
Setelah merenung semalaman Neng pagi ini merasa lebih tenang, walaupun terkadang masih menangis saat mengenang masa lalu, dan bertekat akan berjuang hanya demi putranya dan orang-orang yang ada di sekelilingnya.
Pagi ini rencana Neng akan melihat putranya yang masih ada di inkubator ruang perawatan bayi, hampir tiga hari ini dia tidak diberbolehkan turun dari tempat tidur, tetapi saat akan bersiap dibantu oleh Ibu Ani, datang Dokter Harry visit pada jam pertama.
"Selamat pagi Ibu cantik, mau kemana ini terlihat cantik dan segar?" tanya Dokter Harry dengan rayuan gombalnya.
"Selamat pagi Dok, silahkan duduk!" kata Ibu Ani meminggirkan kursi roda yang akan pakai untuk Neng.
"Maaf ya Bu, aku minjam putrinya dulu," kata Dokter Harry lagi.
"Silahkan Dok, Neng Mitha aku keluar sebentar, setelah visit Dokter ganteng kita baru melihat baby, ok!"
Neng mengangguk dan tersenyum ternyata Ibu Ani bisa mengimbangi candaan Dokter Harry yang membuatnya bisa tersenyum.
"Bagaimana kabar Neng Mitha?"
"Aku baik Dok,"
"Aku mau menagih janji Neng Mitha kemarin, karena aku merasa bersalah semalaman tidak bisa tidur, bercanda Neng bercanda,"
"Dokter bisa saja,"
"Baiklah kita mulai ya, apakah Neng Mitha bisa bercerita sedikit mengapa kemarin bisa pingsan padahal saat itu kata Ibu Ani seluruh keluarga sedang bahagia selesai melakukan syukuran usia kandungan tujuh bulan?"
"Aku sedang ---!" kata Neng ragu-ragu tidak jadi melanjutkan ucapannya, matanya mulai berkaca-kaca.
"Neng Mitha, dengarkan aku, kamu tidak perlu ragu untuk bercerita, rahasiamu akan aman padaku, aku hanya ingin membantu Ibu muda agar tidak terjadi baby blus sesaat setelah melahirkan,"
"Ayah bayiku meninggalkan aku saat usia kehamilanku berumur dua bulan,"
__ADS_1
"Ya Allah ya Tuhanku, yang sabar ya Neng Mitha, silahkan teruskan ceritanya!"
"Ayahku sebenarnya yang salah, aku di nikahkan siri dengan seorang laki-laki beristri dengan perjanjian selama lima bulan dengan mahar 2 M, setelah empat bulan suami siriku mengilang dan meninggalkan aku, tetapi dia meninggalkan aku dalam keadaan hamil,"
"Ya Tuhan kejam sekali, jadi dia tidak tahu kamu hamil?"
"Tidak Dok, aku bertekad ingin membesarkan putraku sendiri, tetapi setelah aku melihat tayangan televisi ada suami siriku dan istri sahnya juga mempuyai putri cantik, hatiku sakit sekali."
"Kamu harus tegar ya, apakah kamu yakin tidak akan memberitahukan kepadanya jika kamu mempunyai keturunan dari dia?"
"Ya Dok aku sangat yakin, biarlah aku yang akan menderita, tetapi aku tidak ingin putraku merasa tersisihkan karena tidak diinginkan olehnya,"
"Apakah aku boleh memberikan saran untukmu?"
"Tentu Dok, dengan senang hati, silahkan!"
"Suatu saat nanti pasti putramu akan bertanya siapa ayahnya, jadi berikan hak putramu untuk mengetahui walaupun hanya sedikit, janganvsampai rasa sakit hati ibunya akan tertanam pada dirinya, faham maksudku?"
"Bagaimana cara menghilangkan rasa sakit di dalam hati, Dok?"
"Waktu, hanya waktu yang akan mengikis sakit hati itu menjadi rasa ikhlas, jika perlu sering seringlah sebut nama laki-laki yang tidak bertanggung jawab itu, pasti suatu saat nanti namanya akan menjadi biasa saja,"
"Baiklah cukup sesi pertemuannya kali ini, besok kita sambung lagi." pamit Dokter Harry.
"Terima kasih Dok."
