
Vano sampai di sebuah toko tas bermerk di ikuti Lucas di sampingnya yang setia mengekor kemanapun Vano pergi.
Vano melihat banyak berbagai macam jenis tas yang terpajang di sini, hingga pandangannya jatuh kepada salah satu tas yang berhasil menarik perhatiannya.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya pelayan toko menghampiri Vano.
"Hah, Oh iya."Kaget Vano.
"Saya mau lihat yang yang itu." tunjuk Vano.
Lucas yang mendengar itu pun sontak mengikuti arah telunjuk Vano. Dia melihat sebuah tas dengan warna yang menurutnya sangat lah elegan.
"Oh ini, ini salah satu tas koleksi terbaik kami. Tas ini juga tergolong dalam tas tas yang harganya fantastis." Pelayan itu menjelaskan dari luar etalase penyimpanan tas.
"Ya udah saya mau beli." ucap Vano enteng, karena Vano melihat bahwa pelayan ini sepertinya tengah meremehkan dia.
"Tapi ini harganya..." belum selesai pelayan itu berbicara tapi sudah di potong oleh Vano.
"Anda pikir saya gak mampu beli tas segini, bahkan anda beserta toko ini juga mampu saya beli." ucap Vano tegas yang membuat pelayan itu gemetaran karena salah menilai orang.
Sedangkan Lucas dia hanya meringis saja melihat itu. Karena dia sudah tahu bagaimana sikap Vano kalau menyangkut tentang kekayaan.
"Ma-maaf tu-an." gugup pelayan toko.
"Ambil kan saya mau beli." suruh Vano yang tidak mau memperpanjang masalah, karena masalahnya sudah banyak.
"Ba-baik tuan." pelayan toko itu pun segera melakukan perintah Vano, dia mengambilkan tas itu dengan sangat hati-hati karena takut nanti tasnya akan rusak.
"Ini tuan." menyerahkan tas.
"Lucas bawakan." perintah Vano.
"Lah, tau gitu tadi mau aja kalau suruh bawa bodyguard." geruntu Lucas.
"Lo ngomong apa hmm? Gak mau gw bayarin belanjanya." balas Vano dengan muka datar.
"Hehehe iya iya, tapi kan bisa tasnya di bawain mbaknya ke kasir." tawar Lucas.
"Terserah lo asal nanti lo yang bawa kalau keluar toko." jawab Vano.
"Nah gitu dong. Mbak bawakan ke kasir nanti kita ke sana." perintah Lucas.
"Baik tuan." patuh pelayan toko.
Setelah itu Vano dan Lucas pun memilih milih tas lagi yang ada di dalam toko itu.
"Van gw ambil ini ya." ucap Lucas memperlihatkan tas yang ada di tangannya kepada Vano.
"Hmm." jawab Vano meng-iyakan.
"Yes." senang Lucas dan segera menyerahkannya ke pelayan toko agar membawanya ke kasir.
Vano juga membeli beberapa tas lainnya. Dia membelikan mamanya, adik nakalnya, juga mertuanya dan tak lupa untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Berapa totalnya mbak?" tanya Vano kepada petugas kasir.
"Totalnya 49 Miliar tuan." ucap kasir.
"Hah, gak salah mbak? tas cuma beberapa gini harganya segitu." kaget Lucas setelah mendengar berapa harga yang di ucapkan kasir.
"Benar tuan, kalau yang lainnya mungkin harganya masih biasa tapi kalau yang ini." menunjuk tas yang akan Vano berikan pada Vanya.
"Paling mahal, bahkan saking mahalnya ini bisa buat menghidupi keluarga saya selama 7 turunan." lanjut kasir itu sambil bercanda.
"Emang itu berapa harganya?" tanya Lucas penasaran.
"Yang ini 26 Miliar tuan." jawab kasir itu.
"HAH." kaget Lucas.
"Ya elah lo kayak gak pernah lihat uang aja Luc." Ucap Vano yang melihat tingkah Lucas.
"Ya gak gitu Van, mending lo buat beli mobil gw aja dari pada beli tas."
"Enak aja, ini sepesial buat istri gw." bantah Vano.
"Serah lo dah."
"Iya lah uang uang gw napa lo yang repot."
"Ini mbak." lanjut Vano menyerahkan black card nya.
Kasir itu pun mengambilnya dan segera menggeseknya setelah itu mengembalikannya kepada Vano.
"Ini tuan terima kasih atas kunjungannya semoga bisa jadi langganan." menyerahkan beberapa kantong belanjaan.
