Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Serangga Harus di Basmi


__ADS_3

[Untuk bab ini author mohon maaf, banyak bahasa yang kurang sopan, mohon bijak dalam menanggapinya, terima kasih]


"Bagaimana ini sudah tiga kali dia menghubungi dengan nomor yang sama, diangkat tidak ya?" monolog Alfarizi dengan pelan di samping meja.


Neng terbangun mendengar Alfarizi bicara sendiri. Melirik jam dinding sekarang sudah jam sepertiga malam. Neng langsung bangun dan melihat Alfarizi yang sedang melihat ponsel yang sedang bergetar karena ada panggilan masuk.


"Ada apa, Tuan?"


"Eee Neng Geulis iiih, buat kaget aja, ini lihatkah sudah empat kali dia menghubungi mu!"


"Siapa ...?"


"Entahlah tidak ada namanya."


Neng ingin turun dari tempat tidur, tetapi dengan cepat Alfarizi mengambil ponselnya, "Tidak usah turun, ini aku saja yang bawa ke situ!"


Neng hanya mengangguk dan tersenyum menerima ponsel dan segera melihat nomor ponsel yang masih berbering. Neng menggelengkan kepalanya setelah melihat nomor ponsel yang tidak di kenalnya. Dan menggeleng kembali kepada Alfarizi tidak mau menerima panggilan itu.


"Aku saja yang angkat, boleh?" Dengan anggukkan Neng, Alfarizi langsung menggeser tombol hijau dan menekan loud speaker.


"Halo ... halo ... syukurlah Bu Mitha mau mengangkat ponselku." suara Rangga Siregar langsung terdengar dan dengan mudah di kenali.


Kembali Neng menggelengkan kepalanya setelah mendengar suara Rangga Siregar. Alfarizi hanya tersenyum setelah melihat Neng yang terlihat khawatir. Walaupun sebenarnya menahan amarah dengan serangga yang mengganggu waktu istirahat dan menelpon di saat yang tidak tepat.


"Bu Mitha please, aku hanya ingin mendengar suaramu, dari kemarin aku menghubungi kamu tetapi selalu saja tidak bisa tersambung!"


Alfarizi meletakkan jari telunjuknya di bibir agar tidak terdegar oleh orang yang sedang menghubunginya. Berniat ingin membuat dia jera menghubungi istrinya. Dia duduk di samping Neng dan memulai aksi jahilnya.


"Eeeaah, siapa sih Honey mengganggu saja, bisa tolong ambilkan CD dan kaos yang ada di lantai?" kata Alfarizi sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir dan menahan tawa.


"Breng sek, Set tan, fak you...!" sumpah serapah Rangga Siregar dengan suara keras.


"Honey, coba di loud speaker biar aku dengar dari siapa, apa perlu diberi pelajaran jam sengini mengganggu saja, pelajaran apa sopan santun, Bahasa Inggris, Matematika, atau Bahasa Arab?"


"An jiiiir, Bu Mitha sedang ngapain, siapa dia apakah kamu sedang ...?"

__ADS_1


Belum sempat Rangga Siregar melanjutkan ucapannya Alfarizi memotong ucapannya, "Honey please, tolong jangan menerima telepon saat kita lagi begini, coba aku lihat sini, dari siapa sih?"


"Breng sek, tut ... tut ... tut!"


Alfarizi dan Neng tertawa lepas berdua, setelah melihat Alfian menggeliat dan bergarak mereka berdua kompak menutup mulutnya agar Alfian tidak terbangun dan terganggu. Di hati Alfarizi merasa puas sekali bisa membuat si Serangga itu naik pitam. Membayangkan wajahnya saja membuat ingin kembali tertawa sepuasnya.


"Jahil sekali sih Tuan," kata Neng sambil menggelengkan kepalanya.


"Biar kapok, sini aku blokir saja nomor dia!"


Alfarizi langsung mengambil ponsel Neng dan memblokir nomornya menekan tombol ponsel sambil ngedumel "Ini rasakan kamu serangga memang seharusnya di basmi!"


"Ha ha ha ...!" Neng langsung tertawa lepas karena ucapan Alfarizi yang absurt.


Alfian terbangun mendengar maminya tertawa dan papinya duduk di sampingnya, "Mami, Papi jam berapa ini apakah Al kesiangan bangunnya?"


"Baru jam empat Nak, tidur lagi kalau masih ngantuk!" jawab Alfarizi sambil tersenyum.


"Mengapa Mami tertawa, ada apa?"


"Apa ... serangga, mana Papi serangganya, Al geli tahu?"


"Cuma kecoa, Nak; sudah lari terbirit-birit dia mendengar Papi ceramah," jawab Alfarizi sambil melirik Neng.


