
Yang awalnya Neng hanya sedang bermimpi men*umbu suaminya langsung terbangun saat Alfarizi membalas dengan melahap dan meremas dua gundukan yang dari tadi sangat menggodanya.
"Aaaah ... Papi ini mimpi atau ...?"
"Dua-duanya Honay ayo di lanjut!"
"Tunggu tunggu dulu, apa maksud Papi dua-duanya?"
Alfarizi hanya terkekeh setelah Neng bertanya dan terlihat bingung. Yang awalnya mata kantuk tidak tertahankan menjadi tidak mengantuk lagi karena mendengar ******* dan sentuhan lembut Neng yang ternyata dia sedang mimpi. Di teruskan saja dari mimpi langsung terwujud karena senjata onta arabnya sudah terlanjur menengang.
"Pokoknya di lanjut saja ayo, ini semua gara-gara suara ero*is Mami saat tadi bermimpi?"
"Makanya Pi, Mami bingung, perasaan Mami tidur pulas mengapa Papi malah modus lagi?"
"Papi bukan modus Honey, Papi hanya mewujudkan mimpi indah Mami menjadi kenyataan, ha ha ha!" Alfarizi langsung melanjutkan gerilynya.
"Saat mimpi memangnya Mami ngapain?"
"Jangan di bahas lagi, kita lanjutkan aja, Papi sudah tidak tahan lagi!"
Pagi ini kembali Alfarizi menghabiskan waktu sampai pagi menjelang. Waktu di habiskan untuk bergoyang berdua tanpa ada jeda. Padahal semalaman Alfarizi tidak tidur tetapi matanya tetap on seperti senjata onta arabnya.
Pagi hari ini Neng harus langsung berangkat cepat karena ada meeting dengan pasangan muda yang akan memesan gaun pengantin untuk pernikahan mereka. Alfarizi yang bertugas mengantar Alfian berangkat ke sekolah tanpa di dampingi oleh Neng.
Pulang dari mengantar sekolah dengan terpaksa Alfarizi harus pulang karena berkas tertinggal di kantor yang ada di rumahnya. Saat masuk rumah hanya bertemu dengan security di pintu gerbang, tidak bertemu Umi Anna ataupun Ibu Ani. Dia langsung menuju rumah lantai atas masuk kantor pribadinya duduk sebentar untuk merilekskan tuhuhnya.
Merapikan berkas di atas meja, memasukkan berkas itu ke dalam tas kerjanya dengan rapi. Semalaman Alfarizi tidak menejamkan matanya sama sekali sehingga saat beristirahat duduk bersandar di kursinya yang empuk matanya tidak bisa diajak kompromi. Hanya dalam waktu lima detik dia tertidur dengan lelap bersandar di sana.
Pukul sembilan pagi Alfarizi harus mengadakan meeting di mall, seluruh peserta sudah lengkap tinggal menunggu Alfarizi saja. Surya sudah menunggu dengan gelisah, berkali-kali di hubungi tetapi ponsel tidak di angkatnya. Menghubungi Neng dan Desi juga tidak diangkat karena mereka juga sedang meeting di Butik AA.
Terpaksa Surya mengundurkan waktu meeting satu jam ke depan. Surya langsung keluar kantor berlari menuju Butik AA dengan kecepatan penuh. Kekhawatirannya berlipat ganda karena Neng dan Desi juga tidak mengangkat ponselnya saat di hubungi. Sampai di Butik AA dia langsung menuju kantor Neng tanpa bertanya kepada karyawan yang sedang bekerja.
Hanya mengetuk pintu sekilas Surya langsung mendorong pintu dan menerobosnya tanpa memperdulikan mereka sedang meeting. Neng sedang bertanya kepada sepasang calon pengantin menjadi tersentak kaget. Desi lebih kaget lagi melihat kekasihnya datang dengan raut wajah yang khawatir.
__ADS_1
"Surya ada apa?" tanya Neng.
"Ada apa Bang?" tanya Desi bersamaan dengan Neng.
"Bu Mitha, eee Nyonya .... Tuan?" tanya Surya gugup.
"Surya ambil napas, panggil aku seperti biasa saja tidak usah berubah, ada apa dengan Papinya Al?"
Surya mengambil napas panjang dan menghembuskan dengan perlahan, "Tuan Al ke mana Bu, dari tadi pagi belum datang ke kantor?"
"Kok bisa, tadi pagi setelah mengantar Alfian langsung ke kantor katanya, apakah sudah menghubungi ponselnya?"
