
"Mana hadiahnya?" tanya Vanya setelah selesai makan.
"Sabar dong." balas Vano.
Vano beranjak mengambil sesuatu dari balik meja, Vano mengambil satu kotak yang berukuran besar dan memberikannya pada Vanya.
"Ini buat kamu sebagai hadiah dari aku." ucap Vano.
"Apa ini." tanya Vanya menerima pemberian Vano.
"Buka aja, semoga kamu suka." suruh Vano.
Vanya pun membuka ikatan pinta yang menghiasi kotak kado itu. Setelah itu dia akan membuka penutup kotak itu. Dengan hati-hati Vanya membukanya dan....
"Wah, ini beneran buat aku. Makasih." Senang Vanya.
Vanya mengambil satu persatu isi dari kotak itu hingga pandangannya jatuh pada benda yang paling akhir.
"Ini beneran?" tanya Vanya tak percaya di balas anggukan oleh Vano.
"Makasih."
Cup.
Vanya memberikan kecupan di bibir pada Vano sebagai ucapan terima kasih nya.
Isi dari kotak kado itu adalah Mernak mernik Bangtan, ada album terbaru yang ada tanda tangan member BTS nya langsung, dan ada linstik dan lain sebagainya.
"Kamu kok bisa kepikiran kasih ini buat aku sih?" tanya Vanya.
"Iya dong, kan aku tahu kalau istri aku ini pecinta Korean." balas Vano.
"Makasih ya, kamu mau hadiah apa dari aku, motor atau mobil?" tanya Vanya.
"Aku gak mau apa apa dari kamu, aku cuma minta kamu berada di sisiku selamanya." jawab Vano yang membuat Vanya terharu.
"Aku janji akan selalu setia berada di sisi kamu hingga maut memisahkan kita berdua. Bahkan kalau bisa di surga nanti kita juga bersama." balas Vanya.
Vano menarik Vanya ke dalam pelukannya, dia merasa sangat beruntung karena memiliki Vanya. Vano janji gak akan pernah menyiayiakan Vanya di dalam hidupnya.
"Kita pulang yuk, udah malam." ajak Vano sambil melihat arlojinya yang menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Yuk." mereka berdua pun berjalan menuju mobil dengan Vano yang membawakan kado Vanya.
-
Hari berganti hari, bulan pun berganti. Sekarang usia kandungan Vanya sudah menginjak usia sembilan bulan, prediksi dokter Minggu depan Vanya akan melahirkan. Tapi itu bisa maju dan juga bisa mundur.
Sekarang Vanya tengah mengecek semua keperluan Vano ada yang tertinggal atau enggak. Vano mendapatkan tugas dari papa William untuk menangani bisnisnya yang berada di negara sebrang yang lagi bermasalah.
Sebenarnya Vano ingin menolak itu, tapi dia juga tidak tega jika melihat papanya yang pulang pergi ke luar negeri. Vano yakin papanya itu pasti sangat kecapekan.
"Sayang kamu aku antar ke rumah mama aja ya, aku gak tega kalau tinggalin kamu sendirian di sini." ucap Vano yang sudah rapi dengan pakaian formalnya.
"Gak usah Van, lagian kan kamu cuma tiga hari di sana. Prediksi dokter kan satu Minggu lagi." tolak Vanya.
Sudah sedari semalam Vano meminta agar Vanya mau dia antar ke rumah mamanya, tapi Vanya selalu menolaknya dengan alasan Vano cuma sebentar di luar negeri.
__ADS_1
"Kamu yakin gak papa di sini sendirian?" tanya Vano lagi.
"Iya Vano sayang, kan di sini ada Sri yang temani aku." Balas Vanya meyakinkan Vano kalau dia tidak apa apa jika di tinggal sendiri.
"Tapi aku gak tega yank."
"Udah ya kamu tenang aja, nanti kalau ada apa apa aku bakal langsung hubungi kamu." ucap Vanya.
"Ya udah tapi kamu janji ya sama aku jangan kecapekan, jangan melakukan pekerjaan apapun."
"Iya Vano sayang."
"Sri jagain nyonya, jangan biarkan dia sendirian. Dan marahin nyonya kalau nyonya bandel." pesan Vano pada asisten pelayan Sri.
"Baik tuan." balas Sri.
"Aku berangkat dulu ya, jaga diri kamu baik baik. Selalu pegang ponsel kamu agar aku bisa setiap saat hubungi kamu." pesan Vano.
