My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 243


__ADS_3

"Udah gak usah kamu lihat, ayo kita kembali ke sana." ajak Vano.


Vano mengajak Vanya keluar dari ruang bawah tanah tapi Vanya tidak mau.


"Gak mau aku masih mau di sini." tolak Vanya.


"Yank jangan mulai deh."


"Apaan sih orang aku masih mau di sini kok, aku mau lihat Tante Fen nyiksa dirinya sendiri." ucap Vanya yang tak Vano sangka.


Kenapa istrinya jadi seperti ini, bukankah dulu Vanya ngeri kalau melihat beginian. Jangan bilang ini kemauan anaknya yang ada dalam kandungan Vanya. Kalau iya bisa parah nanti, bisa jadi anaknya nanti kalau besar lebih berbahaya daripada papanya. pikir Vano.


"Kamu gak ngeri liat begituan?" tanya Vano di jawab gelengan kepala oleh Vanya.


Tiba tiba saja Vanya maju ke depan menghampiri Tante Fen yang tengah memotong jari jari kakinya dengan pisau yang sudah berkarat.


"Yank kamu mau ngapain?" tahan Vano agar Vanya tidak mendekat, Vano takut nanti bibi Fen menyerang Vanya.


"Apaan sih orang aku cuma mau bantuin Tante Fen aja kok, biar dia gak tersiksa lagi." balas Vanya.


"Maksud kam..u..."


Kretes.


Vano melotot melihat apa yang istrinya lakukan di hadapan dirinya dan beberapa bodyguard yang tadi mengawalnya.


Dengan gerakan cepat Vanya mengambil katana yang ada di sebelahnya dan memenggal kepala Tante Fen hingga kepalanya putus dan menggelinding sampai di bawah Vanya.


"Yank." tak percaya Vano.


"Nah kalau gini kan dia udah gak tersiksa lagi, aku baik bukan?" tersenyum mengerikan, senyuman yang baru pertama kali Vano lihat selama bersama Vanya.


"Kalian bereskan mayatnya dan buang ke kandang buaya." perintah Vanya dan berlalu pergi dari sana.


Vano menelan ludahnya kasar, dirinya memang biasa melihat pembunuhan di depannya. Tapi ini beda, seorang Vanya gadis lembut yang meskipun kadang rada keras membunuh seorang yang sudah sekarat. Ini momen yang sangat langka.


Vano pun mengejar Vanya dan membiarkan para bodyguard membereskan apa yang terjadi di sana.


-


"Sayang." pangil Vano mencari Vanya di kamar yang ada di markas WD.

__ADS_1


"Hmm." balas Vanya.


Vano melihat Vanya sudah rapi dan wangi serta berganti pakaian, sepertinya Vanya habis mandi. Tadi sebelum menemui Vanya di kamar, Vano memutuskan untuk menemui Lucas di tempat latihan yang kebetulan dia ada di markas juga.


Vano berjalan dan memeluk Vanya dari belakang, mereka terlihat mesra dari pantulan cermin yang ada di depan Vanya.


"Kenapa hmm?" tanya Vanya.


"Gak papa, aku cuma syok aja melihat apa yang kamu lakukan tadi." jawab Vano.


"Aku minta maaf ya, kamu jangan marah sama aku karena udah bunuh orang. Entah kenapa tadi naluri dalam diriku menggerakkan aku untuk membunuh Tante Fen, aku juga gak nyangka dengan apa yang aku lakukan tadi. Kamu jangan benci sama aku ya, aku takut nanti kakak marah sama aku karena aku sudah membunuh Tante Fen." ucap Vanya panjang lebar dalam dekapan Vano.


"Aku memang syok tadi, tapi bukan berarti aku benci sama kamu. Ngapain aku benci sama kamu sedangkan aku juga pernah bunuh orang, lagian juga yang ada aku malah bangga sama kamu lantaran kamu berani mengambil tindakan. Dan soal kak Farrel, kamu tenang aja dia gak akan mungkin marah sama kamu, apalagi kamu juga adik tersayangnya jadi mana mungkin dia marah." membalik tubuh Vanya hingga menghadap ke arah Vano.


