
Vanya menyeret tangan Vano mendekati penjual gula kapas dan Vano sebagai cowok yang baik hati dan tidak sombong pun mengikuti ke mana arah Vanya membawa dirinya.
"Mang mau gula kapas nya dua ya." ucap Vanya pada penjual gula kapas.
"Mau yang warna apa neng?" tanya penjual gula kapas.
"Eemm..." Vanya melihat lihat berbagai macam warna gula kapas, dari yang warnanya pink, biru,kuning dan lain sebagainya.
"Mau yang pink sama biru aja mang." ucap Vanya.
Penjual gula kapas itu pun segera mengambilkan pesanan Vanya. Sedangkan Vano hanya diam saja, membiarkan Vanya memilih mana yang di sukai nya.
"Ini neng." menyodorkan dua buah gula kapas kepada Vanya.
Dengan segera Vano mengambil uang dari dalam dompetnya dan membayar gula kapas yang di beli Vanya mengunakan uangnya.
"Berapa mang?" tanya Vano.
"Dua puluh ribu saja mas."
Vano memberikan uang lima puluh ribu kepada penjual gula kapas.
"Kembalian nya ambil saja mang."
"Makasih mas."
"Sama sama mang." bukan Vano yang menjawab melainkan Vanya.
Setelah mendapatkan gula kapas kemauannya Vanya segera pergi meninggalkan Vano di belakangnya.
"Sayang kok aku di tinggal sih." ucap Vano menyusul Vanya yang sudah jalan di depannya.
Vanya tak menghiraukan Vano, dia berjalan mencari tempat duduk untuk menikmati gula kapas yang dia beli, setelah mendapatkannya Vanya duduk dengan manis sambil memakan gula kapas. Vano menyusul dan duduk di sebelah Vanya.
Vano memandang wajah Vanya yang seperti anak TK ketika di belikan mainan oleh orang tuanya, yaitu senang banget ekspresi nya.
"Gimana suka?" tanya Vano dan dengan semangat Vanya menganggukkan kepalanya.
"Iiih gemes banget sih, jadi pengen makan." mengacak rambut Vanya saking gemasnya.
"Iiih Vano, tuh kan rambut aku jadi berantakan." omel Vanya memajukan bibirnya saat mengaca di layar ponsel miliknya.
Cup.
Vano yang tak tahan melihat itu pun segera mengecup bibir pink Vanya.
"Vano." geram Vanya.
"Apa sih sayang ku, Vanya jangan marah marah, takut nanti lekas tua, Vano setia orangnya, takkan pernah mendua...." Vano menyanyikan lagu yang sempat viral di aplikasi toktok dengan menganti liriknya mengunakan nama Vanya dan dirinya.
"Apaan sih, gak lucu." ucap Vanya yang tak sesuai dengan hati nuraninya. Padahal mah sebenarnya hati Vanya memeleh di buatnya.
"Emang siapa yang ngelucu, orang aku lagi nyanyi kok." sangah Vano.
__ADS_1
"Tauk ahh." Vanya memakan lagi gula kapas miliknya tanpa mau membaginya dengan Vano.
Vano menikmati wajah Vanya dari samping yang memperjelas hidung mancung milik Vanya dan bibir seksi Vanya yang sangat menggoda untuk di cium.
...(pasangan yang serasi bukan, yang satu cantik yang satu jangan di tanya lagi yang pastinya Tampa.)...
Vanya merasa ada yang memperhatikan nya dan dia pun menoleh ke arah Vano.
Bukannya salting atau apa gitu karena memperhatikan Vanya, Vano malah nyengir nyengir gak jelas. Tapi tetap tampan, orang tampan mah bebas.
"Dih, kenapa kamu senyum senyum gak jelas." ucap Vanya pada Vano di sampingnya.
"Gak papa, aku hanya sedang menikmati keindahan ciptaan tuhan yang paling berharga." jawab Vano tetap menatap Vanya.
"Emang kamu liat apa." salting Vanya karena Vano menatap ke arah dirinya.
"Liatin bidadari yang nyata berada di depan ku yang sedang makan gula kapas." jawab Vano.
Blus.
Vano tersenyum melihat Vanya blusing, Vano mengambil dagu Vanya dan menariknya untuk melihat ke arah dirinya.
