
"VANO."
"Bangun Van lo jangan kek gini."
"Tolong... Tolong...Hik.... hiks...hiks."
Vanya terus berusaha membangunkan Vano dan berteriak minta tolong sambil menangis.
"Van bangun dong. Lo bilang suka sama gw kan Van. Gw juga suka sama lo Van. Plis gw mohon bangun Van jangan buat gw takut..hiks....hiks ...hiks."
Air mata Vanya terus mengalir karena dia sangat mengkhawatirkan Vano. Vanya berusaha berdiri dan memapah Vano yang sudah tidak sadarkan diri itu.
Vanya terus berjalan di sisa tenaganya yang ada sambil memapah Vano. Tapi kali ini tenaga Vanya sudah tidak kuat lagi akhirnya dia memutuskan untuk berhenti untuk istirahat.
Vanya memangku kepala Vano di atas pahanya sambil sesekali mencium kening Vano sambil menitihkan air matanya.
-
Tim sar dan murid murid yang berjalan kembali ketempat kemping itu terus berteriak.
"VANYA... VANYA..."
Vanya yang sedang istirahat itu pun samar samar dia mendengar teriakkan yang memanggil namanya.
"TOLONG....GW DI SINI... TOLONG..."Teriak Vanya.
Salah satu murid ada yang mendengar teriakkan itu.
"Berhenti pak sepertinya aku mendengar suara seseorang minta tolong."Ucap salah satu murid.
"TOLONG..."teriak Vanya lagi yang berhasil mereka dengar.
"Benar itu seperti suara Vanya."jawab Galang.
"VANYA LO DIMANA?"Teriak Galang.
"GW DI SINI. TOLONGIN GW CEPAT."Teriak Vanya lagi.
"Sepertinya dari arah sana."ucap tim sar yang mendengar suara itu.
"Ayo kita ke sana."
Mereka pun menuju arah dimana Vanya berada.
"VANYA.."Teriak mereka barengan saat melihat Vanya.
"Cepat tolongin Vano. Dia tadi terpatok ular."ucap panik Vanya yang melihat keadaan Vano yang sudah memucat.
"VANO."kaget Galang dan Rangga saat melihat Vano yang sudah tidak sadarkan diri.
"Ayo cepat kalian bawa Vano. Kita harus cepat cepat bawa Vano ke rumah sakit sepertinya racun ular itu sudah menjalar ke tubuhnya."perintah pak Joko yang langsung dilaksanakan Galang dan Rangga.
"Kamu gak papa Vanya."tanya pak Joko.
"Saya gak papa pak cuma kehabisan tenaga sama lutut saya yang terluka."jawab Vanya.
"Sini saya bantu kamu."
"Makasih pak."ucap Vanya.
"Ayo semua kita balik ke tenda."perintah pak Joko.
Mereka semua pun balik ke tempat perkemahan. Dengan Rangga dan Galang yang memapah Vano karena tim sar tidak membawa alat untuk membawa orang yang sedang pingsan (hehehe author gak tahu namanya) maka mereka memapah Vano dengan menaruh tangan Vano di pundak Galang dan Rangga.
Sedangkan Vanya dibantu berjalan oleh pak Joko dan salah satu murid.
-
Setelah sampai di sana sudah ramai murid murid yang menunggu kedatangan mereka. Di sana juga sudah ada kedua orang tua Vanya yang sudah di kasih kabar pak Joko.
Saat papa Vanya mendapatkan kabar bahwa putrinya hilang dia langsung panik, terutama istri itu tadi sempat pingsan. Dan setelah mama Vani sadar mereka langsung pergi menuju tempat camping.
"Vanya sayang kamu gak papa kan nak."
"Mana yang sakit sayang."ucap mama Vani khawatir sambil memeluk Vanya.
"Aku gapapa ma. Ma Vanya gak bisa nafas ini."ucap Vanya karena mamanya meluknya sangat erat.
"Maaf sayang."
"Kamu beneran gapapa kan sayang."tanya papa Wijaya.
"Iya pa, Vanya beneran gak papa."jawab Vanya.
"Vanya haus ma."tambah Vanya yang sedari tadi tenggorokannya kering.
"Ya ampun mama sampai lupa. Papa ambil anaknya minum."suruh mama Vani kepada suaminya. Sedangkan yang di suruh hanya nurut saja.
