
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya papa William setelah dokter selesai memeriksa keadaan Vano.
"Tuan Vano hanya kelelahan serta kurang makan, maka dari itu tubuhnya lemas serta suhu tubuhnya naik." jelas dokter itu.
"Ini silahkan di tebus di rumah sakit." lanjut dokter itu memberikan kertas yang bertuliskan obat untuk Vano.
"Baik dok, terimakasih." balas papa William.
Setelah itu dokter pergi meninggalkan kamar Vano di antar oleh papa William. Sedangkan mama Fara tetap tinggal di sana.
"Makanya gak usah banyak gaya, pakek acara gak makan segala." omel mama Fara.
Vano tak menghiraukan ucapan mamanya, dia lebih memilih memeluk pinggang Vanya yang sekarang sudah duduk di ranjang sebelahnya.
"Udah ma, biar Vano istirahat." ujar Vanya agar mama Fara tak terus mengomeli Vano.
"Tuh denger, istri mu ini saking baiknya meskipun udah kamu sakiti tetep aja bela kamu. Awas aja nanti kalau mama tahu Vanya nangis lagi gara gara kamu." Setelah mengatakan itu mama Fara pergi meninggalkan kamar anaknya.
"Sayang...maaf." lirih Vano tetap dengan posisi semula yaitu memeluk pinggang Vanya.
Vanya diam saja tak menjawab pernyataan Vano.
"Ayang... aku minta maaf." ujar Vano lagi.
"Iya aku maafin." balas Vanya.
"Beneran?"
"Hmm."
"Makasih sayang." senang Vano mengeratkan pelukannya pada Vanya.
"Tapi kamu gak boleh ngulangi perbuatan kamu seperti kemarin lagi." lanjut Vanya.
"Iya aku janji, aku gak akan manja lagi sama kmu, aku juga gak akan memerintah kamu ini itu." balas Vano menatap Vanya.
"Aku gak butuh janji, aku cuma butuh bukti."
"Iya aku akan buktikan sama kamu, kalau aku akan berubah."
"Udah sekarang kamu tidur dulu, nanti kalau obatnya sudah datang kamu aku bangunin." perintah Vanya, Vano pun menurut dengan patuh.
"Peyuk." manja Vano keluar lagi.
"Vano...."
"Hehehe cuma peluk doang yank masak gak boleh sih, aku lagi sakit loh." cengir Vano.
"Hufft..." hela nafas Vanya.
Vanya pun membaringkan dirinya di samping Vano dan membiarkan Vano memeluk dirinya sampai Vano tertidur. Setelah memastikan Vano sudah tidur, Vanya memutuskan untuk pergi ke ruang makan untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan.
-
__ADS_1
"Kita jadi ke rumah Vanya kan?" tanya Sisil.
"Ya jadi dong, masak sahabat lagi butuh kita gak ada sih." balas Sonya.
"Ya udah yuk kita cari laki kita." ajak Sisil dan di angguki Sonya.
Mereka berdua berjalan menuju kelas Rangga dan Galang. Sekarang sudah jam pulang sekolah, tapi kedua cowok itu tidak ada yang memunculkan batang hidungnya.
"Permisi mau tanya, Rangga sama Galangnya ada gak?" tanya Sonya pada salah satunya teman sekelas Rangga dan Galang.
"Loh, mereka berdua dari jam setelah istirahat gak ada yang masuk kelas." jawab siswa itu.
"Maksud kamu mereka bolos?" tanya Sisil memastikan.
"Bisa di bilang begitu, soalnya gak ada izin dari mereka berdua." balas siswa itu lagi.
"Ooh ya udah makasih ya."
"Iya sama sama."
Setelah itu Sonya dan Sisil pun pergi ke parkiran untuk mengambil mobil Sonya. Untung saja tadi Sonya bawa mobil, coba kalau tidak bisa nyeker mereka berdua pulangnya.
"Mereka kemana sih."kesal Sisil, entah mengapa dalam situasi seperti ini, kelemotan Sisil menghilangkan.
"Mana gw tau, coba lo telfon Rangga biar gw telfon Galang." usul Sonya.
Sisil pun menyetujuinya, dia segera mencari kontak Rangga dan menelfonnya begitu pula dengan Sonya, dia juga menelfon Galang.
"Gimana?" tanya Sonya masih dengan ponsel yang menempel di telinganya.