"Iyah." jawab Vanya greget, pasalnya Vano katanya mau berangkat tapi gak berangkat berangkat.
"Jangan iya iya mulu dengerin."
"Iya Vano sayang. Udah deh nanti kamu ketinggalan pesawat."
Cup.
"Sayang jangan nakal ya selama Daddy gak ada. Daddy titip mommy ya, kamu harus jagain mommy selama Daddy pergi." ucap Vano di hadapan perut Vanya setelah mencium perut buncit Vanya.
Duk.
"Wah dia merespon yank." semangat Vano.
"Jagain mommy ya sayang, Daddy pergi dulu." pamit Vano pada anaknya.
"Aku pergi dulu, kamu hati hati di rumah, jangan keluyuran." pamit Vano.
"Iya kamu juga hati hati di sana." balas Vanya.
Cup cup cup cup cup.....
Vano menciumi seluruh wajah Vanya tanpa tersisa sedikit pun.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Vano pun pergi meninggalkan halaman mansion miliknya menuju Bandara Soekarno Hatta.
"Masuk yuk Sri." ajak Vanya pada Sri.
Mereka berdua pun masuk kedalam mansion, Vanya pamit ke kamar. Dia mau membersihkan tubuhnya, karena sedari pagi tadi dia sibuk dengan persiapan Vano sehingga Vanya belum sempat mandi.
"Mau saya temani nyonya?" tanya Sri.
"Gak usah saya bisa sendiri kok, kamu gak usah dengerin omongan Vano, dia itu berlebihan." ucap Vanya.
"Baik nyonya."
__ADS_1
"Ya udah saya ke atas dulu." pamit Vanya.
Vanya pergi ke kamarnya menggunakan lift, pasalnya dia sekarang sudah tidak terlalu kuat jika harus turun naik tangga, mungkin efek dari kandungannya yang semakin tua.
Vanya berendam air hangat sebentar untuk merilekskan pikiran serta otot-ototnya. Setelah selesai dia akan jalan jalan di taman belakang. Kata dokter Vanya di suruh banyak jalan supaya kakinya tidak membengkak.
-
Dalam perjalanan Vano menelfon mamanya, Vano menyuruh mamanya agar datang menemani Vanya di mansionnya. Vano tidak tega membiarkan Vanya sendirian bersama pembantu pembantu di mansion.
'Iya bentar lagi mama langsung berangkat ke rumah kamu.' ucap mama Fara dari sambungan telepon.
'Iya ma makasih, kalau gitu Vano tutup dulu udah sampai bandara.' balas Vano.
'Iya kamu hati hati di sana nanti.' pesan mama Fara.
'Iya ma, Assalamualaikum.'
'Waalaikum salam.'
Tut.
Mobil yang Vano tumpangi telah sampai di bandara, Vano segera pergi menuju jet pribadi miliknya yang baru dia beli beberapa bulan yang lalu. Dan setelah kedatangan Vano, pesawat pun segera berangkat lepas landas meninggalkan bandara Soekarno Hatta.
-
"Nyonya mau kemana?" tanya Sri yang melihat Vanya hendak keluar rumah.
"Saya mau jalan jalan di taman." jawab Vanya.
"Ya udah kalau gitu mari saya temenin."
"Ayok." ajak Vanya.
Vanya menerima permintaan Sri, toh dia juga butuh teman untuk bicara. Gak mungkin kan dia ngobrol sama daun daun yang ada di sana.
Mereka berjalan mengelilingi taman, kadang Vanya berhenti sebentar saat di rasa kakinya lelah. Sri menyuruh Vanya agar menyudahi kegiatannya tersebut, tapi Vanya menolaknya. Vanya tetap kekeuh untuk jalan jalan di taman.
"Nyonya itu apa?" panik Sri saat melihat ada air yang merembes di kaki Vanya.
"Astaga Sri, sepertinya aku mau lahiran." ucap Vanya.
"Ya ampun, nyonya duduk di sini sebentar biar saya pangil Udin untuk menyiapkan mobil." ucap Sri di angguki Vanya.
Sri berlari sambil meneriaki nama mang Udin sehingga membuat seisi mansion heboh. Kebetulan sekali mama Fara baru saja sampai di sana.
"Ada apa ini?" tanya mama Fara yang melihat kehebohan di mansion anaknya.
"Itu nyonya, nyonya Vanya mau melahirkan." jawab Sri.
"Terus di mana sekarang Vanya?"
"Ada di taman belakang."
Mama Fara pun segera berlari untuk melihat keadaan Vanya.
...***...
__ADS_1