-
Sementara Vano tadi langsung di bawa oleh mobil ambulance yang sudah di siapkan dan di dampingi sahabatnya.
"SUSTER. DOKTER."
"TOLONGIN TEMAN SAYA CEPAT."
__ADS_1
"GW HANCURIN JUGA NIH RUMAH SAKIT."
"CEPAT WOY."
"MINGGIR WOY "
Teriakkan Rangga dan Galang saat sampai di rumah sakit kepala orang orang yang ada di sana. Karena mereka sangat khawatir akan keadaan sahabatnya.
"Mohon maaf mas mas nya di larang masuk. Silahkan tunggu di sini."ucap suster melarang Galang dan Rangga yang akan ikut masuk di ruang UGD.
"Selamatkan sahabat kita kalau sampai dia kenapa napa gw hancurin nih rumah sakit."ancam Galang kepada dokter yang mau masuk ke UGD.
"Kami akan berusaha melakukan yang terbaik untuk pasien."jawab dokter sambil berjalan masuk ke dalam ruangan UGD.
"Nga gimana nih cara bilang sama Om William sama Tante Faranya. Gw gak berani."ucap Galang.
"Biar gw aja yang ngabarin Tante Fara."
Rangga pun mengambil handphonenya dan mengetikkan sesuatu di handphonenya.
"Assalamualaikum Tan."salam Rangga pada Tante Fara.
"Waalaikum salam Rangga gimana camping nya."jawab Tante Fara di seberang sana.
"Alhamdulillah Tante. Eeemmm... Rangga mau ngabarin Tante kalau Vano..."
"VANO KENAPA RANGGA." Teriakkan Tante Fara yang membuat Rangga menjauhkan handphonenya dari telinga.
"Emmm..."
"Vano kenapa Rangga cepat ngomong jangan bikin Tante khawatir."
"eeemm.. Vano ma-masuk rumah sakit Tan..."
"*APA."
BRUK*.. Suara di sebrang sana
"Halo Tante... Tante Fara gak kenapa napa kan..."
"Halo Rangga ini Om. Ada apa ini kenapa Tante sampai pingsan." ucap Om William di serang sana yang mengambil alih telfon mama Fara.
"Eemm.. Van-Vano masuk rumah sakit Om."
"APA.... Masuk rumah sakit mana Om akan segera ke sana."
"Rangga WA Om nama rumah sakitnya."
Tut..
"Gak anak gak bapak sama saja. Suka mematikan telfon sembarangan."Gerutu Rangga.
"Gimana Nga."tanya Galang.
"Bentar lagi Om William akan ke sini."
"Semoga saja racunnya belum menyebar kemana-mana."
"Aamin."
-
Sementara di tempat Vanya kakinya sudah di obati sama mamanya. Vanya juga sudah makan jadi sekarang tenaga udah mulai pulih.
"Oh iya ma, Vano dimana sekarang."tanya Vanya pada mama dan papanya.
"Vano?"ucap papa Wijaya bingung.
"Iya Vano. Tadi Vano nolongin Vanya dari seekor ular yang mau mematok Vanya."
"Trus."ucap mama Vani yang mendengar cerita anaknya.
"Terus Vano akhirnya yang kena patok dan dia pingsan ma."ucap Vanya lirih. Dia teringat dengan Vano yang tidak sadarkan diri.
"Innalilahi.."
"Iiih mama Vano belum meninggal."
"Yang bilang Vano meninggal siapa."jawab mama Vani.
"Itu mama."
"Innalilahi itu di ucapkan saat seorang muslim mendapatkan musibah apapun itu bukan cuma buat orang yang meninggal saja."terang mama Vani.
"Ooh gitu."
"Kalian tunggu di sini papa bakal tanya dimana Vano berada sekalian papa ijinin kamu pulang."ucap papa Wijaya.
"Iya pa."
Setelah mendapat izin papa Wijaya kembali kepada Vanya dan mama Vani.
"Gimana pa?"tanya Vanya.
"Vano di bawa ke rumah sakit Medika."jawab papa Wijaya.
__ADS_1
"Ya udah ayo kita langsung liat keadaan Vano. calon mantu ki.. ups."ucap mama Vani keceplosan sambil menutup mulutnya dan mendapat plototan mata dari papa Wijaya.
