
Mereka sampai di basecamp dan segera membakar sampah sampah yang ada di kantong kresek setelah itu mereka duduk duduk santai di dalam basecamp.
"Gw gak nyangka Van lo bisa ngelakuin hal kayak tadi." ucap Galang mengawali pembicaraan.
'Tadi aja menurut gw masih kurang Lang.' Tidak Vano ucapkan secara langsung melainkan hanya di dalam hatinya saja, bisa berabe nanti kalau sampai mereka tau.
"Gw juga gak nyangka Van, gw kira lo tuh orangnya punya rasa gak tega an." timpal Aji.
"Bener tadi aja gw sampai merinding lihatnya." timpal yang lainnya.
"Ehh tapi gw bingung deh Van, kenapa tuh si Damar tiba tiba mati." ucap Rangga dengan kebingungannya.
"Oh iya ya, kok bisa mati secara mendadak gitu."timpal Galang.
"Takdir mungkin." jawab Vano dengan muka tak berdosanya seperti tidak habis melakukan sesuatu.
"Lo kok santai santai aja sih Van, gimana nanti kalau polisi tahu kalau kita yang udah bikin Damar kayak gitu." takut Aji.
"Kalau polisi tahu ya palingan kita di penjara." santai Vano tanpa memikirkan apa yang dia ucapkan.
"Enak aja di penjara gw gak mau, masak masih muda gini di penjara sih, kan kasian emak gw." sangah Galang pada Vano.
"Dahlah gw mau pulang, udah mau pagi nanti bokap gw nyariin gw, secarakan tadi gw langsung ke sini gak pulang dulu." ucap Vano berdiri sambil melihat jam yang ada di pergelangan tangan kirinya yang menunjukkan pukul 3 dini hari.
"Sama gw juga mau pulang, capek mau tidur." Galang ikut berdiri.
"Gw juga lah." Rangga ikut ikutan juga.
"Mending kalian semua ikut pulang deh, kalian istirahat di rumah masing-masing, besokkan harus sekolah." suruh Vano agar semua anak black Crow pulang buat istirahat.
"Ya udah lah ayo kita semua pulang." ajak Aji menuruti ucapan Vano.
"Lang lo anterin gw pulang, tadi kan lo yang jemput gw." ucap Vano pada Galang saat sedang berjalan keluar basecamp.
"Trus motor Lo?" tanya Galang.
"Tadi kan gw ke sini gak bawa motor, itu kan motor yang selalu gw taro di sini biar saat gw butuh kayak tadi gak bingung cari motor." jawab Vano. Memang benar di basecamp ada 2 motor Vano yang selalu dia tinggal di sana biar nanti kalau butuh gak repot.
"Ya udah lah ayo gw anter."
Setelah memasukkan motornya ke dalam basecamp Vano dan yang lainnya pun pulang ke rumah masing-masing untuk mengistirahatkan tubuh mereka.
-
Vano pulang bukan ke rumah mertuanya tapi dia pergi ke rumah orang tuanya, karena ini dini hari masak iya Vano mau gedor gedor rumah orang sih, apalagi dalam keadaan Vano yang berantakan kayak gini kan gak mungkin. Di tambah lagi dia kan minta antar Galang pulangnya jadi nanti kalau dia pulang ke rumah mertuanya bisa bisa Galang curiga.
"Thanks Lang." ucap Vano setelah turun dari motor Galang.
"Yoi, gw langsung cabut aja ya, kasur sama bantal guling gw udah manggil manggil nih."
"Bisa aja lo."
"Gw pergi dulu."
__ADS_1
"Hati hati."
Galang pun pergi meninggalkan halaman luas rumah Vano.
Vano masuk ke dalam rumah yang keadaannya sudah sepi dan hanya lampu remang-remang yang membantu penglihatan Vano menuju kamarnya.
Setelah membersihkan tubuhnya Vano pun membaringkan tubuhnya di ranjang king size miliknya.
"Hufft..." Vano menghela nafasnya.
"Cepek juga ternyata." keluh Vano saat merasa tubuhnya lelah.
"Oh iya." ingat Vano.
Vano mengambil ponselnya dan segera melakukan panggilan telepon dengan seseorang.
"Halo." sapa Vano.
