
Vano tahu kalau Selly ada rasa terhadap dirinya, cuma Vano tak pernah meresponnya. Dan tepat pada hari kelulusan masa SMP mereka, Selly menyatakan perasaannya terhadap Vano. Tentu saja tanpa pertimbangan apapun Vano langsung menolaknya saat itu juga. Hal itu membuat Selly sakit hati, dan tiga hari kemudian Vano mendapatkan kabar kalau Selly bunuh diri di dalam kamar mandi dengan menggoreskan kaca di urat nadi tangannya serta di lehernya. Karena dia tinggal sendiri maka tidak ada yang tahu hingga satu hari temen Selly ke sana dan mendapati Selly sudah tidak bernyawa.
Vano tidak tahu jika salah satu dari temennya ada yang menaruh rasa terhadap Selly, dan Vano juga yakin kalau dia melakukan itu karena mengira Vano lah penyebab kematian Selly.
"Hufft..." hela nafas Vano setelah mengingat kejadian beberapa tahu yang lalu.
"Gw gak nyangka ternyata lo sedendam itu sama gw hingga bergabung dengan Aaron buat hancurin keluarga gw." gumam Vano.
"Untuk sementara gw gak akan bertindak lebih dulu, gw akan pantau apa yang akan lo lakuin terhadap keluarga gw. Tapi kalau sampai nanti ada apa apa dengan istri gw, jangan harap lo akan tetap hidup."
Vano terus berada di sana, menyiapkan segala sesuatu yang akan terjadi nanti kedepannya. Vano berharap temannya itu bisa sadar sebelum masalah ini semakin dalam. Tapi Vano juga gak akan menjamin itu, karena di saat hati seseorang sudah di penuhi dengan kebencian, maka apapun yang di lakukan orang yang yang dia benci akan selalu salah.
Setelah di rasa semuanya beres Vano akan segera pergi menyusul istrinya yang berada di rumah mertuanya.
-
'Halo king.' sapa anak buah papa William melalui sambungan telepon.
'Hmm, di mana kalian? Kenapa belum sampai juga.' tanya papa William marah marah, lantaran anak buahnya kali ini bertindak sangat lambat dari biasanya.
'Maaf king kami tidak bisa menangkap buronan kita kali ini.'
'Apa maksud kalian Hah! Saya udah kasih tahu di mana letak orang itu, tapi kenapa kalian masih saja lambat dalam menangkapnya.'
Papa William marah besar terhadap anak buahnya, pasalnya biasanya anak buahnya ini jika di kasih tugas untuk menangkap orang tidak sampai sepuluh menit buronan sudah ada di tangan mereka. Tapi ini apa, hampir setengah jam papa William dan yang lain menunggu di markas tapi tak kunjung terlihat juga batang hidung anak buahnya.
'Maaf king, tapi buronan kita kecelakaan dan meninggal di tempat.' lanjut anak buah papa William.
'Ya udah kalian kembali sekarang.'
Tut.
Prang.
__ADS_1
Papa William melemparkan ponsel terbarunya ke arah kaca jendela, hingga jendela itu pecah.
"Kenapa Om?" tanya Lucas serius, karena dia tahu kalau papa William sudah marah seperti ini pasti masalah bukanlah kecil.
"Ada apa Wil, kenapa kamu sampai marah gitu?" tanya papa Wijaya juga.
"Orang itu kecelakaan dan sekarang sudah meninggal. Aku yakin pasti ini juga salah satu rencana dari mereka agar kita tidak bisa menemukan mereka." jelas papa William.
"Cih, murahan." decih Lucas.
"Kalau sampai tuh pelakunya ketangkap, gw orang pertama yang akan bunuh tuh orang. Enak aja udah bikin acara calon ponakan gw hancur kayak gini." lanjut Lucas.
"Kamu kasih tahu Vano suruh hati hati, dan juga harus tetap waspada." perintah papa William pada Lucas.
"Tanpa Om kasih tahu Vano juga udah lakuin itu, bahkan mungkin sebelum kita tahu kalau buronan kita kecelakaan Vano sudah tahu lebih dulu. Om tidak lupakan kalau gen Om mengalir dalam diri Vano."
"Aku mau pamit pulang dulu." pamit Lucas tak ada sopan santunnya. Lucas pergi dari markas dengan emosi yang sudah berada di ubun-ubunnya, dia hendak mencari pelampiasan entah nanti apapun yang akan dia temui.
"Wil aku mohon sama kamu, tolong lindungi Vanya dan calon anaknya ya. Aku takut kalau anak aku kenapa kenapa." mohon papa Wijaya.
Mereka berdua pun melanjutkan mengobrol tentang bisnis untuk menyegarkan otak mereka di dalam markas WD.
-
"Gw bangga sama Lo, ternyata lo orangnya licik juga ya." puji orang itu pada Cindy.
Ya, setelah bermain dengan pria suruhannya, Cindy langsung di ajak ketemuan oleh orang yang mengajak kerjasama dengan dirinya.
"Baru tahu Lo, bukannya dari dulu gw udah sering berbuat kayak gini?" balas Cindy.
"Iya sih, tapi kan dulu rencana lo selalu gagal."
"Ya itu gara gara Vano."
__ADS_1
"Hahaha bener juga sih." balas orang itu di iringi dengan tertawa.
"Terus nanti apa lagi rencana lo?" tanya Cindy langsung ke intinya.
"Habis ini kita diem dulu biar suasana tenang seperti semula, baru setelah itu kita ledakkan bom nya." jawab orang itu.
"Emang nanti lo mau berbuat apa?"
"Kalau menurut gw sih, kita culik Vanya kan dari situ Vano nanti akan panik. Kalau menurut lo gimana? Ada ide gak?"
"Eemmm...oke juga itu, tapi nanti gw akan tambahin improvisasi dikit." balas Cindy.
Orang itu tersenyum simpul dan dalam hati menertawakan Cindy. Cindy tidak tahu saja kalau target orang itu sebenarnya adalah membunuh Vano, kalau saja Cindy tahu mungkin Cindy gak akan mau di ajak kerjasama.
"Oke lah terserah lo aja, pokoknya nanti bagian akhir harus ada di tangan gw."
"Oke itu mah gampang."
"Oh iya lo gak mau makan atau apa gitu?" tawar orang itu.
"Gak deh gw langsung pulang aja." tolak Cindy.
"Ya udah hati hati lo, jangan lupa pakai maskernya kalau keluar dari sini."
"Siap itu mah."
Cindy keluar dari sebuah villa yang orang itu gunakan untuk satu kali ini saja sebagai tempat pertemuannya dengan Cindy, pasalnya nanti kalau tempatnya selalu sama maka akan muda di baca oleh orang Vano.
"Vano, lihatlah sebentar lagi kehancuran yang sebenarnya akan di mulai. Kalau nanti gw bunuh istri serta calon anak lo masih kurang, maka gw akan bunuh adik lo yang gak tahu diri itu. Dan setelah itu lo akan gw bunuh paling akhir, agar lo bisa melihat saat saat terakhir istri tercinta Lo."
Hahahaha....
Sepertinya orang itu sudah benar benar gila akan obsesi yang dia pendam selama beberapa tahun ini. Bahkan mungkin hidupnya akhir akhir ini pun hanya manipulasi semata agar tidak terbaca oleh musuh. Ingat jangan terlalu percaya terhadap wajah dan sikap seseorang, bisa jadi itu adalah kebalikan dari sifatnya yang sebenarnya.
__ADS_1
...***...