Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Pengakuan Sinta


__ADS_3

"Selamat Malam semua, maaf saya baru bisa menemui Anda semua malam ini. Dalam kesempatan ini pertama-tama saya mohon maaf dan ampun kepada suami saya Alfarizi Zulkarnain beserta seluruh keluarga. Mohon maaf kepada Mama dan Papa di rumah serta putriku Marta, saya telah berbuat kesalahan dan menyakiti suami dan seluruh keluarga." Sinta mengambil napas panjang dan meneteskan air matanya.


Dokter Mario langsung mengusap pundak Sinta untuk memberikan dukungan. Wakau tanpa kata keduanya terlihat saling mendukung. Terlihat memang sudah bertahun-tahun mereka menjalin hubungan.


"Maaf saya yang akan melanjutkan mewakili Sinta. Kami mohon maaf kepada seluruh masyarakat atas perbuatan khilaf kami terutama kepada keluarga Tuan Alfarizi dan keluarga Sinta. Kami mengakui jika kami berhubungan mulai dari SMA ..." Dokter Mario langsung menundukkan kepalanya tidak melanjutkan ucapannya karena para pewarta langsung menyoraki dan berteriak kesal.


Sinta langsung melanjutkan ucapan Dokter Mario yang terputus, "Dulu saya menikah dengan Al karena dijodohkan, tetapi maaf cinta tidak bisa di paksakan, semua murni kesalahan kami berdua. Satu lagi saya akan mengakui di depan Anda semua bahwa Marta putriku bukan putri kandung dari suamiku Alfarizi tetapi putriku dengan Mario."


Suara para pewarta semakin riuh rendah. Sorakan, teriakan, makian dan sumpah serapah keluar dari mulut mereka karena merasa geram. Seolah para pewarta itu mewakili Alfarizi meluapkan kekesalahannya kepada Sinta.


Sinta kembali melanjutkan ucapannya, "Mulai saat ini saya mundur dari dunia model, sekali lagi kami mohon maaf yang sebesar-besarnya telah membuat berita yang tidak berkenan di masyarat, terima kasih dan permisi."


Sinta dan Dokter Mario langsung berdiri melipatkan kedua tangannya di dada. Meninggalkan konfrensi pers tanpa memberikan jawaban para pewarta yang berteriak dan ingin bertanya. Kembali sumpah serapah di lontarkan para pewarta karena keterangan Sinta seolah menggantung dan tanpa ada kejelasan yang detail.


Selesai konfrensi pers, Neng termenung teringat masa lalu. Apakah karena perselingkuhan itu Tuan Al dulu selalu memperlakukan aku seperti waktu itu gumam Neng dalam hati. Yang Neng tidak habis pikir mengapa mereka selalu terlihat mesra saat di depan publik.


Neng hanya bisa menebak dan menyimpulkan sendiri betapa Tuan Al sangat mencintai istrinya setelah perselingkuhan itu dia masih bisa memaafkan istrinya. Saat teringat Marta bukan anak kandung dari Al, Neng meneteskan air matanya karena rasa takut kehilangan putranya sangat besar. Neng langsung memeluk Alfian dengan erat.


"Jangan tinggalkan Mami ya, Nak; Mami sangat sayang padamu."


"Al juga sayang Mami, Al akan selalu bersama Mami."


Neng tersenyum dan merasa bersyukur, putranya sangat pandai dan sangat mandiri. Selalu bisa menenangkan hatinya saat gundah gulana. Hanya Alfian yang selama ini penyemangat hidupnya.


"Mami, apakah Al boleh sayang sama Papi, karena Kakak Cintik itu bukan putri Papi?"


"Tentu boleh Nak, tetapi Al jangan tinggalkan Mami, ya!"


"Kalau yang itu Mami yang nomor satu."


Di belakang konfeksi AA tepatnya di rumah baru, Alfarizi besama dengan Umi Anna dan Isya juga ikut melihat tanyangan konfrensi pers sampai selesai. Yang banyak berteriak dan memaki karena ucapan Sinta adalah Isya. Umi Anna hanya terdiam terpaku sambil menangis tersedu, air matanya menganak sungai, yang di khianati putranya tetapi yang sakit hati ibunya.

__ADS_1


"Umi, sudahlah tidak usah dipikirkan lagi, semua sudah terjadi."


"Tapi mengapa sampai bertahun-tahun kamu tidak tahu dengan kelakuan istrimu itu Al?"


