Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Emosi Masal


__ADS_3

Kemarahan Ibu Titin Suhartin membuat Esih terluka. Dia terkena lemparan botol parfum mengenai jidatnya. Sekarang ini jidatnya benjol dan memerah.


"Kalau kamu tidak segera memanggil Neng Rani, aku cabut ini jarum infus. Aku sudah capek berdandan hanya ingin berfoto, cepatlah!" teriak Ibu Titin lagi.


"Baik ... Ibu di sini dulu, Esih panggil Neng Rani."


Bibi Esih keluar dari rawat inap dengan perasaan yang bingung. Selama ini dia tidak pernah menuntut apapun dari keluarga tetehnya. Selalu menuruti apapun keputusan yang diambil oleh keluarga.


Kaki Bibi Esih seolah berat untuk melangkah, padahal hanya untuk menyampaikan pesan dari Ibu Titin. Tidak berani mendekati ataupun menyampaikan pesan itu. Berpikir lebih baik di sampaikan kepada ayah angkat putranya, tetapi juga tidak berani.


Bibi Esih masih ragu untuk melangkah mendekati mereka. Sungkan juga pada Ayah Doni yang sudah mengaggap Raffa putranya. Padahal Ayah Doni tidak jauh dari dia berdiri saat ini.


Ayah Doni langsung menyenggol lengan Bapak Endang Kusnandar saat melihat Bibi Esih terlihat bingung.


"Ayo kita dekati dia, siapa tahu dia membutuhkan sesuatu!"


Mereka bergegas mendekati Bibi Esih yang mondar-mandir seperti setrikaan, "Ada apa Esih?" tanya Bapak Endang.


"Itu ... itu Pak, Ibu Titin mengamuk ingin ikut berfoto dengan keluarga." Bibi Esih menjawab dengan terbata-bata.


Pak Endang melihat jidat Bibi Esih yang benjol dan memerah, "Itu jidat kamu mengapa benjol begitu?"


"Terkena lemparan botol parfum."


"Wanita gila itu yang melempar kamu?" tanya Ayah Doni.


Bibi Esih hanya menjawab dengan anggukan kepala. Ayah Doni langsung naik pitam, emosinnya langsung memuncak. Langkah kaki panjangnya membuat Bibi Esih kaget gugup. Bapak Endang dan Bibi Esih bergegas menyusul Ayah Doni.


"Jangan emosi dulu, harus sabar menghadapi orang sakit," Pak Endang mencoba menghentikan langkah panjang Ayah Doni.


"Buat apa wanita seperti itu di kasihani!" teriaknya langsung membuka pintu ruang rawat inap dengan suara keras.


Bukan merasa bersalah, Ibu Titin kaget dan langsung berteriak, "Tidak sopan banget sih, masuk tanpa mengetuk dan salam!"


"Apa kamu bilang?" tanya Ayah Doni sambil bertolak pinggang.


"Mengapa masuk tanpa permisi?" tanya Ibu Titin Suhartin dengan emosi juga.

__ADS_1


"Mengapa kamu melukai orang yang telah merawat kamu dengan tulus, haa?" Kembali Ayah Doni bertanya dengan kesal.


Ibu Titin Suhartin langsung menatap tajam kearah Bibi Esih yang berdiri di belakang Bapak Endang Kusnandar. Emosinya semakin memuncak karena meminta untuk memanggil Rania. Sekarang yang datang ke dua mantan suami.


"Kamu dasar tidak pecus, di suruh memanggil Rani, mengapa memanggil mereka?" tanya Ibu Titin Suhartin sambil melempar botol air mineral kearah Bibi Esih.


Bapak Endang Kusnandar langsung menagkap botol air mineral dengan cepat. Botol itu tidak sempat mengenai wajah Bibi Esih. Yang awalnya Ayah Doni yang naik pitam kini Bapak Endang juga ikut emosi.


"Elu di kasih hati minta jantung, gue pites baru tahu ya, bikin orang emosi saja. Cepat minta maaf sekarang!"


"Tidak mau, kalau kalian maksa aku bisa nekat, aku cabut jarum infus ini sekarag!"


"Jangan Bu!" teriak Esih.


"Cabut saja kalau perlu sini aku bantu cabut sekalian nyawamu!" teriak Ayah Doni.


"Mengapa sih kalian ini sewot banget, aku cuma ingin minta foto bareng tidak lebih dari itu!" Semakin Ibu Titin Suhartin marah dan kembali melempar apa yang ada di sekitarnya.


