My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 113


__ADS_3

Vanya mengerjapkan matanya, dia melihat ke arah jarum jam yang ada di dinding yang menunjukkan pukul 7 malam berarti Vanya sudah tertidur sangat lama tadi.


Setelah minum obat tadi dengan paksaan Vano Vanya pun tertidur dengan masih mengunakan seragam sekolahnya.


Ceklek.


Pintu kamar terbuka, menampilkan tubuh tegap Vano yang membawa nampan berisi makanan serta minuman.


"Sayang kamu sudah bangun." ujar Vano melihat keadaan Vanya yang sudah membuka matanya.


Melihat Vanya ingin bangun, Vano pun dengan cekatan membantu Vanya setelah meletakkan nampan yang dia bawa ke atas nakas.


"Kamu mau apa hmm?" tanya Vano sambil merapikan rambut Vanya.


"Badan aku lengket banget, aku mau mandi." ujar Vanya.


"Kamu gak usah mandi dulu ya besok aja, kan sekarang udah malam, kamu nya juga masih sakit."


"Tapi badan aku lengket banget Van." rengek Vanya.


"Bagaimana kalau di spon saja, nanti aku bantuin."


"Tapi..."


"Gak ada tapi tapian, aku gak suka ya kamu bantah kayak gini. Kamu harus sembuh dulu, nanti kalau udah sembuh terserah kamu deh mau mandi selama apa pun." oceh Vano.


"Ya udah deh." cemberut Vanya.


"Sekarang kamu makan dulu setelah itu minum obatnya." menyuapkan sesendok nasi kepada Vanya dan di terima oleh Vanya.


"Dah sekarang minum obatnya." memberikan air putih serta beberapa butir obat pada Vanya.


Setelah selesai Vano menempati janjinya, dia menspon tubuh Vanya dengan air hangat dan setelah itu dia juga mengambilkan pakaian ganti untuk Vanya dan membantu memakainya.


"Aduh cantik banget sih istri aku ini." mencubit gemas pipi Vanya.


"Sakit." keluh Vanya manja.


"Atututu mana yang sakit sini aku cium."


Cup


Cup


Mencium pipi kanan kiri Vanya.


"Aku kebawah dulu ya mau naruh ini." menunjuk nampak yang ada di meja.


"Ikut." manja Vanya.


"Kamu kenapa manja banget sih, mana Vanya yang suka marah marah gak jelas kayak di sekolah."


"Ya udah kalau gak boleh." ngambek Vanya mengalihkan pandangannya gak mau menatap Vano.


"Atututu ngambek istlinya Pano." goda Vano membuat Vanya malah mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


Cup.


"Gemes banget deh."


"Ayo sini naik aku Genggong kamu." merentangkan tangannya untuk mengendong Vanya.


Vanya menengok ke arah Vano dengan memicingkan matanya.


"Gak usah aku bisa jalan sendiri." jawab Vanya judes.


"Aaaa." teriak Vanya saat Vano tiba tiba mengangkat tubuhnya dalam gendongan Vano.


"Sana kamu yang bawa nampaknya tangan ku gak bisa." suruh Vano pada Vanya.


Dengan patuh Vanya pun mengambil nampak dan membawanya dalam gendongan Vano.


Setelah dari dapur Vano tidak membawa Vanya ke kamar lagi, melainkan ke ruang kerjanya.


"Kamu duduk sini ya, aku mau kerjain berkas berkas dulu." ujar Vano yang di angguki Vanya.


Vano mengerjakan berkas berkas yang ada di meja kerjanya, sedangkan Vanya dia tengah asik membolak-balikkan majalah yang ada di meja.


Lama kelamaan Vanya merasa bosan, dia pun bangkit dan menghampiri Vano.


"By.." pangil Vanya.


"Kenapa hmm?" mengalihkan perhatiannya dari berkas berkas yang dia kerjakan.


"Aku bosen, pinjam handphone kamu dong, handphone aku ketinggalan di kamar." menadahkan tangannya.


"Nih."


"Jangan lari lari yank kamu masih belum sembuh." ujar Vano memperingati Vanya.


"Hehehe iya lupa." cengengesan Vanya.


"Sandi nya apa?" tanya Vanya pasalnya handphone Vano di kunci.


