Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Jatuh dari Tangga


__ADS_3

AST 87 Jatuh dari Tangga


Alfarizi duduk berjongkok mensejajarkan badannya dengan Marta, "Sayang, Papa menemui istri Papa dulu ya, sekarang Marta jalan-jalan lagi dengan Mama di mall, lain kali kita bertemu lagi, ok!"


"Ya Papa, terima kasih sampai jumpa." jawab Marta meraih punggung tangannya dan menciumnya.


"Sinta, maaf ya, aku mengejar istriku dulu, bye ..."


Sinta hanya mengangguk dan tersenyum memandang Alfarizi yang berlalu dengan langkah panjang. Tidak menyangka dia sudah bisa move on darinya dengan cepat. Sinta berpamitan dengan Surya melanjutkan berjalan-jalan di mall dengan putrinya.


Alfarizi masuk Butik AA langsung berlari menuju kantor Neng. Bertemu Desi di depan pintu yang baru saja keluar dari kantor Neng, "Desi, apakah istriku ada di dalam?"


"Ada Tuan, apakah Anda ingin menemuinya?"


"Ya ...."


"Sebentar saya ...!"


Belum sempat Desi melanjutkan ucapannya Alfarizi langsung memotong ucapannya, "Tidak perlu Desi, aku langsung masuk saja, ini darurat!"


Alfarizi masuk kantor Neng dengan perasaan yang gundah gulana, takut dia marah atau menolak menemuinya jika harus meminta izin terlebih dahulu. Masuk langsung memandang Neng yang sedang fokus pada laptopnya. Pura-pura tidak melihat siapa yang datang padahal seharusnya dia mendengar saat Alfarizi datang dan bertanya kepada Desi.


"Neng Geulis ...."


"Ya ada perlu apa Anda ke sini?" jawab Neng bersikap biasa tanpa melihat wajah Alfarizi yang khawatir berlebihan.


Bayangan Alfarizi Neng akan marah dan meluapkan kegundahan hatinya dengan memukul atau melempar sesuatu kearahnya. Bahkan berharap bisa merasakan rasa cemburu yang besar darinya. Sayangnya semua itu tidak terjadi, Neng hanya bersikap biasa saja seolah tidak terjadi sesuatu sebelumnya.


"Ais kamu ini, aku kira kamu akan marah padaku, aku sudah khawatir sekali!"


Neng langsung menatap tajam wajah Alfarizi yang terlihat khawatir. Walaupun hatinya bergemuruh dan ingin marah, tetapi dia bisa menekan rasa itu. Sudah bertahun-tahun selalu menekan dan menyembunyikan perasaannya membuat Neng dengan mudah bersikap biasa saat melihat Alfarizi datang dengan khawatir.


"Neng Geulis, jangan marah maafkan aku please!" pinta Alfarizi duduk di kursi di depannya.


"Anda salah apa kok Minta maaf?" jawab Neng dengan santai.


"Yang Neng Geulis lihat tadi itu lo!"


Neng pura-pura tidak ingat tentang kejadian yang di maksud Alfarizi, "Apa yang aku lihat, aku tidak melihat apa-apa?"


"Iiih kok aku jadi gemas sendiri ya, boleh aku mencolek pipimu, aku gemes banget ingin menggigitnya kalau perlu?"


"Memang ayam goreng di gigit!" jawab Neng ketus.


"Neng Geulis, yang tadi itu Marta sengaja datang ingin bertemu denganku, kangen katanya, dia merengek meminta Mamanya mengantar bertemu itu saja, aku tidak ada hubungan apapun dengan mantan laknat itu."

__ADS_1


Neng hanya tertegun tidak menanggapi atau menjawab ucapan Alfarizi yang berusaha menjelaskan pertemuannya dengan mantan istri. Dia tetap saja cuek walaupun sebenarnya di dalam lubuk hatinya merasa laga. Neng hanya menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Neng ...!" panggil Alfarizi mengagetkan lamunan Neng sambil memajukan badannya mendekati wajahnya.


"Eee ya Tuan ada apa ... ups maaf?" Neng jadi spontan menjawab memanggil dengan sebutan tuan dan memundurkan badannya ke belakang.


"Neng Geulis tidak marah kan?"


"Memang siapa aku, mengapa aku harus marah, apa hubungannya denganku?" Kembali Neng mencoba untuk tenang dan menyembunyikan perasaannya.


"Iiih kok aku jadi semakin gemes ya, kamu itu istriku, wajar kalau seharusnya kamu marah padaku karena kamu melihat aku sedang bertemu mantan laknat itu."


"Tadi pagi apakah Anda sempat mengantar Alfian?" tanya Neng mengalihkan pembicaraan.


Alfarizi menarik napas panjang, mencoba bersabar padahal rasanya ingin sekali memeluk dan mencubit pipinya. Selalu saja mengelak dan tidak mau menngakui perasaannya sendiri walau dengan mudah bisa dibaca sikap dan perilakunya.


"Yang mengatar Al tidak cuma Papi tercinta, ada Oma Anna dan Opa Ali, sayangnya istri tercinta sudah berangkat kerja." Alfarizi menjawab seperti orang menggerutu karena selalu saja Neng mengalihkan pembicaraannya.


"Terima kasih, maaf merepotkan." jawab Neng sambil kembali fokus pada laptopnya.


"Tok ... tok ... tok!"


"Masuk ...." jawab Neng dan Alfarizi kompak.


