
Neng hanya melirik dua orang wanita yang berdiri di pintu makam bagian belakang. Neng hanya mengenal Esih karena pernah bertemu beberapa kali. Ibu Kokom belum sekalipun dia temuinya, dia hanya mengenalnya melalui foto saat dia di sidang sebelum di penjara.
Akhirnya Neng bertanya kepada suaminya, "Papi, apakah mereka itu Ibu Kokom dan Esih?"
"Mana Honey?"
"Itu Pi, yang ada di pintu makam bagian belakang."
Alfarizi langsung menengok dan memperhatikan dua orang yang berdiri di sana. Setelah yakin dan mengenalinya, akhirnya Alfarizi memanggil bodiguard yang berdiri tidak jauh darinya karena tidak ingin terjadi keributan, "Pak ... kemari sebentar!"
"Ya Tuan."
"Kamu lihat dua orang wanita yang berdiri di pintu belakang makam itu?"
"Ya Tuan."
"Kamu awasi mereka, jangan sampai mereka mendekat ke sini. Kamu jaga mereka terutama jauhkan dari istriku, kamu mengerti?"
"Siap laksanakan."
Junaidi yang baru saja masuk makam setelah pulang mengantar istri dan putranya. Dia langsung berlari mendekati dua orang yang berdiri di pintu belakang setelah mendapatkan kabar dari bodiguard. Dia tidak ingin kecolongan untuk ke dua kalinya seperti peristiwa Dokter Mario.
"Ibu mau apa ke sini?" tanya Junaidi jutek.
"A ... aku mencari mantan suamiku," jawab Cek Kokom gugup.
"Ayah Asep tidak hadir dalam pemakaman ini, sebaiknya Anda pergi dari sini!"
"Apakah mantan suamiku tidak mendengar kabar jika kakaknya meninggal dunia?" tanya Cek Kokom penuh selidik.
"Kami tidak tahu di mana Ayah Asep. sebaiknya Anda cepat pergi, jangan sekali-kali Anda membuat keributan di sini kalau tidak ingin masuk penjara lagi!"
__ADS_1
Dengan cepat Cek Kokom dan Esih meninggalkan pemakaman. Rupanya penjara satu tahun cukup membuatnya jera. Mereka tidak berani membuat ulah karena tidak menemukan keberadaan Ayah Asep.
Neng hanya melihat percakapan Junaidi, mantan Ibu tiri dan Esih dari kejauhan. Tidak berniat mendekati atau bertemu dengan mereka. Rasa sakit hati masih di rasakan Neng saat ini karena merekalah Neng tidak bisa menemui Ayah Asep.
Setelah Cek kokom dan Esih meninggalkan pemakaman, Neng dan keluarga juga pulang ke villa untuk beristirahat. Ternyata sampai satu minggu Neng tinggal di villa, ibu dan adik tiri masih mengawasi dari jauh. mereka masih mencari keberadaan ayah Asep.
Empat puluh hari kemudian pengacara Alfarizi menemui keluarga untuk menyampaikan amanah dari almarhum Encang Ginanjar. Ternyata diam-diam satu tahun yang lalu Encang Ginanjar membuat wasiat. Setelah nanti beliau meninggal dunia seluruh harta kekayaannya akan di wariskan kepada dua cucunya yaitu Alfian dan Elfa.
Alfian dan Elfa akan menerima warisan itu setelah berumur 17 tahun. Untuk sementara harta akan di kelola oleh Alfarizi dan Neng untuk sementara. Warisan itu diantaranya tanah yang sangat luas berada di sekitar villa milik Alfarizi. Warisan itu di bagi rata antara Alfian dan Elfa.
Satu tahun kemudian seluruh keluarga di boyong oleh Alfarizi pergi ke Ngawi bertepatan Alfian kelas enam Sekolah Dasar. Memenuhi wasiat terakhir almarhum MBah Kakung yaitu khitan Alfian harus di laksanakan di sana. Bersamaan Alfian yang baru menyatakan sudah siap untuk di khitan.
Dari kecil Alfian paling manja dan tidak tahan saat sakit. Membuat Neng sangat khawatir karena takut putranya tidak tahan merasakan sakit, "Abang sudah yakin ya untuk khitan sekarang?" tanya Neng setelah tiba di desa.
