Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Misteri Laki-laki Lusuh


__ADS_3

Alfarizi memandangi badan laki-laki yang memakai baju lusuh sedang berdiri berjarak tiga meter darinya. Wajahnya terlihat kotor, badannya kurus, matanya cekung, rambutnya acak-acakan dan tidak mengenakan alas kaki. Di tangannya memegang plastik putih transparan berisi nasi satu bungkus.


Belum sempat Alfarizi bertanya kepada laki-laki lusuh itu datang dua security berlari mendekat sambil berteriak, "Tuan, laki-laki itu barusan merampas nasi bungkus yang di beli oleh pengunujung mall!"


Dengan spontan laki-laki lusuh itu berlari sekencang mungkin meninggalkan Alfarizi sambil berteriak, "Tuan, salam buat istri Anda dan Ibu Ani Safitri, kapan-kapan aku ingin bertemu dengan mereka."


Alfarizi ikut berteriak dan memanggilmya, "Eeee tunggu siapa nama ...?" Alfarizi tidak melanjutkan ucapannya karena laki-laki itu sudah tidak terlihat lagi.


"Tuan, apakah Anda baik-baik saja?" tanya salah satu security mendekatinya. dan satu lagi mengejar laki-laki lusuh itu.


"Ya, siapa laki-laki tadi?"


"Dia merebut nasi bungkus pengunjung mall, Tuan."


Alfarizi mengerutkan keningnya, memikirkan laki-laki lusuh itu sambil bergumam sendiri, "Mengapa nasi satu bungkus saja harus merebut dari orang lain, mengapa aku tidak fokus melihat wajahnya saja tadi, aku belum sempat mengenalinya."


"Pak, dari arah mana tadi dia datang?"


"Dia berjalan dari seberang jalan, setelah merebut satu nasi bungkus berlari lagi menuju parkiran, Tuan."


Salah satu security yag tadi mengejar laki-laki lusuh datang dengan napas yang tersengal-sengal, "Maaf Tuan, larinya cepat sekali, saya tidak bisa menangkapnya."


"Ya sudah, seharusnya di tanya baik-baik jangan di teriaki, mungkin dia kelaparan jadi terpaksa melakukan itu."


Alfarizi naik ke dalam mobilnya sendiri keluar parkiran sambil melihat area mall dan sekitarnya. Berharap bisa bertemu dengan laki-laki lusuh itu, rasa iba dengannya karena dia mencuri nasi satu bungkus. Sampai rumah Alfarizi langsung bergegas mandi setelah mencium dan memeluk Neng yang baru keluar dari kamar mandi.


Neng mempersiapkan baju ganti suaminya setelah dia selesai berganti baju seusai mandi. Menunggu Alfarizi keluar kamar mandi dengan duduk di kursi meja rias sambil memeriksa email dari asistennya Desi. Alfarizi keluar dari kamar mandi setelah setengah jam dan hanya mengenakan handuk saja di pinggangya seperti biasa.


"ini baju gantinya, Papi."


"Terima kasih, kok anteng-anteng saja sih?" tanya Alfarizi sambil memakai baju.


"Apa maksudnya anteng aja, Mami suruh modus kayak Papi harus peluk-peluk dari belakang gitu, ogah banget."


"Yee Mami sudah ketularan senjata onta arab Papi ya maunya di goyang terus, hayo ngaku!'


"Enak aja kagaklah, emang maksudnya apa anteng-anteng aja?"


"Maksudnya, peluk Papi dengan erat bukan dari belakang tetapi dari depan seperti ini," jawab Alfarizi memeluk Neng dari depan, bahkan dia belum sempat mengenakan baju atasannya, dia hanya menggunakan celananya saja.

__ADS_1


"Eee Papi jangan modus, Mami tidah tahu apa maksudnya?"


"Mami My Honey, Papi merangkai kata khusus, menyatakan cinta di depan media, maunya tuuuh, Papi di peluk, di cium kalau perlu di goyang, dan perlu di catat harus sampai pagi."


"No, enak di Papi gempor di Mami, awas Mami mau buat kopi sebentar!"


"No Mami, setidaknya katakan dulu, I love you!"


"Me too Papi, sudah kan ha ha?" Neng berhasil melepaskan diri dari pelukannya dan berlari keluar kamar.


Alfarizi hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum bahagia. Berharap setelah konfrensi pers hari ini ke depannya sedikit demi sedikit dia akan bisa menghilangkan traumanya. Bisa selalu tersenyum dan bahagia tanpa terbebani perasaan yang menghantuinya selama ini.


