
Alfarizi menatap sendu kearah Neng, bingung harus bagaimana saat putranya mengajak tidur bertiga di tempat tidur. Tidak berani menolak putranya, tetapi menunggu persetujuan dari Neng. Berharap Neng mengabulkan permintaan dari putranya.
"Maksudnya gimana Nak?" tanya Neng masih tidak percaya dengan permintaan putranya.
"Mami tidur di sebelah kiri Al dan Papi di sebelah kanan Al, ayo dong Pi cepat sini!"
"Ba ... baiklah, Al agak geser dekat Mami!"
Neng hanya terdiam tanpa kata. Melirik Alfarizi dengan kesal, tetapi tidak bisa menolak permintaan putranya. Dia hanya menyelimuti tubuhnya sampai leher dan memejaman mata.
Saat Alfian sudah terlelap dalam mimpinya dan bernapas dengan teratur, Neng masih gelisah dan terjaga hanya saja matanya tertutup rapat dan tidak berani bergerak sama sekali. Pikirannya jauh melayang ke masa lalu saat masih tinggal di villa.
Suasana kamar yang sama persis seperti villa membuat Neng seolah kembali ke masa lalu, hanya bedanya sekarang ada Alfian yang tertidur pulas diantara keduanya. Hampir melewati tengah malam, Neng masih saja melamun dan tidak berani membuka mata. Lama-kelamaan dia bisa tertidur pulas setelah meyakinkan hati dan mencoba untuk ikhlas semua dilakukan demi putra tercinta.
Setali tiga uang dengan Alfarizi, dia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Dulu saat membangun dan mendesain kamar ini persis seperti di villa agar bisa membayangkan berdua dengan Neng akan sangat bahagia. Nyatanya setelah sekarang ini benar-benar satu kamar, dia justru teringat saat memperlakukan istri sirinya dengan tidak sepantasnya.
Berkali-kali Alfarizi hanya menarik napas panjang karena pikirannya campur aduk antara bersalah dan bahagia. Dia saat ini tidur dengan posisi miring badannya menghadap Alfian tetapi pandangan matanya selalu tertuju ke wajah Neng yang memejamkan matanya. Dia tahu jika mami dari putranya itu juga tidak bisa tidur, tetapi mulutnya tetap tertutup rapat, tidak ingin Neng terganggu istirahatnya.
Mengingat kondisi Neng yang masih sering mengalami trauma, Alfarizi harus ekstra hati-hati. Mengikuti alur tetapi pasti selalu berusaha dengan sepenuh hati. Tidak terlalu memaksakan kehendak hati, yang pasti bisa berdekatan, memandang wajahnya, melindunginya dan membuatnya nyaman itu yang utama.
Hampir menjelang pagi Alfarizi hanya memandang wajah Neng yang terlelap dalam mimpi. Seolah mata enggan diajaknya terpejam, wajah cantik itu selalu membuat hati bergetar tiada menentu. Bisa memejamkan mata sesaat sebelum fajar menyingsing mengintip di balik gunung.
Seperti biasa Alfian bangun pagi pukul lima lebih tiga puluh menit. Al sudah tidak mendapati maminya tidur di sampingnya. Dia sudah bangun dan duduk di sofa panjang sedang termenung dan memandang duo Al, "Mami, apakah sudah mandi?" tanya Al sambil berbisik.
"Sudah Nak, Al mandi sana Mami persiapkan baju seragam sekolahnya!"
"Iya Mi."
__ADS_1
Alfian masuk kamar mandi dengan membawa handuk yang sudah di persiapkan oleh Neng. Neng kembali termenung sambil memandangi orang yang masih terlelap di tempat tidur. Ada banyak sekali pertimbangan saat ini di pikirannya, masih saja otaknya sulit menerima kehadirannya padahal hatinya sangat nyaman saat berada di dekatnya.
Sampai Alfian selesai mandi, si Pohon Pisang yang sekarang sudah memiliki hati belum juga terjaga dari mimpinya. Neng hanya menebak jika dia sebenarnya juga tidak bisa tidur seperti dirinya. Alfian bergegas memakai seragam sekolahnya, tetapi dia terbiasa selalu melempar handuk ketempat tidur setelah mandi hingga tanpa sengaja mengenai wajah Alfarizi.
"Hfff ... maaf Papi, Al lupa kalau ada Papi ada di tempat tidur dan belum bangun!" Alfian spontan menarik handuk yang berada di wajah papinya.
