
"Ehh Cin lo laper gak, gw suapin seblak mau gak?" tawar Vanya baik hati.
"Atau lo mau bakso aja." sahut Sonya.
"Jangan dong, masak lagi sakit makan begituan sih, mendingan makan mie gacoan aja. Ini level 8 enak banget loh, apa lagi di di tambahi boncabe." sahut Sisil.
"DIAM." teriak Cindy seperti orang yang sedang frustasi.
Vanya dkk dan Vano dkk pun seketika diam, karena rada ngeri saat melihat ekspresi Cindy yang seperti orang gak waras.
"Kalian semua keluar dari sini." usir Cindy menunjuk pintu.
"Lah kok di usir sih, kita ini baik loh mau jengukin lo." ujar Rangga.
"Iya Cin, buktinya aja sampai kita bawain lo makanan." timpal Galang.
Cindy dengan kesusahan bangun dari posisi berbaring dan duduk menatap mereka semua dengan mata yang memerah.
"Cin lo gak papa kan?" takut takut Rangga bertanya.
Cindy diam saja masih dengan tatapannya yang tajam.
"Ehh gw kok jadi ngeri ya." ucap Vanya bergidik ngeri.
"Kita pulang aja yuk." ajak Sisil.
"Jangan lah, ini lagi seru serunya." tolak Sonya yang mempunyai tingkat keberanian ganda.
"Lo..." Cindy menunjuk Vanya.
"Gw?" tanya Vanya sambil menunjuk dirinya sendiri.
Vanya pun mendekat ke ranjang di mana tempat Cindy berada.
"Aaaa..." Cindy menjambak rambut Vanya brutal saat Vanya sudah ada di sisinya.
"Heh lepasin temen gw." Sonya dan Susi berusaha menghentikan gerakan Cindy.
"Gw kayak gini, itu semua gara gara lo. Gara gara lo Vano ngejauhin gw dan gara gara lo juga gw ada di sini." marah Cindy tanpa mau melepaskan jambakan rambut Vanya.
"Heh sembarangan lo kalau ngomong, gw gak ada larang laran Vano buat ngejauh dari Lo, gw juga gak ada nyuruh Vano buat nyekik Lo." balas Vanya.
Vanya pun tak mau kalah, dia mencengkeram wajah Cindy hingga kuku Vanya sampai tertancap di kedua pipi Cindy hingga mengeluarkan darah.
__ADS_1
"Aaaaa lepasin wajah gw." sekarang kebalik Vanya yang memegang pertarungan ini.
"Mudah banget lo bilang kayak gitu setelah lo hancurin rambut gw." tegas Vanya lebih menekan lagi cengkramannya.
Sonya dan Sisil yang tadi membantu Vanya pun sekarang hanya mengamati saja, karena mereka melihat keunggulan ada di tangan Vanya.
Vano yang melihat Vanya yang sudah lepas kendali pun berusaha untuk menghentikan Vanya, karena ini akan sangat bahaya bagi Vanya jika sampai kondisi Cindy makin memburuk.
"Yank udah yank, kasian dia udah kesakitan." Vano memeluk Vanya dari belakang dengan tangan yang memegang tangan Vanya agar menghentikan tindakannya.
"Lepasin tangan gw, nih anak harus di kasih pelajaran biar tahu rasa." ucap Vanya agar Vano melepaskan dirinya.
"Waduh istri gw punya jiwa psycopat juga ternyata." batin Vano.
"Iya tapi udah kasian dia, nanti kamu bisa kena masalah kalau sampai dia kenapa napa."
"Lo berdua ngapain diam aja, bantuin gw." lanjut Vano meminta bantuan Galang dan Rangga agar membantunya untuk melepaskan Cindy dari cengkeraman Vanya.
Galang dan Rangga pun segera memegangi tangan Cindy agar tidak menjambak Vanya lagi, sedangkan Vano memegang tangan Vanya untuk melepaskan wajah Cindy.
"Sayang lepas ya, kamu mau nanti nama kamu jadi jelek gara gara ini?" ucap Vano dengan lembut, karena kalau di kasari yang ada malah makin menjadi.
