
Doni kaget dan heran melihat Alfian berjalan dengan seorang gadis belia. Karena hampir tidak percaya dia sampai menyipitkan matanya. Tidak mengenal mereka sama sekali membuat Doni tersenyum berpikir gadis itu adalah gadis istimewa di hati Alfian.
"Om Doni ayo pulang!"
Doni berbisik di telinga Alfian saat berjalan menuju parkir, "Bang, gadis itu gebetan Abang?"
"Om ini, Al masih kecil, Kakak cantik itu putri Papi tetapi bukan putri kandung," jawab Alfian sambil memukul lengan Doni.
"Oooo kirain ...!"
Sampai di rumah Alfian tidak menemukan ke dua orang tuanya. Mempersilahkan Marta dan omanya duduk di ruang tamu dan memanggil Ibu Ani. Menceritakan tentang tamunya yang ingin pertemu dengan papinya.
"Selamat sore Bu, perkenalkan saya Nenek Alfian," Ibu Ani mengulurkan tangan bersalaman bergantian oma dan cucunya.
"Saya Ibu dari almarhumah Sinta, Bu."
"Apakah Anda ingin bertemu dengan Nak Alfarizi?"
"Yang ingin bertemu Alfarizi cucu saya Bu, ini namanya Marta."
"Baiklah, di tunggu ya. coba saya hubungi sebentar!"
Hampir satu jam Marta dan omanya menunggu kedatangan Alfarizi. Saat mereka datang seluruh keluarga sudah menunggu di ruang tamu. Alfarizi baru sampai di depan pintu berjalan sambil menggandeng Neng, Marta langsung berlari memeluknya, "Papa ...."
Elfa melihat ke dua orang tuanya datang dan di peluk oleh orang lain seketika menangis sekencang-kencangnya. Seolah tidak rela papinya di peluk. Tangannya menggapai ingin memukul Marta.
Alfarizi tersenyum setelah memeluk Marta, "Sebentar ya Nak, ayo duduk lagi. Itu putri Papi satu lagi juga pingin di peluk.
"Iya Papa," jawab Marta pelan.
"Elfa sama Mami saja ya?" Neng mencoba menggendong Elfa agar tidak menangis.
Tetapi Elfa terus saja menangis sambil menggeliat ingin di gendong papinya. Balita itu benar-benar tidak rela papinya di peluk orang yang tidak di kenalnya, "Papinya El ya, tidak apa-apa Nak. Kakak cuma memeluk sebentar," rayu Neng agar Elfa diam dan tidak menangis lagi.
"Ooo ini Papinya El ya, sini Sayang Papi gendong. Maaf ya Kak Marta, Papi gendong Elfa dulu." Alfarizi mengambil alih Elfa dari gendongan Neng.
__ADS_1
Alfarizi mendekati ibunya Sinta dan mencium punggung tangannya, "Apa kabar Mama, perkenalkan ini istri Al, Mitha namanya."
"Sore Bu, silahkan duduk." Neng juga mencium punggung tangan mantan mertua suaminya.
Neng dan Ibu Ani hanya berbincang sebentar dengan mereka. Kemudian membiarkan Alfarizi berbincang secara pribadi dengan mantan ibu mertua dan putri angkatnya. Agar mereka tidak merasa canggung saat berbicara dari hati ke hati.
"Mama apa kabar?"
"Mama baik, maaf mengganggu waktu istirastnya ya, Marta dari kemarin merengek ingin bertemu dengan Nak Al."
"Tidak apa-apa Ma, Marta apa kapar?"
"Marta baik Pa, Marta sangat merindukan Papa, Papa kandung Marta sekarang ada di rumah sakit jiwa. apakah boleh Papa jadi Papa Marta lagi?" tanya Marta dengan raut wajah yang sedih.
"Tentu Nak, Marta harus jadi anak pintar dan patuh pada Oma dan Opa ya."
"Iya Pa."
"Apa benar Ma, Dokter Mario ada di rumah sakit jiwa?"
Hutang yang menumpuk, Menggelapkan uang perusahaan keluarga. Tidak adanya pemasukan dari Sinta yang tidak bekerja lagi menjadi model. Membuat keharmonisan rumah tangga Mario dan Sinta Mulai goyah.
Sinta juga sering membanding-bandingkan Mario dengan Alfarizi. Membuat hubungan keduanya semakin mereggang. Sifat Mario yang pendendam sering menyalahkan Alfarizi dalam seriap pertengkaran.
