
Sekarang ini tidak hanya Neng yang terlihat khawatir dan gelisah. Semua yang ada di dalam mobil ikut gelisah setelah mendengar Ayah Asep berada di Puskesmas. Bahkan berkali-kali Encang Ginanjar memerintahkan Junaidi untuk menambah kecepatan mobilnya.
"Jun, cepat sedikit ngapa, mobil kok jalannya kayak keong!" perintah Encang Ginanjar.
"Sabar Cang, depan lampu merah tidak mungkin aku menerobos nanti malah di tangkap polisi."
Encang Ginanjar menengok kearah depan, ternyata banyak mobil yang berhenti di depannya lampu merah sedang menyala. Setelah lampu hijau Junaidi langsung tancap gas mencari celah jalan yang kosong melesat cepat menuju alamat yang dituju. Mereka terdiam dengan pikirannya masing-masing sambil memperhatikan jalan raya.
Berhenti di depan Puskesmas terlihat ada angkutan kota di parkiran. Ada seorang laki-laki gaek dengan berpenampilan necis sedang berbincang dan tertawa dengan seorang dokter muda dan cantik. Laki-laki itu memakai celana model cutbray, baju di masukkan, ikat pinggang besar dan mencolok serta kemeja lengan panjang yang di gulung sampai siku.
"Dasar laki-laki gemblung, kita khawatir setengah mati, dianya malah merayu perempuan muda," gerutu Encang Ginanjar sambil membuka pintu mobil dan turun, "Kalian jangan turun dulu sebelum kami panggil mengerti!"
Semua hanya menagngguk tanda setuju. Enjang Ginanjar berjalan dengan langkah panjang sambil mulutnya terus mgedumel. Dia langsung berteriak walau belum mendekati adik iparnya, "Aseeeep ...!"
"Akang Ginanjar, ngapain ada di sini?"
"Malah bertanya, dari tadi mencari kamu di mana-mana malah pacaran di sini." Kembali Encang Ginanjar ngedumel tidak karuan.
"Dokter cantik ini sudah seperti anak sendiri, Akang."
"Anak sendiri, yang benar saja, anakmu saja kamu terlantarkan tidak jelas. Ayo ikut aku sekarang!" Encang Ginanjar lansung menarik tangannya tetapi setelah mengangguk dan tersenyum kepada dokter muda.
Encang Ginanjar berjalan mendekati mobil sambil terus menarik Ayah Asep, "Cepat keluar kalian semua!" teriaknya.
Yang pertama keluar adalah Dokter Harry dan Junaidi, "Siapa mereka Akang?" tanya Ayah Asep.
__ADS_1
Encang Asep belum sempat menawab pertanyaan adik iparnya, Alfarizi keluar sendirian. Dia langsung mengambil dan mencium punggung tangan Ayah Asep, "Lo Tuan, Anda ... waaah semakin gagah saja sih!" Gugup Ayah Asep bertanya sambil menyembunyikan kegugupannya.
"Ayah apa kabar?"
"Tu ... Tuan mengapa Anda ada di sini?"
"Maaf Ayah ada yang ingin bertemu dengan Anda!" Alfarizi menjawab bukan dari pertanyaan Ayah Asep. Dia langsung membuka pintu mobil, "Honey ... ayo turun!"
Dengan perlahan Neng turun dari mobil, tatapan matanya tak berkedip melihat ayah yang berdiri terpaku. Bahkan mulut ayah Asep bergetar tidak sanggup mengucapkan sepatah atapun keluar dari mulutnya. Berdiri melihat putrinya yang terlihat cantik, anggun dan wajah pucat.
"Honey, salim saja dulu untuk mengilangkan canggung," bisik Alfarizi di telinga sambil menautkan jemari tangan kirinya.
"Ayah ... maafkan Neng," ucap Neng sambil meraih dan mencium punggung tangan Ayah Asep.
Ayah Asep langsung gantian meraih tangan Neng dan menciumnya berkali-kali sambil berlinang air mata, "Neng tidak bersalah, Ayah yang bersalah, maafkan ... maafkan Ayah!"
"Ayah tidak apa-apa, sekali lagi maafkan Ayah ya Neng, Ayah sangat menyesal telah mengorbankan kamu demi kebahagiaan semu. maafkan Ayah tidak berani menemui kamu padahal Ayah tahu kamu di Bekasi."
