Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Hari Keberutungan


__ADS_3

Ada rasa bahagia dan sedikit kecewa di hati Alfarizi sekarang ini. Bahagia bisa berbincang Neng dengan akrab walaupun hanya membicarakan bisnis, ini merupakan pencapaian dari buah kesabaran Al selama ini. Sedikit kecewa karena Surya dan Alfian datang di waktu yang kurang tepat. Seharusnya mereka datang setelah meminta nomor ponsel milik Neng.


Setelah melihat Alfian bahagia saat makan es krim, kekecewaan Alfarizi menguap begitu saja. Apalagi melihat Alfian dan Neng sedang berlomba makan es krim dengan ceria. Suara renyah tawa Neng membuat Alfarizi seolah ikut tenggelam di dalamnya


"Ayo Mami, satu cup lagi kita balapan makan es krimnya!"


"Ayo, Mami pasti Menang!"


"Siap Mami, satu dua tiga!"


"Ha ha ha, dingin banget Al!"


"Al bisa nyusul Mami, ayo cepat Mi!"


suapan demi suapan es krim itu di masukkan ke dalam mulut Neng dan Alfian. Mulut Neng terasa kaku dan dingin karena memakan es krim yang dingin terlalu cepat. Alfian secapat kilat memasukkan es krim terakhirnya ke dalam mulutnya.


"Done Mami, Al menang, horeee!"


"Mulut Mami dingin Al, membeku rasanya." Neng mengibaskan tangannya di depan mulutnya yang terbuka.


Neng tidak memperdulikan tatapan penuh damba Alfarizi. Neng hanya ingin menutupi kegugupannya dengan cara bercanda dengan putranya. Rasanya Neng sudah bisa menguasai perasaannya sendiri.


"Mami, seharusnya minum susu tawar yang hangat seperti biasanya!"


"Tidak apa-apa lain kali aja."


"Eee tunggu Nak, Papi punya teh tawar hangat, apakah bisa mengurangi dingin di mulut?" tanya Alfarizi menyodorkan teh tawar hangat yang tinggal setengah gelas, setengah gelas lagi sudah diminumnya sebelum perlombaaan adu cepat makan es krim.


"Tidak apa-apa Pi, kasihan Mami, ayo bawa sini cepetan!" Tanpa berpikir panjang Alfian mengambil gelas yang berada di tangan papinya.


"Mi, cepat diminum teh hangatnya, keburu membeku mulut Mami!"


"Tapi Nak ...?" Neng tahu teh itu milik Alfarizi, sehingga tidak berani meminumnya.


"Tidak apa-apa Mi, cepatlah!" Alfian membantu Neng untuk minum teh tawar hangat, dengan terpaksa Neng menenggak setengah gelas sampai tandas.


Kembali Alfarizi tersenyum simpul, hari ini adalah hari keberuntungannya. Kebahagiaan yang di rasakan tidak bisa di lukiskan lagi. Walaupun dengan sedikit paksaan dari putranya Alfarizi berhasil minum satu gelas berdua, itu hal sangat berprestasi.


Waktu sudah semakin sore, makanpun sudah selesai. Surya meninggalkan mereka untuk membayar bil pesanan. Neng kembali ke mode diam hanya berinteraksi dengan Alfian saja.


"Ayo kita pulang, Nak!"

__ADS_1


"Iya Mami, sebentar Al salim dulu sama Papi."


"Papi, Al pulang duluan, terima kasih sudah ngajak Al makan."


"Sama-sama Nak."


Alfarizi ingin sekali pulang bersama tetapi ragu-ragu untuk mengajak mereka. Saat Neng berniat ingin pulang dia hanya berdiri dan menunggu. Berharap Alfian mengajak pulang bareng. Saat ini Alfian yang selalu diajaknya berinteraksi untuk bisa mendekati Neng karena Neng jarang bisa menolak keinginan putranya.


"Permisi, kami pulang dulu, maaf Anda pulang belakangan saja, saya tidak ingin ada media meliput Anda bersama saya." Neng langsung berkata to the poins tanpa basa-basi.


"Baiklah hati-hati di jalan." Neng mengangguk berjalan keluar ruang private room tanpa menoleh ke belakang.


Al hanya tersenyum saat Neng sudah tidak terlihat dari pandangannya. Rasa cintanya semakin hari semakin bertambah, rasa bangga tergadap istri dan putranya semakin besar. Surya heran saat Di ruangan itu tuannya hanya sendiri.


"Tuan, kemana Bu Mitha dan putra Anda?"


