My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 284


__ADS_3

"Vanya." ucap mama Vani saat melihat anaknya yang kesakitan.


"Mama, sakit ma." keluh Vanya.


"Sabar ya sayang."


"Hah, aaahh... sakit ma." teriak Vanya.


"Sabar sayang sabar." ucap mama Vani sambil mengelus punggung Vanya agar bisa meredakan sedikit rasa sakit yang Vanya alami.


"Vano mana ma?" tanya Vanya.


"Vano masih dalam perjalanan ke sini sayang " jawab mama Vani.


Setelah itu Vanya merasa tenang, dan tak berapa lama lagi dia mengeluh kesakitan.


-


Mobil yang Vano tumpangi sudah sampai di rumah sakit, Vano segera turun dan berlari mencari ruangan Vanya.


"Sus, ruangan bersalin di mana?" tanya Vano pada suster yang bertemu dengannya di lorong rumah sakit.


"Tuan naik saja ke lantai tiga, nanti di sana ada ruangan paling pojok sendiri itu ruangan bersalin." jawab suster itu.


"Masih sus." ucap Vano dan segera berlari menuju lift untuk naik ke lantai tiga.


"Sh*ttt." umpat Vano kesal lantaran lift yang akan dia naiki tengah naik ke atas.


Vano yang tak sabaran pun memutuskan untuk naik menggunakan tangga darurat agar cepat sampai di ruangan Vanya.


Penampilan Vano sudah sangat acak-acakan, dasi yang melingkar di leher Vano pun sudah tidak ada. Lengan baju di tarik ke atas hingga siku dan kancing kemeja dua buah bagian atas sudah terbuka.


Vano sampai di lantai tiga dengan nafas ngos-ngosan. Vano segera mencari di mana keberadaan ruangan Vanya.


Vano celingukan mencari ruangan mana yang ada di pojok, hingga pandangan Vano menangkap keberadaan teman temannya serta mamanya duduk di sebuah kursi tunggu. Vano pun segera berlari ke sana.


"Vanya mana ma?" tanya Vano dengan nafas memburu.


"Astaga Vano, penampilan kamu kenapa begini nak?" tak habis pikir mama Fara yang melihat penampilan Vano yang sangat acak-acakan, bukan seperti Vano biasanya yang selalu rapi.


"Vanya mana ma?" tanya Vano lagi lantaran tadi tidak mendapatkan jawaban.


"Oh iya, Vanya ada di dalam. Dari tadi dia nyariin kamu." jawab mama Fara.


Vano pun berlari dan mendobrak pintu itu hingga terbuka.


Brak.


"Vano." ucap mama Vani dan Vanya barengan.


"Sayang." balas Vano dan berjalan menghampiri Vanya.


"Sakit Van." keluh Vanya pada Vano.


"Sabar ya, nanti anak kita akan lahir." balas Vano.

__ADS_1


"Kalau gitu mama keluar dulu ya." pamit mama Vani keluar dari sana, karena tidak di perbolehkan lebih dari satu orang yang berjaga di sana.


"Vano sakit...." teriak Vanya saat rasa sakit itu datang lagi.


Tangan Vanya sampai mencengkram lengan Vano dengan erat hingga jari kukunya menggores lengan Vano.


"Permisi tuan nyonya, saya akan melihat sudah pembukaan berapa jalan lahirnya." ucap dokter itu.


Dokter itu pun mulai memeriksa sudah pembukaan berapa Vanya sekarang.


"Alhamdulillah tuan, ini sudah pembukaan sepuluh. Suster siapkan semuanya." perintah dokter itu pada beberapa suster yang ada di sana.


"Sudah siap nyonya, saya hitung sampai tiga nyonya silahkan mengejan." intrusi dokter itu.


"Satu, dua, tiga... Ayo nyoya terus mengejan."


"Aaahhh...." teriak Vano lantaran Vanya menjambak rambutnya.


"Lagi nyonya, sendikit lagi."


"Aaaah...."


Oek oek oek....


Suara tangisan bayi pun terdengar menggema di seluruh ruangan bersalin itu.


