
"Abang harus menikah sekarang juga dengan Neng Rania!"
"Eeee ... Abah!" teriak Rania.
Rasanya setelah bertemu langsung, Rania menjadi canggung dan bingung, pahahal setiap malam menghayal tentang dia. Sudah satu tahun terakhir menganggap dia seperti suaminya sandiri. Hampir seperti mimpi bisa bertemu dengan dia secsra tiba-tiba.
"Deal ... Abang setuju!" Alfian berdiri dan meraih tangan Abah untuk bersalaman.
Abah tersenyum merasa lega, paling tidak bisa sedikit lega karena melakukan kebaikan menjaga jodoh cucunya untuk menebus kesalahan masa lalu. Dengan menyelamatkan cucu angkatnya dan ternyata jodoh cucu kandungnya. Marasa telah menyelamatkan putrinya sendiri dari kejahatan diri sendiri di masa lalu.
Beda lagi dangan Alfian, berani mengambil resiko setuju untuk menikah dengan pujaan hati demi mami tercinta. Ingin mengakhiri penderitaan maminya yang di tanggung selama hampir seumur hidupnya. Jika ini terjadi pasti akan membuat Mami Mitha mendapatkan kebahagiaan yang sangat luar biasa.
"Tetapi Abah, apakah Rani juga boleh mengajukan permintaan sebelum Rani menyetujui tentang pernikahan ini?"
Abah memamdang Alfian meminta persetujuan hanya dengan pandangan mata saja. Setelah Alfian mengangguk tanda setuju Abah tersenyum dan berkata, "Apa permintaan Rani?"
"Rani masih punya ayah tetapi Rani tidak tahu di mana ayah berada."
"Maksudnya apa?" tanya Alfian.
"Tuan bisa menemukan Rani walaupun kita hanya sekali bertemu, berarti Tuan bisa mencari ayah dengan mudah. Rani ingin ayah yang akan menikahkan kita secara resmi."
Alfian mengerutkan keningnya berpikir sejenak. Jika harus mencari ayah yang tidak tahu keberadaannya pasti akan membutuhkan waktu yang lama. Takut Kakeknya berubah pikiran lagi, Alfian teringat awal pertemuan mami dan papinya menikah sirri.
Alfian akan mengikuti langkah seperti kedua orang tuannya agar Abah bisa terus bisa dalam pengawasannya. Menikah sirri jalan terbaik saat ini agar semua berjalan sesuai rencana, "Baiklah tetapi untuk sementara kita menikah sirri dulu, bagaimana?"
Abah langsung mengangguk setuju, "Abah setuju asal sekarang juga kalian menikah, pernikahan sirri ini tidak boleh di ketahui siapapun termasuk papi dan mami Abang."
"Baik Kakek, semua Abang yang akan mengaturnya, Kakek cukup memanggil saksi teman atau orang yang Kakek percaya!"
"Baiklah, Kakek akan ke rumah RT, dia teman Kakek."
Abah bergegas keluar rumah meninggalkan ke dua cucunya untuk bisa berbincang secara pribadi. Bisa bicara dari hati ke hati untuk rencana kedepannya. Abah tahu betul sifat cucu laki-lakinya sangat bertanggung jawab bisa menjaga cucu angkatnya.
"Tuan ... apakah Rani boleh meminta sesuatu yang pribadi?"
Alfian duduk bergeser mendekati Rania yang dudulk di sofa paling ujung, menyentil jidat rania dengan keras, "Mengapa memanggil suami sendiri dengan sebutan Tuan, ini hukumannya?"
"Aaaauw sakit, Tuan!" teriak Rania sambil mengusap jidatnya yang panas.
__ADS_1
"Eee ... masih memanggil itu lagi, mau di sentil lagi?"
"Ampun Tuan, berikan waktu Rani untuk mengubah pelan-pelan karena setiap malam Rani memanggil nama Tuan, Eee mengapa Rani jujur?" Rania menutup mulutnya karena keceplosan.
"Ha ha ha, jujur banget sih ... katakan apa permintaan primbadi kamu?"
"Rani setuju nikah sirri tetapi Rani tidak mau anu sebelum menikah resmi."
Alfian semakin mendekati Rania dan menyondongkan tubuhnya mendekati wajahnya tepat di wajah Rania, "Rania yakin ... bukankah setiap malam memandangi foto itu sambil memanggil nama suamimu ini?"