"Tanggal lahir kamu." jawab Vano yang membuat Vanya blusing.


Vanya pun menetralkan kembali wajahnya dan segera mengetikkan tanggal lahirnya pada ponsel Vano hingga terbuka.


Vanya segera membuka akun Instagram milik Vano dan mencoba berbagai filter foto yang ada di Instagram Vano.


Setelah itu Vanya membuka profil Vano dan dia kaget melihat pengikut Vano di Instagram, pengikut Vano sangat banyak bahkan lebih banyak dari punya Vanya sendiri. Itu pun tidak ada foto Vano yang dia upload ke Instagram, foto profilnya pun hanya pemandangan biasa.


Dengan jailnya Vanya mengikuti akun akun bias nya dari idol sampai aktor drama Vanya ikuti mengunakan akun Vano.


"Hihihi." cekikikan Vanya melihat kelakuannya sendiri.


"Kamu kenapa?" bingung Vano.


"Hah gak papa kok." jawab Vanya.


"Eemmm aku boleh belanja gak di handphone kamu?" tambah Vanya.

__ADS_1


"Boleh terserah kamu mau ngapain aja di handphone aku, orang masih baru juga handphonenya." jawab Vano, memang benar ponsel Vano masih baru bahkan dia baru membukanya beberapa jam lalu.


"Hah baru lagi handphone kamu?" kaget Vanya, pasalnya dia tahu Vano baru ganti handphone kemaren saat dia ke luar negeri dan sekarang udah ganti handphone lagi.


"Iya soalnya yang lama udah hancur, kenapa kamu mau?" tawar Vano.


"Boleh?" meminta persetujuan Vano.


"Ya boleh lah, nanti aku beliin buat kamu yang sama kayak punya ku." jawab Vano santai seperti orang yang akan membelikan permen pada orang saja, kayak harga handphone seperti harga permen.


"Makasih baby." senang Vanya.


"Hmm."


Mereka pun melanjutkan kegiatan masing-masing, hingga larut malam.


"Uuhh." Vano meregangkan otot otot jarinya yang pegal, dia menatap Vanya yang ternyata sudah tertidur pulas sambil meringkuk di sofa.


Vano tersenyum melihat itu, dia mengangkat Vanya ke dalam gendongannya dengan hati hati agar Vanya tak terganggu dan berjalan menuju kamar mereka.


-


Pagi hari tak seperti biasanya, Vano yang biasanya akan bermalas malasan di kamar sekarang dia malah sibuk di dapur di bantu kepala pelayan Sri untuk membuatkan sarapan Vanya dan dirinya sendiri.


"Gimana rasanya enak gak?" tanya Vano meminta pendapat kepala pelayan Sri setelah mencoba masakan yang Vano buat, ya meskipun bentuknya gak beraturan tapi untuk rasanya ruamayan lah.


"Enak tuan." jawab Sri.


"Sekarang bantu aku siapkan di meja makan." perintah Vano yang langsung di laksanakan.


Setelah selesai Vano pergi ke kamarnya untuk membangun bidadari tak bersayap nya yang sedang tertidur.


Tapi sebelum membangunkan Vanya Vano membersihkan badannya dulu, masak iya mau di lihat bidadari penampilannya acak acakan gini kan gak mungkin.


"Sayang bangun yuk." membanggakan Vanya dengan menoel noel pipi Vanya yang mulus tanpa jerawat.


"Sayang." ujar Vano lagi.


Karena gemas melihat Vanya yang tak kunjung bangun, Vano pun menciumi seluruh permukaan wajah Vanya.


Cup cup cup cup cup cup..


Kecupan bertubi-tubi Vano layangkan pada wajah Vanya sehingga berhasil menganggu tidur Vanya.


"Kamu apaan sih." omel Vanya karena merasa tidurnya terganggu.


"Hei bangun, ini udah siang baby." mendudukkan Vanya dengan paksa.


"Aku bisa sendiri." omel Vanya lagi, karena nyawanya belum terkumpul semua tapi Vano sudah mengganggunya.


"Ya mangkanya bangun dong." menyelipkan anak rambut Vanya ke telinga.


"Jam berapa sih?" tanya Vanya dengan mata yang setengah terpejam.


"Jam setengah delapan."

__ADS_1


"APA."


...***...


__ADS_2