
"Iiih Papi nich, yang nyangkut resletingnya bukan senjata Papi."
"Ha ha ha Papi kira Mami minta cepat-cepat di sangkutkan, harusnya pemanasan dulu."
"Aduuuuh Papi cepat di buka!"
"Ini tinggal tarik aja handuknya sudah terbuka."
"Papi, resletingnya yang dibuka, bukan handuk Papi!"
"Kok Papi salah terus sih, tapi di sengaja ha ha ha!"
Malam ini Alfarizi mengajak Neng bergoyang sampai pagi, karena tidak ada gangguan yang lewat, mulus seperti jalan tol. Yang rencananya pagi akan segera pulang agara bisa mengantar Alfian sekolah akhirnya mereka hanya menjemputnya saat pulang sekolah karena keduanya baru terlelap saat pagi hari. Dalam perjalanan hotel ke sekolah Alfian, Alfarizi selalu menggenggam tangan Neng dan sesekali mengusap pipinya.
"Mami ...."
"Hhhmm ...?"
"Apakah bisa kita langsung berangkat bulan madu?"
Neng hanya menarik napas panjang dan menghembuskannya kembali. Di hotel saja hampir sampai pagi mengajak bergoyang. Apa jadinya jika berbulan madu nanti gumamnya dalam hati. Hanya melirik dan bertanya, "Kemana Pi?"
"Terserah Mami saja, Mami maunya kemana?"
"Apakah boleh minta dua permintaan sebelum berangkat?"
"Everything for you Haney."
"Berangkat bulan madu setelah tamu dari Ngawi pulang."
"Permintaan pertama sudah terkabulkan, katakan yang kedua!"
"Sebelum berangkat Mami ingin ke makam Ibu dan Alfian harus ikut." Neng tersenyum manis sambil memandang suaminya ada kata-kata terselubung di dalamnya tanpa di sadari oleh Alfarizi.
"Ok permintaan sang ratu merupakan perintah yang harus di kerjakan."
"Papi janji ya, tidak akan berubah pikiran!"
"Janji Mami my Honey."
"Terima kasih Papi, Suamiku memang yang terbaik, berarti kemungkinan kita berangkat bulan madu tiga minggu lagi saat Alfian liburan sekolah."
"Eeee wait .... tunggu maksud Mami?"
__ADS_1
"Janji tidak bisa di di tarik lagi Papi, Ok, I love you!"
"Love you too, tapi mengapa kata-kata Mami malah menjebak?" Pernyataan cinta membuat Alfarizi berbunga-bunga tetapi sambil memikirkan ucapan Neng dan mengulang ucapan Neng berkali-kali, "Sebelum berangkat Mami ingin ke makam Ibu dan Alfian harus ikut!"
Neng terkekeh karena Alfariizi berkali-kali mengulang kalimat itu. Setelah Alfarizi mulai menyadari masudnya Afian harus ikut bulan madu, "Aaaa Mami curang, maksudnya Alfian ikut bulan madu?"
"Iya Papi, tidak boleh ingkar lo, Papi sudah janji."
"Bagaimana nanti onta arab bisa bergoyang kalau Al ikut, itu namanya bukan bulan madu Honey, tetapi wisata keluarga, Mami tidak asyik."
Kembali Neng terkekeh melihat Alfarizi mengerucutkan bibirnya karena kecewa. Mendengar wisata keluarga Neng jadi ingin mengajak seluruh keluarga, "Ide bagus itu Papi, sekalian ajak keluarga naik pesawat pribadi mungkin Mami akan sangat bahagia lagi." Neng asal dan bercanda.
"Baiklah permintaan sang ratu akan segera terwujud."
"Terima kasih ya Papi, Mami tidak sabar ingin wisata keluarga seperti keinginan Alfian saat mau ulang tahun kemarin."
"Jadi masih ada waktu tiga minggu sebelum kita berangkat, sekarang tempatnya Papi yang menentukan ya, yang penting bersama keluarga terutama bersama putra kita, ok deal!"
"Deal Papi ...."
Kali ini gantian Neng yang tidak begitu menyadari apa yang menjadi permintaannya. Alfarizi jadi tersenyum saat mepunyai ide untuk mengabulkan permitaan istrinya. Sekarang saatnya membahagiakan wanita yang sangat di cintainya apalagi sekarang usahanya bertambah besar, kalau hanya untuk membeli pesawat pribadi seakan tinggal penjentikkan jarinya.