Saat ini Mario berada di rumah sakit jiwa. Sampai sekarang rasa bersalah telah mengakibatkan putranya yang masih dalam kandungan ikut meninggal dunia bersama istrinya. Membuat pikirannya tidak bisa menerima kanyatan yang terjadi.
Sampai saat ini Mario menyangka bahwa putrinya Marta sudah meninggal dunia. Saat kemarin baru tiba di Jakarta Marta langsung berkunjung ke sana tetapi papanya tidak mengenalinya sama sekali. Membuat Marta sangat sedih berniat ingin menjadikan Alfarizi sebagai papa idolanya lagi.
Asuransi dari kecelakaan yang di alami Sinta untuk membayar hutang Mario yang menumpuk. Rumah yang dulu di tinggali Sinta dan Alfarizi juga sudah di jual untuk membiayai pengobatan Marta selama satu tahun. Marta sekarang sudah menjadi warga Negara Australia ikut oma buyutnya tinggal di sana.
"Jadi Marta ke sini hanya berkunjung saja?" tanya Alfarizi setelah Mama selesai bercerita.
"Iya, Pa. Marta kangen sama Papa Mario dan Papa Al. Marta hanya satu minggu saja di Jakarta."
Alfian datang setalah berganti baju dan mengerjakan pekerjaan rumah, "Kak Marta mau main sama Al?"
__ADS_1
"Mau, Oma ... Papa apakah boleh Marta bermain dengan Alfian?"
"Tentu, sana bermainlah dengan adikmu," jawab Alfarizi.
Alfarizi teringat jika mantan Ibu mertuanya adalah saudara kandung dari ibu Rangga Siregar. Sekarang ini tidak pernah mengikuti perkembangan tentang laki-laki itu. Dengan ragu Alfarizi bertanya kepadanya, "Bagaimana kabar Rangga Siregar sekarang, Ma?"
"Setelah dia di vonis seumur hidup karena terbukti merencanakan pembunuhan kepada istri ke tiganya, dia pernah mencoba melarikan diri dua kali."
"Melarikan diri dari penjara, Ma. Al tidak pernah mendengar berita itu?"
"Memang tidak sempat tercium media karena dia hanya membobol pintu selnya sendiri, sudah ketahuan sipir penjara."
Alfarizi mengerutkan keningnya memikirkan Rangga Siregar yang berusaha melarikan diri. Pasti akan berusaha mendekati Neng lagi jika dia bebas. Pasti akan membahayakan istri dan putra-putrinya.
"Apakah Rangga sakarang masih di lapas yang ada di sini, Mama?"
"Tidak, sekarang Rangga di pindahkan ke Nusa Kambangan."
Alfarizi langsung bernapas lega setelah mendengar Rangga Siregar berada di lapas Nusa Kambangan. Tidak mungkin dia mengganggu keluarganya lagi. Berharap tidak ada yang mengganggu dan menyukai Neng lagi.
Hampir menjelang senja Marta dan omanya perpamitan pulang. Rasa bahagia yang terlihat di wajah Marta terlihat nyata. Bisa di terima dengan baik apalagi Alfian menganggapnya sebagai kakak.
Alfarizi sambil menggendong Elfa, Neng dan Alfian mengantar Marta dan omanya sampai depan pintu. Memerintahkan Doni untuk mengantarkan mereka sampai rumah oma yang ada di Jakarta. Atau mengantar ke manapun yang mereka inginkan berbelanja keperluan Marta.
"Pi, apakah Kakak Marta akan tinggal bersama kita di rumah ini?" tanya Alfian saat mereka sudah keluar gerbang dan tidak terlihat lagi.
"Tidak Bang, Kak Marta hanya berkunjung saja."
"Tadi dia cerita lo Pi, dia senang dan bahagia banget di terima baik oleh Papi dan Abang Al, Mami juga bersikap ramah, dia pingin juga memanggil Mami, tetapi takut katanya."
Neng hanya tersenyum saat mendengar cerita dari putranya, "Mengapa takut, Bang?"
"Katanya Mami cantik banget sedangkan wajah Kak Marta biasa-biasa saja."
Alfarizi langsung tersenyum dan berbisik, "Istri siapa dulu dong, istri Papi pasti cantiknya paripurna, kalau seandainya Marta ikut dengan kita, apakah Mami setuju?"
__ADS_1