"Sudah Bu, saya menghubungi Tuan Al berkali-kaki, menghubungi Anda dan Desi juga dari tadi pagi tidak ada yang mengangkat"
"Maaf Bang, kami sedang meeting, jadi suara ponsel di silent." Desi juga ikut menjawab,
"Tuan Al ada meeting juga pukul sembilan, Bu. Tetapi beliau belum datang ke kantor"
Desi mempersilahkan duduk Surya, meminta sepasang calon pengantin untuk beristirahat sebentar. Neng menghubungi Alfarizi berkali-kali menyambung tetapi tidak diangkat. Kemudian menghubungi Umi Anna dengan menggunakan VC, "Ya Nak, ada apa?" jawab Umi Anna sambil melambaikan tangannya.
"Umi, apakah Papinya Al masih di rumah?"
"Tidak tahu Nak, ini Umi dan Ibu Ani ada di konfeksi, coba Umi lihat mobilnya sebentar, tidak usah di matikan ponselnya, ok!"
"Iya Mi, maaf merepotkan."
"Tidak masalah, Nak."
Sambil terus berbincang dengan Neng Umi Anna berjalan ke halaman rumah. Ada mobil Alfarizi yang parkir dengan arah yang tidak beraturan. Terlihat saat masuk halaman rumah tadi dia terburu-buru.
"Itu Nak, mobil suamimu ada di halaman," kata Umi Anna mengarahkan kameranya ke mobil milik Alfarizi.
"Mungkin dia di kamar Umi."
__ADS_1
"Baiklah Umi cari dia ke kamar tunggu ya!"
Umi Anna kembali masuk rumah dan berlari naik tangga menuju lantai atas. Langsung membuka pintu kamar sambil mengarahkan kameranya ke seluruh kamar. Tidak ada sosok Alfarizi di kamar, Umi Anna berjalan ke kamar mandi.
"Nak Mitha, Umi matikan dulu ya ponselnya, nanti Umi hubungi lagi setelah ketemu dengan suamimu, ini Umi berjalan ke kamar mandi."
"Iya Umi, terima kasih."
Umi membuka kamar mandi perlahan, sayangnya dia juga tidak menemukan putranya di sana. Kembali keluar kamar dan membuka satu persatu kamar yang berjejer di lantai dua. Umi melihat Alfarizi sedang duduk bersandar di kursi kebesarannya sambil mendengkur dan memangku tas kerja, "Anak ini bikin bingung semua orang saja, Al ... Al bangun!"
"Ya Mami my Honey." spontan Alfarizi terbangun dan langsung berdiri menenteng tas.
Kali ini Alfarizi yang bermimpi sambil terduduk di kursi kebesarannya. Bermimpi sedang berdua dengan istrinya bermesraan di villa tanpa ada yang mengganggu. Mimpinya terputus saat Umi Anna membangunkannya ternyata dia sedang berada di kantor pribadinya yang ada di rumah.
"Mami my Honey, gundulmu. Semua orang heboh mencari kamu, eee kamunya malah ngorok dan bermimpi di sini."
"Maaf Umi, ngantuk banget semalaman Al tidak tidur sama sekali."
"Tidak tidur sama sekali, memangnya ngapain aja, bukankah Abi tadi malam cuma memanggilmu tidak lebih dari dua jam?"
Alfarizi hanya terkekeh tanpa menjawab pertanyaan uminya. Teringat Neng yang membuatnya mengerang dan bergoyang saat menjelang pagi hanya karena mimpi. Baru pertama kalinya Neng bisa mengkspresikan rasa cintanya tanpa malu-malu.
"Eee malah senyum-senyum sendiri, kamu semalaman ngerjain istrimu?"
Afarizi terkekeh kembali, "Sudah jangan di bahas lagi, ada apa Umi membangunkan Al?"
"Di kantor semua orang pada bingung mencari kamu, Surya, Desi, Nak Mitha kamu malah enak-enakan ngorok di sini."
Alfarizi baru teringat tujuannya pulang ke rumah tadi untuk mengambil berkas yang tertinggal. Duduk sebentar untuk mengistirahatkan tubuhnya tetapi malah ketiduran karena semalaman tidak memejamkan matanya sama sekali. Dia hanya menepuk dahinya sendiri, "Waduh, ada meeting jam sembilan, sekarang jam berapa Umi?"
"Sekarang sudah jam sepuluh cepat sana berangkat, hubungi istrimu dulu dia khawatir banget tadi, kamu mau di pecat jadi suami oleh Nak MItha?"
"Eeee...?'
__ADS_1