
Alfarizi awalnya kaget mendengar teriakan Neng untuk berbalik badan. Karena sudah melihatnya sedikit dia hanya menutup mata dengan ke dua tangannya tetapi tidak berbalik badan, "Aku tutup mata aja, badanku susah di gerakkan."
"Iiih alasan aja, Al sana ganti baju dulu, ajak Papi ke kamar Al, ok!"
"Iya Mi, tapi tadi Papi bilangnya ingin bicara sama Mami."
"Iya tapi nanti aja, sana cepetan!"
Alfarizi masih menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tetapi jarinya terbuka matanya masih bisa melihat Neng dan Alfian yang sedang berjalan kearahnya. "Ayo Pi, ke kamar Al aja dulu, temani Al ganti baju!"
Alfarizi membuka tangannya melirik Neng yang cemberut. Dia hanya tersenyum devil menyilangkan jari jempol dan telunjuk dengan simbul cinta tanpa kata pada Neng. Bergegas Neng yang balik badan tidak ingin lagi melihat papinya Alfian yang selalu membuatnya salah tingkah.
Setelah Alfian bergantu baju, dia langsung beristirahat tidur siang. Alfarizi keluar dari kamar putranya. Memutuskan untuk turun ke lantai satu menuju dapur, ingin minum kopi dan mencoba membuatnya sendiri.
Alfarizi membuka lemari dapur untuk mencari gula dan kopi. Termos air panas ada di samping rak piring dan gelas. Di kagetkan dengan kedatangan Neng yang tiba-tiba datang tanpa suara, "Anda lagi ngapain?"
"Eee Neng Geulis bikin kaget aja, aku pingin buat kopi, tapi tidak nemu di mana gula dan kopinya?"
"Anda duduk saja, aku yang buatkan!"
"Terima kasih, istriku," jawab Alfarizi dengan tersenyum dan suara lirih tetapi Neng mendengarnya.
"Iiiidih ngarep, istri halu?" Sayangnya Neng hanya bergumam dalam hati.
Alfarizi duduk di kursi meja makan sambil memandang wajah Neng tanpa berkedip. Rasa cinta di hati semakin hari semakin bertambah besar. Debaran itu selalu saja berdetak kencang walaupun sedang memandangnya.
"Ini kopi Anda!"
"Mengapa manggilnya begitu, tidak romantis tahu!"
Neng hanya mengerucutkan bibirnya, sekarang ini selalu saja dia berani terang-terangan merayunya, "Jangan mulai lagi, bagaimana dengan Pak Rangga Siregar?" tanya Neng mengalihkan perhatian.
"Dia tidak mungkin berani lagi mendekati kamu, tenang saja."
"Di apakan dia?"
"Namanya serangga ya di basmi kata Surya sudah di basmi secara pernanen."
Neng hanya mengerutkan meningnya walau penasaran apa yang di maksud dibasmi secara permanen. Neng enggan bertanya lagi rasa malas dan kesal terhadap orang tua dari teman putranya itu membuatnya malas untuk melanjutkan obrolan tentang dia. Duduk di samping Alfarizi tetapi ada jarak satu kursi di antara keduanya.
__ADS_1
"Aku itu khawatir banget lo tadi, mengapa lama sekali tidak keluar kamar, aku jadi mondar-mandir kayak setrikaan di depan pintu kamarmu?"
"Mengapa khawatir, aku tidak apa-apa?"
"Terus ngapain lama betul tidak keluar kamar, apa tidak ingat kalau ada aku di luar?"
"Tidak ngapa-ngapain, ngarep banget pingin di ingat!"
"Jelas dong Neng Geulis, ini di otakku masih teringat saat di depan pintu suruh balik badan, sayangnya badan dan otakku tidak mau diajak jalan searah."
Neng melotot langsung kearah Alfarizi rasa malu ketahuan hanya memakai handuk masih saja di ingatnya, "Berarti anda tadi tetap melihat walaupun sudah tutup mata?"
"He he he, iya tapi sedikit aja kok!"
"Iiiih dasar, tidak jelas!" Dengan spontan tangan Neng mencupit pinggang Alfarizi dengan keras.
"Aaauw, sakit Neng Geulis."
Alfarizi mengusap pinggangnya sambil terkekeh. Semakin hari Neng semakin bisa menerima kehadirannya. Baru saja menikmati indahnya bedua di temani segelas kopi buatannya ada notifikasi panggilan telepon ponselnya. Ada nama Umi Anna yang harus di segera di angkatnya, "Ya Umi, ada apa?"
