
Alfaeizi berdiri di depan pintu kamar mandi menunggu Neng dengan gelisah. Termenung memikirkan sifat istrinya yang memiliki pendirian kuat ternyata dia masih seperti awal pertama bertemu. Tidak hanya materi saja yang membuatnya bahagia, bayangannya setelah membeli pesawat untuknya dia akan bahagia dan mau berangkat bulan madu berdua.
Saran dari Umi Anna unruk memberi tahu rencananya setelah membeli pesawat ternyata tidak sesuai perediksi Alfarizi. Dia tetap tidak tega jika meninggalkan putranya, dia tetap memilih perasaan sayang pada putranya dari pada gemerlapnya materi yang telah dia berikan padanya. Padahal bayangan awalnya Alfarizi membayangkan istrinya akan seperti wanita kebanyakan yang diluar sana akan tergiur materi yang melimpah yang diberikan khusus untuknya.
Sudah seperempat jam menunggu di kamar mandi tidak kunjung ada suara tanda-tanda dia keluar. Tangannya di angkat untuk mengetuk pintu tetapi di urungkan karena masih ragu-ragu. Menempelkan telinganya di pintu ingin mendengar apa yang di lakukannya di dalam, tetapi pintu terbuka sampai Afarizi hampir terjatuh karena kaget, "Eeee aaduuuh ...!"
"Papi, ngapain ada di depan pintu?" Dengan terpaksa Neng menangkap tubuh Alfariizi agar tidak terjatuh.
Tubuh suaminya yang kekar dan jangung membuat Neng mundur beberapa langkah saat menahan agar dia tidak terjatuh. Dengan sigap Alfarizi memeluknya dengan erat, "Mami ... terima kasih pelukannya." kata Alfarizi sambil mengecup bibirnya sekilas.
"Awas, Mami mau keluar." kata Neng kembali dalam mode jutek.
"Mami please, kalau Papi salah minta maaf, bukan maksud Papi ninggalin putra kita sendirian, Papi hanya minta waktunya tiga hari bisa berduaan, sisanya kita akan berwisata bersama!" Al tetap masih memeluk Neng.
"Papi kan bisa bercerita terus-terang, tidak harus berbohong kita mau meeting. dari kecil Mami tidak mau mengajari Al untuk berbohong, Papi."
"Iya Mami lain kaali Papi tidak akan ulangi lagi, tapi kita berangkat ya tiga hari aja please!"
"Tahu aaaah, Mami masih kesal." Neng mencoba melepaskan pelukan suaminya.
"Honey, Alfian sudah lama bersama Mami, Papi juga ingin selalu bisa berdua memadu cinta setiap saat, dapat cinta yang lebih dari Mami tidak ada gangguan, maunya selalu bergoyang, ayolah Mami please, jangan marah." Alfarizi terus saja menciumi pipi, bibir mata dan keningnya berkali-kali.
"Iiiih modus aja maunya."
"Tidak modus dong Honey, Papi hanya ingi qualiy time berdua, jangan batal ya. Mami jangan khawatir tentang Al, ada Umi dan Abi.
"Ini bukan masalah ada yang jagain Al Papi, kata Papi kita harus saling terbuka, Mami tidak ingin Alfian kecewa, karena dari kecil dia ingin wisata dengan keluarga yang lengkap."
__ADS_1
"Iya Mami, Papi faham, maafin Papi kita tetap wisata keluarga kok, hanya Papi minta waktu tiga hari aja spesial untuk berdua, Papi pingin cepat punya Ningtiyas Paramitha yunior yang cantiknya seperti Maminya."
Neng hanya mengerucutkan bibirnya dalam pelukan Alfarizi, sama sekali dia tidak mau melepaskan sebelum diberikan jawaban yang pasti. Sampai kaki pegal berdiri tetapi alfarizi tetap memohon membuat Neng luluh hatinya. Ada rasa bahagia bisa merasakan bulan madu yang tidak pernah di bayangkannya, hanya ada rasa bersalah tidak bisa mengajak putranya.
"Baiklah kita berangkat, tetapi tidak lebih dari tiga hari, kalau Papi ingkar janji akan Mami hukum berat."
"Ok terima kasih, tetapi boleh dong tahu hukumannya apa?"
"Senjata onta arab tidak boleh bergoyang selama tiga bulan."
