kecil itu. Tidak di temani seorangpun saat keluar rumah. Dia terlihat keluar rumah sambil menunduk dan mengusap air mata.
Zain melihat sampai membelalakkan matanya. Hampir tidak percaya wanita tegas dan jutek itu menangis dan bersedih, "Siapa yang menyakiti dia?" monolog Zain sendiri sambil berjalan menuju mobilnya.
Zain kembali mengikuti Dokter Atha sampai apartemen. Belum berniat untuk mencarai informasi tentang tempat yang di kunjungi oleh Dokter Atha. Karena masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan di kantor.
Setelah peresmian rumah sakit rencana Zain baru akan menyelidiki sendiri misteri seorang Marta Inayah. Pekerjaan yang menumpuk sudah menunggu saat ini, apalagi ada Alfian yang menginap di rumah sakit. Jika ketahuan dia mengikuti kakaknya pasti akan di gorok lehernya oleh Alfian.
Sampai rumah sakit, waktu hampir senja. Zain langsung berlari dengan langkah panjang setelah memasuki lobi rumah sakit. Tanpa di duga ada Alfian yang duduk di sofa lobi rumah sakit sambil berbincang dengan istrinya.
Zain langsung berhenti saat ada suara yang mengelegar memanggil namanya, "Zain ... dari mana lu?" tanya Alfian.
"Waaah gue tidak lihat ada adik ipar di sini," jawab Zain sambil cengar-cengir ketahuan dia baru datang dari luar.
"Di tanya malah cengar-cengir begitu!"
"Maaf Adik Ipar, ada hal yang mendesak yang harus gue urus. Tenang aja waktu akan gue ganti."
"Jangan bilang elu ngikutin Kakak gue!"
Zain hanya tersenyum penuh arti karena sahabat dari kecil itu tahu betul sifat dan tindakannya. Tidak ingin di ketahui tindakan yang di lakukan sekarang ini sebelum jelas apa yang di lakukakn kakaknya. Lebih baik tidak mengaku dan merahasiakan terlebih dahulu.
"Jangan curiga dan su'uzon dulu, untuk apa gue ngikutin Kakak elu?"
"Gue tahu betul otak dan pikiran elu, Zain."
"Sudah ... gue mau ganti waktu dengan mengerjakan tugas hari ini, bye Adik Ipar." Zain melenggang meninggalkan Alfian di lobi rumah sakit.
__ADS_1
Zain berjalan menuju kantornya, datang Julio sambil berlari dari pintu luar rumah sakit, "Bang ...!"
"Akhirnya elu datang juga, mana laporannya!"
"Ini Bang, silahkan Anda periksa."
Alfian membaca laporan acara pembukaan rumah sakit yang akan di laksanakan hari Minggu nanti. Acara yang mengedepankan bantuan kepada masyarakat yang kurang mampu. Terutama untuk masyarakat sekitar daerah Bogor.
"Ok elu koordinasi sama Zain di kantornya, dia juga mau menambah program sendiri dalam acara nanti!"
"Zain masih di sini jam segini, Bang?"
"Masih di kantornya, seharian dia cuma mengejar Kakak gue doang, sekarang baru kerja." Alfian menggerutu tidak karuan.
Julio hanya tertawa sambil menggelengkan kepala mendengar cerita tentang Zain. Sahabatnya yang satu itu memang yang paling jago kalau urusan wanita. Tidak ada yang bisa menolak pesona seorang Zain Malik Turmudzi.
"Gue ke kantor Zain dulu, Bang."
"Ya ...gue juga akan ke kantor."
Alfian mendekati Rania yang dari tadi duduk sambil bermain game di ponselnya, "Ayo Sayang ... istirahat dulu di kamar!"
"Masih kurang sudah makan rujak dua porsi?"
"Bukan di makan sekarang, Bang. Untuk stok nanti malam."
"Baiklah, nanti Abang pesankan lewat online lagi."
Malam ini tiga sahabat menginap di rumah sakit selain demi kelancaran pembukaan rumah sakit. Rania malam ini sering bolak-balik dari kamar Ibu Titin Suhartin dan kantor Alfian. Sampai pagi hari Rania baru tidur cantik seperti biasa tanpa mau di bangunkan oleh Alfian.
Satu hari sebelum acara peresmian rumah sakit setelah istirahat siang. Rania menemani Ibu Titin Suhartin operasi yang akan di lakukan oleh tim dokter. Rania di temani oleh Bibi Esih dan Abah sampai selesai.
Alfian datang setelah operasi selesai dan sebelum Ibu Titin sadar. Menunggu dengan cemas saat mereka sudah berada di ruang rawat inap, "Kok lama betul sih, Bang. Ibu sadar?" bisik Rania tidak sabar menunggu.
"Sabar Sayang, Ibu masih dalam pengaruh obat bius."
"Itu Bang, tangan Ibu sudah bergerak!" teriak Rania turun dari kursi mendekati ibunya.
__ADS_1
"Pelan-pelan jalannya, Sayang!"
"Bu ...!"
"Eee Neng Rani."
"Bagaimana keadaan Ibu sekarang?"
"Sudah lumayan."
Tim dokter memeriksa Ibu Titin Suhartin setelah tersadar selesai operasi. Akan di opservasi terlabih dahulu selama satu hari ke depan. Untuk mengambil tidakan selanjutnya paska operasi.
Keesokan harinya adalah hari yang di tunggu khususnya para karyawan rumah sakit. Hari ini rangkaian acara pembukaan rumah sakit. Diawali dengan pemotongan pita oleh Papi Alfarizi dan Mami Mitha dan rumah sakit diberi nama Rumah Sakit Aljuzeka.
Dilajutkan dengan pengobatan gratis untuk masyarakat yang tidak mampu. Memberikan santunan kepada anak yatim dan lansia. Dan pembagian sembako gratis untuk warga sekitar rumah sakit. Acara demi acara lancar sampai sore hari dan acara penutupan.
Acara akan di tutup dengan foto bersama dengan jajaran pendiri rumah sakit. Ibu Titin Suhartin mendengar acara foto bersama. Dia juga ingin ikut andil dalam foto tersebut, dengan berdandan secantik mungkin.
Bibi Esih bingung harus mengatakan apa pada Ibu Titin Suhartin. Pasalnya dia baru selesai di operasi kemarin. Dia masih harus beristirahat total agar kondisinya cepat membaik.
Sayangnya sampai capek Bibi Esih mengatakan jangan turun dari tempat tidur. Ibu Titin justru marah besar. Semua barang di lempar ke lantai sambil ngomel panjang lebar.
"Aku hanya ingin ikut foto saja, mengapa aku tidak diajak!" teriak Ibu Titin Suhartin.
"Bu sabar ... jangan buat onar!" nasehat Esih.
"Aku tidak perduli cepat kamu panggil Neng Rani sekarang!"
BERSAMBUNG
Shobat
ada novel terbaru di Novel Toon jangan lupa mampir.
Ini seri ke dua dari "Ikat Pinggang Cinta"
ayo kepoin dan mampir ya
__ADS_1