
"Soy Vanya kemana ya, kok gak masuk sekolah?" tanya Sisil pada Sonya.
"Mana gw tahu." jawab Sonya.
"Nanti sepulang sekolah kita ke mansionnya yuk."
"Ayok."
Selamat siang anak anak." sapa guru memasuki ruang kelas Vanya dkk.
Sisil dan Sonya pun merubah posisi duduknya yang tadi saling berhadapan kini menghadap ke papan tulis.
-
Galang dan Rangga sekarang lagi ada di basecamp, seperti biasa kalau Vano gak masuk sekolah pasti mereka bakal bolos. Begitulah temen yang setia kawan, yang satu bolos ya semuanya harus bolos.
Definisi teman yang sesad.😂
"Lang telfon Vano gih, suruh dia datang ke sini. Dah lama dia gak kumpul ke sini." suruh Rangga pada Galang.
"Dih main suruh suruh aja, kenapa gak lo sendiri yang telfon Vano."
"Lo kan tahu gw, kuota gw udah nipis. Gw harus berhemat buat telfonan nanti sama ayang."
"Noh lo aja yang telfon, males gw bicara sama Vano yang ada nanti jawaban nya cuma hmm doang." menyodorkan ponselnya pada Rangga.
Rangga menerima ponsel Galang dan segera menelfon Vano.
"Di angkat gak?" tanya Galang di jawab gelengan kepala oleh Rangga.
Rangga tak putus asa, dia terus berusaha untuk menelfon Vano hingga akhirnya di angkat juga.
'Halo Van.' sapa Rangga.
'Hmm.' balas Vano dengan suara yang rada gak jelas.
'Lo habis ngapain Van kok suara lo gak jelas gini, terus kenapa juga lo gak masuk sekolah?' yang Rangga.
'Ada apa lo telfon gw?' balik tanya Vano tidak menjawab pertanyaan Rangga.
'Oh itu, lo ke basecamp dong. Udah lama lo gak pernah main ke sini.' jawab Rangga melupakan pertanyaan nya tadi pada Vano.
'Iya nanti gw ke sana.'
Tut.
Vano memutuskan panggilan telefon nya dengan Rangga setelah mengatakan itu tak mau mendengarkan ucapan Rangga lagi.
"CK, kebiasaan." decak Rangga.
__ADS_1
"Gimana?" tanya Galang.
"Katanya nanti bakal ke sini." jawab Rangga dengan nada yang kesal.
"Kenapa lo kok kayak kesal gitu?"
"Biasalah kayak lo gak tahu Vano aja, dia seenaknya main matiin telfon. Gak tahu apa tadi gw telfonin dia berkali kali penuh perjuangan, Ehh pas enak enak mau ngomong udah di matiin telfonnya kan gw jadi kesel." jelas Rangga panjang lebar.
"Hahahaha ... makanya itu kenapa gw males telfon Vano ya kayak gitu, suka matiin telfon tanpa ijin." Galang menertawakan Rangga.
Rangga tak membalas ucapan Galang, dia mengambil minuman punya nya tadi yang ada di meja dan segera meneguknya hingga tandas.
-
Sementara di posisi Vano, dia tengah mengumpulkan nyawanya sehabis menerima telefon dari Rangga yang mengunakan ponsel Galang sambil memandangi istri cantiknya yang sedang tidur di sampingnya tanpa menggunakan sehelai benang di tubuhnya.
Ya, tadi sepulang dari rumah sakit bukannya menyuruh Vanya istirahat tapi Vano malah mengajak Vanya bertempur di ranjang.
Cup.
"Cantik banget sih." ucap Vano setelah memberikan kecupan di kening Vanya.
Vano beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket tanpa menggangu ketenangan tidur Vanya.
"Sayang bangun yuk." Vano membangunkan Vanya setelah dia rapi dengan pakaian kaos dan celana jeans serta jaket di tubuhnya.
"Eemmhh." lengkuh Vanya.
Vano menciumi seluruh wajah Vanya hingga membuat Vanya kegelian.
"Stop Van geli." tahan Vanya agar Vano tidak melanjutkan kegiatannya lagi.
