
Hanya dalam waktu satu minggu Ayah Asep sudah di temukan posisi tempat tinggalnya. Encang Ginanjar sudah berpesan untuk tidak menemui dalam waktu dekat. Alfarizi dan Neng hanya mengawasi dari jarak jauh.
Ayah kembali membeli Angkot untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Menyewa kontrakan satu pintu untuk tempat beristirahat. Bekerja dengan semangat bersama teman sopir sesama angkutan kota.
Neng mulai merasa tenang setelah beberapa kali di ajak Alfarizi ke Bogor. Untuk menyaksikan secara langsung kegiatan ayahnya dari kejauhan. Hanya mengikuti beliau saat berkeliling mencari penumpang sesuai rute trayek angkot yang tertera di kaca angkot.
Hari ini rencana setelah istirahat siang Alfarizi ada meeting di Bogor bersama Surya, "Honey, Papi rencana mau ke Bogor unrtuk meeting, Mami mau ikut?"
"Mau Papi, apakah meetingnya lama?"
"Mungkin antara satu atau dua jam."
"Baiklah, nanti Mami dan Elfa nyusul Papi di kantor setelah istirahat siang."
"Sekali-kali Elfa tidak usah diajak, Elfa sering tidak nyaman jika perjalanan jauh. Tidak sampai sore kita sudah bisa pulang."
Neng hanya mengerutkan keningnya dengan keinginan Alfarizi. Biasanya dia paling tidak bisa saat pisah lama dengan putrinya. Seperti ada rencana udang di balik bakwan yang akan di lakukan.
"Mengapa tidak mengajak Elfa, Papi merencanakan sesuatu?"
Alfarizi hanya tersenyum mencium pipi Neng sekilas, "Jangan suka curiga dengan suami sendiri. Papi berangkat dulu, tidak usah nyusul nanti Papi jemput, I love you."
"Hati-hati, love you too."
Neng masuk kantor yang ada di konfeksi disamping rumah. Setengah hari ini dia hanya akan bekerja di konfeksi karena sedang banyak pesanan seragam sekolah. Bisa sambil mengawasi Elfa yang sedang bermain bersama Bibi Siti.
Pukul sebelas siang Alfarizi sudah sampai rumah untuk menjemput Neng. Neng masih konsentrasi mengerjakan pekerjaannya di dalam kantor. Dia langsung menyusul ke kantor setelah Bibi Siti memberitahu jika Neng belum keluar kantor.
Alfarizi memeluk dan mencium Elfa sebelum berlari masuk kantor istrinya, "Honey, mengapa belum bersiap-siap?" tanya Alfarizi langsung duduk di samping Neng.
Neng langsung melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, "Baru jam sebelas, Papi?"
__ADS_1
"Honey, perjalanan kita tidak sebentar, belum lagi Papi pingin ini!" tunjuk Alfarizi kearah dua gunung kembar yang tertutup blezer.
"Jangan macam-macam Papi, kalau siang masih milik Elfa. Giliran Papi malam hari," jawab Neng dengan menyilangkan tangannya di dada.
"Sedikit aja cuma lima menit," rayu Alfarizi sambil mulai memeluknya dari samping.
"Tidak Papi, Mami tidak percaya, pasti ujung-ujungnya kebablasan. Ayo kita berangkat!" Neng berdiri dari kursinya dan ingin keluar dari kantor.
"Tega banget sih Mami, Papi janji betul cuma lima menit saja, please!" Alfarizi berjalan mengikuti Neng yang hampir sampai pintu.
Neng berhenti mendadak dan berbalik badan. Alfarizi mengira Neng bersedia dan ingin mengabulkan keinginannya, "Terima kasih ...!" Alfarizi langsung memeluk istrinya erat.
"Yee ... Papi, ngarep aja, Mami mau ambil ponsel yang ketingalan di meja."
"Mami ini PHP Papi ya?"
"Tidak, Papi saja yang terlalu ngareb, ayo berangkat. Dilarang modus hari ini!"
Perjalanan menuju Bogor sambil bercanda terkadang merayu, membuat perjalanan menjadi menyenangkan. Neng jarang jalan berdua dengan Alfarizi, biasanya selalu mengajak Alfian dan Elfa. Mereka jarang melakukan quality time berdua saat keluar rumah.
