Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Resepsi Isya


__ADS_3

"Itu ... itu Tuan ban mobil saya kempes." Neng menjawab dengan gugup.


"Ada ban serepnya?"


"Ada di jok belakang."


"Mau aku gantikan ban mobilnya atau pulang bareng aku saja?"


"Apakah tidak akan merepotkan Anda jika menggantikan ban mobil saya?"


Alfarizi menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. membuka jasnya diikatkan di pinggang, menggulung lengannya sampai siku. Berjalan ke mobil Neng bagian belakang dan menurunkan ban serep.


Alfarizi mulai duduk jongkong untuk membuka ban mobil Neng. Sebenarnya ini adalah pertama kali Al lakukan. Biasanya dia akan memerintahkan asistennya atau langsung menghubungi bengkel.


Demi Neng seorang Al rela melakukannya. Tangannya kotor tidak masalah, keringat bercucuran membasahi wajahnya tidak di hiraukannya. Hanya dalam setengah jam ban sudah terpasang dengan sempurna.


"Sudah selesai, apakah ada air mineral Neng Geulis?"


"Ooo ada, sebentar saya ambilkan!"


Saat dipanggil dengan nama Neng spontan langsung memanggil Alfarizi dengan sebutan tuan, tetapi saat dipanggil neng geulis dia malah jadi gugup dan tidak bisa menjawabnya. Selalu gugup dan salah tingkah walau berusaha untuk di tutupi. Sedangkan Alfarizi semakin senang memanggil dia dengan sebutan Neng Geulis.


"Ini airnya silahkan!"


"Aku mau cuci tangan Neng Geulis."


"Ooo baiklah sebelah sini aja aku tuangkan!"


Neng menuangkan air minerel pada tangan Alfarizi. Mata Neng fokus pada tangannya, tetapi Alfarizi selalu fokus memandang wajahnya dengan tersenyum manis. Baru pertama kali ini Alfarizi merasa sangat di butuhkan oleh Neng.


"Terima kasih, saya, pulang duluan." pamit Neng setelah Al selesai mencuci tangannya.


"Ya hati-hati, tolong sampaikan salamku untuk putra kita!"

__ADS_1


"Ya ...."


Neng bergegas naik mobilnya, tanpa menengok lagi, dia semakin gugup saat Alfarizi menyebut Alfian sebagai putra kita. Sampai Neng meninggalkan parkiran Al masih terpaku melihat mobil Neng sampai tidak terlihat lagi. Al langsung meninggalkan restoran ke kantornya untuk menyelesaikan pekerjaan yang sudah menunggunya.


Sementara jauh dari parkiran Surya dan Desi tertawa lepas melihat bosnya mengganti ban mobil sendiri. Sedangkan Neng hanya berdiri menunggu dan memperharikan Alfarizi tanpa berkedip. Mereka mengintip dari balik pos jaga security restoran.


"Abang, memang jahil, tega banget membiarkan Tuan Al mengganti ban mobil sendiri!"


"Ha ha ha, biarkan saja sekali-kali aku ngerjain Tuan Al, biar tahu rasanya berjuang."


"Apakah Tuan tidak menyadari jika ban mobil Bu Mitha kita yang ngempesin?"


"Tuan Al tidak mungkin menyadarinya, hati yang sedang kasmaran itu tidak bisa berpikir logika."


"Ayo kita pulang, nanti Tuan Al akan curiga kalu kita pulang terlambat."


"Lewat jalan pintas aja Bang, biar kita sampai sana terlebih dahulu!"


Desi sebagai petunjuk jalan kearah mall tempat mereka bekerja. Melewati gang kecil yang ada di belakang mall. Saat mereka sampai di parkiran mall, Alfarizi belum datang. Sehingga Surya dan Desi berlari dari parkiran menuju mall sambil bergandengan tangan dan tertawa lepas.


"Kak Mitha, Isya mengundang khusus Kakak dan Alfian, jangan lupa di balroom hotel Grand City."


"Mengapa tidak pakai undangan?"


"Maaf Kak, undangan sudah habis, jadi Isya mengundang Kakak secara langsung, ingat datang lo Kak!"


"Aku usahakan, jam berapa aku harus datang?"


"Undangannya dari pukul sebelas sampai jam lima sore, Kak Mitha kalau bisa sebelum pukul dua belas siang datangnya, jadi aku bisa foto bersama Kak Mitha dan Al masih fress."


