
"Hai bidadari surga." Sapa Vano.
Bidadari itu pun berbalik dan...
"Aaaa..."teriak kencang Vano saat melihat wajah bidadari itu.
Hos. hos. hos .. ....
Nafas Vano tersengal-sengal dan keringat bercucuran di dahinya saat terbangun dari tidurnya.
"Gilak sih masak ada bidadari cowok kek Rangga."
"Dosa apa aku, sampai sampai tidur mimpi ketemu bidadari yang mukanya cowok kayak si Rangga."
Geruntu kesal Vano. Bagaimana tidak kesal di saat mimpi indahnya melihat bidadari cantik dari belakang. Ehh, setelah balik badan mukanya si Rangga yang tersenyum genit tanpa dosa.
"Awas aja kalau ketemu gw bogem tuh anak." ucap Vano sambil beranjak menuju kamar mandi.
-
Ting tong..
Suara bel apartemen berbunyi yang berhasil mengganggu kegiatan nonton Vanya.
"Iiih siapa sih. Gak tau apa orang lagi nonton." Geruntu Vanya sambil beranjak untuk membuka pintu apartemen.
"Siapa sih gang....eeh.." Omel Vanya terhenti saat melihat siapa yang memencet bel apartemennya.
"Permisi mbak ini dari go food atas nama mbak Vanya."Ucap petugas go food.
"Oh iya dengan saya sendiri. Terimakasih ya pak."
"Sama sama mbak, mari."jawab petugas go food sambil berlalu pergi setelah memberikan makanan itu kepada Vanya.
Vanya pun masuk tidak lupa menutup pintu tersebut dan berlalu menuju meja makan untuk menyiapkan makanan yang Vanya pesan.
"Hufft.. akhirnya selesai juga. Vano udah bangun belum ya? Kok belum turun."
"Bangunin gak ya?.."bimbang Vanya.
"Bangunin aja deh."
"Ehh tapi nanti bagaimana kalau Vano tanya soal aku yang memeluknya."
"Aaahh pusing aku."
"Udah deh bangunin aja semoga aja dia gak tau. Kalau pun dia tau nanti aku pura pura yang merasa gak memeluknya."
Vanya pun akhirnya naik ke lantai di mana kamarnya berada untuk memanggil Vano.
Tok tok tok
"Vano bangun Van udah siang."ucap Vanya sambil mengetuk pintu kamarnya.
"Kok sepi gak aja jawaban. Apa Vano masih tidur ya?"
Tok tok tok
Vanya mengetuk pintu lagi tapi tetap saja tidak ada jawaban dari dalam.
"Masuk enggak. Masuk enggak. Masuk enggak."ucap Vanya sambil menghitung jarinya untuk menentukan pilihan yang tepat.
"Masuk."pilihan akhir saat jarinya sampai di jari yang ke sepuluh.
"Yah kok masuk sih. Kan aku takut."
"Bismillahirrahmanirrahim semoga selamat." Vinal Vanya akhirnya memutuskan untuk masuk.
-
__ADS_1
Sedangkan di posisi Vano dia baru keluar dari kamar mandi hanya menguntungkan handuk yang melilit pinggang sampai atas lutut yang menampilkan perut sixpack-nya atau biasa disebut oleh anak muda jaman sekarang dengan roti sobek.
"Tadi air buat mandi sekarang baju sudah di siapin, dasar cari muka."ucap Vano datar tapi tetap memakai baju yang di siapkan Vanya.
Ya beginilah Vano yang sekarang kadang sadar kalau dia udah terpesona dengan Vanya, kadang juga kumat gengsinya yang tinggi sangking tingginya sampai ngalahin menara Bruj Khalifah.
Setelah selesai memakai baju dan tinggal memakai celananya Vano membuka handuk yang melilit di pinggangnya tiba tiba pintu kamar terbuka dan...
Ceklek.
"Aaaaaa."teriak Vanya saat melihat Vano sambil berbalik badan dan menutup mukanya dengan menggunakan kedua tangannya.
"Heh. Lo ngapain main masuk kamar tanpa ketuk pintu dulu."ucap tegas Vano.
"A-aku mau bangunin kamu, tapi ternyata kamu sudah bangun. Tadi aku juga udah ketuk pintu tapi gak aja jawaban dari dalam aku kira kamu masih tidur mangkanya aku langsung masuk aja." jelas Vanya tanpa melihat ke arah Vano.
"Heh. Kalau ngomong sama orang itu lihat orangnya, gak sopan banget."
"K-ka mu pa ka i dulu celananya."
"Liat sini CEPAT."
"Gak mau."
"CEPAT. BALIK BADAN GAK. KALAU ENGGAK GW..."
"Iya iya ini aku balik badan." Vanya pun membalik badannya tapi pandangannya menunduk tidak berani menatap ke arah Vano.
"Liat sini."ucap Vano tapi tidak di laksanakan oleh Vanya.
"Liat sini VANYA CEPAT."
Dengan cepat Vanya pun memberanikan diri untuk melihat ke arah Vano.
Blus.
"Kenapa, malu hmmm."tanya Vano dengan senyum mengejeknya.
