
Rania semakin bingung dan khawatir saat Alfian sampai malam hari tidak bisa di hubungi. Kini dia sedang mondar-mandir di dapur ditemani oleh Bibi Tiwi dan Bibi Sri. Mereka juga ikut khawatir melihat Rania yang gelisah.
Umi Anna yang baru pulang dari Mall bersama Abi Ali berlari mendekati Rania. Tidak mengetahui apa masalahnya membuat hati Umi Anna juga ikut bingung, "Ada apa, Rani?"
"Oma ...!" Rania langsung memeluk Umi Anna dengan erat sambil terisak.
"Mengapa menangis?"
"Abang tidak bisa di hubungi, Oma."
Umi Anna mengerutkan keningnya teringat tadi siang sempat mengirim pesan WA berpamitan sore hari akan belanja kebutuhan sehari-hari. Alfian menjawab jika dia dan ke dua orang tuanya akan pergi ke Pulau Seribu. Ada salah satu direktur keuangan yang meninggal dunia di sana.
Alfian bercerita saat membalas pesan dari omanya dalam perjalanan menuju Pulau Seribu. Mengatakan kemungkinan sore atau malam baru bisa pulang. setelah itu Umi Anna tidak menghubungi lagi sampai sekarang.
"Suamimu ada di Pulau Seribu, kemungkinan di sana tidak ada sinyal. coba Oma akan menghubungi Mami kamu," kata Umi Anna melepaskan pelukan Rania dan bergegas mengambil ponselnya yang ada di dalam tas.
Rania mengangguk dan mengusap air mata menggunakan tangan. Umi Anna menghubungi Mami Mitha menggunakan ponsel. Awalnya menghubungi Mami Mitha tidak tersambung. Bergantian menghubungi Alfian dan Papi Alfarizi tidak tersambung juga.
Ponsel mereka tidak ada yang tersambung sama sekali. Semua ponsel dalam keadaan di luar jangkauan. Membuat Umi Anna ikut khawatir dan gingung.
"Coba Umi hubungi Surya atau Julio saja siapa tahu mereka mengetahui sekarang ada di mana!" perintah Abi Ali.
"Baik ... Umi menghubungi Surya terlebih dahulu."
Umi Anna mencari nama Surya di kontak ponselnnnya. Menghubungi asisten dari putranya berharap mendapatkan kabar dari salah satu dari mereka. Hanya sayangnya Surya juga tidak bisa dihubungi, ponsel dia juga tidak aktif.
Rania semakin khawatir dan kembali terisak setelah Umi Anna tidak mendapatkan kabar dari asisten dari Papi mertua. Semenjak pertemuannya dengan Alfian, Rania belum pernah berpisah sampai seharian. Rasa rindu dan khawatir kini semakin besar berkecamuk di dada.
__ADS_1
Rasa sesal kini di rasakan di dalam hati. Tadi pagi diajak Alfian untuk ikut ke kantor pusat. Lebih memilih berwisata di Kebun Raya Bogor dengan alasan belum pernah ke sana sama sekali.
Rania ingin juga merasakan berwisata dengan ayah kandungnya. Selama bertemu beliau belakangan ini dia hanya berbincang tentang ibunya saja. Belum pernah merasakan liburan seperti keluarga yang lain.
Umi Anna berpindah menggeser nomor kontak untuk mencari nomor bertuliskan Julio. Memahami banyak yang menunggu degan cemas. Umi Anna membuka laud spiker agar mereka bisa mendengar kabar darinya.
Julio langsung menjawab, "Halo ...!"
"Jul ... posisi kamu ada di mana Bang Al dan ke dua orang tuanya di mana?"
"Maaf Oma ... Julio sekarang ini dalam perjalanan keluar dari Pulau Seribu, di sana ada angin ****** beliung yang merusak jaringan ponsel dan listrik." cerita Julio di sertai ada suara deru motor.
"Mengapa mereka tidak pulang bersama kamu, Jul?"
"Akses jalan untuk keluar pulau sedang terganggu, Oma. Hanya motor yang bisa melewati jalan setapak."
"Secepatnya setelah akses jalan diperbaiki."
"Tapi mereka baik-baik saja, kan?"
"Iya Oma ...."
