
Setelah mandi dan sarapan, Vano dan Vanya pergi ke rumah kedua orang tua Vanya. Dalam perjalanan mereka asik mendengarkan musik tapi lebih tepatnya hanya Vanya yang fokus mendengarkan musik yang Vanya putar sendiri di mobil. Sedangkan Vano hanya diam saja karena dia tidak terlalu menyukai lagu yang di putar oleh Vanya.
"Smooth like butter...." lirik yang Vanya nyanyikan mengikuti alunan lagu yang dia putar.
Vanya menggoyangkan tangannya dan tanpa di sengaja tangannya menyenggol sesuatu di jok belakang.
"Loh ini kan gula kapas ku kemarin malam, kok tinggal segini, pasti kamu yang makan." tuduh Vanya pada Vano yang tengah mengemudi.
"Lah kok aku, kan aku dari kemaren juga sama kamu terus." bela Vano tak terima disalahkan.
"Trus siapa dong." bingung Vanya melihat gula kapas nya yang tinggal segumpal itu pun keras.
Vanya terus berfikir, siapa yang memakan gula kapas miliknya yang tinggal satu itu, seingatnya kemaren malam dia memakannya separuh dan tinggal separuh lagi trus dia taruh di jok belakang. Tapi sekarang kok bisa tinggal sedikit. bingung Vanya.
"Apa di mobil kamu ada tikusnya?" tanya Vanya yang tak masuk akal.
"Ya gak ada lah. Mana ada di mobil bagus kayak gini tikus, kamu itu tikusnya kalau ada." sanggah Vano tak terima di mobil bagus yang baru dia beli beberapa hari di bilangin ada tikus.
"Enak aja, cantik cantik gini di katain tikus."
"Lagian juga mana ada tikus yang doyan sama makanan begituan."
"Trus siapa dong..." Vanya masih terus berfikir siapa gerangan yang menghabiskan gula kapas miliknya yang tinggal separuh itu.
Vano melihat ke arah tangan Vanya di mana terdapat plastik dan di dalam plastik itu ada segumpal gula kapas yang sudah mengeras, setelah itu dia menatap kembali ke depan.
"Emang semalam kamu taruh di mana?" tanya Vano.
"Di sana." menunjuk jok belakang mobil.
"Trus kamu ikat kembali gak waktu naruh gula kapas nya?" tanya Vano lagi untuk memecahkan apa yang ada di otaknya.
"Emmmm.... aku lupa, tapi kayaknya enggak deh." jawab Vanya meng-angan angan.
"Pantes."
"Kok pantes sih, emang kamu tahu siapa yang makan?" menatap Vano yang tengah fokus menatap ke depan.
"Itu gak ada yang makan sayang." jawab Vano yang membuat Vanya makin bingung.
"Trus kalau gak ada yang makan, kok bisa tinggal sedikit?"
__ADS_1
"Ya kan gula kapas nya menyusut karena gak kamu ikat kembali talinya setelah di makan semalam." terang Vano.
"Kok bisa gitu?" bingung Vanya.
"Aku heran deh, jangan jangan kamu menang olimpiade kemaren itu kamu curang ya, kok bisa bisanya masalah gula kapas yang menyusut aja gak tahu." menyentil jidat Vanya.
"Enak aja, aku itu pintar tauk, cuma kan gula kapas gak ada dalam pelajaran mangkanya aku gak tahu."
"Tapi meskipun itu hilangnya karena menyusut dan menyusutnya itu berada dalam mobil kamu, jadi kamu tetap yang salah." lanjut Vanya.
"Lah mana bisa gitu."
"Bisa lah kan ini mobil punya kamu, jadi apapun yang terjadi di dalam mobil ini kamu yang tanggung jawab."
"Gak bisa gitu dong." tak terima Vano.
"Bisa, pokoknya kamu yang salah dan kamu harus beliin aku gula kapas lagi 2 kali lipat." Vanya meminta pertanggungjawaban Vano.
