Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Dangdut Koplo


__ADS_3

Mata Alfarizi memerah menahan amarah karena teringat kemarin Mario dan Rangga Sirefar bertemu di kantin rumah sakit. Nama Dokter Mario adalah nama yang Alfarizi benci saat ini. Karena dialah sebagian besar hidupnya di habiskan dengan melakukan kesalahan besar.


"Al, memang kamu kenal Dokter Maria, mengapa kamu marah seperti ini?" tanya Dokter Harry kaget.


"Papi, apa hubungannya Papi dengan Dokter Maria?" Neng juga kaget dan khawatir dengan perubahan sikap suaminya yang gampang berubah.


"Tunggu ... tunggu namanya Dokter Mario atau Maria?"


"Al kamu selain ngidam apalagi yang terjadi padamu, coba dibaca dengan benar ini Dokter Maria, beliau yang pernah menangani operasi caecar saat Alfian lahir!"


"Maaf Bro aku salah baca, aku baca tadi Dokter mario, ok aku masuk sekarang!"


"Papi bikin khawatir saja." Neng mengambil napas panjang merasa lega karena dia mulai tenang dan tidak terlihat marah.


"Ok Mitha, Abang kerja lagi jaga Pak Mil-mu emosinya sedang tidak stabil ikat saja di pohon pisang jika dia bikin ulah, ha ha ha!"


"Kampret lo, Kakak Ipar ...." Alfarizi memukul pundak Dokter Harry perlahan sebelum dia pergi.


Neng dan Alfarizi masuk ruang pemeriksaan Dokter Maria yang terlihat rapi. ada dua suster yang sedang berada di sampingnya tersenyum dan mengangguk, "Selamat pagi Dokter." Alfarizi penyapa dengan sopan.


"Selamat pagi, duduklah Mitha, apa kabar Alfian, mengapa dia tidak ikut?"


"Al sehat, dia masih sekolah. Ibu sehat?"


"Ibu sehat. Dia Papinya Al?"


"Iya Bu, kenalkan namaya Alfarizi."


"Ok Nak Alfarizi, saya Maria kakak dari dokter anak yang sering mengobati putramu Al, kami menganggap Mitha dan Al seperti putri dan cucu kami sendiri, maaf kemarin saat kalian menikah Ibu tidak bisa hadir."


"Iya Bu, salam kenal terima kasih sudah menjaga istri dan putraku."


"Ok, sekarang waktunya kita kerja, Suster periksa awal pasian ya!" perintah Dokter Maria.

__ADS_1


"Baik Dok."


Suster mulai memeriksa Neng dari tensi darah, nadi, tinggi badan berat badan dan suhu tubuh. Sambil di periksa oleh suster kembali Dokter Maria bertanya kepada Neng, "Kapan Nak Mitha terakhir menstruasi?"


"tanggal lima bulan lalu, Dok."


"Ok sekarang ini tanggal sepuluh, berarti ini sudah sekitar enam minggu, sebaiknya di periksa dengan menggunakan USG saja agar lebih pasti, Suster bantu Bu Mitha untuk berbaring ke Brankar tempat tidur!"


Suster membantu Neng berbaring di branker di tempat tidur. Alfarizi mengikuti Neng dan berdiri di sisi samping kepala Neng dan menggenggam tangannya. Tersenyum merasa bahagia bisa menemani istrinya di moment yang sangat penting hari ini.


Suster mulai memberikan jel di perut Neng setelah di buka kancing roknya dan memberikan selimut dari pinggang sampai kakinya. Mause di gerakkan di perut yang ada jelnya, monitor layar USG terlihat ada gumpalan kecil ada di tengah rahim.


"Ini dia colon janinnya masih terlihat kecil umurnya baru enam minggu," cerita Dokter Maria sambil terus menggerakkan mause yang ada di perut Neng.


"Bagaimana Dok, apakah sehat calon baby-nya?" tanya Neng dengan antusias.


"Ya ini sesuai dengan umur kandungannya."


Mata Alfarizi memandang monitor tanpa berkedip. Tetap masih menggenggam tangan Neng dan meliriknya yang masih berbaring di tempat tidur. Bahkan mulutnya tak sanggup untuk mengucapkan sepatah kata sekalipun ada benih buah cintanya yang ada di rahim istrinya.