"Lo mikir apa, hmm. Mikir kalau gw gak pakai celana gitu. JANGAN MIMPI."Ucap Vano lembut di akhiri dengan ketegasan dan wajah datarnya.
Vanya tersentak kaget mendengar suara Vano. Vanya ternyata salah sangka. Vanya kira Vano tadi saat melepas handuknya tidak memakai celana, tapi dugaannya salah ternyata Vano telah memakai celana bokser.
Untuk menghindari perkataan pedas Vano Vanya pun ingin berlalu meninggalkan kamar ini.
"Lo jangan pernah bermimpi untuk melihat tubuh polos gw ya. Awas aja kalau sampai lo diam diam ngintip gw, abis lo." ancam Vano yang tidak di hiraukan oleh Vanya.
"Ya udah aku tunggu kamu di bawah ya sarapannya sudah siap." ucap Vanya dan berlalu pergi meninggalkan Vano.
"Sialan si Vanya kagak ngerespon ucapan gw."omel Vano.
-
Setelah sarapan mereka pun pergi ke supermarket untuk membeli perlengkapan apartemen.
Setelah sampai mereka langsung masuk ke dalam supermarket.
Vano mengambil troli untuk meletakkan belanjaan mereka.
"Biar aku aja yang bawa Van."tawar Vanya.
"Gak usah. Lo mending pilih barang barang yang mau di beli aja, biar gw yang dorong trolinya."
"Aku aja nanti kamu kecapekan."
"Lo kok ngeyel banget sihh jadi cewek."
"Apa an sih orang aku cuma mau bantu kamu biar gak kecapekan. Sini trolinya." ucap Vanya ngeyel sambil menarik troli belanja an.
Tanpa Vanya sengaja tangannya berpegangan dengan tangan Vano bukan dengan troli belanjaan. Mereka pun terdiam saling melihat tangan mereka masing-masing yang bersentuhan setelah itu mereka saling pandang.
__ADS_1
Deg deg deg
'Aduh jantungku tolong kerjasamanya nanti aja kalau mau baper jangan sekarang plis.' ucap Vanya dalam hati.
'Sialan nih Vanya pakai sentuh sentuh tangan gw segala di kira gw bakal luluh gitu. Ini juga jantung kenapa berdetak kencang banget masak iya gw masih muda udah punya penyakit jantung.' ucap dalam hati Vano.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka tersadar dan Vanya segera menarik tangannya.
"Ehh, maaf aku gak sengaja."ucap Vanya.
"Halah kagak usah alasan bilang aja lo mau modus kan sama gw."
"Enggak kok. Beneran aku tadi engak sengaja."
"Halah udah deh jangan banyak alasan. Ini jadi belanja gak, jangan buang buang waktu."
"Ya jadilah. Ya udah ayo."jawab Vanya sambil berlalu berjalan di depan Vano.
Setelah muter-muter di dalam supermarket akhirnya selesai dan sebelum pulang mereka memutuskan untuk makan di restoran deket supermarket tersebut untuk makan siang.
"Kamu mau pesan apa Van?" tanya Vanya sambil membolak-balik menu makanan.
"Samain aja."jawab singkat Vano dengan muka datarnya.
"Emm.. spaghetti dua, stik kentangnya satu, sama minumnya caramel latte dua ya mbak."pesan Vanya kepada pelayan resto.
"Baik mbak silahkan di tunggu sebentar."jawab pelayan tersebut.
Sambil menunggu makanan datang Vanya melihat media sosialnya untuk melihat notifikasi dari idolanya yang update.
"OMG.. Ganteng banget sih calon imanku."ucap Vanya sambil mencium ponselnya.
Vano yang sedari tadi fokus ke ponselnya pun mengalihkan pandangannya setelah mendengar perkataan Vanya.
"Siapa calon imammu?"tanya Vano dengan nada yang tidak enak.
"Ini Agust-D calon imam masa depanku."jawab Vanya tetap menatap ponselnya tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Vano.
Vano pun merasa ada yang aneh dengan hatinya tapi dia tidak mau mengakuinya.
"Oh."singkat padat dan jelas jawaban Vano.
Vanya terus melihat postingan yang ada di media sosialnya sambil tersenyum senyum sendiri yang membuat Vano panas.
"Hufft.. lama banget sih minumnya mana panas banget lagi."Ucap Vano.
Vanya yang mendengar itu pun mengalihkan pandangannya ke arah Vano.
"Panas? Bukannya lagi dingin ya suhunya, aku aja kedinginan." ucap Vanya heran.
"Panas, panas." ucap Vano sambil mengibaskan tangannya.
"Aneh."ucap Vanya sambil kembali menatap ponselnya.
'Sialan Vanya awas aja gw buat cemburu nanti Lo.' Umpat Vano dalam hati tanpa dia sadari bahwa dia telah mengakui kalau dia cemburu.
Saat Vano sedang fokus ke pikirannya tiba tiba dari arah belakangnya ada yang memanggil namanya.
"Vano."
"Mamp*s."umpat Vano sambil memejamkan matanya.
...*****...
Hayo loh siapa itu 😂
...Yang mau tau idola Vanya ini dia Agust-D alias suga😂...
__ADS_1