My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 146


__ADS_3

"Cepat buang buang waktu saya aja." ketus mamanya Cindy.


Sedangkan papanya Cindy hanya diam saja membiarkan istrinya yang berbicara, dia terlalu malas kalau berurusan dengan kaum rendahan.


Pak Anang pun memerintahkan kepada salah satu murid yang kebetulan lewat depan ruang kepala sekolah untuk memanggilkan Vanya.


-


"Kak Vanya di pangil kepala sekolah agar ke ruangannya." ucap adik kelas Vanya menghampiri Vanya yang tengah mencatat nama murid yang membuat pelanggaran.


"Kamu ngomong sama saya?" tanya Vanya, pasalnya tadi dia tidak terlalu mendengarkan ucapan anak itu.


"Iya kak Vanya di suruh ke ruang kepala sekolah, katanya di suruh cepat." ulang murid itu dan berlalu meninggalkan Vanya.


"Mau ngapain ya?" gumam Vanya.


"Dit gw pergi dulu ya, lo tetap jaga di sini gw masih ada urusan." pesan Vanya pada anggota OSIS yang menemaninya menjaga di gerbang yang bernama Dito.


"Oke Van, ati ati lo." balas Dito.


Vanya pun beranjak pergi menuju ruang kepala sekolah tapi saat di perjalanan dia berpapasan dengan Sisil dan Sonya.


"Kalian mau kemana?" tanya Vanya pada kedua temennya.


"Kita mau nyusulin Lo, kan tadi sama Vano kita di suruh jaga lo, jadi ya kita harus ikutin lo kemana pun lo pergi." jawab Sonya yang di angguki Sisil.


"Ya ampun, Vano tadi cuma becanda kali, lagian gw juga mau ke ruang kepala sekolah." ujar Vanya yang menganggap omongan Vano itu tidak serius.


"Lo gak bisa bedain Van, mana yang serius mana yang becanda. Lo mau ngapain ke ruang kepala sekolah?"


"Ya mungkin saja kan tadi cuma becanda. Gw di pangil pak Anang buat ke ruangannya. Udah ahh gw mau pergi dulu." pamit Vanya.


"Ehh Van, tunggu." teriak Sonya.


Sonya pun menyeret tangan Sisil agar cepat mengejar langkah Vanya menuju ruang kepala sekolah.


Tok tok tok.


"Assalamualaikum pak." sapa Vanya saat sudah sampai di depan ruang kepala sekolah.


"Waalaikum salam, mari silahkan masuk." suruh salah satu guru yang membukakan pintu untuk Vanya.


Vanya pun segera masukkan, Sonya dan Sisil pun ingin mengikuti Vanya masuk tapi langsung di tahan oleh guru itu.


"Ehh, kalian mau kemana?" tahan guru itu melarang Sonya dan Sisil masuk.

__ADS_1


"Ya mau kedalam lah buk." jawab Sisil.


"Tidak boleh, sana kalian kembali ke kelas sebentar lagi bel akan bunyi." mengusir Sonya dan Sisil.


"Ya gak bisa gitu dong buk, masak Vanya boleh masuk ke dalam kita gak boleh." protes Sisil.


"Udah Sil lo diam aja biar gw yang ngomong." sela Sonya karena kalau Sisil yang ngomong bisa panjang nanti, yang ada malah Vanya sudah ilang.


"Ibu guru yang cantik sexy dan Mont*k, boleh gak kita masuk ke dalam." rayu Sonya.


"Makasih kamu sudah memuji saya, tapi tetap kalian tidak boleh masuk."


"Yah kok gitu sih Bu, padahal kan kita sebagai teman yang baik harus saling ada satu sama lain." mendramatisir Sonya.


"Udah kalian pergi sana, ibu masih ada urusan di dalam." usir guru itu dan menutup pintu ruang kepala sekolah sehingga membuat mereka berdua kesel.


"Iih main tutup tutup aja, gimana nih Sil?"