"Neng sudah memaafkan Ayah dari dulu ...." Neng juga menangis di pangkuan ayahnya.
Dengan lembut Ayah Asep mengelus rambut Neng, "Ayah selalu di datangi oleh ibumu setiap tidur, ibumu selalu mengatakan kalau Ayah ini durhaka karena itulah Ayah tidak berani menemui Neng, maafkan Ayah!"
Semua insan di dunia tidak ada yang sempurna. hilaf dan dosa pasti pernah di lakukan. Setelah menyadari memohon ampun kepada Sang Pencipta serta beraubat berharap bisa mendapatkan kesempatan yang ke dua, itulah harapan Ayah Asep.
Alfarizi yang dari tadi berada di samping Neng diam saja membiarkan mertua dan istrinya meluapkan perasaan. Dia langsung menyentuh dan mengusap punggung dan pundak Neng, "Honey ...!"
__ADS_1
"Neng duduk kembali dan menautkan tangannya pada Alfarizi tersenyum dan mengusap air matanya, "Lihatlah Ayah, Neng tetap berjodoh dengan laki-laki pilihan Ayah, kami sangat bahagia. mulai sekarang jangan merasa bersalah lagi!"
Ayah Asep mengusap air matanya ikut tersenyum, "Terima kasih telah mencintai Neng, terima kasih telah membuat dia bahagia dan mencapai cita-cita ibunya yang tidak bisa Ayah wujudkan, Tuan."
"Putri Ayah bisa mencapai cita-cita atas usahanya sendiri, kerja keras dan didikan Ayah dari kecil juga yang membuat dia bisa sukses, Al sangat mencintai putri Ayah dan mohon doa restunya. Satu lagi jangan memanggil Al dengan sebutan Tuan!"
Ayah Asep tertawa dan mengangguk tetapi masih terisak, teringat saat pertama bertemu dengan Alfarizi. Kesan pertama saat itu dia terlihat arogan, dingin, mudah marah dan angkuh. Bahkan harus memanggilnya Tuan walaupun sudah tahu jika dia adalah calon mertua yang akan menikah dengan putrinya tepat di hari wisudanya.
Alasan tidak berani bertemu dengan putrinya salah satunya karena dulu saat menerima uang dari Alfarizi syaratnya di larang bertemu dengannya. Pernah mencoba sekali ingin bertemu tetapi gagal karena di larang oleh security dan penjaga villa. Hanya saat itu dia tidak pernah merasa bersalah karena telah menikahkan siri putrinya sendiri karena sedang mabuk cinta.
Setelah Ayah Asep dan Neng bisa menguasai diri, Encang Ginanjar mendekati mereka bertiga. Beliau langsung memukul pundak adik iparnya perlahan, "Jangan kamu besarkan gengsi dan pengecutmu, sekarang kamu percaya bahwa Mitha dan Alfarizi tidak cuma baik hati tetapi mereka tulus dan tidak marah lagi, dasar laki-laki gemblung." Encang Ginanjar langsung berbalik badan menuju mobil dan memberikan kode kepada Junaidi dan Dokter Harry yang dari tadi hanya memperhatikan pertemuan ayah dan putrinya.
Encang Ginanjar kemudian melambaikan tangannya kepada Alfarizi dan berteriak, "Al ... seret ayah mertuamu naik mobil dan ajak dia ke villa. Encang masih harus membuat perhitungan dengan laki-laki gemblung itu!"
"Ya ... Cang!" jawab Alfarizi ikut berteriak. Tetapi Alfarizi hanya berdiri menggandeng tangan Neng dan memandangi Ayah Asep yang terlihat kaget dan kembali gugup.
Sambil mengambil napas panjang Ayah Asep menengok kearah kakak iparnya yang sedang membuka pintu mobil, "Tidak bisa dong Akang, bagaimana dengan angkotku?" Ayah Asep bertanya sambil berteriak juga.
"Tinggalkan saja rongsokan itu di sini, siapa yang mau maling angkot butut."
"Butut tapi hasil jerih payah sendiri, Akang."
"Sudah jangan membantah, Al seret dia ke sini. Nanti rongsokan itu kalau hilang aku ganti yang lebih bagus kalau perlu sepuluh angkot gress keluar dari dealer."
BERSAMBUNG
__ADS_1
shobat karyaku ini ada yang plagiat di pf lain mohon baca yang asli ya