
Farrel kembali ke halaman tempat pertarungan yang sedang sedang terjadi, dia melihat skor yang sangat seimbang antara papa William dan Aaron. Mereka berdua terlihat sama sama hebat dalam hal bela diri dan sepertinya tidak ada yang mau mengalah satu sama lain.
Farrel mendekati kedua orang yang sudah berumur itu, Farrel melewati banyak orang yang sudah tergeletak baik dari anak buah Aaron ataupun anggota WD. Bisa di lihat sepertinya banyak dari mereka yang sudah tidak bernyawa.
"Om." pangil Farrel membuat kedua orang itu menghentikan pertarungannya.
Farrel mendekati papa William ingin mengatakan sesuatu, tapi dia tak sengaja membaca pergerakan Aaron yang mengambil pistol dari saku jasnya. Tak menunggu lama Farrel mendahului dengan menembakkan ramuan yang Vano sempurnakan tadi melalui tembakan yang sudah Vano ranjang.
Dan benar saja, ramuan itu langsung bereaksi hingga membuat Aaron yang akan mengarahkan pistol itu pada papa William berpindah haluan ke pada dirinya, dan...
Dor.
Tepat di jantung Aaron menembak dirinya sendiri, hal itu membuat semua orang yang di sana berhenti menatap ke arah Aaron yang sudah terkapar tapi dia masih sadarkan diri.
"Farrel apa yang kamu lakukan?" tanya papa William dengan tegas.
"Maaf Om, tapi ini perintah Vano." jawab Farrel.
"Dasar anak itu, kalau sampai Aaron mati sekarang kita gak bakal bisa tahu siapa lagi yang setia membantunya selama ini." dengus papa William.
"Wil-liam." pangil Aaron dengan suara yang terputus putus.
"Hmm." balas papa William cuek.
__ADS_1
"Ja-ngan se-nang du-lu, ka-re-na mas-ih a-da o-rang ku-di se-kita-rmu." ucap Aaron dan setelah itu dia menutup matanya untuk selama lamanya.
"Kalian semua berhenti, dan untuk anak buah Aaron. Kalian sudah melihat sendiri kalau tuan kalian sudah meregang nyawanya di tangan ku, jadi apakah kalian mau ikut dengan ku, menjadi anak buahku?" tanya papa William dengan aura tegas.
"Mau king." jawab tegas anak buah Aaron yang sebentar lagi akan menjadi anggota WD.
"Bagus, sekarang kalian semua bereskan kekacauan ini. Dan setelah itu kalian semua termaksud anggota baru silahkan pergi ke markas nanti akan saya seleksi siapa aja yang bisa masuk ke WD." perintah papa William.
"Baik king." balas semuanya kompak.
"Oh iya bawa mayat Aaron ke markas, buaya buaya saya sepertinya sudah pada kelaparan." tambah papa William.
"Baik king."
"Dah yok kita pulang." ajak Lucas setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Sudah aman kan?" tanya papa William memastikan.
"Beres Om." jawab Lucas.
"Bagus, Om harap kalian berdua akan tetap setia sama WD ataupun Vano sampai tua nanti." ujar papa William sambil berjalan menuju pesawat.
"Pasti Om, kita akan selalu setia sama Vano apapun yang terjadi nanti." balas Vano dan Lucas.
__ADS_1
"Om gak perlu khawatir soal itu, kita bertiga akan tetap saling menjaga satu dan yang lainnya kok. Jadi Om gak perlu berfikir yang enggak enggak."
"Bukannya Om mau menuduh kalian, tapi Om teringat akan ucapan Aaron sebelum dia menampakkan matanya barusan. Katanya orang suruhannya ada di sekitar kita."
"Om tenang aja, kita akan cari tahu orang itu sampai kita dapat." balas Lucas meyakinkan.
"Baguslah kalau begitu Om jadi lega, ternyata Vano punya teman teman yang sangat baik padanya."
"Om iya, mulai sekarang jangan panggil Om lagi ya, pangil saja papa sama seperti Vano dan Vanya." lanjut papa William.
"Hah, beneran Om?" kaget lucas dan Farrel tak menyangka.
"Iya bener, jadi jangan panggil Om lagi ya."
"Iya Om,ehh maksudnya pa." gugup Farrel.
"Hahahaha kamu gak usah gugup gitu Rel, kayak apa siapa aja."
"Hehehe iya Om."
Setelah itu mereka sampai di pesawat dan segera pergi dari pulau itu ke Jakarta. Yang pasti ke rumah mertua Vano di mana di sana ada para istri. Tapi tidak dengan papa William, dia memilih langsung pulang saja.
...***...
__ADS_1