
...Dirgahayu Indonesiaku yang ke 76 🇮🇩⚜️ semoga negri ini lekas sembuh seperti sedia kala....
Sedangkan Vano saat di perjalanan pulang tanpa dia sadari ada yang mengikutinya dari belakang. Tepat saat di jalanan yang sepi orang orang yang mengikutinya itu menyalip dan menghadang motor Vano.
Vano pun menghentikan motornya di depan mereka.
"Turun lo."Suruh salah satu dari mereka yang nampaknya ketua anggota dari mereka.
"huh.."Vano membuang nafas kasar karena perjalanannya di ganggu orang orang yang menurutnya gak penting.
Vano pun membuka helmnya dan turun dari motor sambil memandang mereka.
"Ada apa hmm."ucap santai Vano.
"Halah gak usah sok gak tau. kemaren temen lo gw habisin sekarang giliran lo yang bakal gw habisin."Ucap Rojer ketua geng Tiger.
Geng Tiger lah yang ternyata menghadang Vano itu.
"Cih."umpat Vano.
"Beraninya keroyokan. Banci lo semua."tambah Vano yang berhasil memancing emosi mereka.
"Lo berani beraninya ngatain kita banci, abis lo sama gw."jawab Rojer yang tidak terima dibilang banci.
"Kalian semua serang..."dan tawuran pun di mulai.
Sebenarnya Vano tidaklah takut melawan mereka semua karena Vano jago beberapa ilmu beladiri. Tetapi mereka melawannya dengan cara licik, mereka langsung menyerang Vano dengan cara mengkroyoknya, jadi itu membuat Vano sedikit kualahan menghadapi mereka, apalagi dengan jumlah mereka yang lumayan banyak, sedangkan dia hanya seorang diri. Tapi Vano tidak mau menunjukkan kelemahannya di depan para musuhnya.
Mereka terus menghajar Vano dengan menggroyok Vano membabi buta hingga Vano di buat kualahan dan hampir tak berdaya. Di saat Vano hampir kalah beruntungnya dia karena ada seorang warga setempat yang melihat dan segera berteriak memanggil warga yang lain untuk membubarkan tawuran tersebut.
"Hei kalian bubar semua atau saya bakal telpon polisi."Teriak warga yang melihat tawuran tersebut, yang membuat mereka semua lari menaiki motornya dan berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut kecuali Vano, karena dia masih lemah akibat dikeroyok tadi.
Seorang warga datang kearah Vano dan menolongnya.
""Kamu gak papa." tanya warga yang menolong Vano sambil membantu Vano duduk.
"Saya gak papa pak hanya sedikit lebam dan kelelahan saja."jawab Vano.
"Baiklah kalau gitu lain kali hati hati soalnya mereka sering sekali buat gadung di daerah sini."
"iya pak. Makasih sudah menolong saya tadi."
"Sama sama nak, sesama manusia kita kan harus saling tolong menolong."
"Ya udah pak sepertinya badan saya sudah agak enakkan saya pamit pergi dulu. Sekali lagi terima kasih atas bantuannya tadi."
"Iya nak, hati hati di jalan."
"Assalamu'alaikum."pamit Vano sambil menjabat tangan warga tersebut.
"Waalaikum salam."jawab warga tersebut.
Vano pun melanjutkan perjalanan pulangnya lagi setelah tadi sempat tertunda.
-
Sementara Vanya yang sudah sampai di rumahnya seperti biasa Vanya sehabis membersihkan badan dan makan siang dia langsung belajar. Sebenarnya Vanya sudah bosan dengan tekanan ini semua tapi mau bagaimana lagi, Vanya enggak mau terjadi sesuatu dengan Dia.
Seseorang yang dulu sering membuat Vanya tertawa dan ceria kini harus berjuang di sana.
Vanya gak boleh menyerah dengan semua ini. Vanya harus kuat karena Dia di sana juga sedang berjuang untuk sembuh dari sakitnya.
__ADS_1
"Hiks hiks hiks..."suara tangis seseorang yang tak lain adalah Vanya.