"Baiklah aku usahakan pukul sebelas lebih sedikit."


"Ok Isya tunggu."

__ADS_1


Persiapan pernikahan Isya sampai hari Sabtu sudah 100%. Tinggal pelaksanaan hari H besok. Hari yang mendebarkan untuk Isya dan Fano. Hari yang paling di tunggu oleh Alfarizi.


Besok rencananya Isya mengajak Neng dan Alfian foto keluarga dengan status sebagai istri abangnya. Rencana itu sudah di susun dengan rapi oleh Isya dan Umi Anna setelah mereka bertemu pertama kali di butik saat itu. Dan tentunya mendapatkan dukungan dari Alfarizi.


Besok juga moment penting bagi Abi Ali bertemu langsung dengan cucu laki-laki satu-satunya. Banyak rencana yang di rencanakan oleh Umi Anna yaitu ingin melamar Neng untuk putranya. Alfarizi tidak setuju dengan rencana Umi Anna karena takut Neng menjadi tertekan.


Pada hari H pernikahan Isya semua berjalan dengan lancar, dari akad nikah, prosesi temu manten, sungkepam. Pukul sebelas lebih lebih semperempat Neng dan Alfian datang menghadiri acara pernikahan menggunakan baju cauple sambil bergandengan tangan. Para penerima tamu langsung mengarahkan Neng dan Alfian ke panggung pelaminan.


Saat Neng mulai menaiki panggung pelaminan Umi Anna memberikan kode kepada Abi Ali bahwa cucunya telah datang. Mata Abi Ali langsung menatap tajam Neng dan Alfian yang sedang berjalan menuju kedua mempelai. Isya yang melihat kakak iparnya datang langsung tersenyum menyambut kedatangannya.


"Kak Mitha terima kasih sudah datang, ayo kita berfoto keluarga dulu!" kata Isya tanpa sadar mengajak berfoto keluarga.


Neng mengerutkan keningnya saat Isya mengajak berfoto keluarga menjadi heran dan tidak mengerti. Neng ikut saja pengarahan dari fotografer yang harus berdiri diantara Isya dan Umi Anna. Sedangkan Alfian berdiri diantara Fano dan Abi Ali.


Sesaat sebelum sesi foto di mulai bergabung Alfarizi dengan mengenakan jas senada dengan warna baju yang Neng dan Alfian kenakan. Dia langsung bergabung dan berdiri diantara Neng dan Umi Anna. Membuat Neng kaget dan tidak sempat menghindar saat fotografer mengambil gambarnya.


"Papi...!" Belum selesai fotografer mengambil gambarnya Alfian berlari mendekati papinya dan memeluknya dengan erat.


"Kok Papi ada di sini?"


"Itu Auntie Isya adik Papi, Nak," jawab Alfarizi sambil melirik Neng yang bingung dan heran.


Neng hanya bengong baru menyadari yang di maksud dengan foto keluarga oleh Isya karena Alfian putra dari kakaknya. Neng Ingin mundur setelah Alfian memeluk papinya. Isya langsung melipatkan tangannya di depan dada, "Kakak, please kami sangat menyayangi Al dan Kak Mitha walaupun dalam diam!"


"Neng masih terdiam seribu bahasa, masih bingung harus berbuat apa. Abi Ali dan Umi Anna fokus dengan cucu laki-lakinya. Alfarizi hanya memandang Neng dengan tatapan sendu.


"Maaf Isya aku mau ke kamar mandi sebentar." Neng berlalu dengan langkah panjang sambil menunduk.


Isya langsung membentak Alfarizi, "Bang cepat kejar Kak Mitha!"


"Al, Papi nyusul Mami dulu ya, Al di sini saja sama Opa Ali dan Oma Anna!"


"Iya Pi."

__ADS_1


Alfarizi berlari kencang menyusul Neng yang berjalan dengan langkah panjang keluar balroom hotel. Melihat Neng yang mengusap air matanya yang mengalir tanpa henti. Hati Alfarizi terasa perih seperti di sayat sembilu.


Alfarizi langsung menghalangi langkah Neng dan duduk jonggok sambil mendongakkan wajahnya menatap Neng yang sedang terisak, "Neng Geulis, ampuni aku, aku mohon berikan aku sedikit waktu untuk menebus semua kesalahanku di masa lalu, please!"


__ADS_2