Selesai minum kopi di ruang keluarga berkumpul bersama keluarga, Afarizi menerima pesan WA dari Kang Sarto. Keluarga dari Ngawi itu sekarang dalam perjalanan menuju Jakarta karena ingin menghadiri acara resepsi pernikahan. Mereka memilih naik kereta api bersama seluruh keluarga, padahal rencana Alfarizi akan membelikan tiket pasawat dari Solo ke Jakarta.


Afarizi teringat laki-laki lusuh yang mengenal istri dan Ibu Ani tadi sore, membuat dia termenung dan tidak mendengar saat Umi Anna memanggilnya. Karena kesal Umi Anna melempar bantal tepat terkena wajah Alllfarizi.


"Aduuuh, Umi ada apa sih, ini muka ganteng mengapa di lempar bantal, nanti kalau wajahku jadi seperti bantal bagaimana?"


"Palingan Nak Mitha hanya akan memakai untuk bantal saat tidur saja."


"Tega banget Umi ini, Umi mau tanya apa?"


"Tidak ada apa-apa Umi, lagi sedang memikirkan kapan Kang Sarto dan keluarganya sampai sini, mereka itu aneh mau di belikan tiket pesawat malah memilih naik kereta api."


"Ada berapa orang yang datang dari Ngawi, Nak?" tanya Ibu Ani.


"Tidak tahu Bu, kemungkinan sekitar tujuh orang."


"Nanti Ibu ikut jemput mereka di stasiun, siapa yang akan menjemput meraka?"


"Kemungkinan Desi dan Surya."


Sampai pukul sepuluh malam Alfarizi masih saja teringat dengan laki-laki yang lusuh itu. Wajahnya tidak terlalu di ingatnya, yang dia heran mengapa dia bisa mengenal Neng atau Ibu Ani. Sambil berebahkan tubuhnya Alfarizi tidak mengajak Neng bercanda seperti biasanya.


"Ada apa Papi, sekarang kok Papi yang termenung, apa yang di pikirkan?" tanya Neng setelah dia selesai membersihkan wajahnya.


"Kemarilah, Papi mau cerita!" Alfarizi merentangkan tangannya meminta Neng merebahkan tubuhnya dalam dekapannya.


Neng merebahkan tubuhnya, memposisikan wajahnya di dada suaminya yang bidang. Berkali-kali Alfarizi mencium keningnya dan membelai rambutnya dengan lembut. Neng mendongakkan wajahnya menatap mata Alfarizi yang terlihat khawatir dan bingung.

__ADS_1


"Mau cerita tentang apa, Pi?'


"Tadi sebelum pulang Papi bertemu seorang laki-laki berpakaian lusuh, katanya dia ingin bertemu dengan Mami dan Ibu Ani."


"Terus, mana sekarang orangnya?"


"Sebelum Papi sempat bertanya, dia lari karena dikejar oleh security mall."


Kemudian Alfraizi menceritakan tentang kejadian tadi sore di parkiran mall sebelum pulang ke rumah. Setelah selesai alfarizi bercerita Neng jadi penasaran tentang laki-laki lusuh itu. Neng merasa takut jika dia adalah ayah kandungnya yang lama tidak pernah di temuinya sama sekali.


"Jadi Papi tidak mengenali wajah laki-laki itu?'


"Tidak, kejadiannya terlalu cepat, apa Mami mencurigai seseorang?'


"Mami takut bagaimana kalau yang datang itu Ayah Asep?'


"Dari mana Ayah Asep tahu tentang kita, tiga tahun yang lalu Papi pernah melihat Beliu di Bandung menjadi sopir mobil online."


"Konfrensi pers yang Papi lakukan tadi sore."


Alfarizi kembali mengingat-ingat wajah laki-laki lusuh, merasa tidak yakin jika itu adalah Ayah Asep. Alfarizi pernah bertemu dengan ayah mertuanya itu tidak lebih dari empat kali, saat bertemu terakhir kalinya badannya terlihat bersih dan terawat. Tadi sore yang dia lihat terlihat lusuh dan kurus.


"Selain Ayah Asep siapa lagi kemungkinannya menurut Mami?"


"Siapa ya, Mami juga tidak tahu, Mami tidak punya saudara laki-laki."


"Selain dengan Papi, apakah Mami pernah jatuh cinta dengan seorang laki-laki?'


Neng mengerutkan keningnya mengingat sesuatu, "Yang penting laki-laki kan, pernah sih satu kali!"


"Eeee siapa laki-laki itu ayo katakan, jangan buat Papi cemburu ya!"


" ...."



hai shobat


yok mampir di novel teman

__ADS_1


rekomen banget lo, trims


__ADS_2