"Loh seriusan Van gada niatan mau bantu gw, ini banyak loh gak cuma satu." ucap Lucas.
"Ya udah gw bantu bawa ini." mengambil kantong belanjaan yang berisi tas milik Vanya.
"Cuma itu doang?"
"Iya lah, udah lo nurut aja nanti gw kasih mobil yang ada di garasi."
Mendengar itu pun Lucas segera mengambil semua kantong belanjaan yang berjumlah banyak itu dan segera membawanya dengan semangat 45.
"Ngomong dong dari tadi, kan gw jadi semangat bawanya." ucap senang Lucas.
"Huh denger orang ngomong mobil aja langsung semangat."
"Ya iyalah, siapa juga yang gak mau kalau di kasih mobil."
Vano pun tak menjawab ucapan Lucas lagi. Mereka keluar dari dalam toko menuju toko yang lainnya untuk membeli berbagai macam oleh oleh.
Setelah mendapatkan banyak barang yang mereka cari hingga mobil bagian belakang penuh dengan barang barang yang kebanyakan adalah barang barang wanita.
"Van cari makan yok laper gw." ajak Lucas setelah merenggangkan tangannya yang kebas sehabis membawa banyak barang.
"Yok lah cacing cacing di perut gw juga udah pada demo minta makan." setuju Vano.
__ADS_1
"Ciah elah cacing, emang perut orang kaya ada cacingnya. Btw cacingnya emas bukan, secarakan pasti makanannya mahal mahal mulu." gurau Lucas.
"Bukan emas tapi tembaga, alumunium, logam dan teman temannya." balas Vano.
"Hahaha... Ada ada aja lo." tawa garing Lucas.
"Ngapain lo tertawa, ada yang lucu kah?" heran Vano.
"Ya... kan kan lo lagi ngelawak." menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Dih siapa yang lagi ngelawak, orang gw lagi nyetir." jawab Vano.
"Iya dah, gw kalah trus perasaan kalau ngomong sama lo."
"Emang." jawab Vano santai.
Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan yang mengiringi perjalanan hingga sampai di restoran.
"Ehh Van gw liat liat lo kok gak pernah telfonan sama istri lo, emang lo gak kangen." ucap Lucas mengawali pembicaraan sambil menunggu pesanan datang.
"Ya kangen lah, tapi gw bingung mau mengawali pembicaraannya nanti gimana." jawab Vano.
"Emang lo gak takut kalau nanti istri lo main di belakang lo, secarakan lo lagi di sini." tanya Lucas.
"Maksud lo?" bingung Vano.
"Ya lo emang gak takut apa kalau istri lo itu selingkuh gitu selama lo ada di sini." jelas Lucas.
"Ya enggak lah, gw udah suruh Galang buat awasi istri gw kalau lagi di sekolah." jawab Vano.
"Di sekolah?" tanya Lucas yang di angguki Vano.
"Kan itu cuma di sekolah, bagaimana kalau di luar sekolah?" lanjut Lucas.
"Gak mungkinlah Vanya main api di belakang gw." jawab Vano berusaha percaya kepada Vanya, meskipun dalam hati kecilnya takut apa yang di ucapkan Lucas terjadi.
"Tidak ada yang tidak mungkin Van. Saran gw aja sih, untuk sementara selama lo masih ada di sini lo suruh seseorang deh buat memantau kegiatan istri lo."
"Maksud lo?"
"Gw yakin lo gak bodoh Van, anak buah lo kan banyak mending lo suruh beberapa dari mereka untuk memantau Vanya dan melaporkan kegiatannya ke lo." saran Lucas.
"Tapi nanti gimana kalau ketahuan dia, nanti kalau dia marah gimana?"
"Ya jangan sampai ketahuan lah dodol. Gw heran deh sebenarnya yang pinter itu siapa, lo apa gw. Kenapa masalah gini aja lo lemot banget sih." ejek Lucas.
"Sia*an lo gw pinter tauk." ucap Vano tak terima di bilang lemot.
"Emang dah kalau orang bucin tuh otaknya suka gak bener." ejek Lucas lagi.
"Enak aja gw gak bucin ya." jawab Vano tak terima.
"Ya dah terserah lo. Jadi gimana lo mau pakai saran gw gak?"
"Boleh juga di coba, tar dah kalau dah sampai di rumah gw suruh orang orang gw buat jagain sekaligus ngawasin istri gw." setuju Vano.
__ADS_1
"Bagus."
...***...