Setelah Dokter Harry keluar dari ruang rawat inapnya, Neng dan Ibu Ani pergi ke ruang bayi, menggunakan kursi roda yang telah dipinjamnya dari suster jaga.
Saat pertama kalinya Neng melihat baby yang sedang terjaga dan bergerak aktif itu berlinang air matanya, putranya sangat mirip denga Tuan Al tanpa kecuali mulai dari matanya, hidungnya yang mancung, bentuk telinganya bahkan bibirnya juga persis, tidak ada yang mirip dengan Neng sama sekali.
__ADS_1
"Hai sayang, ini Mami Nak, lihatlah kesini!" Neng begitu bahagia melihat putranya untuk pertama kalinya, benar kata Dokter Harry, segala kegundahan hati akan sirna setelah melihat buah hatinya yang sehat.
Datang suster mendekati Mereka yang sedang interaksi dengan dengan bayinya, "Bu, apakah anda ingin berlatih memberikan ASI ekslusif?"
Neng mengangguk ragu, karena sudah hampir tiga hari ini rasanya ASI sudah mulai ada dan rasanya kencang.
"Mari aku bantu Bu, putranya di pangku terlebih dahulu ya!" kata Suster membantu Neng memposisikan putranya untuk di pangkuannya.
Tanda diduga oleh Neng, baby boy itu dengan cepat bisa menyedot ASI dengan cepat, Neng menjadi tersenyum ada rasa geli dan aneh saat pertama kali bisa memberikan ASI, kontak batin diantara keduanya seolah langsung klop.
Ibu Ani juga tersenyum melihat cucunya langsung bisa menyedot ASI, "Waaah pintarnya cucuku,"
Hampir setengah jam Neng dan Ibu Ani bisa bercengkerama dengan riang di ruang bayi, setelah kenyang bayinya langsung terlelap dalam dekapan Neng, wajahnya terlihat damai, Neng tidak henti-hentinya memandang wajahnya yang terlihat tampan.
"Neng Mitha diberi nama siapa cucu tampan ini?" tanya Ibu Ani.
Neng teringat pesan Dokter Harry, harus memberikan hak kepada putranya untuk menikmati sebagai seorang anak, dan jika sering mendengar nama orang telah menyakitinya pasti suatu saat nanti akan terobati dan terkikis rasa sakit itu, sehingga Neng memutuskan akan memakai nama ayahnya walaupun tidak lengkap.
"Putraku bernama Alfian Akfarizi, boleh di panggil baby Al,"
"Bagusnya namanya, hai baby Al, aku nenekmu sayang,"
"Hai Nenek, baby Al sayang nenek." jawab Neng dengan melambaikan tangan Al dan menirukan suara anak kecil.
Baby Alfian harus di rawat di inkubator selama dua Minggu karena lahir prematur dan berat badan yang kurang, sedangkan Neng hampir dua Minggu juga selalu melakukan sesi terapi bersama Dokter Harry, semakin lama Neng semakin terbuka dan banyak cerita tentang saat masih bersama suami sirinya, tetapi hanya satu yang tidak di ceritakan oleh Neng yaitu identitas dari Papi kandung baby Alfian.
Saat Neng melakukan sesi terapi dengan Dokter Harry Neng sering bercerita dan memanggil Tuan Al dengan sebutan Pohon Pisang sama seperti saat dia masih tinggal di villa.
Setelah Hampir tiga Minggu di rumah sakit, akhirnya Neng dan baby Al diperbolehkan pulang, di sambut oleh seluruh karyawan dengan suka cita, baby Al memiliki banyak nenek karena sebagian besar umur karyawan Neng adalah ibu paruh baya single parent, mereka bergantian menjaga cucunya dengan penuh kasih sayang di sela-sela mereka bekerja menjahit yang menjadi kesehariannya
__ADS_1
Saat sendiri terkadang Neng masih sering menangis, sering merasa tersakiti karena tidak adil untuk putranya baby Alfian tetapi semua tidak pernah di tunjukkan kepada siapapun, bahkan di hadapan putranya baby Alfian, Neng benar-benar melaksanakan nasehat dari Dokter Harry bahwa harus selalu memberikan haknya sebagai anak, dan harus bisa menempatkan dirinya sebagai orang tua tanpa embel embel dendam dan sakit hati terhadap Papi kandungnya.