
Zain tidak merubah posisinya berada di samping Dokter Atha saat Alfian datang. Dokter Atha sedang konsentrasi melhat rencana Zain dengan teliti. Alfian langsung berjalan mendekati mereka.
"Kalian sedang ngapain serius banget?" tanya Alfian penasaran.
"Ini Dik, Dokter Zain sedang membuat acara tambahan untuk peresmian rumah sakit, programnya bagus sih, Kakak tertarik banget sama program ini." Dokter Atha masih fokus membaca program yang ada di laptop.
"Yes ... berarti aku berhasil ya, Dok?" tanya Zain sambil mengepalkan tangan dan memekikkan semangat.
"Berhasil apa maksud elu?" tanya Alfian.
Zain hanya tersenyum penuh arti tanpa menjawab pertanyaan Alfian. Berhasil membuat Dokter Atha tertarik dengan programnya. Berarti bisa mendekati dia dengan cara mengajak dia menyusun program selanjutnya.
"Ini Dik, coba lihat!"
Dokter Atha membalikkan laptop milik Zain untuk mempersilahkan Alfian membacanya. Dengan cepat Alfian melihat dan membaca perlahan. Program yang di susun Zain adalah program pengobatan gratis bagi anak yatim piatu.
"Ini akan diadakan berkala atua hanya saat peresmian?" tanya Alfian.
"Gue belum ada gambaran tentang itu, awalnya akan gue selipkan saat peresmian rumah sakit. Maka itu gue minta pendapat Kakak elu," jawab Zain dengan semangat.
"Gue tahu akal bulus elu, sudah terbaca." Alfian berbisik dan merangkul Zain yang masih menempel di samping Dokter Atha.
"Saya setuju ini diadakan berkala dan berkelanjutan, Dokter Zain."
"Setuju ... bagaimana owners kita, tolong setujui program kami?" tanya Zain kepada Alfian.
"Tergantung, ada udang di balik bakwan tidak dengan progam ini?"
Zain kembali tersenyum dan menunjukkan lambang cinta dengan melipatkan jari jempol dan telunjuk, "Bolehlah sambil menyelam minum air."
"Dik tadi kesini mencari Kakak?" tanya Dokter Atha setelah selesai memeriksa program di laptop Zain.
"Oya sampai lupa tujuan ke sini. Itu Rani pingin makan seblak dower, di larang dianya marah apakah boleh Kak?"
"Apa itu seblak dower?" tanya Dokter Atha.
Alfian tersenyum, lupa jika kakaknya lama hidup di negeri orang. Pasti dia asing tentang makanan kekinian Indonesia. Bingung cara menjelaskan padanya tentang seblak dower.
Zain langsung membuka ponselnya mencari informasi tentang makanan khas Bandung yang sangat terkenal. Dengan tujuan bisa mendapatkan nomor ponselnya. Dari kemarin ingin meminta nomor ponsel masih bingung dengan alasan apa.
Setelah mendapatkan informasi tentang makanan itu Zain mendekati Dokter Atha, "Dok, aku kirim menu seblak dower, sebutkan nomor ponselnya!"
"Baik ini nomor saya!" Dokter Atha memberikan satu kartu nama lengkap dengan alamat apartemen.
__ADS_1
"Terima kasih, ok aku kirim sekarang!" dengan tersenyum mengembang Zain mengirim dan sekaligus di simpan nomor ponselnya.
"Dasar modus lu!" Alfian memukul pundak Zain perlahan.
"Warnanya sampai merah begini ada berapa Cabainya?" tanya Dokter Atha setelah mendapat kiriman foto seblak dower.
"Lebih dari dua puluh cabai, Kak. Apakah boleh ibu hamil makan pedas seperti itu?"
"Boleh saja sih, asal cukup makan satu porsi saja tidak boleh lebih. Ini belinya di mana, Kakak juga ingin nyoba?"
Zain langsung beraksi dan pasang badan, "Aku tahu tempatnya ayo Dok, aku antar mau?"
"Eee tidak, lebih baik pesan lewat online saja. Elu kerja lagi sana!" Alfian langsung memotong pembicaraan sebelum Dokter Atha menjawab.
"Pelit lu ...." Zain mengerucutkan bibirnya merasa kesal karena modusnya di halangi.
"Ini masih jam kerja sana kerja lagi, gue yang memesan seblak dowernya elu mau pesan juga kagak?"