" ...."
Sebenarnya masih ingin bicara banyak saat ini karena sudah lebih dekat dan nyaman saat berdua. Apa daya ibu negara sudah memanggil tanda bakti harus segera di laksanakan, "Aku pulang dulu, tolong pamitkan Al, takutnya dia cari Papinya."
Neng hanya mengangguk, mengikuti Alfarizi keluar mengantar sampai pintu. Sampai di luar pintu kembali Alfarizi menyilangkan jari jempol dan telunjuk dengan simbol cinta tanpa kata. Bergegas Neng menutup pintu sambil menggerutu, "Kayak anak kecil aja, dasar aneh!"
Alfarizi naik mobil dengan tersenyum, rasa bahagia seperti tidak bisa di bayangkan lagi saat ini. Pulang ke rumah hanya memutari jalan tidak sampai lima menit tiba di rumah. Di rumah sudah di tunggu oleh kedua orang tuanya di ruang tamu.
"Umi, Abi ada apa, aku lagi berusaha keras mendekati istriku mengapa di suruh pulang?" tanya Alfarizi duduk di samping Abi Ali.
"Kamu sudah satu minggu tidak pulang, selalu bersama dia mengapa sekarang masih tetap berusaha mendekatinya?" jawab Umi Anna heran.
"Mi, dia itu pendiriannya sangat kuat, susah di rayu."
"Jadi kapan kamu akan melamar dia, mumpung Abi lagi di Indonesia?"
"Buat apa melamar lagi, Abi; dia masih istriku sampai sekarang, kami tidak pernah bercerai."
Abi Ali dan Umi Anna hanya tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Kelakuan putranya selalu saja membuatnya tidak sesusi logika. Sudah delapan tahun lebih meninggalkannya tetapi masih menganggapnya istri.
__ADS_1
"Apakah kamu tidak ingin meresmikan pernikahan kalian?"
"Mau banget lah, Abi."
"Terus apa lagi yang di tunggu?"
"Tunggu momen yang tepat, rencana saat Alfian ulang tahun Sabtu besok, aku akan mengajak menikah resmi."
Umi Anna teringat kemarin di ceritakan oleh Surya tentang keinginan cucunya berwisata bertiga, "Bukankah Alfian ingin berwisata bertiga, Umi kemarin di ceritakan oleh Surya?"
"Iya Mi, kemarin rencananya ingin berwisata di Ngawi, tetapi karena disana sedang berduka, dan karena ada masalah dengan Rangga semua jadi gagal."
"Umi kangen banget sama putramu, kapan kamu mengajak ke sini?"
"Sabar Umi, tapi kalau Umi mau besok pagi aku mengantar dia sekolah."
"Boleh juga, sekalian Umi ingin bertemu dengan Mitha."
Keesokan paginya saat Allfarizi datang untuk menjemput putranya bersama Umi Anna dan Abi Ali, tetapi sayangnya tidak ada Neng pagi itu. Dia harus berangkat pagi buta ke Bogor bersama Desi. Ada meeting dengan klien dari luar negeri yang ingin mengajak kersajama.
"Al, kemana Mami?" tanya Alfarizi saat melihat Alfian sedang sarapan sendiri di meja makan.
"Mami sudah berangkat barusan ke Bogor ada meeting di sana."
Akhirnya Alfian sarapan bersama papinya dan kedua kedua orang tua Alfarizi yaitu opa dan oma Alfian. Berangkat ke sekolah juga bersama mereka. Alfian dengan riang bercengkerama dengan mereka selama dalam perjalanan ke sekolah.
Pada pukul sebelas siang Neng pulang dari Bogor. Langsung ke mall ingin menayakan tentang Alfian pada papinya yang di tinggal tadi pagi. Masuk mall dengan langkah panjang, baru beberapa langkah sudah melihat pemandangan yang membuat dadanya bergemuruh.
Neng melihat Alfarizi sedang memeluk Marta dengan erat. Ada juga Sinta yang berdiri di sampingnya sambil tersenyum melihat keduanya sedang tersenyum bahagia. Neng langsung berbalik badan, berlari menuju Butik AA.
Surya yang baru keluar dari kantor melihat Neng berlari meninggalkan mereka langsung berterisk, "Tuan itu Bu Mitha, mengapa ...?"
" ...?"
Hai shobat jangan lupa mampir ya
novel rekomen banget dari teman
__ADS_1
sambil menunggu Apa Salahku Tuan? up lagi