Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Sakit Pinggang


__ADS_3

Sementara Alfian dan Rania sedang merasakan indahnya bercinta. Zain dan Julio sedang tertawa terbahak-bahak di ruang keluarga bersama seluruh keluarga Papi Alfarizi. Mereka sedang menyaksikan vedio Putri Siregar yang berada di bawah pohon beringin di tengah pemakaman.


Awalnya Putri turun dari mobil bersikap biasa saja masih belum menyadari karena baru bangun tidur. Ketika dua kaki baru saja menginjak tanah Putri menjerit sekencang-kencangnya dan kembali masuk mobil. Sayangnya sepatu high heels tertinggal satu di tanah bawah pintu mobil.


Dengan tangan bergetar Putri mengambil sepatu yang terjatuh dengan posisi badan masih ada di dalam mobil Bersamaan ada dua kucing yang melintas berkejaran di bawah mobil. Putri kembali menjerit dan menutup pintu mobil setelah berhasil mengambil sepatunya.


Di dalam mobil berkali-kai Putri menstarter mobil ingin segera keluar dari lingkungan pemakaman. Sayangnya mesin mobil tidak kunjung menyala mungkin karena gugup atau takut. Putri kembali berteriak walaupun suaranya tidak terdengar dari luar karena kaca mobil tertutup rapat.


Setelah beberapa saat terlihat Putri turun dari mobil dan nengendap-endap sambil mengawasi area pemakaman yang sepi. Dia berlari keluar dari area pemakaman meninggalkan mobilnya. Baru berlari sekitar setengah kilometer ada suara batang pohon beringin jatuh dan mengenai kap mobil bagian depan.


Putri berbalik badan dan berlari kembali masuk mobil sambil menjerit ketakutan. Lampu yang temaram tidak terlihat jelas apa yang dilakukan oleh Putri di dalam mobil. Hanya terlihat sekilas jika dia menjerit dan menangis sejadi-jadinya.


Batang pohon beringin yang awalnya berada diatas kap mobil sedikit demi sedikit turun dan terjatuh. Membuat suasana semakin terlihat horor dan mencekam. Putri semakin ketakutan dan berkali-kali menjerit dan menangis.


Sampai akhirnya Putri berlari kembali kearah pintu gerbang pemakaman. Rok Putri terlihat basah dan bertelanjang kaki saat dia berlari kencang Sampai luar pemakaman.Vedio berakhir setelah Putri bertemu dengan seorang laki-laki tua yang akan pergi ke masjid.


"Kalian tega banget sih, coba lihat si Putri sampai terkencing-kencing begitu!" Mami Mitha menggelengkan kepalanya setelah selesai melihat vedio.


"Cuma pelajaran sedikit Auntie, biar kapok," jawab Zain masih tertawa lepas.


"Mulai jam berapa kalian memindahkan mobil Putri ke pemakaman itu, Jul?" tanya Papi Alfarizi.


"Sebelum Abang Al berangkat ke Eropa, Tuan."


Waktu menjelang subuh seluruh keluarga beristirahat setelah menunaikan ibadah. Mami Mitha dan Papi Alfarizi berada di kamar untuk beristirahat. Sudah seharian ini maraton tanpa beristirahat karena kejutan yang membahagiakan.


Papi Alfarizi mulai teringat tadi sore saat ingin mengajak istrinya bergoyang. Umur boleh banyak tetapi keinginan dan rasa cinta tidak pernah sirna dari hati. Masih saja ingin bergoyang dan ingin menikmati indahnya memadu kasih.


Mami Mitha mulai merebahkan tubuhnya di tempat tidur ingin beristirahat. Papi Alfarizi memeluknya dari belakang sambil mencium tengkuknya berkali-kali.


"Papi ... geli atuuuh," teriaknya.

__ADS_1


"Jangan tidur dulu dong, Honey. Papi ingin mengajak Mami anu dulu!"


Mami Mitha pura-pura tidak memahami perkataan suaminya dan memejamkan mata, "Apa itu anu, Papi?"


"Mami jangan pura-pura tidak tahu ya, dari tadi sore Papi sudah dua kali mengajak Mami bergoyang tetapi hanya mendapatkan capitan kepiting di pinggang."


Mami Mitha hanya tersenyum devil walau mata tetap terpejam. Pura-pura tidak ingin menanggapi mesum tingkat dewa suaminya. Walau sudah tua tetapi keinginan tentang bercinta masih seperti dulu.


