Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Rumah Masa Kecil


__ADS_3

Rasa nyeri dan merasa bersalah saat ini Neng rasakan. Dia hidup enak, bahagia dan tidak kekurangan sedikitpun. Ayahnya menjadi seorang sopir angkot untuk menyambung hidup.


"Neng, kamu jangan merasa bersalah, kemarin Encang sudah menawarkan memberikan mobil untuk usaha, ingin membeli kembali rumah yang dia jual di sini tetapi ayahmu menolaknya. Dia memilih mencari makan dengan keringatnya sendiri, kapok katanya," cerita Encang Ginanjar lagi seolah bisa membaca pikiran Neng.


"Mengapa kapok, Cang?" tanya Neng.


"Ayahmu sering di datangi ibumu dalam mimpinya, ibumu sering sering menyebutnya ayahmu durhaka, durhaka terhadap anak dan istri."


"Mana ada durhaka begitu, Cang. Yang ada anak durhaka kepasa orang tuanya."


"Encang, apakah rumah Ayah Asep yang akan di jual saat ini masih belum ada yang beli?" tanya Alfarizi jiwa bisnis dan berlebihannya untuk istrinya kumat lagi.


"Rumah itu sudah lama mau di jual, tetapi belum ada yang membelinya karena penawarannya terlalu tinggi."


Alfarizi langsung memandangi Neng yang masih sedih dan khawatir tentang ayahnya, "Mami apakah boleh rumah itu Papi beli?"


"Di beli untuk apa Papi, apakah Papi mau buat villa lagi?"


"Tidak, Papi mau hadiah ulang tahun rumah yang pernah di tinggali Mami saat kecil," jawab Alfrizi asal.


"Papi aneh sih, hadiah beli sendiri."


"Hadiah ulang tahun kok beli sendiri, Surya ... Jun itu tugasmu besok sebelum kita kembali pulang, beli rumah itu berapapun harganya nanti aku yang akan membayarnya!" perintah Abi Ali dengan tegas.


"Siap Tuan," jawab Surya dan Junaidi bersamaan.


Malam itu Encang Ginanjar menginap di villa atas permintaan Abi Ali. Dengan alasan agar bisa bertemu dengan Alfian dan baby Faiz. Malam itu akhirnya Encang dan Abi Ali di temani Junaidi, security main catur sampai menjelang pagi,


Neng yang berada di kamar masih teringat omongan Encang Ginanjar tentang keadaan ayahnya. Sekarang ini ayahnya berjuang sendiri tanpa ada teman. Dia juga tidak mau bertemu dengan karena merasa bersalah.

__ADS_1


Alfarizi mengambil baju lingerie yang tadi di pakai Neng sebelum menemui kakak kandung ibunya. Membantu Neng yang berganti baju sambil melamun tanpa memperhatikan suaminya. Membuat Alfarizi usil memasukkan lengan bajunya hanya sebelah.


Saat Neng akan merebahkan tubuhnya di tempat tidur jarinya tersangkut lengan yang belum masuk dengan sempurna di badannya, "Papi, apa ini kok bantu memakai baju hanya setengah saja sih?"


"Mami tadi melamun sih, tidak usah di masukkan lagi aja, nanti palingan Papi buka lagi!" jawab Alfarizi sekenanya.


"Buat apa di buka, senjata onta arab Papi masih terikat di tiang, mana bisa dia bergoyang,"


Dengan gemas Alfarizi menggigit telinganya. Dari tadi sore senjata onta arab gagal terus untuk bergoyang. Mulai dia tertidur saat sore hari, datangnya Encang Ginanjar dan sekarang ini malah dia bilang di ikat di tiang.


"Papi dari sore mencoba menciptakan moment romantis saat ualng tahun, Mami. Biar berkesan dan tidak terlupakan gitu, eee Mami malah meminta senjata onta arab Papi di ikat di tiang, tega banget sih!"


"Hedeh Papi modus aja, emang ada bergoyang yang berkesan?"


