My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 155


__ADS_3

Vano sampai di bandara pukul delapan kurang lima belas menit. Berarti pesawat yang di tumpangi Lucas dan beberapa anak buahnya akan mendarat Lima belas menit lagi. Semalam Lucas telefon Vano katanya Vano di suruh jemput Lucas jam delapan pagi.


Vano dengan sabar menunggu kedatangan Lucas, kalau bukan karena dirinya yang meminta Lucas ke indo juga dia ogah jemput Lucas di bandara. Mendingan sekolah bisa ketemu istrinya terus. pikir Vano.


Sudah hampir dua puluh menit Vano menunggu kedatangan Lucas tapi tak kunjung mendarat juga pesawat yang Lucas tumpangi hingga membuat Vano berfikiran yang tidak tidak.


Vano pun beranjak untuk menanyakan informasi pesawat yang Lucas tumpangi kenapa kok belum mendarat juga.


"Ada yang bisa saya bantu mas?" tanya petugas Bandara pada Vano.


"Saya mau tanya penerbangan dari Italia kenapa belum mendarat sampai sekarang, bukankah seharusnya lima menit yang lalu?" tanya Vano.


"Bentar saya cek sebentar mas." petugas itu pun mengotak atik keyboard komputer yang ada di depannya.


"Maaf mas memang tidak ada jadwal pesawat yang akan mendarat lima menit yang lalu dari Italia, adanya nanti siang pukul sebelas lebih lima belas menit." informasi yang di berikan petugas membuat mata Vano melotot.


"Apa." kaget Vano.


Kenapa Vano bodoh sekali bisa di kibulin orang kayak Lucas. Seharusnya tadi dia tanyakan dulu kepada orang orangnya di sana.


"Kenapa ya mas?" tanya petugas itu heran.


"Oh gak apa apa, kalau begitu terima kasih saya permisi dulu." jawab Vano dan segera kembali ke dalam mobilnya, dari pada harus menunggu di dalam bendara, kan mending di mobil bisa tiduran. pikir Vano.


"Sial*n si Lucas ngejain gw, awas aja nanti gw kasih pelajaran tuh anak." ngeruntu Vano di dalam mobil.


"Sekarang baru jam delapan lebih, dan gw harus menunggu Lucas sampai jam sebelas lebih di sini. Waktu berharga gw terbuang sia sia gara gara si Lucas." ucap Vano lagi.


Vano males kalau harus pulang lagi dan nanti kembali ke bandara. Apalagi nanti kalau sudah terjebak macet.


Vano pun tiduran di dalam mobil jok belakang dengan posisi berbaring.


-


"Van, si Vano mana kok tumben lo masuk sendiri dia gak masuk?" tanya Galang saat mereka makan di kantin.


"Ooh itu jemput temannya di bandara." jawab Vanya sambil mengunyah soto yang di pesan.


"Temen Vano, wah pasti ganteng tuh." sela Sisil.


"Beb jangan mulai deh." ucap Rangga dengan tatapan tajam ke arah Sisil.


"Kenapa, orang aku cuma bilang pasti ganteng doang kok." balas Sisil.


"Ya tapi hargai perasaan aku dong, masak muji cowok lain di depan cowoknya."


"Atututu... cemburuan banget sih pacar aku ini, maap ya beb." gemes Sisil mencubit kedua pipi Rangga.

__ADS_1


"Apaan sih, sakit tauk." Rangga merajuk marah sama Sisil.


"Uluuluulu, pacar aku marah nih." goda Sisil.


"Kalian berdua apaan sih, jijik gw liatnya." sela Vanya.


"dih, kek situ gak pernah mesra mesra sama Vano aja." balas Sonya.


"Ya tapi kan gw sama Vano gak selebay itu."


"Gak lebay apanya, yang gak lebay tuh gw sama Galang."


"Bukannya gak lebay, tapi Galang nya aja yang gak romantis." sahut Sisil.


"Ehh jangan salah, gw bisa lebih romantis dari Rangga dan Vano ya, tapi gak gw umbar aja. Ya gak bee?" sahut Galang tak terima di katain gak romantis.


