My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 150


__ADS_3

"Gimana dok keadaan istri saya?" tanya Vano setelah dokter Aziz memeriksa keadaan Vanya.


"Tuan tenang aja, nona Vanya tidak kenapa napa, hanya saja mentalnya belum terlalu kuat untuk mengatasi trauma yang dia miliki." jelas dokter Aziz.


"Syukurlah kalau gitu, terus soal traumanya tadi gimana dok?" tanya Vano lagi.


"Mari kita bicara sambil duduk aja." mengajak Vano agar duduk di tempat yang tadi, karena pegel juga kalau berdiri terus.


"Jadi gini tuan, sepertinya nona Vanya selama ini memendam traumanya sendiri tidak membicarakannya pada orang lain, jadi itu sangat mempengaruhi rasa trauma yang semakin dalam, bahkan bisa semakin parah bila tidak cepat cepat di sembuhkan."Jelas dokter Aziz.


"Terus langkah apa yang harus saya lakukan agar bisa membantu istri saya sembuh dari rasa traumanya?" tanya Vano lagi.


"Anda bisa membantunya secara bertahap, ajak dia bercerita tentang masalahnya, jangan biarkan dia memendam masalahnya sendiri, dan sering juga ajak olahraga agar daya tahan tubuhnya kuat. Satu lagi, orang terdekat sangat membantu dalam proses penyembuhan jadi sering sering ajak dia ngobrol ngobrol biar fikiran nya tidak terlalu mengingat masa itu. Dan jangan lupa sering sering datang ke psikiater agar cepat sembuh."


(informasi di atas author dapat dari google ya dan ada aku tambahin kata kata nya sedikit biar masuk ke ceritanya. Jadi harap maklum kalau ada kesalahan 🙏)


"Apakah itu membutuhkan waktu yang lama?"


"Itu tergantung dari orang nya sendiri tuan, kalau nona Vanya kuat untuk menahan diri pasti dia cepat sembuh."


"Baiklah akan saya lakukan apa yang dokter katakan tadi."


"Lalu kenapa sekarang istri saya belum sadar dok?" lanjut Vano.


"Itu karena efek obat, mungkin beberapa menit lagi nona Vanya juga akan sadar." jawab dokter Aziz.


"Apakah saya boleh menemaninya di sana?"


"Boleh tuan, silahkan."


Mendengar itu Vano pun beranjak menghampiri Vanya. Vano memandang wajah pucat Vanya yang tengah memejamkan matanya.


"Sayang bangun dong, jangan buat aku khawatir." ucap Vano lirih sambil menggenggam tangan Vanya yang tidak di infus.


Cup.


Vano mencium tangan Vanya yang berada di genggamnya dengan penuh perasaan.


Vano menunggu Vanya dengan sabar, berharap Vanya akan cepat sadar. Vano tidak mau mengabarkan hal ini kepada keluarganya karena takut mereka akan khawatir.


Saat sedang fokus dengan fikiran nya, tiba tiba Vano merasa ada pergerakan di tangannya. Jari jari tangan Vanya bergerak, Vano pun segera menatap wajah Vanya dan benar saja mata indah Vanya tengah menatapnya.

__ADS_1


"Sayang..." seru Vano senang.


"Aku pangilin dokter dulu ya.." Vano pun segera mencari dokter Aziz yang tadi izin keluar sebentar.


"Bentar nona saya periksa dulu." ijin dokter Aziz setelah datang di pangil Vano tadi.


Vanya pun menganggukkan kepalanya pertanda memberikan izin. Dengan segera dokter Aziz memeriksa keadaan Vanya.


"Apakah ada yang di keluhkan nona?" tanya dokter Aziz setelah memeriksa keadaan Vanya.


"Tidak ada dok, cuma kepala saya rasanya agak pusing sedikit." jawab Vanya.


"Hal itu wajar terjadi, karena nona baru saja siuman."


"Apakah saya boleh pulang dok?" tanya Vanya yang tidak suka bila harus tinggal di rumah sakit.


"Sayang..." tekan Vano karena tidak suka bila Vanya pulang bila kondisinya belum benar benar sembuh.