"Gw juga gak tahu Soy, gw takut Vanya di apa apain di dalam. Kan di dalam ada si Tante." ujar Sisil yang kebetulan otaknya jalan.


"Nah itu juga yang gw takutin, mana si Tante bawa orang tuanya lagi."


"Trus kita harus gimana?" tanya Sisil.


"Gw juga gak tahu." bingung Sonya.


"Wih tumben otak lo pinter, ya udah ayo cepat kita hubungin Vano biar cepat ke sini."


Sonya pun segera menghubungi Vano mengunakan ponselnya tapi tidak di angkat angkat juga oleh Vano, bahkan sampai Panggilan ke lima pun belum Vano angkat.


"Gimana Soy?" tanya Sisil.


"Gak di angkat, coba lo telfon cowok lo dong siapa tau mereka lagi barengan."


Sisil pun segera menghubungi pacarnya yang ganteng menurut Sisil, tapi sama saja Rangga tak mengangkat telfon Sisil.


"Gimana?" tanya Sonya.


Sisil mengelengkan kepalanya pertanda tidak ada jawaban dari sana.


"Trus gimana ini, coba lo telfon Galang." suruh Sonya pada Sisil.


"Kok gw lagi sih, nanti Rangga cemburu kalau gw telfon cowok lain." tolak Sisil.


"Dih posesif, tapi masak gw sih yang telfon, ogah banget coba."

__ADS_1


"Demi teman Soy, udah cepat lo telfon Galang. Lo gak kasian apa sama Vanya yang sendirian di dalam." ujar Sisil sok menasehati Sonya padahal dirinya gak sadar apa kalau gak mau telfon Galang karena takut pacarnya cemburu.


"Ya udah."


Sonya pun menelfon Galang, Panggilan pertama gak di angkat, tapi Panggilan ke dua akhirnya di angkat juga.


"Hufft... akhirnya lo angkat juga." lega Sonya pada Galang.


"Halo cantik, ada apa nih telfon Galang ganteng, pasti kangen ya.' ucap Galang yang membuat Sonya rasanya ingin muntah.


"Gw gak mau basa basi, lo lagi sama Vano gak?' to the poin Sonya.


'Enggak, gw kan gak masuk sekolah, ini lagi ada acara keluarga di rumah orang tua gw."' jawab Galang.


'Emang ada apa sih, tumben lo nanyain Vano?"' lanjut Galang.


'Ini Vanya dalam bahaya, dia di pangil pak Anang, gw takutnya dia di apa apain di dalam sana karena di dalam ada Tante Cindy sama emaknya.' jelas Sonya.


'Wah bahaya ini mah, coba lo cari ke kelas gw, kalau di sana gak ada juga coba lo cari di atap paling atas sendiri di sekolah pasti dia ada di sana sama Rangga.' info Galang.


'Ya udah masih infonya, gw cari Vano dulu.'


Tut.


Sonya memutuskan panggilan sepihak tanpa memikirkan perasaan Galang, dan setelah itu dia pergi mencari Vano.


-


Sementara dia posisi Galang dia tengah berdecak kesal karena Sonya yang memutuskan panggilan secara sepihak.


"Untung cantik, kalau gak udah gw penyet jadi perkedel nih anak." decak Galang sambil tersenyum memandangi ponselnya.


-


"Permisi pak." sapa Vanya saat masuk ke ruang kepala sekolah.


"Iya sini silahkan duduk." sambut kepala sekolah mempersilahkan Vanya duduk di sebrang Cindy dan keluarganya.


Cindy menampilkan ekspresi sinis memandang Vanya.


"Ada apa ya pak kok saya di pangil ke sini?" tanya Vanya sopan setelah duduk di sofa yang ada di sana.


"Jadi gin..."


"Ada apa ada apa, kamu gak lihat wajah cantik anak saya yang lecet gara gara kelakuan kamu." potong mama Cindy sambil marah marah ke Vanya.

__ADS_1


"Maaf ibu bisa tenang dulu gak?" tegas pak Anang yang merasa dirinya tak di hargai sebagai kepala sekolah.


...***...


__ADS_2