"Sekarang saya cetak dulu foto USG-nya bisa di simpan nanti."


Neng turun dari brankar tempat tidur di bantu Alfarizi, Kembali duduk di kursi di depan Dokter Maria, "Selamat ya sebelumnya untuk kalian berdua, apa ada keluhan?" tanya Dokter Maria.


"Saya tidak ada keluhan sih, Dok. tetapi ini suami yang setiap hari mual dan muntah, emosi terkadang tidak stabil," cerita Neng sambil tersenyum dan melirik Alfarizi.


Dokter Maria hanya tersenyum mendengar cerita Neng, "Itu namanya sindrom kehamilan simpatik."


"Apa yang menyebabkan sidrom kehamilan simpatik, Dok?" tanya Alfarizi penasaran.


"Karena ikatan batin antara suami dan istri yang kuatlah yang menyebabkan terjadinya sindrom ini."


Alfarizi mengangguk faham, teringat saat Neng meminta ketika hamil bersedia ngidam. Kini semua terjadi dan dialah yang merasakan semua yang di alami ibu hamil. Ada rasa lega dalam hati bisa mengurangi rasa tidak nyaman yang seharusnya di alaminya.

__ADS_1


"Saya beri obat anti mual, vitamin untuk ibu hamil jangan lupa makan gizi seimbang, minum susu khusus untuk ibu hamil."


"Ya Dok, terima kasih," jawab Alfarizi sambil mengangguk.


"Ingat Mitha, banyak istirahat dan jangan banyak pikiran, jangan sampai peristiwa Alfian terulang kembali," nasehat Dokter Maria yang berperan sebagai ibu.


"Peristiwa apa maksudnya, Dok?" tanya Alfarizi.


"Alfian lahir prematur, umur kadungan baru tujuh bulan karena Mitha terlalu tertekan pikirannya dan pekerjaan yang tidak sedikit, dia berjuang sendiri tanpa lelah saat tidak ada Nak Alfarizi di sampinya," jawab Dokter Maria lagi.


Rasanya Alfarizi seperti tertimpa gada yang sagat besar di badannya. Rasa nyeri dan sesak di dada karena merasa bersalah itu tidak pernah hilang dari dalam hatinya. Rasanya ingin mengulang dan memutar waktu saat dulu ragu ketika pertama kali meninggalkannya.


Tanpa terasa air mata Alfarizi mengalir tanpa disadari, sampai tangan Neng menyentuh pundaknya, "Pi, jangan berpikiran yang macam-macam jadi menangis, kan!"


Alfarizi mengusap air matanya dan tersenyum, "Maaf Papi jadi baper ... maaf Dokter."


"Semua sudah berlalu, Nak. Jangan dipikirkan lagi sekarang jagalah istri dan putramu dengan baik, semua orang pernah salah, hanya Tuhan yang sempurna semua manusia pernah melakukan kesalahan, hanya saja sekarang bagaimana kita bisa memperbaiki diri."


"Iya Bu terima kasih," jawab Alfarizi menunduk dengan wajah sayu.


"Semua baik-baik saja Papi, I love you," bisik Neng di telinga suaminya. Alfarizi kembali tersenyum setelah mendapatkan bisikan cinta dari istrinya.


Dokter Maria tersenyum mendengar Neng berbisik tetapi masih terdengar olehnya, "Ini resep yang harus di beli di apotek untuk satu bulan ke depan."


Setelah berpamitan dan menebus resep obat Alfarizi berniat ingin makan sebelum pulang karena menu sarapan bubur ayam Bandung sudah terkuras habis saat muntah, "Mami, perut Papi keroncongan kita makan dulu ya!"


"Papi pingin makan apa sekarang?"


"Papi pingin makan tongseng kambing, gulai kambing, sate kamping pakai potongan lontong dan dan minumnya es jeruk."


"Itu perut Papi namanya tidak cuma keroncongan berati perut Papi dangdutan, dangdutnya koplo lagi,"


"Ko bisa dandut koplo?"

__ADS_1


"Iya menu makannya maunya seabrek begitu, perut Papi tidak hanya keroncongan tetapi dangdutan."


"ha ha ha ...."


__ADS_2