"Aaaah ampun ... ampun Papi bisa mati berdiri. Iya janji hanya tiga hari empat malam sesuai jadwal."
"Dan berjanji tidak berbohong kepada Al jika kita akan berbulan madu!"
"Siap, ayo kita temui Al sebelum berangkat!"
"Ok Honey. come on!"
Dengan penuh kasih sayang Neng bisa memberi pengertian kepada Alfian saat di tinggal untuk bulan madu selama tiga hari. Alfian mudah saja diberi pengertian apalagi papinya bercerita kemungkinan adiknya cepat datang setelah selesai bulan madu. Alfian sangat senang jika mempunyai adik baik dari Isya atau maminya.
Siang ini Neng dan Alfarizi kembali berangkat dari Bandar Udara Internasional Raja Khalid Riyadh menuju Bandar Udara Internasional Charles De Gualle Paris Perancis. Perjalanan di tempuh sekitar enam jam sampai bandara, dari bandara langsung di jemput oleh mobil fasilitas hotel bintang lima yang tidak jauh dari menara Eiffel. Menginap di hotel dengan kamar khusus untuk honeymoon dengan fasilitas yang fantastis.
Paris adalah negara impian Alfarizi untuk berdua dengan Neng bisa berdiri berdua di Menara Eiffel, atau dikenal juga sebagai La Tour Eiffel. Menara Eiffell merupakan ikon destinasi wisata di Prancis sekaligus salah satu monumen terkenal dan penting bagi Prancis. Alfarizi hanya memberikan waktu istirahat Neng dua jam saja, pukul delapan malam Alfarizi sudah bersiap menuju menara EIffel.
Selain dapat menikmati panorama menawan menara Eiffel yang indah dari kejauhan, Alfarizi ingin berdua dengan istrinya menikmati indahnya kota Paris dari atas menara. Dia juga ingin menikmati dinner berdua dengan Neng di atas Menara Eiffel, tepatnya di lantai dua terdapat restoran yang terkenal akan menu steak yang lezat. Namanya adalah restoran le Jules Vernes, berkunjung ke restoran ini terdapat pintu tersendiri di dasar Menara Eiffel. Sembari menikmati steak pastinya mata akan disilaukan dengan indahnya pemandangan yang sangat luar biasa. Dan tentunya tidak akan ditemukan pemandangan seperti itu di negara manapun di Dunia.
Duduk berhadapan dengan lilin yang menerangi lampu yang temaram sangat romantis dan terkesan, "I love you so much Honey. Terima kasih telah menjadi bagian dari hidup Papi, terima kasih telah memberi Malaikat tampan yang tak pernah Papi bayangkan sebelumnya." kata Alfarizi sambil menggenggam tangan Neng.
__ADS_1
Neng hanya mengangguk dan tersenyum, mengusap tangannya tanpa mengatakan apa-apa. Rasanya seperti mimpi bisa di dinner di tempat yang sangat terkenal dan romantis yang terkenal di seluruh antero dunia. Apalagi duduk berdua dengan orang yang di cintai dalam seumur hidupnya.
"Honey ...."
"Hhhmm ...."
"Honey, yang romantis dong jawabnya kita ini lagi honeymoon."
"Iya Papi ada apa?"
"Apakah Papi boleh minta malaikat kecil sepuluh mungkin?"
Neng melotot sambil menggelengkan kepalanya, meletakkan garpu dan pisau yang tadi di pegangnya, dan mengusap mulutnya menggunakan tisu yang berada di depannya, "No Papi, memangnya Mami kelinci yang setahun melahirkan 4-8 kali!"
"Ya paling tidak separohnya juga boleh deh."
"Mengapa ingin punya banyak keturunan sih Pi?"
"Papi ingin mempunyai kesebelasan di rumah, Papi tidak ingin hidup sendiri, Papi punya pengalaman yang pahit tentang keturunan, Papi ingin menghabiskan waktu bersama dengan Mami dan putra putri kita."
"Tetapi tidak harus sepuluh atau lima juga dong Pi, saat Mami melahirkan Al dengan operasi caesar sakit sekali Pi, kecuali kalau Papi yang merasakan ngidam, morning snickness kalau perlu Papi yang hamil."
"Iya Papi mau ...!" kata Alfarizi tanpa mendengar dengan detail ucapan Neng.
"Ha ha ha, betul Papi mau menggantikan Mami hamil?"
"Eee ..."
__ADS_1