"Mami my Honey ... ayolah!" Papi Alfarizi mulai menggesekkan senjata onta Arab yang mulai mengeras di bawah pinggang Mami Mitha.


Mami Mitha memajukan badannya agar tidak terasa mengganjal senjata onta Arab. Dia terlalu memajukan badannya sampai hampir terjatuh. Untung di tangkap dari belakang sehingga tidak terjengkang dari tempat tidur.


"Itu namanya mau kewalat sama suami, Mami!" teriak Papi khawatir hampir saja terjatuh dari tempat tidur.


"Papi ... aduuuh! jantung Mami Mitha hampir copot karena kaget."


Niatnya hanya ingin menggoda dan membut suaminya mengurangi kemesuman. Sayangnya hampir terjengkang karena keusilannya sendiri. Akhirnya Mami Mitha melayani keinginan suaminya.


Sampai hampir mencapai klimaksnya, Papi Alfarizi semangat empat lima. Tidak ingat umur terus saja menggoyangkan onta arab tanpa henti. Bersamaan di klimak goyangan onta arab pinggang Papi Alfarizi terasa nyeri, "Aaaaah ... Mami!" teriak Papi Alfarizi tumbang dan merebahkan tubunya di samping tubuh Mami Mitha yang polos tanpa sehelai benangpun di badannya.


Awalnya Mami Mitha mengira Papi Alfarizi berteriak karena mencapai puncaknya. Setelah di lihat dan di perhatikan ternyata Papi Alfarizi meringis kesakitan menahan nyeri di pinggang. Ingin tertawa tetapi takut dosa.


Mami Mitha bergegas bangun dan mengusap pinggangnya, "Sebelah mana yang sakit, Papi?"


"Ini Mami ... sebelah kanan, aduuuh sakit sekali," rintih Papi Alfarizi sambil mengusap pinggangnya sendiri.


"Makanya Pi ... ingat umur, jangan terlalu bersemangat, kalau sudah begini bagaimana jadinya?"


Mami Mitha terus mengusap sambil memijat dengan lembut. Dari pinggang sampai punggung di urut perlahan untuk mengurangi rasa nyeri. Bahkan Mami Mitha belum sempat memakai baju, dia hanya melilitkan selimut pada tubuhnya.


Hampir setengah jam rasa nyeri tidak juga hilang, padahal tangan sudah pegal memijit. Mami Mitha memakai baju dan membantu suaminya juga mengenakan kaos serta celana pendek, "Apakah tidak berkurang sakitnya, Pi?"

__ADS_1


"Tidak ... masih sakit sekali, Mami."


"Mami panggilkan tukang urut ya?"


"Eee tidak mau, tukang urut perempuan nanti kalau dia naksir Papi, bagaimana?"


Mami Mitha menggelengkan kepala sambil tersenyum devil, "Tidak usah PD selangit. Ingat Papi sudah tua, Mami tidak memanggil tukang urut perempuan tetapi memanggil tukang urut laki-laki kalau perlu yang berkebutuhan khusus."


"Ooo kirain."


"Papi istirahat saja, Mami panggil Ayah dan Ibu Ani."


"Panggil Umi dan Abi saja, Mami!"


"Umi dan Abi sudah pulang ke Bogor tadi pagi."


Mami Mitha keluar kamar dan turun tangga. Ada Abah yang sedang minum kopi di temani Junaidi dan Doni. Ibu Ani sedang di dapur berbincang dengan bibi sambil memasak.


"Ayah ...!" panggil Mami Mitha sambil menuruni tangga.


"Ya Neng ada apa?"


"Apakah Ayah mengenal tukang urut laki-laki?"


"Banyak teman Ayah yang menjadi tukang urut, siapa yang mau di urut?"


"Papi pinggangnya terkilir."


"Rumahnya di Bogor, apakah mau menunggu jika teman Ayah di panggil ke sini?"


Mami Mitha mengerutkan keningnya, menimbang saat melihat suaminya meringis kesakitan. Rasanya tidak tega jika harus menunggu lagi, "Sebentar ... di tanyakan dulu Papi mau atau tidak jika harus menunggu."

__ADS_1


Setelah sampai di kamar, yang di khawtirkan sedang tertidur pulas seperti tidak terjadi apa-apa, "Eee dasar onta arab, katanya kesakitan sekarang malah tertidur pulas."


__ADS_2