My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 260


__ADS_3

Vano dan Vanya sudah sampai di kediaman orang tua Vanya. Mereka segera masuk ke dalam rumah dan di sambut dengan hanya oleh kedua orang tua Vanya.


"Mama...." seru Vanya dan berjalan dengan cepat berhambur ke pelukan mama Vani.


"Aku kangen banget sama mama." ujar Vanya dalam pelukan mama Vani.


"Sama, mama juga kangen banget sama kamu." balas mama Vani.


"Assalamualaikum pa, ma." sapa Vano kepada kedua mertuanya.


"Waalaikum salam." balas keduanya.


Vano pun menyalami papa Wijaya terlebih dahulu karena saat akan ke mama Vani masih ada Vanya yang tengah memeluk erat mama Vani.


"Oooh cuma kangen sama mama aja nih, gak kangen sama papa?" sindir papa Wijaya.


Vanya tidak menghiraukan sindiran papanya, dia tetap setia memeluk mamanya dengan erat.


"Kenapa hmm?" tanya mama Vani yang merasa aneh dengan sikap anaknya.


"Gak papa cuma mau peluk mama aja, siapa tahu kan nanti Vanya gak bisa peluk mama lagi."


"Kamu ngomong apa sih." tak suka mama Vani dengan ucapan Vanya, mama Vani pun melepaskan pelukannya dan menatap mata anak semata wayangnya itu.


"Kamu gak boleh ngomong begitu, mama gak suka." tegas mama Vani.


"Maaf...." lirih Vanya sambil menundukkan kepalanya.


Melihat anaknya yang sudah melow, mama Vani menarik Vanya ke dalam pelukannya lagi.


"Maaf, mama gak bermaksud buat marahin kamu. Udah ya kamu jangan nangis." ujar mama Vani merasa bersalah.


"Hiks hiks Vanya takut ma, Vanya takut hiks hiks." tangis Vanya pecah.


"Ssttt... udah jangan nangis ya, bilang sama mama kamu takut sama apa?" tanya mama Vani lembut sambil mengelus punggung Vanya agar lebih tenang.


"Vanya takut hidup Vanya gak lama lagi ma," ujar Vanya.


"Kamu gak boleh ngomong gitu, kamu habis ngapain sih kok sampai ngomong gitu?"

__ADS_1


"Vanya hiks, Vanya merasa kalau Vanya bakalan mati ma , hiks hiks hiks."


"Hei kamu kenapa merasa seperti itu, ingat mati itu gak ada yang tahu, yang tahu hanya Allah. Jadi kamu gak usah kepikiran soal itu ya, ingat kamu juga sekarang harus fokus ke kehamilan kamu. Jaga baby kamu supaya kalian tetap sehat sampai kamu lahiran nanti." tutur mama Vani.


Vano yang melihat serta mendengar obrolan istrinya juga mertuanya pun mendekat dan memeluk Vanya dari belakang.


"Kamu kenapa ngomong gitu hmm, kamu gak mikirin perasaan aku?" ucap Vano meletakkan dagunya di pundak Vanya.


Mama Vani yang mengerti akan situasi itu pun melepaskan pelukan Vanya dan mengajak papa Wijaya itu pergi meninggalkan mereka berdua saja.


"Hiks hiks hiks...." Tangis Vanya semakin pecah mendengar ucapan Vano.


Vano pun membalik tubuh Vanya untuk menghadap dirinya dan menghapus air mata Vanya.


"Udah jangan nangis ya, aku gak suka lihat kamu nangis kayak gini. Ini sakit sayang sakit." ujar Vano mengarahkan tangan Vanya ke arah dadanya.


"Kita ke kamar aja ya." ajak Vano karena gak baik bila mereka berbicara di tempat seperti ini. Bukan Vano gak percaya sama pekerjaan yang ada di rumah mertuanya, tapi buat berjaga jaga apa salahnya.


Vano pun menuntun Vanya masuk ke kamar tamu yang ada di lantai bawah, karena jika mau membawa Vanya ke kamar Vanya yang ada di atas takut Vanya nya kecapekan.