Wajah Rania memerah seperti tomat, malu tidak tertahankan saat Alfian secara terus-terang membicarakan tentang foto itu. Selama ini tak seorangpun yang sudah melihat foto itu bahkan suami halunya sendiri. Abah hanya mendengar ceritanya saja tetapi foto itu tidak pernah di tunjukkannya.
"Maaf aku tidak bisa janji tentang itu karena selalu teringat saat kejadian malam itu. Mana foto itu, jangan hanya Rani saja yang setiap hari melihatnya, sedangkan suamimu ini hanya bisa membayangkan saat itu saja!"
Rania kembali menunduk karena malu, dua foto yang diambilnya saat itu memang sangat rahasia. Tak seorangpun yang pernah melihatnya kecuali dirinya sendiri. Hanya mata dan kehaluannya sendiri yang bisa menikati foto itu selama ini.
"A ... anu Rania?" Rania menunduk dan gugup saat membayangkan saat itu memundurkan badannya sampai menempel sandaran sofa.
"Kenapa?, katakanlah!"
Rania termenung sesaat hanya berani melirik Alfian sesaat, menunduk dan malu. Pertemuan yang mendadak, mendadak harus mengakui dari suami halu menjadi suami dalam kenyataan. Pertemuan yang mendadak membuatnya masih hampir tidak percaya apa yang terjadi sekarang ini.
"Rani tidak melamun."
"Mana ponselnya?" Alfian mengambil ponsel yang yang di pegang oleh Rania dengan cepat, "Jangan Tuan!"
Kembali Alfian menyentil jidatnya dengan keras membuat Rania mengusap jidatnya sambil berteriak, "Aaauuw ... sakit Tu ...!" Rania menutup mulutnya tidak melanjutkan ucapannya takut kembali di sentil lagi.
"Sudah di bilang jangan manggil suami dengan sebutan Tuan!"
Alfian membuka ponsel milik Rania dan langsung memilih galeri untuk mencari foto yang dulu pernah di ambilnya saat pertemuan pertama kali. Alfian tersenyum setelah menemukan dua foto mereka saat mereka dalam keadaan tanpa sehelai benang. Alfian langsung mengirim foto itu pada ponselnya sendiri setelah menyimpan nomor ponselnya dengan nama, "Suami tercinta."
"Tu ... Eeee maaf Rani belum bisa mengubah panggilan itu."
Alfian tergelak sambil menggelengkan kepalanya, "Terserah saja ...!"
Alfian menghubungi Julio yang berada di luar untuk masuk rumah menggunakan ponselnya, "Jul, masuklah, Abang ada tugas penting sekarang!"
Tanpa menunggu jawaban Julio, Alfian mematikan ponselnya dan memasukkan ke dalam kantongnya kembali. Rania mengerutkan keningnya melihat suami halunya memerintahkan kepada seseorang dengan tegas, "Siapa yang Tuan panggil?"
__ADS_1
"Namanya Julio asisten pribadiku."
Rania hanya mengangguk saja bersamaan dengan pintu terbuka tanpa di ketuk oleh Julio, "Apa tugas yang akan gue kerjakan, Bang?"
"Duduklah ...!"
"Ya Bang katakan!"
Alfian memerintahkan Julio untuk mengurus acara akad nikah, "Kamu urus semua pernikahan Abang sekarang!"
Julio gaget dan terpana dengan rencana bosnya, "Abang akan menikah sekarang, bagaimana dengan ke dua orang tua Abang?"
"Ini hanya pernikahan sirri, Jul."
"Maksud Abang gimana?"
Akhirnya Alfian bercerita tentang perjanjiannya dengan kakeknya sendiri. Tentang rencana pernikahan mendadak sirri dengan pujaan hati. Rencana kedepannya untuk menyatukan mami dengan ayah kandungnya.
"Bagaimana, kamu sanggup melaksanakan tugas sekarang ini?"
"Sanggup Bang, berapa jam waktu yang Abang berikan?"
"Dua jam semua harus sudah selesai termasuk baju kebaya untuk mempelai."
"Siap laksanakan. Gue pamit."
"Satu lagi Jul, rahasiakan pernikahan sirri ini untuk sementara!"
"Beres Bang, permisi gue pamit."
Julio keluar dari rumah untuk segera melakukan tugas yang di berikan bosnya dengan cepat. Kembali Alfian mendekati Rania yang termenung dengan mendekatkan wajahnya sangat dekat di wajah Rania, "Apa lagi yang Rani pikirkan?" tanya Alfian cepat.
"Eee suami halu Rani."
"Ha ha ha ...!"
BERSAMBUNG
Jangan lupa mampir ya shobst di novel teman. Rekomen banget lo
__ADS_1