
Di dalam kelas pelajaran sedang berlangsung, Vanya sedari tadi tidak fokus pada pelajaran yang di jelaskan di depan kelas. Dia sedang melamun memikirkan Vano.
"Van." pangil Sonya pelan agar tak di ketahui oleh ibu guru tapi Vanya tidak mendengar nya.
"Van." pangil Sonya lagi agak keras dikit, tapi tetap Vanya tak merespon nya.
"Vanya." menabok pundak Vanya dan itu berhasil membuat Vanya tersadar dari lamunannya.
"Hah apa." linglung Vanya.
"Lo kenapa sih dari tadi gw liat muka lo murung mulu, mana gw pangil dari tadi gada respon lagi." ucap Sonya.
"Gw gak papa kok, hanya sedikit gak enak badan aja." jawab Vanya sedikit berbohong, tapi dia sekarang merasa agak pusing dikit.
"Lo sakit?" tanya Sonya menempelkan tangannya di dahi Vanya untuk mengecek suhu tubuh Vanya.
"Enggak, gw hanya agak pusing dikit."
"Lo pusing, gw antar lo ke UKS aja yuk." ajak Sonya khawatir.
"Gak usah gw gak papa kok." tolak Vanya.
Entah mengapa Vanya merasakan kepala bagian belakangnya agak pusing, mungkin kebanyakan memikirkan Vano. pikir Vanya.
"Ya udah, nanti kalau lo merasa lebih parah lagi lo bilang sama gw, biar gw ijinin lo." Vanya menganggukkan kepalanya.
Setelah itu mereka kembali fokus ke pelajaran lagi, meski Vanya tetap sering melamun.
-
Sementara di kelas Vano, pelajaran juga sama sedang berlangsung. Karena merasa moodnya gak bagus, tanpa izin dari guru Vano pergi meninggalkan kelas tanpa sepatah katapun.
"Vano." pangil guru itu tapi Vano tak menghiraukannya.
Guru itu pun mengelengkan kepalanya menatap kepergian Vano tanpa ada niatan untuk mencegahnya, dari pada nanti dia kena masalah.
"Lang Vano mau kemana?" tanya Rangga pada Galang bisik bisik.
"Mana gw tahu, di lihat dari mukanya sih palingan juga dia ke atap." jawab Galang.
Rangga pun hanya ber Oh ria saja.
"Kita susulin yuk." ajak Galang.
"Yok lah gas, bosen juga gw di kelas." setuju Rangga.
"Buk." pangil Galang pada guru yang mengajar sampai mengacungkan tangan kanannya.
"Iya ada apa Galang?" tanya ibu guru itu.
__ADS_1
"Saya sama Rangga mau ijin ke toilet bentar." ijin Galang.
"Mau ngapain, nyusulin Vano?" tebak ibu guru.
"Ibu jangan asal tebak aja ya." kali ini Rangga yang jawab.
"Ya udah Kalian mau ngapain ke toilet, kalau sampai alasan kalian cuma kencing itu sudah basi. Ibu gak akan beri ijin pada kalian berdua."
"Kali ini lebih dari sekedar kencing buk, ini gawat banget." ucap Rangga.
"Ya udah bilang sama ibu, kalian mau ngapain ke kamar mandi?" tanya ibu guru lagi.
"Jangan deh buk, nanti yang ada satu kelas malah heboh."
"Udah bilang aja cepat, atau mau gak ibu kasih ijin."
"Jangan dong buk, ya udah kita bakal kasih tau tapi yang ngomong Galang." Rangga melempar jawaban ke Galang.
"Lah kok gw, kan lo yang gede gede in masalah." omel Galang dengan bisik bisik.
"Galang cepat bilang sama ibu apa alasan kalian, jangan sampai waktu belajar terbuang sia sia karna kalian."
"Eemm anu buk, kita- kita mau...eemmm."
"Cepat Galang jangan anu anu muluk."
"Eemmm itu, kita mau nidurin adik kita yang bangun." jawab Galang dan segera membekap mulutnya yang asal ceplos.
Tawa anak anak di kelas itu terutama para cewek cewek.
