
'Halo.' sapa seseorang dari sebrang telefon.
'Lo pasti udah tahu kan kalau sekarang mereka mau ke mall.' ucap Cindy yang menelfon orang itu.
'Iya gw tau.' balas orang itu.
'Trus gimana rencananya, jadikan?' tanya Cindy.
'Harus jadi lah, lo tinggal siap siap aja entar gw kabarin.' balas orang itu.
'Oke gw tunggu kabar dari lo.'
Tut.
"Vanya lo siap siap aja nanti, setelah lo ada di tangan gw jangan harap lo bakal bisa lepas.' ucap Cindy sambil tersenyum mengerikan.
Cindy pun memutuskan untuk menyiapkan segala sesuatu yang akan dia butuhkan nanti.
-
Vanya sudah siap dengan pakaian khusus ibu hamil. Sekarang mereka tengah menunggu kedatangan sahabat sahabat mereka yang katanya sudah berada di jalan.
"Kenapa kita gak ketemuan di sana aja sih." kesal Vano yang malas menunggu teman temannya yang menurut dirinya sangat lah lelet.
"Itu beda nanti kita konvoi biar seru." balas Vanya.
Vano tak menanggapinya, dia malas jika harus berdebat dengan istrinya yang tak pernah salah ini.
"Nah tuh mereka." seru Fira saat melihat kedatangan satu motor serta ada satu mobil lagi di depannya.
"Sorry lama." ujar Sonya merasa tak enak.
"Enggak kok kita juga baru selesai siap siapnya." balas Vanya.
"Baru apanya, orang udah dari tadi." ngedumel Vano.
"Udah udah ayo kita berangkat sekarang, nanti keburu siang." ajak Farrel.
"Ehh, tunggu bentar deh. Kok kayak ada yang kurang ya?" tahan Fira.
"Apa lagi sih yank?" kesal Farrel.
"Galangan mana?" tanya Fira.
__ADS_1
"Oh itu tadi sih bilang sama aku katanya ada urusan yang sangat penting. Gak tahu lah urusannya apa, tuh anak sekarang jadi sok sibuk." balas Sonya rada judes.
Sonya malas jika harus membicarakan Galang yang sekarang sikapnya sudah berubah tidak seperti dulu lagi saat mereka baru pacaran. Sekarang Galang jarang ada waktu buat Sonya, dulu setelah pulang sekolah Galang sangat sering mengajak Sonya jalan. Tapi sekarang, boro boro ngajak jalan, nganterin pulang sekolah aja jarang.
"Mungkin aja dia memang sibuk." sahut Vano.
"Udah ahh ayo berangkat udah siang nih." ajak Vano.
Mereka semua pun menaiki kendaraan mereka masing-masing dengan Rangga yang setia menaiki motor sport miliknya sambil membonceng Sisil.
Sebenarnya tadi Sisil merasa tidak enak dan akan ikut mobil Sonya, tapi Sonya melarangnya dan bilang kalau dia tidak apa apa sendirian.
Mereka konvoi melintasi jalanan kota Jakarta yang keadaannya lumayan padat lantaran ini weekend pasti banyak muda mudi yang ingin menghabiskan waktu liburnya dengan jalan jalan. Apalagi bagi yang gak jomblo, pasti banyak di antara mereka yang mengajak pasangannya untuk ngedate.
-
Cindy sudah berada di dalam mobil Kia, tak lupa pula mereka juga membawa Tasya di jok belakang. Mereka kini tengah menuju mall tempat di mana Vanya dan teman temannya akan datang ke sana.
"Lo yakin Cin rencana ini akan berhasil?" tanya Kia tak yakin sambil pandangannya fokus ke jalanan.
"Ya harus yakin, gw gak mau tahu pokoknya ini harus berhasil. Gw udah gedek banget lihat hidup Vanya yang bahagia sedangkan gw menderita. Gw mau Vanya merasakan apa yang gw rasain." jawab Cindy mantap.
"Tapi nanti gimana kalau gagal lagi?"
"Terus nanti kalau kita ketahuan sama Vano gimana?" takut Kia.