"Entahlah Mi, dulu aku sangat mencantai wanita itu sampai aku buta tidak pernah melihat kebusukannnya."


"Abang sih, dulu Isya bilang tidak percaya!"


"Iya Sya, Abang minta maaf, sudahlah besok Abang akan ke pengadilan dan konfrensi pers juga, Abang ingin semua ini cepat selesai."


"Heleeh, palingan ingin cepat mengejar maminya Al yang cantik dan anggun itu, haayo ngaku aja?"


"Lho kok Isya tahu, sudah bertemu dengan istri Abang?"


"Abang halu lagi, istri Abang masih Kak Sinta, bukan Kak Mitha; Abang tahu kemarin dari bandara kami langsung memesan baju pengantin pada Kak Mitha." Cerita Isya dengan senangat.


"Umi dan Isya bisa bertemu dengan dia, tidak mungkin dia jarang lho datang ke butik?"


Isya langsung membuka ponselnya, mencari galeri yang ada foto mereka saat bertemu Neng dan Alfian. "Nich Bang, kalau tidak percaya!"


"Apakah istri dan putraku tahu identitas Isya dan Umi?" tanya Al lagi.


"Tidak Nak, Umi datang ke sana sebagai pelanggan butik."


"Eee tapi Umi kemarin hampir keceplosan mengakui Al sebagai cucunya, untung Isya cepat mengalihkan perhatian mereka."


"Umi, tolong jangan rusak rencanaku, aku akan mendekati dia dulu, ok!"


"Baiklah, tapi ingat kalau kamu melakukan kesalahan lagi, Umi yang akan bertindak!"


Pada pukul sepuluh pagi Al datang ke pengadilan agama di dampingi oleh pengacaranya. Dia memakai setelan jas warna biru dongker, wajah terlihat fress dengan penampilan yang rapi dan wajah bersih tanpa cambang dan rambut tipis yang ada di dagunya. Di wajah Al tidak terlihat sedih atau tegang dia lebih terlihat tenang dan cool.

__ADS_1


Al mendaftarkan gugatan cerai terhadap Sinta terlebih dahulu. Banyak para pewarta yang ingin mewawancarainya tetapi Al hanya tersenyum dan masuk di pengadian tanpa kata. Dia hanya melipatkan tangannya di dada, Pengacaranya yang mewakili Al untuk menjawab pertanyaan mereka.


"Tunggu setelah kami mendaftarkan gugatan secara resmi terlebih dahulu, permisi!"


Hampir setengah jam Al dan pengacaranya berada di dalam kantor pengadilan. Setelah selesai dia keluar dan tersenyum setelah ada banyak pewarta yang menunggunya di luar pengadilan. Al duduk di kap mobil miliknya di dampingi pengacara.


"Silahkan yang ingin bertanya!" kata Al dengan tenang.


"Bagaimana perasaan Anda saat ini?" tanya seorang wartawan yang berdiri paling depan.


"Perasaan, aku ini hanya nanusia biasa, marah, benci dan semua yang aku rasakan kemarin sangatkah menyakitkan," jawab Al tanpa penjelasan dengan detail.


"Kapan tepatnya Anda mengetahui tentang perselingkuhan istri Anda?" jawab seorang pewarta cantik berambut pirang.


"Sudah lama sih, aku sendiri sudah lupa," jawab Al sekenanya.


"Tetapi mengapa Anda baru menggugat cerai sekarang?"


"Ada hal yang tidak bisa aku ungkapkan di publik alasannya, yang jelas sebenarnya kami sudah pisah ranjang tujuh tahun yang lalu," Jujur Al dengan suara tenang.


"Apakah Sinta menuntut gono-gini, mengingat perusahaan Anda berkembang pesat saat ini?"


"Kami sudah sepakat tentang itu, tidak akan masalah semuanya sudah aman."


Pengacara Al berdiri dan melipatkan tangannya dan berkata, "Mohon maaf, satu pertanyaan lagi karena kami harus meeting setelah ini."


"Apakah Anda trauma untuk menikah lagi setelah mengetahui istri Anda selingkuh sampai memiliki satu putri?"


Al tersenyum dan terbayang wajah Neng dan berkata, "Saya juga ingin hidup bahagia, memiliki istri dan anak kandung, trauma sih tidak, mungkin akan lebih berhati-hati dalam memilih pasangan hidup."


Hai shobat semoga harimu sehatbdan bahagia selalu,

__ADS_1


Rekomen novel bsgus untukmu mampir ya!



__ADS_2