Tanpa di sadari perjalanan seperti hanya sekejap, saat ini mobil sudah berada di depan sekolah Alfian. Dan bersamaan Alfian keluar dari kelas, langsung berlari mendekati mobil ke dua orang tuanya. Mereka tidak perlu untuk turun menjemput Alfian.
"Hai Sayang, apakah hari ini ulangan remedial?"
"Ya Mami, itu bagi yang nilainya di bawah KKM, tapi Al tidak remedi kok, tenang aja."
"Good job, Al memang kebanggaan Mami."
"Apakah Al masih ingin liburan keluarga?" tanya Alfarizi.
"Mau banget Pi, tetapi saat liburan aja jadi Al tidak banyak ketinggalan pelajaran."
"Sip, Al maunya kemana, Papi akan berusaha mewujudkan keinginan Al?"
"Kemana ya Mi, untuk sekarang ini Al ingin berkunjung ke kampung halaman Oma Anna, ingin mewujudkan impian Enin ke India, kalau Al sendiri ingin bermain salju."
"Kalau Mami Pingin ke mana?" tanya Alarizi.
"Mami ingin ke Bali aja, tidak usah jauh-jauh lah!"
"Ok nanti bisa kita wujudkan satu persatu."
__ADS_1
"Ya Papi terima kasih, yang penting buat Al, bisa wisata sama Mami dan Papi terserah ke manapun pasti akan bahagia."
"Iya Nak, Papi akan berusaha melakukan apapun untuk kebahagiaan Mami dan Alfian, Papi love Mami dan Al so much."
"Al love Papi too."
Sampai di rumah semua keluarga sedang berkumpul di gazebo yang ada di samping kolam renang sambil bercanda. Neng, Afarizi dan Alfian setelah mereka berganti baju makan siang bersama. Kemudian bergabung dengan keluarga, Alfian duduk di samping Mbah Buyut.
"Kawèt mau tak tunggu kowe Cah Bagus." (Dari tadi di tunggu anak ganteng).
"Wonten nopo to Mbah Yut?" (Ada apa Mbah Yut).
"Mumpung isih ning kene, Mbah Yut pingin ngerasakne numpak sepur sing melakune munggah menduwur." (Mumpung masih di sini, Mbah Yut pingin merasakan naik kereta api yang berjalan naik ke atas).
"Tunggu Mbah, nopo wonten to Mbah sepur kok melakune menduwur?" (Tunggu Mbah, apa ada kereta api jalannya ke atas).
Kang Sarto dan Mbakyu Marni dan keluarga yang dari Ngawi tertawa terbahak-bahak mendengar permintaan orang tua yang lugu itu. Terkadang mereka juga kurang faham apa yang di inginkan oleh Mbah Buyut. Apa lagi Umi Anna dan Abi Ali malah terbengong-bengong karena tidak memahami bahasa jawa.
"Pakde ... Bude apa maksud Mbah Yut?"
"Embuh Al, Pade yo ora faham."
Alfarizi berbisik di telinga Neng, dan ingin mengetahui permintaan Mbah Buyut, "Sepur apa artinya Mami?"
"Sepur itu kereta api, Papi."
Alfariizi juga ikut berpikir kemudian mengeluarkan ponsel pintarnya, mencari translate dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia. Setelah tahu artinya berkali-kali Afarizi membacanya, "Kereta api yang jalannya naik ke atas, tidak ada MBah, kereta api tidak mungkin jalan ke atas nanti jatuh semua penumpangnya."
"Ono Mas Onta Arab, melakune alon-alon, Mbah Yut sering weroh nyang tifi." (Ada Mas Ota Arab, jalannya pelan-pelan, Mbah Yut sering melihat di televisi)
"Nang Ngawi wonten mboten Mbah Yut?" (Di Ngawi ada tidak Mbah Yut) tanya Neng ikut berpikir.
"Onone nyang kota, yen nyang desa ora ono." (Adanya di kota di desa tidak ada).
"Apa ya yang di maksud Mah Yut?" tanya Alfian sambil sambil mengetuk dahinya.
[Apakah ada yang tahu apa yang di maksud Mbah Buyut Shobat author tercinta, jawaban benar pertama akan mendapatkan give away, ingat hanya satu orang saja, trims]
ini rekomondasi hari ini shobat
jangan lupa mampir sambil menunggu up
__ADS_1
trims I love you all