"Lo tenang aja, kalau kita ketahuan gw gak bakal bawa bawa nama kalian. Lagian nanti kalau Vanya udah gak ada mana mungkin Vano masih mengingatnya, ya pasti nanti Vano akan cari cewek baru lah, dan itu gw pastinya." pede Cindy.
"Ya semoga aja begitu. Trus tuh makhluk di belakang gunanya buat apa? Gak mungkin kan lo bawa dia kalau gak ada gunanya."
"Kalau soal itu nanti lo juga akan tahu sendiri." balas Cindy sambil tersenyum licik.
Kia yang melihat senyum Cindy pun ngeri sendiri melihatnya, dia gak bisa membayangkan apa nanti yang akan Cindy lakukan ke Vanya, semoga saja itu enggak parah.
Kia melajukan mobilnya agak cepat atas permintaan Cindy katanya sih dia mau menyiapkan sesuatu di sana sebelum Vanya dan yang lain datang.
-
Vanya dan yang lainnya pun sudah sampai di mall, mereka segera masuk dan mencari tempat perlengkapan bayi.
"Bagus yang ini atau yang ini?" tanya Vanya meminta pendapat Vano sambil menunjukkan dua buah sepatu berwarna hitam dan biru.
"Semuanya bagus, ambil semuanya aja." jawab Vano.
__ADS_1
Vanya berfikir sebentar dan setuju dengan usul Vano. Vanya menyerahkan kedua buah pasang sepatu itu pada pelayan toko agar membawakan ke meja kasir.
Setelah itu Vanya sibuk memilih bagian baju, dan setelah menemukan yang menurutnya bagus, Vanya meminta pendapat Vano, dan jawaban Vano selalu sama yaitu ambil saja semuanya. Vanya pun menyetujui itu, toh menurutnya keduanya juga bagus.
Sementara Fira, Sisil dan Sonya juga memilih perlengkapan bayi yang lain. Mereka akan memberikan kepada bayi Vanya nanti setelah dia lahir sebagai hadiah. Sedangkan pada kaum Adam, mereka hanya membuntuti di belakang para cewek.
"Kalau yang ini bagus yang mana?" tanya Vanya meminta pendapat Vano lagi.
"Ambil saja semuanya." jawab Vano tanpa melihat benda yang Vanya tunjukkan kepadanya.
"Kamu itu dari tadi jawabnya itu mulu, masak iya anak kamu cowok suruh pakai warna pink." sungut Vanya kesal.
"Hah." kaget Vano dan melihat benda apa yang Vanya tunjukkan kepadanya tadi.
Ternyata Vanya menunjukkan dua buah topi, yang satu warna hitam dan yang satunya lagi warna pink. Sebenarnya tadi Vanya memang berniat untuk mengerjai Vano, tapi setelah mendengar jawaban Vano entah mengapa dirinya malah kesal.
"Kamu itu dari tadi di tanya jawab itu mulu." marah Vanya.
"Hehehe maaf yank, habisnya aku juga bingung kalau kamu tanya gitu. Mendingan langsung kamu ambil semuanya." balas Vano ngeles.
"Iya juga sih." balas Vanya membenarkan apa yang Vano katakan.
"Ya udah sana ambil semua yang menurut kamu bagus buat anak kita, soal bayar biar aku yang tanggung." suruh Vano.
"Emang kamu ada uang?"tanya Vanya.
"Ya, ya minta sama kamu lah." balas Vano.
Vano sudah menyerahkan semua masalah keuangan kepada Vanya, Vano juga menyerahkan semua kartu kredit yang dia punya, Vano hanya membawa satu kartu kredit saja. Itu pun isinya tidak seberapa.
"Itu mah sama aja aku yang bayar."
"Tapi kan aku yang cari uang."
"Emang kamu kerja?" tanya Vanya, pasalnya yang dia tahu sekarang Vano hanya leha leha di rumah menemani dirinya.
"Kerja lah, emang kamu gak tahu kalau malam malam saat kamu tidur itu pasti aku sempetin buat buka kerjaan sebentar." jawab Vano.
"Masak sih."
"Iya sayangku... gemes banget deh." mencubit kedua pipi Vanya.
Sementara yang lainnya hanya sebagai penonton setia saja, tak ada di antara mereka yang berniat mengganggu kemesraan keduanya.
__ADS_1
...***...