Mendengar Vano yang menghawatirkan namanya pun akhirnya Vanya luluh, Vanya juga memikirkan nama baik keluarga Vano dan keluarga jika sampai dia berulah.
"Gw gak akan tinggal diam, lo liat aja nanti." ancam Cindy.
Bahkan selang infus yang ada di tangan Cindy pun terlepas hingga keluar darah dari tangan Cindy.
"Aduh gimana ini, darahnya makin banyak." panik Galang.
"Kabur kabur, iya kita kabur." ide Sonya.
"Ya udah ayo cepat."
"Heh kalian gak akan bisa lolos dari sini, ruangan ini ada cctv nya." teriak Cindy menghentikan langkah Vano dkk dan Vanya dkk.
Vano melihat sekeliling dan ternyata beneran ada cctv di pojok atas sebelah ranjang Cindy.
Cindy memanfaatkan momen ini untuk memangkas suster agar segera ke sini dan melihat Vanya dkk dan Vano dkk.
"Ayo cepat kita pergi, urusan cctv biar gw yang urus." perintah Vano.
Mereka pun menuruti perintah Vano dan segera pergi meninggalkan rumah sakit, terdengar dari spiker pengeras suara yang ada di rumah sakit menyuruh para satpam untuk mencari keberadaan Vano dkk dan Vanya dkk.
__ADS_1
"Ayo gaes cepat." arahan dari Vano.
Vano segera memasuki mobilnya di ikuti Vanya dan Sisil yang satu mobil dengan Sonya, sedangkan Galang dan Rangga naik motor mereka sendiri.
Mereka segera menancap gas dan keluar dari halaman rumah sakit dengan kecepatan di atas rata-rata.
"Hufft akhirnya selamat juga." lega Vano sambil mengurangi laju mobilnya.
Vano menoleh ke Vanya yang diam saja, dia melihat wajah Vanya yang cemas. Dan Vano tahu apa penyebabnya.
"Hei lihat aku, kamu gak usah takut ataupun cemas, aku akan selalu ada di belakang kamu." menarik dagu Vanya agar menatap dirinya.
"Tapi gimana nanti kalau papa atau papa kamu tahu tentang ini?" khawatir Vanya.
"Kamu gak perlu khawatir tentang hal itu, serahkan semuanya sama aku. Udah ya jangan panik." menggenggam tangan Vanya.
"Kamu baik baik aja kan, bisa tukar posisi dengan ku, kamu yang nyetir mobil? Soalnya aku mau beresin cctv dulu sebelum ketahuan oleh rumah sakit." lanjut Vano.
Vanya mengangguk, dan mereka pun berganti posisi tanpa menghentikan mobil terlebih dahulu. Itu semua kemauan Vano, sebenarnya Vanya tadi mau agar berhenti dulu tapi Vano menolaknya, akhirnya mau tak mau Vanya pun meng-iyakan saja.
"Kamu fokus nyetir saja, kita pulang ke mansion." ucap Vano dan Vanya pun nurut saja, ini juga demi kebaikan dirinya.
Vano mengambil laptop yang ada di tas sekolahnya dan segera mengotak-atik keyboard laptop untuk membobol cctv di rumah sakit tadi dan setelah itu dia menghapus rekaman cctv yang terdapat mereka di sana.
-
'Gimana Van?' tanya Galang melalui sambungan telepon grup.
Di dalam grup itu ada Vano, Galang, Rangga, Vanya, Sonya, dan juga Sisil. Tapi kalian tenaga aja, Vano dan Vanya ada di ruangan yang berbeda sekarang agar tidak ketahuan. Vano ada di ruang kerjanya sedangkan Vanya ada di dalam kamar.
'Semuanya akan beres di tangan Vano.' Sombong Vano.
'Alhamdulillah kalau gitu.' lege mereka semua.
'Gimana dengan keadaan lo Van, rambut lo gak apa apa kan? ' tanya Sonya.
'Enggak papa kok, tadi cuma pusing aja sebentar.' jawab Vanya.
'Ehh kok gw baru sadar warna kamar lo kok beda, yang ini lebih luas dan mewah?' tanya Sonya yang membuat Vanya ketar ketir.
'Iya Van kok beda?' sambung Sisil.
'Eemmm, itu...anu....'
__ADS_1
...***...