"Hmm, ada apa tuan muda?" tanya asisten Rudi yang di dengar dari suaranya seperti nya dia habis tidur.
"Mansion yang aku rancang sudah jadi kan?" tanya Vano pada asisten papanya itu.
"Sudah tuan, malahan tuan William sudah mensurvei nya sendiri dan dia puas dan suka sekali dengan mansion itu." jawab Rudi.
"Emang rancangan ku gak pernah salah. Oh iya mansion nya udah bisa di tempatin kan?" tanya Vano.
"Sudah tuan, bahkan perabotannya juga sudah lengkap semua."
"Baik tuan muda, besok akan saya siapkan."
Tut...
Dahlah cape aku dengan Vano, untung aja ganteng. Suka banget deh tutup telfon tiba tiba.
"Aaaaa gak sabarnya hatiku buat ketemu pujaan hati..." senang Vano membayangkan bagaimana ekspresi Vanya nanti saat tahu kalau ingatan Vano udah kembali.
Tiba tiba bayangan foto Vanya berada dalam pelukan cowok di rumah sakit terlintas di otak Vano.
"Iiiss kenapa Vanya selingkuh sih, ganteng juga gw, kaya apalagi sampai tujuh turunan tujuh tanjakan pun harta gw gak akan habis." kesal Vano.
"Tauk ahh." Vano pun menutup tubuhnya dengan selimut tebal berwarna abu-abu yang senada dengan seprainya.
-
Pagi hari Vano bangun setelah membersihkan badannya, dia segera beranjak keluar kamar dengan mengunakan kaos warna putih di balut jaket hitam serta celana jeans hitam yang menempel di tubuhnya membuat aura ketampanannya keluar.
"Pagi ma." sapa Vano.
"Pagi juga sayang, semalam kamu pulang jam berapa hmm?" memeluk tuh Vano.
"Jam 3 ma." jawab Vano.
"Vino sama papa mana ma?" tanya Vano karena dia tidak melihat adik kesayangannya serta papanya di sana.
__ADS_1
"Hari ini sekolahnya libur jadi dia bangunnya siang, kalau papa kamu udah berangkat dari pagi ke kantor katanya ada meeting pagi." jawab mama Fara.
"Ooh, ya udah Vano pamit pergi dulu ma."
"Loh kamu mau ke mana, sini sarapan dulu."
"Enggak deh ma nanti aja numpang di rumah mama mertua." canda Vano.
"Ooh kamu mau ketemu Vanya."
"Ya iyalah ma, Vano udah kangen ama istri Vano."
"Ya udah hati hati ya, mama titip salam buat menantu mama."
"Iya ma."
Vano pun pergi meninggalkan rumah orang tuanya menuju rumah mertuanya di mana istri tercintanya berada.
-
Vano sampai di depan rumah mertuanya, dia segera keluar dari mobil yang dia bawa dari rumah papanya tadi.
"Assalamualaikum." ucap Vano setelah pintu di bukakan oleh pembantu yang berkerja di rumah mertuanya.
"Waalaikum salam tuan muda." jawab pembantu itu.
"Papa sama mama mana bi?" tanya Vano.
"Tuan sama nyonya berada di ruang makan tuan mari saya antar ke sana."
Vano pun mengikuti langkah pembantu itu, meskipun Vano sudah tahu di mana letak ruang makan tapi Vano tetap menghargai apa yang di lakukan pembantu itu.
"Assalamualaikum ma pa." sapa Vano setelah sampai di ruang makan.
"Waalaikum salam." jawab serempak mama Vani dan papa Wijaya.
"Aduh menantu mama sudah pulang, kapan sampainya nak?" tanya mama Vani.
"Tadi pagi ma, jam 3." jawab Vano berbohong, padahal mah dia sampai tengah malam.
Vano menyalami kedua mertuanya dan setelah itu dia di persilahkan duduk di salah satu kursi meja makan.
Vano celingukan mencari sosok yang dia rindukan selama beberapa hari ini, siapa lagi jika bukan istrinya.
"Eemm..." Vano berdehem.
"Kenapa Van?" tanya papa Wijaya.
"Vanya mana pa?" tanya Vano.
"Oh Vanya dia tadi...
...***...
__ADS_1