"Ok nanti aku belikan gula kapas lagi, kalau perlu sepabrik pabrik gulanya sekalian biar kamu puas." jawab Vano santai.
Vano kira tadi Vanya bakalan minta apa gitu atau paling gak akan marah marah gak jelas, ehh tau tau nya cuma minta beliin gula kapas lagi, ya udah Vano langsung meng-iyakan aja dari pada ribut.
"Ide yang bagus tuh." timpal Vanya setuju dengan ide yang di berikan Vano untuk membeli pabrik gula.
"Iya serius, rumayan kan nanti untungnya buat beli album sama foto card pacar pacar aku." jawab Vanya yakin.
Cittt
Bunyi rem mobil Vano.
"Apa, kamu selingkuh dari aku?" kaget Vano hingga dia menghentikan mobilnya secara mendadak. Untung aja di belakang gak ada kendaraan lain.
"Kamu apa apa an sih Van, bagaimana nanti kalau di belakang ada mobil atau motor." marah marah Vanya.
Tin tin tin.
Bunyi klakson mobil di belakang mobil Vano, Vano pun menjalankan mobilnya kembali tapi dengan kecepatan sedang.
"Kamu yang apa apaan, kamu berani selingkuhin aku. Siapa selingkuhan kamu, kasih tahu aku, di mana rumahnya biar aku datangin sekarang."
"Aduh Van gak usah lebay deh."
__ADS_1
"Lebay apanya, siapa juga coba yang suka di selingkuhin pasti gak ada yang mau. Coba kamu bayangkan aku selingkuh di belakang ka..."
"Jangan coba coba ya, awas aja kalau sampai kamu selingkuh aku potong burung kamu." Vanya memotong omongan Vano.
Mendengar itu Vano pun bergidik ngeri, jangan sampai dah dia sampai selingkuh. Nanti bisa hancur masa depannya. pikir Vano.
"Ya mangkanya itu ngapain kamu selingkuh."
"Yang bilang aku selingkuh siapa?" tanya Vanya, pasalnya dia gak ada tuh bilang kalau dia selingkuh.
"Itu tadi, katanya mau beli album sama foto card pacar kamu, apa itu namanya kalau bukan selingkuh." tuduh Vano.
Hahahaha...
"Vano Vano, yang aku bilang pacar itu pacar dalam dunia halu aku." ucap Vanya setelah menertawakan Vano.
Vanya mengambil ponselnya, setelah itu dia mencari sesuatu yang ada di galeri handphone miliknya dan menunjukkannya pada Vano.
"Nih pacar pacar aku ganteng kan?" ucap Vanya.
Vano melirik sebentar setelah itu fokus mengemudi lagi.
"Ganteng apaan, gantengan juga aku." ucap pede Vano.
"Lagian kalo kamu mau beli album sama foto card mereka kamu gak perlu beli pabrik gula segala. Kamu pakai aja black card yang aku kasih ke kamu. Kamu mau mandi album sekalipun gak bakalan abis itu uang." lanjut Vano.
"Beneran aku boleh pakai Black Card itu buat beli album sam pretelan lainnya." antusias Vanya.
"Iya sayang ku, mau kamu beli apa pun terserah kamu yang penting kamu happy." jawab Vano.
"Makasih sayang." memeluk lengan Vano.
Cup.
Vanya mengecup pipi Vano yang membuat Vano kaget.
"Wah momen langkah nih, harus di abadikan dalam sejarah kisah cinta Geovano Alexander William nih."
Setelah kejadian itu perjalanan di isi dengan omongan omongan receh lainnya dengan tangan Vanya yang masih setia memeluk lengan Vano.
Setelah menempuh perjalanan yang rumayan jauh akhirnya mereka sampai di halaman luas rumah keluarga Wijaya.
__ADS_1
...***...
Lanjut gak nih😂