"Kamu duduk di sini dulu, aku mau ambilkan air minum buat kamu." ujar Vano di angguki Vanya.


"Ini kamu minum dulu." ucap Vano setelah kembali sambil membawa air minum.


Vanya pun meminumnya sambil di bantu oleh Vano, setelah itu Vano meletakkan gelas itu di meja samping tempat tidur.


"Coba kamu cerita pelan pelan sama aku, kenapa kamu sampai bilang kayak gitu ke mama." ucap Vano mengajak Vanya berbicara sambil mengelus rambut Vanya.


"Aku, aku gak tahu, semuanya tadi langsung keluar dari bibir aku." ucap Vanya.


"Hufft... ya udah sekarang gak perlu kamu pikirkan lagi, sekarang kamu istirahat dulu, dari tadi kamu belum istirahat." perintah Vano.


"Peluk." manja Vanya.


Vano tersenyum melihat istrinya yang sudah kembali seperti semula, Vano segera memposisikan tubuhnya berbaring di samping Vanya. Dan Vanya pun segera masuk ke dalam dekapan Vano.


Vanya tidur membelakangi Vano, dengan menjadikan tangan kanan Vano sebagai bantal, sedangkan tangan kirinya dia taruh di atas perutnya.


Vano yang mengerti akan kemauan istrinya pun mengerakkan tangan kirinya mengelus perut Vanya yang sudah membuncit.

__ADS_1


Duk.


"Auw." ringis Vanya.


"Kenapa sayang?" panik Vano.


"Hehehe anak kamu nakal." cengir Vanya.


Vano bernafas lega mendengar jawaban istrinya, Vano merendahkan posisi tidurnya hingga kepalanya berada di hadapan perut Vanya.


"Anak Daddy sayang kamu jangan nakal ya, kasian mommy nya kalau kamu tendang tendang kayak gitu. Kamu kalau mau main bola nanti aja ya kalau sudah keluar. Nanti Daddy ajarin main bola sama paman kamu si tengil Vino. Nanti kita lawan paman kamu kita kalahkan dia." ucap Vano mengajak anaknya berbicara.


"Kamu itu ada ada aja deh, orang babynya masih di dalam perut kok udah di ajak bicara." ucap Vanya yang merasa aneh dengan tingkah Vano.


"Loh kamu jangan salah, aku baca baca di artikel, katanya bayi yang masih dalam kandungan itu malah di suruh sering sering ngajak berbicara loh." balas Vano yang tanpa dia sadari telah membuka kartunya.


"Oooh jadi selama ini kamu diam diam fokus lihat HP itu baca artikel kehamilan. pantesan kalau aku pangil pangil gak nyahut nyahut." balas Vanya dan merubah posisinya menjadi duduk menghadap Vano.


"Ehh, maksud aku itu...."


"Itu apa hmm, mau jadi hot Daddy atau mau jadi suami yang siaga?" potong Vanya.


Vano bingung mau menjawab apa, rahasia yang selama ini dia tutupi dari orang orang terbongkar sudah di hadapan istrinya. Dan itu dirinya sendirilah lah membuka itu.


"Ya, ya kan aku...."


"Hahahaha.... ampun yank ampun." tawa Vano lantaran Vanya tanpa bilang terlebih dahulu langsung menerjang dirinya dengan gelitikan di perutnya.


"Aku apa hah, aku apa?" tanya Vanya sambil terus menggelitik Vano.


"Ampun yank ampun, hahahah...." mohon Vano.


"Gak, aku akan buat perut kamu sampai merasa kaku." balas Vanya.


Vano sebenarnya bisa saja menghentikan gelitikan Vanya, tapi Vano membiarkannya saja. Vano senang melihat Vanya yang ceria seperti ini. Vano akan melakukan apapun untuk kebahagiaan istrinya, bahkan jika dirinya harus terluka dan tersiksa sekalipun.


Mereka berdua pun terus becanda di dalam kamar tidak jadi istirahat seperti apa yang Vano harapkan tadi hingga Vanya sudah merasa lelah barulah mereka memutuskan untuk tidur bersama.


...***...

__ADS_1


__ADS_2