"Alhamdulillah tuan bayi anda sehat dan semuanya lengkap tak ada yang cacat, jenis kelaminnya laki laki." ujar dokter itu membuat Vano dan Vanya senang.


"Sayang anak kita." ucap Vano pada Vanya, di balas senyuman manis oleh Vanya.


Bayi itu pun di bersihkan terlebih dahulu sebelum minum ASI eksklusif dari ibunya.


-


"Wil, kita udah jadi kakek Wil." ucap papa Wijaya senang pada William.


"Iya aku masih gak nyangka kita akhirnya punya cucu." balas papa William tak kalah senang.


"Hore... Vino punya ponakan." senang Vino, tadi Vino merengek minta ikut papa William, alhasil papa William pun membawa Vino ke rumah sakit bersamanya.


Bukan hanya para bapak bapak yang heboh, kaum perempuan juga malah lebih heboh. Mama Fara dan mama Vani sampai berpelukan saking senangnya.


Ceklek.


Vano keluar dari dalam ruangan bersalin dengan keadaan yang makin kacau dari pada tadi saat masuk.


"Astaga Vano, kamu kenapa?" heboh mama Fara.


"Gak papa ma, hanya kena jambak Vanya aja." balas Vano duduk di samping Vino.


"Kakak, Vino beneran udah punya adik kan?" tanya Vino antusias.


"Hmm." balas Vano.


"Horee..." seru Vino.

__ADS_1


"Lo kenapa Van?" tanya Farrel.


"Nih liat, ini, ini, ini." tujuk Vano pada bekas cakaran Vanya.


"Astaga lo di cakar siapa?" heboh Farrel.


"Biasa aja kali kak, ini tadi Vanya yang cakar aku buat menyalurkan rasa sakitnya." jawab Vano.


"Oooh gitu."


"Terus sekarang mana ponakan gw?" tanya Farrel.


"Masih di bersihkan sama dokter." jawab Vano.


"Terus kenapa lo keluar bukannya lo seharusnya temani princess di dalam?"


"Gw di suruh keluar dulu, dokternya mau jahit jalannya bayi. Nanti kalian semua boleh jenguk kalau Vanya udah di pindahkan ke ruang rawat." jelas Vano pada mereka semua.


"VIP." ucap papa William.


"Tanpa papa suruh Vano juga udah tahu mana yang terbaik buat istri sama anak Vano." balas Vano.


"Ya siapa tahu ajakan kamu lupa."


"Itu gak akan mungkin papa." balas Vano.


"Udah sana kamu ganti baju, tadi mama sudah menyuruh asisten Rudi bawa pakaian kamu ke sini." suruh mama Fara.


"Ya udah Vano pergi dulu." pamit Vano dan berlalu dari sana.


Vano mandi sambil menahan rasa perih di bagian tubuhnya, bekas cakaran Vanya ternyata sangat lebih terasa saat terkena air, apalagi kalau terkena sabun. Makin terasa sakitnya.


"Aisss...." desis Vano menahan rasa perihnya.


Selesai mandi Vano langsung kembali ketempat istri berada. Vano di izinkan masuk atas perintah Vanya. Karena Vanya memerlukan Vano untuk membantunya jika sewaktu-waktu ingin ke kamar mandi.


"Gantengnya anak mommy." ucap Vanya sambil membelai lembut pipi anaknya yang tengah meminum ASI di atas dadanya.


"Iya dong, kan Daddy ganteng." balas Vano.


"Aduh pelan pelan dong sayang minumnya nanti kesedak loh, Daddy gak minta kok." ujar Vano mengajak ngobrol anaknya yang belum mengerti apa apa.


"Kamu mau kasih nama siapa dia?" tanya Vanya.


"Kamu maunya siapa?" tanya balik Vano.


"Ya itu terserah kamu, asal itu bagus aku setuju." jawab Vanya.


"Kalau gunain marga aku gak papa?" tanya Vano lagi.


"Gak papa lah, kan kamu bapaknya." balas Vano.


"Ya udah aku kasih dia nama...." ucap Vano menggantungkan ucapannya.


"Siapa loh, cepet aku kepo nih." tak sabaran Vanya.

__ADS_1


"Namanya adalah...."


...***...


__ADS_2