
Vano dan Vanya sampai di mansion mereka. Vanya segera masuk ke dalam kamarnya untuk berganti baju tidur, sedangkan Vano langsung pergi ke ruang kerjanya untuk memeriksa beberapa email yang asisten Rudi kirimkan kepadanya.
"Sayang..." pangil Vanya manja saat membuka pintu ruang kerja Vano.
Vano yang tengah fokus pada layar laptop di hadapannya pun mendongakkan kepalanya.
"Kenapa hmm?" tanya Vano menarik Vanya agar duduk di pangkuannya.
"Tidur yuk." ajak Vanya mengalungkan tangannya di leher Vano.
Posisinya sekarang Vanya duduk di pangkuan Vano duduk menyamping.
"Kamu tidur duluan ya, nanti aku nyusul. Aku harus periksa beberapa email bentar, soalnya besok ini harus selesai." balas Vano merapikan rambut Vanya yang ke depan.
"Gak mau, maunya sama kamu." rengek Vanya.
"Ya udah kamu tidur di pangkuan aku dulu, nanti kalau aku udah selesai aku gendong kamu ke kamar." usul Vano.
Vanya pun setuju, dia mencari posisi paling nyaman di pangkuan Vano. Vanya menyenderkan kepalanya di dada bidang Vano dan mencoba untuk memejamkan matanya.
Sedangkan Vano, tangan satunya berada pada keyboard dan tangan yang satunya lagi mengelus puncak kepala Vanya agar merasa nyaman.
Vano merasa hembusan nafas Vanya sudah teratur, Vano pun mengalihkan pandangannya menatap Vanya.
"Makasih ya udah mau menemani aku sampai saat ini." ujar Vano merapikan anak rambut Vanya.
Cup.
Vano memberikan kecupan di kening Vanya dan setelah itu dia melanjutkan pekerjaannya lagi hingga selesai tepat pukul sebelas malam.
Vano pun mengendong Vanya ke kamar mereka, setelah membaringkan Vanya di atas ranjang dan memastikan Vanya tidur dengan posisi yang nyaman, Vano pergi untuk ganti baju tidur.
-
"Eeugg..." lengkuh Vanya mengedipkan matanya.
"Van." pangil Vanya pada Vano yang tengah tertidur dengan nyenyak nya.
"Vano." pangil Vanya lagi lantaran Vano tak meresponnya.
"Iiihh Vano..." kesal Vanya menggoyangkan lengan Vano agar terbangun.
__ADS_1
"Ada apa hmm?" tanya Vano dengan mata yang masih terpejam.
"Laper." rengek Vanya.
Vano bangun dan melihat jam di samping tempat tidur yang masih menunjukkan pukul dua dini hari.
"Mau makan apa hmm?" tanya Vano berusaha menahan kantuknya demi menuruti keinginan sang nyonya.
"Nasi goreng." jawab Vanya.
"Tapi kamu yang masak." lanjut Vanya yang seketika membuat mata Vano terbuka sempurna.
"Apa yank, aku yang masak? Gak salah kamu?"
"Iya kamu yang masak, emang kenapa sih? Gak mau ya..." sedu Vanya.
"Ehh, ya udah aku ke dapur dulu masakin kamu nasi goreng." ucap Vano sebelum Vanya menangis.
"Makasih Daddy."
Cup.
Mengecup pipi Vano yang berhasil membuat perut Vano jadi banyak kupu kupu berterbangan.
"Ikut..." manja Vanya.
"Kamu di sini aja tungguin aku, nanti kalau udah jadi aku bawa ke sini."
"Gak mau pokoknya aku mau ikut." kekeh Vanya.
"Ya udah ayo." ngalah Vano.
"Yuk."
Dengan ria gembira Vanya menyeret tangan Vano keluar dari kamar menuju dapur untuk membuatkan dirinya nasi goreng.
"Kamu tunggu di sini, biar aku masakin dulu." ujar Vano menyuruh Vanya duduk di kursi meja pantry yang ada di sana.
"Baik tuan." balas Vanya sambil tersenyum manis dan di balas senyuman dan gelengan kepala oleh Vano.
Vano tidak menyangka jika hidupnya akan sebahagia ini bersama Vanya. Dia janji akan menjaga Vanya apapun nanti yang terjadi, bahkan nyawanya sekalipun taruhannya.
__ADS_1
"Trus ini gw harus mulai dari mana?" gumam Vano bingung, pasalnya dia mana pernah masak nasi goreng.
"Aha..." ide Vano.
Vano mengambil ponselnya dari saku celana dan segera mencari cara memasak nasi goreng di Y*uT*be.
"Pertama tama buat bumbunya dulu, geprek bawang putih dan bla bla bla..."
Vano mengikuti tutorial itu dengan baik, tapi saat menggoreng bumbunya, Vano agak kesusahan karena dia takut minyaknya loncat loncat.
Sedangkan Vanya dia sebagai pengamat yang setia dan selalu memberikan support pada Vano.
"Ayo Daddy semangat, baby udah lapar nih." ucap Vanya menirukan suara anak kecil.
Vano menoleh sekilas pada Vanya dan memberikan senyuman yang manis sebagai jawaban pada Vanya.
"Daddy kompornya di kecilin dulu nanti gosong bumbunya." ucap Vanya saat melihat api yang menyala dengan ukuran besar.
Dengan rada linglung Vano mengecilkan api kompornya. Setelah berperang dengan berbagai macam peralatan dapur akhirnya masakan Vano jadi juga. Nasi goreng ala chef Vano siap di santap.
Vano membawa satu porsi makan pada Vanya dan menyuruh Vanya untuk mencicipinya.
"Gimana?" tanya Vano deg degan saat Vanya sudah memasukkan satu suapan ke dalam mulutnya.
Vanya diam dan menatap Vano dengan tajam.
"Pasti gak enak ya." ujar Vano putus asa.
"Siapa yang bilang?" tanya Vanya setelah menelan nasi goreng dari dalam mulutnya.
"Kamu."
"Kapan?"
"Itu tadi ekspresi kamu natap aku tajem banget."
"Kamu tahu masakan kamu itu..."
...***...
Buat yang tanya tanya musuh Vano banyak banget, ini musuh terakhir ya tapi masih ada di Cindy yang belum Vano beresin. Aku usahain bulan ini tamat.😁
__ADS_1
Makasih yang sudah setia baca sampai sini🥰🥰