"Kok aku jadi curiga ya." lanjut Vano yang membuat Vanya mengeryitkan dahinya bingung.


"Maksud kamu?"


"Iya aku curiga kalau tadi itu sebenarnya kemauan si baby ini." mengelus perut Vanya.


"Masak sih, masak iya anak yang masih dalam kandungan ngerti kayak begituan."


"Bener loh, masak kamu gak percaya. Mungkin aja kan baby nya mau seperti nerusin sifat Daddy."


"Kita lihat aja nanti."


"Ya udah yuk kita pulang." lanjut Vano mengajak Vanya pulang.


"Tunggu dulu, aku masih mau keliling di sini, kan aku belum pernah keliling markas WD, waktu itu kan aku cuma sebentar di sini." cegah Vanya.


"Hufft...ya udah, untuk kali ini aku bakal turutin semua kemauan kamu dan baby." balas Vano mengandeng tangan Vanya keluar dari kamar.


Mereka pun berjalan mengelilingi markas banyak yang Vanya tanyakan pada Vano tentang apa yang dia temui di sana. Hingga sampai mereka di tempat latihan, Kate di sana ada Lucas jadi Vanya meminta agar berhenti sebentar melihat Lucas yang sedang berlatih.


"Wah keren." puji Vanya saat melihat Lucas yang memanah tepat sasaran.


"Cih, gitu doang aku juga bisa." balas Vano yang mulai jelas lantaran Vanya memuji Lucas.


"Atututu Daddy cemburu ya." goda Vanya.


"Apaan sih, mana ada aku cemburu sama tuh anak. Sorry ya gak level." balas Vano pura pura cuek.

__ADS_1


"Oooh gak cemburu ya, ya udah aku mau semangatin Lucas aja biar dia makin semangat latihannya." ujar Vanya.


"Ayo Luc... hmmtt..." Vano menyumpal mulut Vanya dengan tangan kanannya.


"Jangan mulai deh yank, mau nanti malam aku hukum hmm?" ancam Vano di balas gelengan kepala oleh Vanya.


Vano pun melepaskan tangan yang berada di mulut Vanya.


"Tangan kamu bau." ucap Vanya.


"Mana ada orang tangan ku harum kok." balas Vano tak terima.


"Enggak tangan kamu bau, bau terasi."


Sementara Lucas yang dari kejauhan melihat Vanya dan Vano pun mendengus kesal.


"Gak di rumah gak di sini, mesra mesraan mulu. Dasar bucin." gumam Lucas dan tak memperdulikan mereka berdua.


-


Sementara di tempat lain, sekarang Cindy tengah bersiap untuk pergi ke club untuk berkerja sebagai j*****. Cindy berjalan menyusuri trotoar di dekat rumahnya untuk menunggu taksi yang lewat, tiba tiba saja ada sebuah mobil yang berhenti tepat di sampingnya.


"Hai." sapa orang itu setelah membuka kaca jendela mobilnya.


"L-o." gugup Cindy takut.


"Gak usah takut, sini masuk gw anterin. Lo mau ke club kan?" tawar orang itu.


Cindy diam tak menjawab ucapan orang itu lantaran dia takut kalau orang itu merencanakan sesuatu kepadanya.


"Udah ayo cepat masuk, gw gak bakal apa apain Lo." ajak orang itu lagi.


Mau tak mau akhirnya Cindy pun masuk ke dalam mobil itu. Orang itu pun melakukan mobilnya menyelusuri jalan kota Jakarta yang lumayan lenggang siang menjelang sore ini.


Dalam mobil tak ada yang berbicara satu sama lain, hingga orang itu menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi.


"Loh kok berhenti?" tanya Cindy takut.


"Udah gak usah takut sama gw, gw gak akan apa apain lo. Di sini gw malah mau ngajak lo kerjasama."


...***...

__ADS_1


Menuju konflik terakhir sebelum end😁


Selamat berovertingking 🥰🥰


__ADS_2