"Kenapa itu alasannya dodol." bisik Rangga pada Galang dengan greget.
"Ya gw bingung, salah lo sendiri ngapain suruh gw yang jawab." balas Galang dengan bisik bisik juga.
"Udah udah anak anak tenang, dan untuk kalian berdua silahkan keluar." usir ibu guru itu.
"Seriusan Bu?" tanya Rangga.
"Iya, untuk lain kali jika di kelas jaga perilaku kalian agar adik kalian gak bangun." jawab frontal ibu guru itu.
"Ya udah kalau gitu kita permisi dulu." Galang dan Rangga pun langsung ngibrit pergi mencari Vano ke atap.
-
Vano termenung di atap sekolah dengan ponsel yang berada di genggamnya, ia menatap kosong ke depan.
"Van." pangil Galang dan Rangga yang baru sampai di sana.
Vano tak menoleh atau pun menjawab sapaan mereka berdua. Galang dan Rangga pun duduk di sebelah Vano dengan posisi Vano yang berada di tengah.
__ADS_1
"Lo ada masalah apa sih Van, siapa tau kita bisa bantu lo." ucap Galang menepuk pundak Vano.
Vano diam tak menjawab ucapan Galang.
"Lo ada masalah sama Vanya?" tebak Rangga yang di jawab anggukan kepala oleh Vano.
"Lo kan udah besar Van, kalau ada masalah tuh di bicarakan baik baik. Kasian lo Vanya nya gw liat tadi mukanya sedih banget." Galang mencoba untuk menasehati Vano.
"Udah lah ngapain jadi bahas masalah gw sih, oh iya kalian ngapain nyusulin gw ke sini?" berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Jangan kekanak kanakan deh Van, dengan lo bersikap seperti ini yang ada masalah lo gak bakal kelar kelar sama Vanya." omel Galang yang sudah jengah dengan kelakuan Vano.
"Kenapa lo yang marah marah sih, oh gw tahu pasti lo di suruh sama Vanya kan. Halah kebanyakan drama tuh cewek." maki Vano pada Vanya yang saat ini posisinya gak ada di situ.
Plak.
Rangga yang biasanya takut sama Vano sekarang dia berani menampar Vano dengan kerasnya.
"Lo jaga mulut lo Van, gw emang selalu respect akan sikap lo biasanya yang gentle tapi untuk kali ini gw jijik sama lo Van." marah Rangga. Setelah mengatakan itu Rangga pergi meninggalkan Vano dan Galang karena takut tak bisa mengontrol emosi nya lagi yang ada nanti malah mereka berantem.
"Lo kenapa sih Van, sefatal itu kah kesalahan Vanya hingga lo bersikap kayak gini. Mana Vano yang aku kenal, mana Vano yang kemarin bucin sama Vanya." Galang pergi menyusul Rangga meninggalkan Vano.
"Aagrr." teriak Vano membanting ponsel yang sedari tadi di genggamnya.
"VANYA KENAPA VAN KENAPA." Teriak Vano melampiaskan kemarahannya.
Vano menghempaskan tubuhnya pada sofa yang tadi dia duduki hingga dia tertidur dengan amarah yang ada.
-
Kriiiing.
Bel istirahat berbunyi semua murid berbondong-bondong untuk pergi ke kantin. Tak terkecuali teman teman Vanya.
"Van ke kantin yuk." ajak Sisil.
"Kalian duluan aja gw mau ke kamar mandi dulu, nanti gw nyusul." tolak Vanya.
"Mau kita anter?" tawar Sonya.
"Gak usah kalian duluan saja ke kantin nanti gw susul, kalau kalian nganterin gw nanti yang ada malah gak kebagian tempat duduk." tolak Vanya lagi.
"Ya udah, lo hati hati ya. Nanti kalau ada apa-apa lo kabarin kita."
"Iya, udah sana kalian pergi nanti gak kebagian tempat." usir Vanya.
"Ya udah kita pergi dulu, dada Vanya sayang." pamit Sisil.
Sonya dan Sisil pun keluar kelas untuk ke kantin di ikuti Vanya yang keluar kelas untuk ke kamar mandi.
__ADS_1
...***...