"Kenapa hmm?" tanya Vano yang mendapat gelengan dari Vanya.
"Kok pipinya merah gitu?" tambah Vano lagi yang membuat Vanya malu.
Vanya akan mengalihkan pandangannya lagi, tapi segera di tahan oleh Vano.
"Kenapa sih, malu?" goda Vano lagi.
Bruk.
Vanya tak kuat lagi, di memanfaatkan dada bidang Vano untuk menenggelamkan wajahnya yang sudah memerah seperti kepiting rebus.
Vanya memeluk Vano dengan erat sambil tangannya tak lupa memegang gula kapas yang dia beli.
Vano pun tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, dengan segera Vano membalas pelukan Vanya dengan tak kalah eratnya.
"Atututu.... antiknya Pano agi malu nih." goda Vano menirukan suara anak cadel.
"Auw."
Vanya mencubit pinggang Vano.
"Sakit tauk."adu Vano.
__ADS_1
"Biarin." bodo amat Vanya.
Setelah lama berpelukan Vano pun melepaskan pelukannya dan memegang kedua pipi Vanya untuk menatap dirinya.
"Kamu gak usah malu aku." ucap Vano.
Vanya tak menjawab, dia hanya menatap tanpa kedip wajah Vano.
"Aku tuh malah suka wajah blusing kamu, jadi makin kelihatan gemesin, apalagi kalau bibirnya di majuin kayak tadi, beuhh jadi pengen makan. Untuk kita gak ada di rumah."ucap Vano yang mendapat keplakan di pahanya.
Plak.
"Auw, sakit tau yank." adu Vano melepaskan pipi Vanya dan berganti mengelus paha nya.
"Biarin."
Vanya menatap ke sekitar, pandangannya jatuh pada biang Lala yang tengah berputar ke atas, dengan lampu kelap kelip yang menghiasi.
Vano mengikuti arah pandangan Vanya, dia tersenyum saat tau apa yang akan dia lakukan.
"Kamu mau naik itu?" ucap Vano.
Vanya menengok ke arah Vano dan menaikkan sebelah alisnya pertanda menanyakan apa maksud Vano.
"Kamu mau naik biang lala itu?" tanya Vano yang mengetahui kebingungan Vanya.
"Emang boleh?" tanya balik Vanya.
Tanpa ba-bi-bu Vano segera menyeret Vanya ke arah tempat di mana biang lala itu berdiri, tak lupa tangan Vanya tetap mempertahankan dua buah gula kapas, yang biru sudah kebuka sedangkan yang pink lagi belum.
Vano segera memesan dua tiket untuk menaikkan biang lala, setelah dapat dia dan Vanya segera menaiki biang lala dengan posisi berhadapan.
Biang lala mulai berjalan baik, Vanya melihat sekitar, pemandangan sekitar mulai terlihat dari atas. Vanya memandang takjub keindahan itu.
"Kamu suka?" tanya Vano menatap wajah Vanya.
"Suka." antusias Vanya.
"Kamu belum pernah naik ini sebelumnya?" penasaran Vano, karena kalau di lihat Vanya sepertinya sangat senang sekali.
Vanya pun menatap ke arah Vano sebelum dia menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh Vano.
"Terakhir kali aku ke sini mungkin sudah beberapa tahun yang lalu, dulu aku ke sini sama kak Farrel dan kita banyak memainkan permainan di sini sampai kita puas, dan hal itu di ketahui oleh papa dan papa pun segera melarang kita buat pergi ke sini lagi." jawab sedu Vanya.
Melihat ada kesedihan di mata Vanya Vano segera pindah posisi duduk di sebelah Vanya dan menarik Vanya ke dalam pelukan Vano.
"Udah kamu jangan sedih, aku janji bakal selalu buat kamu tersenyum bahagia, bahkan kalau kamu mau ke sini tiap hari aku akan selalu menemani kamu." mengelus kepala Vanya dengan lembut.
"Mana ada pasar malam yang buka setiap hari." menatap ke atas di mana wajah Vano berada.
Vano tersenyum dan menundukkan wajahnya mendekati wajah Vanya, semakin dekat dan semakin dekat hingga.....
...***...
__ADS_1