"Sama, Galang juga gak angkat telfon gw."
"Ini mereka berdua kemana sih, bikin gw kesel aja."
"Tau tuh, padahal tadi Galang sudah janji ama gw katanya setelah pulang sekolah dia akan nganterin gw pulang dulu trus habis itu kita langsung berangkat bersama ke rumah Vano."
"Sama Rangga juga bilang begitu."
"Ya udah gw anterin lo pulang dulu, trus habis itu ke rumah gw buat ganti baju dan baru setelah itu kita pergi ke rumah Vano." usul Sonya.
"Ya udah yuk." setuju Sisil.
Mereka berdua pun pergi meninggalkan parkiran sekolah. Mereka tak mau ambil pusing memikirkan kemana laki mereka pergi, urusan itu nanti aja kalau Rangga dan Galang sudah ada.
-
"Kalian urus semuanya nanti kabarin saya kalau ada sesuatu." ujar Galang.
"Baik tuan." jawab mereka semua serentak.
Galang pun segera pulang ke rumah untuk berganti baju santai dan setelah itu dia akan ke rumah Sonya untuk menjemput Sonya buat ke rumah Vano.
"Kamu mau kemana lagi Lang?" tanya mama Galang saat melihat Galang yang mau keluar dari rumah lagi, padahal Galang baru saja sampai di rumah.
__ADS_1
"Galang mau ke rumah Vano ma, Galang mau bantu bantu di sana. Kan lusa acara tujuh bulanan kehamilan istrinya Vano." jawab Galang.
"Oooh gitu, ya udah kamu hati hati di jalan, jangan kebut kebutan."
"Iya ma, kalau gitu Galang pergi dulu. Assalamualaikum." pamit Galang mencium punggung tangan mamanya.
-
Galang sampai di rumah Sonya, tapi dia tidak mendapati Sonya di rumahnya. Malahan dia bertemu dengan mamanya Sonya, untung saja Galang sudah lumayan akrab dengan kedua orang tuanya Sonya.
"Kamu tunggu di sini dulu ya, biar Tante ambilin minum dulu." ucap mamanya Sonya.
"Gak usah repot-repot Tan, Galang juga cuma sebentar di sini."
"Udah gak papa, siapa tahu kan Sonya masih lama pulangnya." balas mamanya Sonya yang tak menerima penolakan dari Galang.
Akhirnya mau tak mau Galang pun mengiyakan saja, toh dia juga sudah haus karena saat di rumah tadi dia belum sempat makan atau pun minum.
Galang memutuskan untuk mengecek ponselnya yang sedari tadi dia mode silent. Dan betapa kagetnya dia saat mendapati ada banyak panggilan tak terjawab dari Sonya.
"Aduh mamp*s gw."
Galang memutuskan untuk menghubungi Sonya balik, dan dia juga merniat ingin meminta maaf sama Sonya.
'Halo.' sapa Sonya dari sebrang sana dengan nada yang cuek.
'Sayang...'
'Apa sayang sayang, dari mana aja kamu? Aku dari tadi telfonin kamu tapi gak ada yang kamu angkat.' cerocos Sonya tak membiarkan Galang berbicara.
'Sayang dengerin aku dulu, aku tadi itu lagi...'
'Udah nanti aja kamu jelasinnya, aku mau pulang dulu.'
Tut.
Panggilan telepon di putuskan sepihak oleh Sonya.
"Mat* dah gw." resah Galang.
"Siapa yang mati Lang?" tanya mamanya Sonya yang datang tiba-tiba sambil membawa nampan yang berisi minuman serta beberapa camilan ringan.
"Bukan siapa siapa kok Tan," balas Galang.
"Oooh, ayo silahkan di minum dulu mumpung masih anget. Camilannya juga ayo di makan, Tante mau ke belakang dulu." ujar mamanya Sonya.
"Iya Tan makasih, jadi ngerepotin."
"Enggak kok, Tante malah senang kalau kamu main ke sini. Soalnya dari dulu Tante tuh pingin banget punya anak cowok."
"Ya udah Tante ke belakang dulu." mamanya Sonya pun pergi meninggalkan Galang sendirian di sana.
Galang meminum juga memakan camilan yang mamanya Sonya hidangkan untuknya sambil menunggu kedatangan Sonya.
__ADS_1
...***...