Pintu terbuka dengan perlahan datang dua orang asisten kompak masuk bersamaan. Neng dan Alfarizi saling menatap sesaat karena kedua asistennya datang bersamaan.


"Eeee ...!" Spontan Neng menutup mulutnya di ikuti Alfarizi yang terkekeh, serta senyum devil Surya dan Desi.


"Anda di tunggu klien di ruang meeting, Tuan." Surya menjawab sambil maju satu langkah.


"Bu, ada tamu dari Jakarta yang ingin bertemu dengan Anda."


"Baiklah!" jawab Neng berdiri dari kursi singgasananya.


Saat Neng berjalan sambil menenteng laptopnya, Alfarizi berjalan mensejajarkan tubuhnya di samping Neng, "Neng Geulis, tamunya laki-laki atau wanita?" bisik Alfarizi di telinganya.


"Emang kenapa kalau laki-laki?" jawab Neng pelan.


"Aku akan mendampingi kamu lah, takutnya ada serangga lain yang akan mendekati istriku!"


"Iiih, istri apaan, istri halu?" Kali ini Alfarizi mendengar ucapan Neng walaupun lirih.


"Jangan bikin aku gemas lagi dong, aku peluk di sini mau?"


"No ...!"jawab Neng cepat.

__ADS_1


Setelah Alfarizi melihat tamu Neng adalah seorang wanita paruh baya. Dia langsung berpamitan menuju kantor untuk meeting dengan klien. Di ikuti oleh asisten masing-maning dan melanjutkan pekerjaannya.


Hampir empat hari berlalu Alfarizi selalu datang pagi hari untuk sarapan bersama dan mengantar Alfian sekolah. Menjemput pulang sekolah dan selalu menemuinya dengan alasan mengantar Alfian pulang sekolah. Terkadang di Butik AA terkadang di rumah Neng, tetapi seringnya jarang bertemu saat siang hari.


Pagi ini adalah hari Sabtu sekolah Alfian libur, besok adalah ulang tahun Alfian. Neng terburu-buru berjalan menuruni tangga ingin menemui putranya yang sedang duduk di kursi meja makan sendirian. Ingin bertanya mau jalan ke mana saat ulang tahun besok.


"Al ... ?" belum sempat Neng melanjutkan pertanyaan karena kurang fokus kakinya tergelincir terjatuh dan meluncur turun dengan posisi kepala di bawah dan punggung terbentur pinggiran tangga sampai lantai bawah.


"Mamiiiiiii ...!" teriak Alfian berlari mendekati Neng yang sudah terlentang di bawah tangga tanpa bisa bergerak.


"Aaiissstt ... Al, punggung Mami sakit!" rintih Neng sambil meneteskan air matanya.


"Aduh sabar Mami, ini bagaimana, Al bingung?"


"Al ... Al aaa punggung Mami...."


"Tunggu Mami, Al telepon Papi, mana ponsel Mami, eee pakai ponsel Al saja."


Alfian menyambar ponselnya yang tergeletak di meja makan. Dengan tangan bergetar menghubungi papinya dan suara di loud speaker, "Hiks hiks Papiii ... cepat kesini!"


"Halo Nak, mengapa menangis?"


Alfarizi yang sedang di ruang keluarga bersama Abi Ali dan Umi Anna. Mereka mengisyaratkan agar suara ponselnya untuk di loud speaker. Agar mereka bisa ikut mrndengar suara Alfian.


"Ma ... Mami jatuh dari tangga, Mami tidak bergerak lagi cepat, Papiiii!"


Alfarizi yang sedang memakai kaos kaki dan sepatu baru sebelah kanan, langsung berlari sambil menyambar kunci dan berlari lagi menuju rumah Neng. "Lho itu bagaimana sih putramu Umi, berlari menggunakan satu sepatu, mengambil kunci mobil tetapi mengapa berlari tanpa membawa mobil?" tanya Abi Ali heran.



Author promo ld ya ini rekomen banget lo


SELINGKUH MEMANG BUKAN PILIHAN TAPI APAKAH DIKHIANATI TERUS MENERUS HARUS MEMBUATNYA DIAM? SEDANGKAN ADA PRIA LAIN YANG MENCINTAINYA DENGAN TULUS, TAPI TANPA DIA SANGKA PRIA TERSEBUT ADALAH GIGOLO YANG PERNAH DIA SEWA, JANGAN SALAHKAN DIA SELINGKUH!


Stefani Luna Olivia atau yang biasa di panggil Luna, kaget saat melihat suaminya sedang bercinta dengan wanita lain di kamar mereka.


Exsel Alex Sander, suami Luna dengan tanpa rasa bersalah mengaku jika wanita yang sedang bercinta dengannya itu adalah wanita simpanannya.


"Jadi selama aku bekerja di luar kota, ini yang kamu lakukan!" ucap Luna penuh emosi.


Dengan tanpa rasa bersalah Alex dan Tania, wanita simpanan suaminya mengakui jika hubungan mereka telah terjalin hampir satu tahun.


Tidak terima atas pengkhianatan yang dilakukan suaminya, Luna menyewa jasa seorang gigolo.


David, namanya. Seorang mahasiswa. Hubungannya yang makin renggang dengan suami, membuat Luna makin dekat dengan David.

__ADS_1


Tanpa disadari benih cinta tumbuh diantara mereka.


Apakah yang akan Luna lakukan? Mungkinkah hasrat terlarang mereka dapat terwujud?


__ADS_2