"Iya gue satu," jawab Zain.
Alfian memesan empat porsi seblak dower dengan aplikasi online, "Nanti satu jam lagi kita makan bareng di kantorku saja!"
Rania masih cemberut duduk di kamar yang ada di dalam kantor Alfian. Tangannya di lipat sambil bersandar di dasbord tempat tidur. Alfian masuk kamarpun dia tetap cemberut karena di larang oleh Alfian makan pedas.
"Abang tidak sayang Rani."
"Eee siapa yang bilang?"
"Mulut Rani lah, siapa lagi!"
"Coba lihat ini, Abang sudah pesan sesuai keinginan Rani, jangan marah lagi." Alfian menunjukkan pesanan seblak dower di aplikasi online.
Rania membaca Alfian memesan empat porsi seblak dower. Matanya langsung terbuka lebar dan bersemangat lagi, "Ini untuk Rani semua empat porsi, Bang?"
"Tidak dong Sayang, untuk Zain dan Kakak Atha juga."
Rania kembali cemberut dan mengerucutkan bibirnya, "Kirain untuk Rani semua."
"Sayang ... tadi Kakak Atha bilang, Rani boleh makan tetapi cukup satu porsi saja."
Rania masih cemberut dan masih kesal. Rasanya air liurnya hampir menetes membayangkan makan seblak dower yang pedas. Makan pedas akan menggugah selera saat malas dan tidak berselera makan sesuatu.
"Tambah rujak deh Bang kalau tidak boleh makan seblak dower banyak-banyak"
__ADS_1
"Ok tambah rujak, apalagi mumpung belum Abang pesan?"
"Tidak usah, itu saja."
Tidak sampai satu jam pesanan seblak dower dan rujak sudah tersedia di meja makan milik Alfian. Berkumpul berlima berada di kantor Alfian. Rania menikmati seblak dower dengan santai. Zain dan Alfian merasa kepedesan karena level seblaknya level paling atas.
Dokter Atha hanya mencicipi satu sendok sudah terbatuk-batuk tidak tahan pedasnya. Zain yang selalu pandai memanfaatkan waktu, dia langsung berlari mendekati Dokter Atha memberikan satu gelas air mineral dan satu tisu.
"Minumlah!"
"Terima kasih." Dokter Atha meminum satu gelas air putih tanpa sisa.
"Kalau Kakak tidak kuat makan pedas, makan rujak ini saja!" perintah Rania.
"Iya sini, Kakak makan rujak saja."
Dokter Atha memilih makan rujak ada rasa manis dan pedas sedikit. Tidak tahan dengan pedas seblak dower yang memiliki tingkat kepedesan tingkat sepuluh. Hanya Rania yang paling cepat menghabiskan seblaknya.
"Abang ... Rani mau rusaknya juga, Abang mau?"
"Abang sudah kenyang, Rani saja yang habiskan!"
Rania menikmati makanan yang ke dua. Rujak buah satu porsi dihabiskan sendiri. Tidak ada yang tersisa semua habis dalam waktu sekejap.
Dokter Atha membuka ponsel setelah ada notivikasi pesan WA masuk. Membaca dengan kening yang berkerut. Zain hanya memperhatikan gerak-gerik Dokter Atha yang mencurigakan.
"Dik ... Kakak pulang dulu ya, sudah waktunya untuk pulang ini," pamit Dokter Atha sambil memeluk Rania.
"Hati-hati Kak."
Setelah Dokter Atha keluar dari kantor Alfia. Zain juga ikut pamit, "Bro ... gue mau ke kantor lagi masih ada hal yang harus gue kerjakan.
Zain langsung berlari menuju parkiran. Bergegas mengambil mobilnya untuk mengikuti Dokter Atha yang sudah keluar menggunakan mobilnya beberapa menit yang lalu. Pamitnya mau ke kantor tetapi kini sudah berada di belakang mobil Dokter Atha.
Setelah setengah jam berlalu Dokter Atha berhenti di sebuah warung padang. Ada dua pelayan yang mengangkat empat plastik besar bungkusan nasi padang ke mobil Dokter Atha, "Beli nasi Padang sebanyak itu buat siapa?" monolog Zain sendiri.
BERSAMBUNG
Promosi dong, novel author yang ada di sebelah
mampir yok masih sepi nich, jangan lupa gratis jg kk
__ADS_1