"Maksud mama."
"Oh buka apa apa tadi mama cuma nyanyi."jawab mama Vani yang tidak nyambung.
"Sudahlah terserah mama saja. Vanya ke sahabat sahabat Vanya dulu mau pamit."
"Mama sama papa tunggu di mobil ya nak."ucap papa Wijaya.
"Iya pa."
Vanya pun pergi pamit ke para sahabatnya. Setelah itu dia pergi ke mobil sambil meminta bantuan temanya untuk membawakan tasnya.
"Gaes gw pamit dulu ya. Kalian hati hati disini."pamit Vanya sambil memeluk sahabatnya.
"Iya Van lo hati hati di jalan ya "jawab Sonya.
"Van gw ikut lo pulang aja ya."mohon Sisil.
"Enak aja gak bisa."ucap Sonya sedangkan Vanya hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya yang satu ini.
Vanya pun melepaskan pelukan itu dan masuk ke dalam mobil.
"Tante, Om sama Vanya pamit dulu ya."ucap mama Vani.
"Iya Tante, Om hati hati di jalan."jawab Sisil dan Sonya.
"Dah.. gaes "pamit Vanya sambil melambaikan tangannya.
Mobil pun berjalan meninggalkan area perkemahan dan menuju arah kota.
-
Cindy yang mengetahui bahwa yang terluka ternyata Vano bukan Vanya pun merasa khawatir pada Vano dan juga kesal karena rencananya untuk mencelakai Vanya selalu gagal.
"Aduh gimana nih keadaan yayang beb Vano, jangan sampai dia kenapa napa. Ini semua gara gara si Vanya s*alan itu, dia selalu buat masalah saja."
"Dan kenapa sih rencana gw selalu gagal buat bikin Vanya celaka."Monolog Cindy yang sedang memperhatikan mobil Vanya yang berjalan meninggalkan area perkemahan.
-
Papa dan mama Vano telah sampai di rumah sakit dan sedang menunggu dokter yang sedang memeriksa Vano.
"Kenapa ini semua bisa terjadi."tanya papa William sambil menenangkan istri yang masih terisak menangis.
Galang dan Rangga pun menceritakan kronologinya mulai awal hingga akhir.
"Ya Allah Vano kenapa bisa kayak gini pa..hiks hiks hiks."ucap mama Fara yang mendengar cerita Rangga dan Galang sambil menangis.
"Udah ma. Mama jangan nangis tenagin pikiran mama, doa in Vano semoga dia baik baik saja."papa William menenangkan istrinya.
"Tapi bagaimana kalau..."
"Hustt...kamu jangan mikir yang engak engak ya."
Setelah mama Fara tenang keheningan pun terjadi hingga kehadiran Vanya dan kedua orang tuanya memecahkan keheningan itu.
"Assalamualaikum."salam papa Wijaya.
"Waalaikum salam."jawab mereka yang ada di sana.
"Bagaimana keadaan Vano Om Tan."
"Maaf karena nolongin Vanya Vano jadi kayak gini tan."ucap Vanya lirih sambil menundukkan kepalanya tanpa berani menatap wajah papa dan mama Vano.
"Sudah nak jangan salahkan diri kamu sendiri ini memang sudah takdir."jawab mama Fara sambil memegang pundak Vanya.
"Tapi tan..."
Tiba tiba suara pintu terbuka dan muncullah dokter yang keluar dari ruang UGD.
Mereka yang melihat itu pun langsung menghampiri dokter itu.
"Gimana keadaan anak saya dok."
"Gimana keadaan Vano dok."tanya mereka berbarengan.
"Bapak ibu tenang dulu."jawab dokter.
"Gimana saya mau tenang sedangkan anak saya ada di dalam."ucap mama Fara sambil membentak.
"Mama tenang dulu. Biar dokter bisa menjelaskan keadaan Vano."ucap papa William.
"Gimana dok keadaan Vano."tanya papa Wijaya.
"Begini buk pak mohon maaf..."
"Tidak Vano.... Hiks hiks hiks.."
Hayoo Vano gimana ini!!!!
...Seperti biasa jangan lupa like komen vote dan favoritnya biar gk ketinggalan kalo author update 😁🙏...
Follow Ig author:@adhilla_021
__ADS_1