Alfarizi yang tersentak kaget karena handuk basah mengenai wajahnya langsung bangun dan terduduk bingung. Matanya langsung melihat Neng yang menutup mulutnya menahan ketawa, rasanya hatinya adem dan damai.
"Eee sudah rapi semua, tunggu Papi mandi dulu!"
Tidak kurang dari setengah jam Alfarizi sudah selesai mandi, keluar dari kamar mandi hanya melilitkan handuk di pinggangnya. Berharap baju ganti sudah di persiapkan di atas tempat tidur seperti dulu, ternyata tidak ada di sana. Dengan santai dia membuka lemari dan mengambil ganti baju dan memakainya di kamar tanpa canggung.
Neng langsung mengalihkan pandangannya saat melihat Alfarizi hanya mengenakan handuk tanpa berani berkomentar. Rasanya ingin berteriak dan menutup wajahnya melihat pemandangan yang seharusnya tidak boleh di lihat. Dia hanya mengalihkan pandangannya kepada Alfian yang sedang mempersiapkan pelengkapan sekolah.
Saat memakai baju, Alfarizi menahan senyum saat memandang Neng yang seolah kaget dan mengalihkan pandangannya ke putranya. Alfarizi tahu jika tidak ada Alfian mungkin dia akan menjerit dan berkomentar karena melihat tubuhnya yang belum memakai baju. Dengan sengaja Alfarizi memakai baju perlahan agar istrinya itu menoleh kearahnya.
"Iya sedikit lagi nich, mau sarapan di luar atau di sini?" jawab Alfarizi mempercepat memakai bajunya.
"Terserah Mami aja."
Alfarizi mendekati Neng yang duduk di sofa panjang dengan membawa kaos kaki dan sepatunya, langsung duduk di sampingnya, "Sarapan di mana Mami?" tanya Alfarizi sambil memakai kaos kaki dan sepatu.
"Di sini saja," jawab Neng singkat, dia hanya bergumam dalam hati tidak ingin di tempat umum bersama dengan papinya Alfian takut disorot oleh media infotaiment.
"Ok, di tunggu sebentar, Mami mau sarapan apa?"
Neng hanya menarik napas panjang mendengar sekarang dia berani memanggil dirinya mami. Hanya selalu ngedumel dan marah dalam hati tanpa berani mengatakannya secara langsung. Tidak ingin putranya mengetahui jika dia kesal dan marah, hanya di pendamnya dalam hati.
__ADS_1
Setelah selesai sarapan bersama, Alfian berangkat sekolah diantar papi dan pulang juga akan menjemputnya. Neng memilih untuk langsung ke Butik AA tanpa harus pulang terlebih dahulu, sengaja tidak ingin berdua dengannya setelah Alfian berangkat sekolah. Neng masih saja membatasi diri dengan dinding hati yang kokoh.
Neng hanya duduk di dalam kantornya yang masih sepi, masih menimbang antara hati dan logikanya. Ada telepon yang berbunyi dengan tulisan nama Bude. Neng langsung menggeser tombol warna hijau, "Injih Mbak wonten nopo? (Iya Mbak ada apa?)"
" .... "
"Aku tuku tiket saiki, Mbak; tunggu aku teko yo! (Aku beli tiket sekarang, Mbak; tunggu aku datang ya!")
" .... "
Jadwal pulang sekolah Alfian jam dua siang, Alfarizi bergegas bersemangat ingin menjemput putranya. Menunggu di depan gerbang sampai semua siswa pulang di jemput oleh orang tuanya masing-masing tetapi yang di tunggu belum juga keluar dari pintu kelas. Hati mulai gelisah menunggu putranya tak kunjung keluar dia memutuskan untuk bertanya kepada guru kelas atau kantor.
Bergegas dia masuk area sekolah dan bertanya pada guru kelas putranya, "Permisi Bu, apakah Anda wali murid kelas 2A?"
"Betul, Anda ingin menjemput siapa, Pak?" jawab guru kelas Alfian
"Apakah siswa yang bernama Alfian Alfarizi sudah pulang?"
"Ooo Al, dia sudah di jemput oleh Maminya pukul delapan tadi pagi dan sudah minta izin untuk tidak masuk sekolah karena ada keluarganya yang meninggal dunia di kampung."
"Di kampung ...!"
Jangan lupa baca novel author yg lain juga di noveltoon
I love you all
__ADS_1