Alfarizi selalu mengusap pipi, menautkan tangannya kirinya dan selalu tersenyum, tetapi tangan kanannya konsentrasi menyetir mobil sendiri. Sampai di depan sebuah restoran ternama Alfarizi langsung memarkirkan mobilnya. Di sana sudah ada Surya dan Desi menunggu bersama klian dua pasang suami istri juga.
Melakukan meeting selama satu jam setelah mereka makan bersama. Para istri hanya berbincang santai saat para suaminya meeting dengan serius. Kesepakatan sudah di tanda tangani Alfarizi langsung mengajak Neng menuju tempat mangkal Ayah Asep setiap sedang mencari penumpang.
Neng dan Alfarizi duduk di sebuah kedai bakso yang tidak jauh dari pangkalan angkutan kota. Setiap angkot akan memulai untuk menunggu penumpang dari pangkalan dan kembali ke pangkalan setelah penumpang habis. Mereka memiliki antrian dan jadwal dengan tertib tanpa ada yang membantah.
Hanya dalam satu jam mereka menunggu. Ayah Asep terlihat sedang masuk dalam antrian untuk menunggu penumpang. Badannya terlihat sehat dan lebih gemuk.
Bercanda dengan teman sesama sopir sambil menikmati secangkir kopi. Terkadang tawanya terdengar keras sampai kedai bakso. Mata Neng tanpa berkedip melihat ayahnya yang terlihat bahagia tanpa beban.
"Mami ... baik-baik saja?"
__ADS_1
Neng mengangguk dan tersenyum walau mata terlihat berkaca-caka. Ada rasa rindu yang tertahan di dada dan rasa cemas dalam hati. Hanya melihatnya dari kejauhan sudah membuatnya lega dan bahagia.
Terkadang hati berontak dan ingin bertanya langsung kepada ayahnya. Hubungan apa yang telah di jalani ini, anak yang tidak bisa bertemu langsung dengan ayahnya. Ayah yang tidak mau bertemu dengan alasan demi kebahagiaan putrinya.
Apa daya Neng tidak bisa mengubah pendirian ayahnya. Takut jika di cari beliau akan menghilang lagi seperti dulu. Jadi sekarang ini hanya bisa mengawasi dari jauh saja.
Setelah penumpang angkot milik Ayah Asep penuh, beliau langsung meninggalkan pangkalan, Alfarizi menggenggam tangan Neng, "Mami ... mau pulang atau mengikuti Ayah?"
"Kita pulang ja, Pi." Dengan perasaan lega Neng dan Alfarizi pulang.
Sementara itu, Alfian pulang sekolah meminta Doni untuk mengantar ke mall untuk menyusul Alfarizi. Alfian ingin mengajak papi untuk membeli hadiah karena sebentar lagi sahabatnya Zain ulang tahun. Alfian tidak menghubungi dulu sebelum datang ke mall sehngga tidak bertemu dengan papiya.
Setelah Alfian tidak bertemu dengan papinya. Dia berniat keluar kantor dan ingin pulang baru sampai pintu kantor. Alfian bertemu dengan gadis belia seumuran dengan dirinya ingin masuk kantor.
Gadis belia itu langsung memandangi wajah Alfian lekat-lekat. Wajahnya tidak asing baginya, "Permisi mengapa wajahmu mirip sekali dengan Papaku?"
"Memang siapa nama papamu?"
"Nama Papaku Alfarizi, kamu kenal?"
"Alfarizi zulkarnain adalah Papi kandungku, kamu siapa?"
"Perkenalkan namaku Marta, putri angkat Papa Al," Marta mengulurkan tangannya memperkenalkan diri.
"Namaku Alfian Alfarizi Zulkarnain."
Alfian menatap wajah Marta, ingat betul siapa gadis itu. Gadis yang pernah di lihatnya di media sosial saat mami dan papinya belum bersatu. Beralih melihat pada wanita paruh baya yang berdiri di belakang Marta yang belum di kenalnya.
"Kak Marta mau bertemu dengan Papi Al?"
wanita yang berdiri di belakang Marta langsung mengusap pundak Alfian, "Nak Alfian, di mana Papi kamu sekarang?"
__ADS_1
"Kata pegawai Papi, Papi dan Mami sekarang ini sedang meeting di Bogor. Kalau Kak Marta ingin bertemu Papi sebaiknya ikut Alfian saja ke rumah, bagaimana?"