"Ha ha ha ...!" Kembali Neng tertawa tanpa di tahan.


"Cuma kecoa aja sih, masak geli juga kemarin geli sama kuning-kuning ngambang sekarang geli sama serangga." kembali Alfarizi membuat Neng tertawa terbahak-bahak.


Rasanya Alfarizi menjadi ketagihan ingin selalu membuat Neng tertawa. Dulu Neng yang sering memendam perasaannya sendiri sekarang lebih bisa terbuka. Sampai matahari mulai mengintip dari balik gungung akhirnya keluarga kecil itu bercanda sambil bercerita dengan bahagia.


Pagi harinya setelah sarapan pagi, Alfian menarik papinya mengajak bermain di sungai. Yang lebih parahnya lagi banyak teman bermain Al yang kebetulan sekolah masuk siang mengikuti Mas Onta Arab dari belakang sampai sungai.


Hari ini adalah adalah harinya Alfarizi dan Alfian. Mereka mermain air dengan riang bersama, dari mencari ikan kecil, saling mencipratkan air ke lawan sampai bermain bola di sungai. Alfarizi menikmati hari ini seperti anak kecil, bermain riang tanpa beban.


Aliran sungai yang jernih, ada beberapa batuan besar berada di tengah sungai, ikan-ikan kecil berenang. Jika beruntung terkadang bisa melihat udang kecil yang menyelinap di balik batu. Kanan kiri sungai ada hamparan sawah yang menghijau membuat pemandangan semakin indah.

__ADS_1


Sebagian besar penduduk memanfaatkan sungai sebagai tempat BAB, mencuci baju, mandi dan irigasi sawah. Hewan ternak sapi dan kerbau selesai untuk membajak sawah juga sering mandi di sana. Ada juga yang memanfaatkan sebagai sumber air para pengrajin batu bata dan genteng dari tanah.


Sudah hampir satu jam berlalu mereka bermain di sungai. Saat Alfarizi sedang menendang bola datang kuning ngambang dari hulu sungai sedang mendatangi Alfarizi. Alfian langsung berteriak, "Papi, awas ada kuning ngambang mendekati Papi!"


Alfarizi langsung berlari ke pinggir sungai sambil menutup hidungnya, "Aaaal, Papi jijik ayo sudahan mainnya!"


"Ha ha ha ... Papi, lihatlah teman-teman Al biasa aja!"


"Ayo cepat kita pulang, Papi jadi merinding."


"Iya Pi, ayo teman-teman kita pulang!"


"Ayooo ...." jawab mereka serempak.


Hampir satu minggu mereka tinggal di kampung. Semakin hari Neng jadi semakin nyaman dan tidak menjaga jarak lagi dengan Alfarizi. Sayangnya Neng masih membatasi untuk kontak fisik dengan Alfarizi, mereka lebih di bilang seperti berteman dari pada berpacaran.


Hampir satu minggu ini Neng tidak di hubungi oleh Rangga Siregar setelah di blokir nomornya oleh Alfarizi. Neng dan Alfarizi mengira dia sudah mundur teratur setelah peristiwa absurt malam itu. Hati Alfarizi juga sudah merasa lega karena serangga sudah di basmi menggunakan obat serangga yang paten.


Hari ini Alfarizi mendapatkan kabar dari asistennya Surya yang cukup membuatnya naik darah. Selama satu minggu ini dia selalu mengawasi Butik AA ataupun konfeksi AA. Dua hari yang lalu Rangga Siregar menemui Desi untuk membantunya mendapatkan Neng dengan imbalan 200 juta.


Malam ini setelah Alfian tidur Alfarizi ingin menceritakan tentang peristiwa yang baru diceritakan oleh Surya, "Neng Geulis lihatlah kabar dari Surya dan Desi, kamu baca sendiri!"


Neng hanya mengangguk dan mengambil ponsel milik Alfarizi, membaca pesan WA yang di kirim oleh Surya satu persatu dengan perlahan. Rasanya darahnya hampir mendidih hanya dengan membacanya saja. Ingin sekali menjerit dan meluapkan kekesalannya mengetahui ternyata Rangga Siregar belum juga mengerti jika selama ini dia tidak menyukainya.


"Besok pagi aku mau pulang?" kata Neng dengan sedikit ketus.


"Bagaimana dengan keinginan Al yang ingin wisata bertiga, Neng Geulis?"


"Itu masih ada waktu satu minggu lagi."


"Baiklah, mau naik pesawat komersil atau helikopter?"


promo novel teman ya shobatku, jgn kupavmampir


__ADS_1


__ADS_2