"Makanya ayo bangun."
Vanya bangun dan duduk bersandar di kepala ranjang, dia meneliti pakaian Vano dari atas hingga bawah.
"Kamu mau ke mana?" tanya Vanya yang melihat Vano sudah rapi.
"Aku mau pergi ke basecamp dulu ya, anak anak pada nyariin, kan udah lama juga aku gak ke sana. Kamu gak papa kan aku tinggal sendiri?" jawab Vano sambil bertanya pada Vanya.
"Ooh iya gak papa kok. Tapi aku boleh kan bawa Sisil sama Sonya ke sini?"
"Iya boleh, terserah kamu mau bawa siapa aja ke sini asal bukan cowok." mengelus rambut Vanya.
"Makasih babe." memeluk tubuh Vano.
"Yank jangan mancing mancing deh." peringat Vano.
"Mancing?" melepaskan pelukannya pada Vano dan menatap Vano dengan dahi berkerut.
__ADS_1
"Iya, kamu gak lihat tubuh kamu tuh belum pakai apa apa tapi udah main peluk peluk aja, emang kamu mau aku hajar lagi." menatap Vanya dengan ekspresi mes*mnya.
"Ehh." Vanya segera membenarkan selimut menutupi tubuhnya, Vanya baru sadar ternyata dia masih telanj**g.
"Gak usah di tutup gitu juga, aku udah tahu semuanya." ucap Vano yang membuat pipi Vanya merah karena malu.
"Dih, kenapa tuh pipinya kok merah gitu." Vano menusuk pipi Vanya dengan jari telunjuknya.
"Apaan sih." salting Vanya.
"Udah sana kamu pergi." usir Vanya sebelum dirinya makin di buat salting oleh Vano.
"Dih mainnya ngusir, ya udah aku pergi dulu. Kamu bisa jalan sendiri kan ke kamar mandinya?"
"Ya biasalah, emang aku stroke apa gak bisa jalan."
"Ya kan bisa jadi kamu gak bisa jalan, soalnya tadi aku mainnya kan kasar banget." ucap Vano sambil mengambil ancang-ancang untuk berlari keluar kamar.
"VANO...."
Bug.
"Gak kena wlekk." ejek Vano dan segera keluar dari kamar sebelum mendapatkan hantaman bantal lagi.
Ya, karena saking kesalnya Vanya tadi melemparkan bantal ke arah Vano tapi Vano dengan gesitnya menghindar.
"Dasar, untung aja suami." gumam Vanya sambil tersenyum tidak jelas.
Vanya segera pergi ke kamar mandi dengan berjalan hati hati. Benar kata Vano tadi, dia kesulitan dalam berjalan akibat dari perbuatan Vano.
-
"Sri aku mau pergi dulu, nanti kalau ada teman temannya nyonya kamu sambut mereka dengan baik." ucap Vano saat berpapasan dengan Sri di ruang tamu.
"Baik tuan." patuh Sri sambil menundukkan kepalanya.
Vano pun keluar menuju parkiran luas mansionnya, di sana terdapat beberapa jejer mobil dengan harga yang bernilai fantastis per-mobilnya dan juga ada beberapa motor sport kesukaan Vano yang harganya juga tak kalah mahal.
"Pakai mobil apa motor ya?" gumam Vano memilih milih antara mobil atau motor.
"Motor aja deh, dah lama juga gw gak balapan di jalanan." Vano segera menghampiri motor hitamnya, dan langsung mengendarainya keluar dari halaman mansion.
...(Outfit babang Vano)...
Vano melajukan motornya dengan kecepatan tinggi di jalanan yang ramai dengan orang orang. Vano menyalip beberapa kendaraan yang ada di hadapannya, baik kendaraan kecil maupun kendaraan besar dengan lincah.
"Wuuuu...." Sorak Vano senang karena berhasil menyalip beberapa kendaraan dengan mulus.
__ADS_1
Banyak orang yang mengumpati Vano, tapi Vano tak menghiraukan itu yang ada di pikirannya hanya dirinya harus bisa cepat sampai di basecamp.
...***...