"He'em." Jawab Sonya.


"Halah, mana ada romantis romantisan yang di sembunyiin, itu mah alasan lo berdua aja." ucap Sisil.


Entahlah Sisil kenapa sekarang jadi pinter omong gini, siapa coba yang ngajarin.


"Udah udah, kalian ini. Bisa gak sih kita sehari...aja gak ribut." potong Rangga yang jengah dengan situasi setiap hari yang ribut.


"Gak bisa." kompak mereka semua.


"Udah ahh, gw mau pergi dulu, di sini panas." pamit Vanya.


"Ehh Van lo mau kemana?" tanya Sonya.


"Perpus." jawab Vanya dan segera dari kaum yang sedang di landa kebucinan.


"Hahaha... biasanya gw yang kabur duluan, ehh sekarang gantian Vanya." ucap Sonya sambil terkekeh.


"Ya iyalah, kan lo sekarang udah gak jomblo lagi." sahut Sisil.


"Gitu aja dulu pakek gak mau waktu di goda Galang, ehh taunya diem diem udah jadian." sindir Rangga.


"Ehh, bee kita ke taman yuk." ajak Sonya pada Galang tak menghiraukan sindiran Rangga.


"Yuk, kita pergi dulu Ngga, Sil." ucap Galang.


"Ehh gw lagi ngomong sama lo Bambang." ucap Rangga yang merasa tidak di respon.


"Wlekk." Sonya menjulurkan lidahnya sambil menghadap ke belakang di mana Rangga berada.


"Sial*n tuh si Sonya." geram Rangga.

__ADS_1


"Ya udah sih beb, kita pergi juga yuk." ajak Sisil menenangkan Rangga agar tidak emosi.


"Hufft untung dia sahabat kamu, coba kalau bukan, udah aku bejek bejek dia." kesal Rangga.


"Udah jangan marah marah mulu."


Mereka semua pun pergi meninggalkan kantin, tapi mereka sudah bayar loh ya.


-


Van kamu udah pulang belum?


Isi pesan yang Vanya kirimkan via W* untuk Vano di sela sela dia membaca buku.


Vanya menunggu jawaban dari Vano tapi lama dia menunggu tak ada jawaban juga dari Vano. Jangankan di jawab di buka aja enggak, padahal centang dua.


"Nih Vano kemana sih, online tapi gak buka chat aku." gumam Vanya rada kesal.


Akhirnya Vanya pun menelfon Vano tapi tak ada jawaban dari Vano hal itu semakin membuat Vanya kesal.


"Jangan bilang kalau Vano lagi asik asikan main sama cewek." tuduh Vanya.


"Awas aja nanti kalau ketemu, aku potong itunya."


(Wih ngeri juga si Vanya kalau lagi ngamok.😂)


VANO... kenapa lama banget sih bukanya, awas aja kalau sampai ketahuan main sama cewek. Aku habisin kamu.


Vanya mengirimkan pesan buat Vano lagi, bahkan nama Vano sampai mengunakan huruf kapital semua pertanda kalau Vanya marah. Vanya berharap Vano akan membukanya tapi hinil Vano tak kunjung membukanya juga.


"Tauk ahh." kesal Vanya dan menonaktifkan ponselnya.


Dengan pesanan dongkol Vanya membaca buku yang dia pinjam di perpus, membuka lembar demi lembar dengan kasar. Untung saja tidak sampai sobek.


-


Sementara di tempat Vano dia masih enak enakan tidur, gak tahu apa kalau istrinya di sana tengah kesal kepadanya.


"Emmhh." lengkuh Vano.


Vano terbangun dari tidurnya, dia merasa badannya sakit semua karena posisi tidur Vano yang tempatnya kurang besar sehingga membuat tubuhnya sakit.


Vano bangun dan mencari letak handphone untuk melihat jam, seolah lupa kalau di tangan dia memakai jam tangan.


"Jam berapa sih, kok panas banget mataharinya." gumam Vano sambil menyalakan handphonenya.


"Mamp*s gw."

__ADS_1


...***...


__ADS_2