Setelah mematikan ponsel, Umi Anna mendekati Rania yang dari tadi terlihat sedih dan khawatir, "Sekarang istirahat saja, jangan berpikiran yang macam-macam. Abang Al, Mami dan Papi baik-baik saja."
"Ya Oma terima kasih."
Rania merasa lega setelah mendapat kabar dari Julio. Mengirim pesan kepada Elfa agar dia tidak kawatir. Beristirahat di kamarya sambil menunggu Alfian pulang.
__ADS_1
Sementara Alfian saat ini sedang bingung harus bagaimana. Ponsel tidak ada jaringan dari tadi siang. Terebak macet total jalanan berpuluh-puluh kilo meter panjangnya.
Rasa rindu seharian tidak mendengar suara dan tidak melihat wajah Rania. Rasanya seperti satu abad tidak bertemu padahal baru tadi pagi tidak melihatnya. ingin rasanya berlari dan memeluknya tetapi apa daya sekarang terjebak dengan kemacetan di jalan raya.
Kerusakan akibat angin ****** beliung merusak sebagian wilayah Pulau Seribu. Ada tebing yang longsor setelah di lewati ****** beliung yang berpura-putar. Longsorannya menutupi jalan raya menuju keluar pulau.
Setelah tanah pongsor yang menutupi jalan. Ada banyak pohon yang tumbang menutupi sepanjang jalan. Hanya motor yang bisa melalui jalan setapak itupun bagi yang sudah mahir mengendarai motornya.
Untungnya Julio membawa motor gedenya. Setelah akses jalan bisa dibuka sedikit dia langsung belesat keluar pulau untuk mengabari keluarga. Berpamitan kepada tuannya untuk mencari alternatif agar bisa pulang secepatnya.
Alfian semakin kesal ingin segera pulang dan keluar dari pulau. Niatnya di urungkan karena Mami Mitha badannya panas dan terlihat pucat. Mami Mitha berbaring di dalam mobil dan kepalanya ada di pangkuan Papi Alfarizi.
Mobil berada di tengah-tengah kemacetan panjang. Mobil tidak bisa mundur ataupun maju. Dengan terpaksa mereka pasrah menunggu para pekerja yang menangani akses jalan selesai.
Tidak adanya peralatan yang memadahi juga menghambat jalannya perbaikan jalan. Para pekerja hanya mengandalkan tenaga untuk membersihkan jalan. Tanah yang menutupi jalan hanya di pindahkan menggunakan cangkul dan peralatan seadanya. Satu persatu pohon pohon yang melintang di jalan dipindahkan dan di potong menggunakan mesin potong tangan.
Pukul delapan malam belum juga selesai akses jalan diperbaiki. Hampir satu jam setelah Julio bisa keluar dari Pulau Seribu. Tidak adanya akses untuk menghubungi Julio, membuat susah berkomunikasi.
Alfian semakin khawatir melihat Mami Mitha yang masih terbaring di pangkuan Papi Alfarizi. Walau sudah minum obat penurun panas, tetapi kondisinya masih lemah. Harus segera di tangani dokter agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Alfian yang berjalan mondar-mandir di samping mobilnya. Berpikir keras bagaimana cara bisa keluar dari kemacetan ini segera. Surya juga ikut bingung dan tidak bisa berbuat banyak karena akses listrik dan sinyal yang mati total.
Tidak ada penerangan kecuali cahaya temaram dari bulan dan bintang. Pengendara lain juga terlihat gelisah dan tidak bisa berbuat banyak. Hanya menunggu dan menunggu walaupun rasanya sudah tidak bisa sabar lagi.
Aparat dan kepolisian juga sudah membantu akses agar cepat terbuka. Mereka hanya berpesan untuk bersabar lagi. Belum tentu sampai besok pagi akses jalan bisa terbuka.
Alfian semakin khawatir, dia kembali mondar-mandir tanpa henti. Dia tersentak kaget mendengar suara sayup-sayup panggilan dari jauh, "Abang ....!" teriaknya.
__ADS_1
Alfian melihat sekitar tidak ada orang di kenalnya. Suara teriakan itu sangat di kenalnya. Alfian sampai menggelengkan kepala dan bermonolog sendiri, "Apakah terlalu rindu tidak bisa bertemu Rani, mengapa terjaga tetapi seperti bermimpi mendengar suaranya?"