"Sudah siap, Mami. Teman Abang banyak yang sudah khitan, Abang sering di ledek sama teman-teman karena belum di khitan."
"Di ledek bagimana, Bang?"
"Kata mereka kalau terlambat khitan keburu alot nanti motongnya pakai parang atau golok."
"Papi dulu kelas berapa saat khitan?"
"Kata Oma Anna, Papi kelas lima sudah di khitan."
"Yok ... Papi khitan lagi temani, Abang!"
Neng tertawa terpingkal-pingkal dengan keluguan Alfian. Tidak mau menjawab perbincangan ayah dan anaknya. Dia hanya membayangkan alangkah lucu dan absurdnya jika ada ayah dan anak khitan bersama.
"Tidak bisa dong Bang, khitan itu hanya di lakukan sekali seumur hidup," jawab Alfarizi tertawa sambil mengedipkan matanya kepada Neng.
"Ooo tidak boleh ya, Pi?"
__ADS_1
Badan Alfarizi mendekati Neng dan berbisik di telinganya, "Papi nanti tidak bisa mengajak Mami bergoyang kalau di khitan lagi, Habis dong senjata onta arab, Papi." Neng kembali tertawa terbahak-bahak tanpa menjawab ucapan Alfarizi.
Jaman semakin maju, demikian juga di dunia kedokteran. Pagi ini Alfian melakukan khitan dengan menggunakan metode laser. Khitan ini di nilai lebih aman dan nyaman karena minim perdarahan. Proses khitan hanya membutuhkan waktu hingga 30 sampai 60 menit.
Metode laser menggunakan alat kauter atau bedah listrik untuk memotong kulit p*nis. Alat kauter akan memotong kulit tanpa menimbulkan perdarahan karena memiliki sifat panas dan langsung membekukan darah di kulit. Metode yang menggunakan sinar laser CO2 memiliki efektivitas yang serupa dengan teknik bedah listrik, hasilnya juga biasanya lebih rapi dan luka dapat sembuh lebih cepat.
Sesaat selesai di khitan Alfian masih tersenyum karena obat bius juga belum hilang. Tidak terasa sakit sedikitpun yang dia rasakan. Dia hanya berbaring di tempat tidur memakai sarung sambil bermain game online dalam ponselnya.
"Apakah sakit Bang?" tanya Neng.
"Tidak terasa sama sekali sih, Mami."
"Saiki durung keroso, mengko bengi delok wae," kata Mbah Buyut (Sekarang belum terasa, lihat saja nanti malam).
"Kok saget, Mbah?" tanya Neng (Kok bisa, Mbah)
"Iyo yen bengi burunge tangi, loro banget rasane." (Iya kalau malam burungnya bangun rasanya sakit sekali)
Mbah buyut memberikan wejangan kepada Neng dan Alfarizi cara mengatasi anak paska khitan. Neng dan Alfarizi yang baru pertama kali mengalami ini hanya tersenyum saat Mbah Buyut memberi tahu cara mengatasinya. Bahkan Mbah Buyut juga mencarikan alat untuk mengatasi jika nanti malam tiba-tiba terbangun.
Malam ini Neng dan Alfarizi menemani Alfian tidur. Takut apa yang di katakan Mbah buyut tadi pagi benar terjadi. Alfian tidur pulas sampai pukul satu malam, Alfarizi dan Neng masih terjaga.
Saat mereka memutuskan untuk tidur tiba-tiba Alfian berteriak, "Aduuuh Mami ...!"
"Ada apa, Nak?" tanya Alfazi kaget dan mendekati Alfian.
"Itu Papi, mengapa dia jadi tegang begitu ... sakit Mami aduuuuh!"
Neng berlari mengambil alat yang diberikan Mbah buyut tadi pagi. Neng langsung mendekati Alian dan langsung menggelitiki telinganya menggunakan bulu ayam. Alfian yang awalnya teriak kesakitan menjadi tertawa terbahak-bahak, "Ha ha ha ... Mami geli, apa itu yang Mami pakai?"
Neng ikut tertawa sambil menunjukkan bulu ayam, "Ini pakai bulu ayam, kata Mbah Yut biar burung Abang tidak tegang lagi."
__ADS_1
Tanpa di duga Alfarizi langsung naik dan berdiri di tempat tidur Alfian sambil berteriak, "Iiiih Mami jauhkan itu, Papi jijik ...."
"Ha ha ha ...!"