"Kakak Vanya kangen kak. Hiks hiks..."
"Vanya rindu bermain dengan kakak."
"Vanya rindu bercanda dan tertawa bersama kakak."
"Vanya sangat sangat rindu kakak."
"Hiks hiks hiks..."tangis pilu Vanya di dalam kamarnya setelah dia belajar tadi.
Sekarang Vanya duduk bersimpuh di lantai dan bersandar di pinggiran ranjang kamarnya sambil memeluk sebuah foto seseorang.
"Kenapa semua ini harus terjadi."
"Hiks hiks hiks.."
"Kenapa semua ini harus terjadi kepada kita kak."
"Vanya kangen kakak, tapi Vanya gak bisa nemuin kakak sebelum Vanya menang dalam olimpiade nanti."
"Hiks hiks.."
Vanya terus mencurahkan kesedihannya karena Vanya sangat rindu dengan Dia hingga Vanya ketiduran karena kelelahan menangis dan tidak mengetahui bahwa ada seseorang yang memasuki kamarnya.
"Maafkan papa sayang sudah membuat kamu menangis seperti ini."ucap papa Wijaya yang melihat Vanya tiduran di lantai sambil memegang foto seseorang.
"Bukan maksud papa untuk membuat kamu sedih begini nak. Ini semua demi kebaikan kamu, papa gak mau kamu bernasib sama seperti Dia."
"Dan papa gak bermaksud menjauhkan kalian, papa khawatir bila kamu menemui Dia maka keberadaan Dia akan terancam."
"Dan papa menyuruh kamu belajar bukan untuk mengekang kamu, tapi papa mau kamu sudah siap nanti bila menghadapi keadaan yang akan datang nanti."
Akhirnya papa Wijaya mengangkat tubuh Vanya dan memindahkannya ke atas ranjang agar lebih nyaman tidur putri semata wayangnya itu tanpa mengambil sebuah foto seseorang itu.
Setelah meletakkan Vanya di atas ranjang. Papa Wijaya merapikan anak rambut Vanya yang menghalangi wajah cantiknya dan mengecup kening putri satu-satunya itu yang sangat dia sayangi tanpa mengusiknya.
Setelah memastikan tidur putrinya nyaman papa Wijaya beranjak pergi dari kamar Vanya menuju kamarnya karena hari sudah malam.
-
Vano yang tadi sampai rumahnya pun di omeli habis habisan oleh mama Fara karena mukanya yang lebam lebam yang membuat wajah tampannya tertutupi. Tapi Masih kelihatan tampan kok.(wkwkwk)
Tetapi momen ini jadi kesempatan adik Vano yaitu Vino untuk melangkah lebih unggul di depan Vano soal ketampanan.
"Au sakit tau ma, udah dong dari tadi cubitin Vano mulu sakit tau."ucap kesakitan Vano karena mama Fara yang terus saja mencubitnya dari tadi.
"Lagian kalo orang lain lihat anaknya terluka tuh di obati bukannya malah dicubit kayak gini sakit tau."tambah Vano yang malah mendapat cubitan lebih banyak lagi dari mamanya.
"Apa kamu bilang hah, sakit."ucap mama Vano. "Rasakan ini." Tambah mama Vano sambil menambah cubitannya.
"Au.. au.. sakit ma, udah."ucap kesakitan Vano.
Sedangkan Vino yang melihat kakaknya kesakitan bukannya malah membantunya tapi Vino malah terlihat senang.
"Ayo ma terus ma cubit kak Vanonya biar tidak tampan lagi."
"Hahahahhhh.."ucap Vino sambil tertawa terbahak bahak.
"Hahahah... terus ma biar kak Vano makin jelek dan Vino yang paling tampan Hahahahhh..."
__ADS_1
"Gak ada ya kak Vano yang paling tampan. Karena kamu sudah menghina gak Vano maka kak Vano gak mau lagi beliin kamu es krim dan camilan."ucap Vano sambil menahan tangan mamanya yang terus saja mencubitnya.