"Dia sudah pulang."


"Ayo kita ikuti, Tuan; saat aku beli es krim dengan putra Anda, laki-laki yang selalu mendekati Bu Mitha itu masih menunggu di parkiran."


"Betulkah, ayo cepat!"


"Surya, kita ikuti saja sampai di rumahnya ayo!"


"Ok siap, Tuan."


Hanya jarak kurang dari sepuluh meter Alfarizi dan Surya mengikuti mobil Neng yang berjalan dengan kecepatan sedang. Bahkan Alfarizi mengawasi setiap mobil yang berada di belakang mobil Neng. Jika yang mengemudi laki-laki, nomor kendaraan di catatnya di kertas, jika perempuan tidak di perhatikan.


Hampir dua jam perjalanan Alfarizi selalu tegang dan bergerak ke kanan dan kiri untuk mengawasi mobil yang ada di belakang mobil Neng. Sampai memasuki jalan menuju rumah Neng, tiba-tiba mobil Neng berhenti. Dengan spontan Surya juga mengerem mendadak.


"Ada apa Surya?"


"Tidak tahu, Tuan; Bu Mitha tiba-tiba berhenti."


Alfian kaget saat mobil tiba-tiba berhenti. Dia sedang membaca buku komik kesukaannya. "What wrong Mami?" spontan pertanyaan Alfian berbahasa Inggris karena komiknya juga bahasa Inggris.


"No problem, Honey."


"So ...?"


"Buku catatan Mami tertinggal di butik, kita ke sana dulu ya, Nak?"

__ADS_1


"Iya Mami." Alfian kembali berkonsentrasi membaca buku komiknya.


Neng menahan amarah dan emosi tingkat tinggi dalam hatinya. Berusaha tidak di ketehui oleh putranya dengan mengambil napas panjang. Ada Rangga Siregar sedang duduk di kap mobil miliknya sambil konsentrasi melihat ponselnya. Neng memundurkan mobilnya untuk berbalik menuju jalan yang tadi dilaluinya.


"Tuan, cepat menunduk!" teriak Surya dan Alfarizi spontan menundukkan kepalanya agar tidak di lihat oleh Neng.


Setelah Neng kembali melajukan mobilnya Surya dan Alfarizi kembali duduk sambil melihat mobil Neng yang terus berjalan meninggalkan mereka. "Tuan, ikuti Bu Mitha atau pulang?"


"Coba kamu hubungi Desi, tanyakan sekarang ini posisi dia ada di mana?"


"Baik Tuan."


Surya mengambil ponselnya, mencari nama Desi dan menekan tombol hijau, "Halo Sayang, kamu di mana?"


" ... "


"Tidak, aku hanya merindukanmu saja."


" ... "


"Ok deeeeh, bye Sayang!"


Setelah Surya menekan tombol merah, ponsel kembali di masukkan ke kantong, "Desi ada di konfeksi, dia sedang banyak pekerjaan, apa rencana kita selanjutnya, Tuan?"


Alfarizi mengerutkan keningnya berpikir sejenak, niatnya hanya satu yaitu mengusir laki-laki pengganggu yang ada di depan rumah Neng. Dia melihat Surya, celana yang di pakainya warnanya hampir sama, hanya jas yang berbeda warna. Sehingga Al memiliki ide ubntuk bertukar peran dengannya.


"Surya kita tukar jas dan tas kerja!"


"Maksudnya Tuan?"


"Kamu berperan menjadi aku, Laki-laki pengganggu itu tadi melihatku saat di restoran, kamu ceritanya pulang kerja, langsung saja masuk konfeksi tanpa menunggu Desi keluar!"


"Waaaah ide bagus tuuuh, Tuan; nanti sebelum masuk aku tatap dia dengan tatapan tajam pasti dia keder."


"Jangan lupa pakai masker!"


"Ok siap."


Mereka bertukar jas, dan tas kerja, memakai masker. Alfarizi turun dari mobil dan berjalan perlahan. Surya langsung menjalankan mobilnya masuk di area halaman konfeksi dan parkir mendekati pintu masuk konfeksi.


Turun dari mobil Surya menatap tajam kearah Rangga Siregar yang sedang duduk di kap mobil. Surya seolah-olah mengusirnya dengan tatapan mata yang mengimintidasi, membuat Rangga Siregar gugup dan langsung turun dari kap mobil. Surya langsung berjalan masuk konfeksi dengan mendorong pintu konfeksi tanpa permisi.

__ADS_1


__ADS_2