Dari sisir, kaca kecil, bantal sampai guling sudah melayang entah ke mana. Pintu terbuka tanpa di ketuk terlebih dahulu. Masuk Rania, Alfian, Mami Mitha dan Papi Alfarizi Zulkarnain.


"Apa-apaan ini?" teriak Alfian terkena lembaran guling.


Rania berjalan cepat mendekati Ibu Titin Suhartin yang menunduk. Wajahnya langsung pucat dan ketakutan ada orang tua dari menantunya, "Ada apa, Bu?"


Ayah Doni yang masih emosi langsung menyahut, "Lihatlah kelakuan ibumu, sudah Ayah bilang jangan di kasih hati. Dia menganiaya Bibi Esih sampai jidatnya benjol!"


Rania mendekati Bibi Esih, "Ya Allah kok bisa sampai benjol begini, Abang panggil dokter!" teriak Rania.


"Saya baik-baik saja, Neng."


Rani berjalan mendekati ibunya yang masih terdiam, "Ibu kenapa?"


Ibu Titin Suhartin tidak menjawab sepatah katapun. Tidak berani mendongak karena di tatap tajam oleh Mami Mitha. Papi Alfarizi juga melihat dengan tatapan mata yang tidak bisa diartikan maksudnya.


Ayah Doni yang kembali bercerita dengan emosi, "Dia meminta foto bareng dengan jajaran pemilik rumah sakit."


Rania ikut emosi karena mendengar cerita Ayah Doni, "Bu, yang foto itu hanya jajaran pemegang saham. Rani saja tidak ikut, Mami Mitha juga tidak ikut tetapi Ibu mau ikut itu apa maksudnya?"

__ADS_1


Papi Alfarizi akhirnya yang menengahi agar pertengkaran tidak semakin memanas, "Sudah cukup jangan di perpanjang lagi, kalau cuma pingin di foto masih ada fotografer di depan dan tinggal panggil!"


Siapapun tidak akan ada yang berani membantah perkataan Papi Alfarizi. Ucapannya adalah perintah yang harus dilakukan. Bahkan Bapak Endang Kusnandar langsung berlari memanggil fotografer yang di maksud.


Papi Alfarizi dan Mami Mitha hanya berbincang dan menanyakan perkembangan kesehatan Ibu Titin Suhartin sebentar. Mereka langsung berpamitan pulang ke Bekasi. Bahkan tidak sempat untuk mampir ke rumah Alfian yang ada di Bogor.


Ada fotografer yang mengambil gambar Ibu Titin Suhartin setelah besan pulang. Rania masih marah karena ibunya yang membuat ulah. Apalagi Ayah Doni dan Bapak Endang Kusnandar masih kesal dan emosi.


Alfian ikut emosi masal melihat Rania terus saja ngomel karena kesal, "Sayang, jangan marah terus nanti baby yang ada di dalam perut ikut emosi!"


"Jadi Rani harus bagaimana?"


"Ayo kita pamit aja, jalan-jalan ke festival makanan yang sedang di seleggarakan oleh pemerintah daerah?"


"Ayo Bang, Ibu ... Rani jalan-jalan dulu!"


Rania dan Alfian tetap berpamitan dengan sopan walau hati kesal. Ayah Doni dan Bapak Endang Kusnandar juga ikut pulang. Hanya tinggal Ibu Titin Suhartin dan Bibi Esih yang ada di kamar rawat.


Alfian dan Rania menuju ke sebuah festifal jajanan yang di selenggarakan oleh pemerintah daerah. Jajanan khusus masakan jawa barat dari jaman dahulu sampai yang kekinian. Surganya para pencari makanan lezat di festival ini.


Rania mencari makanan khas yang khususnya berbahan buah-buahan. Ada di stand paling ujung Abang penjual rujak Bebeg. Rania sudah menghabiskan dua porsi rujaknya tetapi belum juga beranjak dari sana.


"Sayang ... mau tambah lagi atau mau pindah cari yang lain?"


"Rani bukan ingin membeli rujak lagi, Bang. Tetapi Rani sedang melihat itu yang sedang duduk di samping stand seblak dower."


"Siapa sih, Sayang?"


"Bukannya dia Zain, berduaan dengan siapa dia?"


"Katanya Zain suka sama Kakak Atha, mengapa dia pacaran dengan cewek lain, Bang?"


"Dasar play boy cap kampak, ayo kita labrak dia!"


BERSAMBUNG


jangan lupa mampir ya Shobat

__ADS_1



Jangan lupa


__ADS_2