Mama Vano yang jengah mendengar omongan anak-anaknya yang pamer ketampanan itu pun menghentikan cubitannya.
"Diam kamu Vino, kamu mau mama cubit juga hah."ucap mama Fara.
"Gak bapak gak anaknya sama saja "
"Huh.."Tambah mama Fara jengah. Karena setiap hari bila keluarganya kumpul gak papa William gak Vano, selalu saja bicara bahwa mereka orang paling tampan. Sedangkan si kecil Vino yang sudah mengerti pun mengikuti sifat papa dan kakaknya yang suka bilang mereka paling tampan.
"Kan kita anak papa jadi ya sifatnya sama kayak papa. Iya enggak kak."ucap bela Vino.
"Yoi dek."jawab Vano.
"Huh. Sudahlah pusing mama menghadapi sikap kalian yang kayak papa."ucap mama Fara sambil berlalu pergi menuju kamarnya.
"Kak Vano jelek, Vino tampan."ucap Vino sambil menjulurkan lidahnya kearah Vano.
"Oh gitu sekarang. Ok kakak gak mau lagi beliin kamu es krim dan camilan."ancam Vano pada adiknya. Ya meskipun gak mungkin sih Vano tega melakukan itu pada adik kesayangannya, apalagi kalo Vino menampilkan wajah imutnya yang membuatnya gemas sendiri.
"Gak papa gak di beliin kak Vano. Vino bisa minta beliin papa, wleek." jawab Vino sambil menjulurkan lidahnya kembali.
"Papa gak mau beliin."tiba tiba ada suara yang datang dari arah luar rumah.
"Papa gak mau beliin Vino camilan sama es krim."Ya orang yang memasuki rumah itu adalah papa Wijaya yang sudah pulang dari kantor.
"Yah papa kok gitu sih sama Vino."jawab Vino sambil memamerkan wajah imutnya yang dapat membuat orang yang melihatnya gak akan tega menyakitinya.
"Biarin."jawab papa Wijaya sambil berlalu menuju kamarnya tanpa menatap wajah anak kecilnya, karena bila melihat wajah Vino yang imut itu maka dia akan Langsung menuruti kemauan anaknya itu.
"Kakak..."ucap lirih Vino sambil melihat kakaknya dan jangan lupa tatapan mengiba dan wajah imutnya itu.
"Apa?"jawab Vano. Sama seperti papanya Vano juga tidak menatap Vino karena takut goyang pertahanannya.
"Kakak mau kan beliin Vino camilan. yayaya plis kakak kan tampan."mohon Vino yang tidak sesuai dengan yang dia ucapannya waktu Vano di cubiti mamanya tadi dengan nada seperti sinetron kartun kembar botak.
"Enggak."jawab singkat Vano sambil pergi menyusul papa dan mamanya menuju kamarnya.
Saat Vano sedang menaiki tangga dia berhitung sambil berjalan cepat dan menutup telinganya karena bentar lagi bakalan ada suara kucing yang nabrak tong.
"Satu, dua,ti..."belum selesai Vano berhitung sampai tiga suara itu sudah kedengeran.
"MAMA.. HUUWAAAA PAPA SAMA KAK VANO JAHAT."teriak Vino memangil mamanya sambil menangis.
Sedangkan Vano yang sudah sampai di lantai tempat kamarnya dia tertawa terbahak bahak.
"Hahahahhhh."Tawa pecah Vano yang bertepatan dengan mamanya keluar kamar.
"Papa sama anak sama aja gak ada yang bener."ucap mama Fara sambil berlalu menghampiri anak kecilnya di lantai bawah.
"Lah kok papa disebut sih ma, papa gak ikut ikutan."bela papa William yang tadi mengekori istrinya.
Begitulah kelakuan keluarga Vano sehari-hari yang membuat rumah ramai.
....
muka vino saat memohon minta camilan
...*Hai readers maaf ya semalam aku gak up. Masih tetap semangat kan baca cerita aku, semoga kalian suka....
__ADS_1
...Jangan lupa like komen dan votenya 😁🙏...
Follow Ig author*:@adhilla_021