"Boleh kan dok?" tanya Vanya lagi tak menghiraukan ucapan Vano.


"Boleh nona, setelah jarum infus nya di lepas nona bisa langsung pulang. Nanti saya buat kan resep vitamin untuk nona minum di rumah." jawab dokter Aziz.


"Makasih dok." baru kali ini Vano mengucapkan terimakasih pada orang lain. Momen yang langka..


"Kamu mau minum?" tawar Vano pada Vanya.


Vanya menganggukkan kepalanya pertanda mau. Dengan segera Vano membantu Vanya duduk untuk mempermudah Vanya untuk minum.


"Makasih." ucap Vanya setelah meminum air putih yang Vano berikan di balas senyuman oleh Vano.


"Susternya mana sih lama banget." ucap Vanya.


"Sabar dong, lagian muka kamu juga masih pucat banget jadi harus banyak banyak terkena cairan infus biar makin fresh."


"Tapi aku gak suka di sini, bau obat obatan nya menyengat banget."


"Cuma sementara aja sayang, kan nanti kita juga pulang."


"Ya tapi kan..."


"Permisi."

__ADS_1


Ucapan Vanya terpotong oleh seseorang yang memasuki ruangan dokter Aziz yang tak lain adalah suster yang sepertinya akan melepaskan infus di tangan Vanya.


"Saya mau izin untuk melepaskan infus di tangan nona." izin suster yang masuk itu.


"Oh iya silahkan Sus." Vano minggir mempersilahkan suster itu untuk melepaskan infus Vanya.


Suster itu pun melepaskan selang infus yang ada di tangan Vanya dengan hati hati agar tidak salah, karena bisa brabe urusannya jika harus berurusan dengan keluarga William. Ya, suster ini tahu kalau Vano adalah anak dari tuan William, orang terkaya di sini. Maka dari itu dia harus hati hati dalam menjalankan tugasnya kali ini.


"Sudah nona, dan ini ada resep vitamin yang dokter Aziz titipkan untuk nona." memberikan selembar kertas pada Vanya.


"Iya, terimakasih." ucap Vanya.


"Sama sama, kalau begitu saya permisi dulu tuan, nona." pamit suster itu pergi meninggalkan mereka berdua di ruangan dokter Aziz.


"Yuk kita pulang, kamu masih kuat jalan apa enggak, atau mau aku gendong aja?" tanya Vano.


"Jangan buat ulah lagi deh, aku cuma pingsan bukan stroke jadi aku masih bisa jalan." jengkel Vanya pada Vano.


"Ya kan aku cuma menawarkan saja yank, siapa tau aja kan kamu mau." balas Vano.


"Udah jangan banyak omong, cepat bantu aku turun dari sini."


Vano pun segera membantu Vanya turun dari brankar setelah itu mengandeng tangan Vanya keluar dari ruangan dokter Aziz dan pergi meninggalkan rumah sakit.


"Kita langsung pulang aja ya, kan kamu harus istirahat." ucap Vano di tengah perjalanan menuju mansion miliknya.


"Iya tapi beliin aku ketoprak dulu ya." pinta Vanya.


"Iya kita cari penjualnya, nanti kalau kamu liat kamu bilang sama aku biar aku berhenti."


"Siap bos." jawab Vanya yang membuat Vano mengacak-acak rambut Vanya karena gemas.


"Vano... rambut aku nanti rusak." rengek Vanya.


"Hehehe maaf, sengaja." cengir Vano.


"Dahlah kamu nyebelin lagi." ngambek Vanya.


"Atututu...bininya Pino lagi marah nih yee.." goda Vano yang semakin membuat Vanya cemberut.


"Kamu kok sekarang jadi nyebelin sih, aku baru sembuh loh. Gimana nanti kalau aku pingsan lagi."

__ADS_1


"Ya jangan dong, kalau kamu pingsan aku pingson." bukannya berhenti Vano malah semakin gencar mengoda Vanya. Dan hal itu membuat Vanya semakin jengkel hingga Vanya diam tak mau berbicara dengan Vano.


...***...


__ADS_2