"Ada dong Honey, seperti sekarang ini, Mami tahu hari in Papi sangat lega dan bahagia, mengetahui ternyata cinta tulus Mami adalah cinta sejati, mengetahui Ayah Asep baik-baik saja walau masih belum tahu di mana, yaaah masih banyak lagi deh ... tetapi yang jelas hari ini adalah hari yang paling membahagiakan buat Papi, I love you,"


Malam ini Alfarizi benar-benar membuat Neng melayang sampai atas awan. Menciptakn suasana romantis yang tak terlupakan. Walaupun tetap menjaga istrinya tidak kelelahan tetapi tidak mengurangi kepuasan dan menikmati malam indah berdua.


Pagi itu juga Junaidi dan Surya langsung menuju ke rumah pemilik rumah Neng lama dan melakukan transaksi untuk pembelian rumah itu atas nama Neng. Pagi itu juga rumah langsung di kosongkan oleh pemilik lama karena langsung di bayar cash oleh Abi Ali. Membuat Alfarizi tidak sabar lagi untuk mengajak istrinya berkunjung ke sana sebelum pulang ke kota.


Neng langsung masuk kamarnya sendiri yang berukuran dua meter persegi yang masih kosong. dulu di kamar itu hanya berisi tempet tidur single bed, lemari satu pintu, meja kecil dan satu kursi. Neng duduk di lantai meluruskan kakinya di lantai kamar dengan mata yang berkaca-kaca. Membuat Alfarizi ikut duduk disamping Neng dan memandangi wajah istrinya yang masih teringat masa lalu.


"Apa yang Mami ingat sekarang?"


"Ingat saat Papi masuk sini dengan perkataan yang jutek dan mengancam," jawab Neng dengan spontan.


"Eee maaf, Honey ...."


Alfarizi menunjukkan wajah sedihnya mengusap perutnya yang mulai membuncit. Rasa bersalah langsung ada di dalam hatinya. Mengingat perbuatannya yang di lakukannya karena dulu tidak bisa mengendalikan emosi.

__ADS_1


"Semua sudah berlalu Pi, jangan merasa bersalah, pertemuan kita mungkin memang seperti itu jalannya. Yang penting kini Mami bahagia bisa hidup bersama Papi, love you."


Karena bahagia Alfarizi ingin memeluk dan mecium bibirnya datang pengganggu Alfian yang berlari masuk rumah masa kecil Neng dengan berteriak, "Mamiiii ... Papiiii ada di mana kok rumahnya serem betul?"


Sambil menarik badannya Alfarizi ikut berteriak memanggil Alfian, "Al ... Mami dan Papi ada di kamar?"


Neng hanya tersenyum saat melihat Alfarizi hanya bisa mengusap pipinya tidak melanjutkan modusnya ingin bermesaraan. Alfian datang sambil berlari dan ikut duduk di samping Neng meluruskan kakinya, "Dulu waktu kecil Mami tinggal di sini, serem banget rumahnya gelap dan tidak ada isinya?"


"Iya Nak, dulu Mami tinggal di sini, tetapi dulu ada barangnya komplit."


"Terus sekarang ke mana kok kosong?"


"Mau Papi ganti dengan yang baru biar tidak terlihat seram, Al ke sini sama siapa?"


"Bersama Oma dan Nenek, itu mereka sedang duduk di teras."


Neng mendengar ada suara riuh dan ramai di luar sedang berbincang dengan Ibu Ani dan Umi Anna. Suara mereka terdengar jelas karena rumah Neng perpaduan rumah kayu dan bata. Tanahnya lumayan luas tetapi rumahnya hanya berukuran kecil.


"Papi, ada apa kok di luar terdengar ribut dan ramai sekali?"


"Iya ada apa, ayo kita keluar?"


Alfarizi membantu Neng untuk berdiri dan berjalan cepat, Berjalan dengan langkah panjang dan melihat di luar ada keributan. Sekitar ada lima orang ibu-ibu paruh baya yang bertanya kepada Ibu Ani dan Umi Anna dengan emosi dan marah-marah.


"Di mana putri tirinya Cek Kokom katanya dia yang membeli rumah ini, dia harus bertanggung jawab atas kerugian kami!"


BERSAMBUNG


******

__ADS_1


Hari ini author promo punya author sendiri yg di pf sebelah ya



__ADS_2